#KCAC Ternyata The Alien Prince Itu..... [ENDING]









Genre: Romance















Sudah mau satu tahun, aku betah menjomblo. Kesibukanku dengan skripsi ini membuat  aku mudah melupakan Bang Marco. Melupakan mungkin bukan kata yang tepat. Aku sukses tak terlalu memikirkan laki-laki Batak dengan segala sandiwara-sandiwara  tak jelasnya. Segala kerumitan yang diberikan oleh Pak Kris juga membuatku cepat memaafkan keluarga Bang Marco tersebut. Entah ini sudah diatur atau tidak,aku bersyukur sekali dengan situasi seperti ini. 

Hanya saja, ada satu yang menjadi bahan perhatianku. Akhir-akhir aku seperti memiliki seorang pemuja rahasia. Ceritanya bermula itu terjadi sekitar dua bulan yang lalu. Aku meloloskan permintaan pertemanan dari sebuah akun Facebook yang bersifat anonim. Alasanku: saat kuintip sekilas akunnya, aku sangat menyukai setiap post yang dia bagikan. Sangat memotivasiku dalam menghadapi masa skripsi ini. Itulah alasannya.

Setelah aku menerima permintaan pertemanannya, akun yang bernama The Alien Prince itu seringkali mengomentari yang kubagikan. Setiap statusku, dia komentari. Itu termasuk post-post yang berbicara mengenai Bang Marco. Aku sebetulnya tak masalah. Setiap komentarnya memang menyejukan batinku. Aku termotivasi pula. Saran-sarannya dia itu seringkali benar dan cukup efektif saat kupraktekan. Permasalahannya itu datang dari aku. Sepertinya aku mulai menaruh hati pada The Alien Prince.

Aku iseng mengorek-ngorek isi Facebook-nya. Dia hobi sekali membuat meme. Nyaris aku tak menemukan foto pribadinya. Memang ada foto orang--walau hanya satu-dua buah foto, tetap saja aku rasa bukan dia. Tampaknya foto-foto yang tercantum itu bukanlah dirinya. Lalu, saking penasarannya, aku bilang saja padanya, aku ingin tahu wajah aslinya.

Dia memberikan emoticon orang yang tengah menahan tawa. "Penasaran, yah? Hayo, tebak siapa?"

"Dih, apaan, sih?" Aku memasang emoticon marah, lalu menutup kotak dialognya. Obrolan pun berakhir.

Walaupun demikian, aku tetap penasaran. Siapakah The Alien Prince tersebut? Rasa-rasanya aku seperti merasa kenal sekali dengan si pemegang nama samaran tersebut. Aku sangat menyukai kepribadian The Alien Prince. Dia membuatku sangat nyaman, walau aku dan dirinya hanya bercuap-cuapan melalu bahasa tulisan dan media sosial. Ya Tuhan, aku sungguh jatuh hati dengan The Alien Prince ini. Semoga saja benar, dia ini memang laki-laki.

Aku tersenyum sendiri. Lalu, kuputuskan untuk beristirahat sejenak untuk scrolling dan stalking beberapa akun. Tak lupa kubaca beberapa artikel, yang jika suka, aku akan membagikannya di akun Facebook kepunyaanku. Aku merasa orang lain juga perlu tahu apa saja konten menarik yang kudapatkan selama browsing. Aku kan orangnya baik hati--yang senang berbagi.

Hingga akhirnya aku menemukan sesuatu yang mengejutkanku. Ini sejak kapan? Kenapa aku baru tahu? Ada hubungan apa The Alien Prince dengan Bang Marco? Daripada berprasangka yang bukan-bukan, aku memilih untuk bertanya langsung. Tanyaku, "Maksud post ini apa? Bahasamu nggak ngenakin banget. Terus, kamu kenal juga sama Bang Marco?"

"Eh, datang lagi, online lagi. Aku kira kamu marah sama aku." jawab The Alien Prince.

"Maksudnya apa?" Kuulangi lagi pertanyaanku.

"Post yang mana, yah?"

"Itu, yang ada screenshoot chat itu. Yang ada kata-kata kamu yang tulisannya, 'Jangan ditiru, yah, Sob.' Setiap screenshoot-nya juga ada kata-kata kamu. Rata-rata nggak enak kata-katanya. Kamu lagi ada masalah?"

"Masalah sama cewek."

"Berantem gitu?"

"Kok kayaknya?"

"Kayaknya."

"Nyimak, kan?"

"Kalo gak nyimak, aku gak bakal nanya kamu."

"Baca lagi baik-baik. Ntar juga kamu tahu."

Kuturuti maunya. Aku baca ulang setiap post yang mencurigakan tersebut. Rasanya memang ada yang aneh. Terasa janggal. Kupelototi salah satu post. Dan, alangkah kagetnya aku. Ini kan....

Saat aku ingin bertanya lagi kepada The Alien Prince, dia malah memblokir akunku. Seluruh post mencurigakan itu jadi hilang pula. Beberapa menit kemudian, The Alien Prince resmi menutup akun. Akun misterius itu menonaktifkan akunnya. 

Keesokan harinya, Alien Prince tak menampakan diri lagi. Tak ada tanda-tanda kehadirannya. Apapun yang kubagikan, tak ada lagi akun dengan nama nyentrik itu lagi. Padahal aku butuh kata-kata penyemangat dari dia. Aku habis disemprot Pak Kris. Dapat revisi yang banyaknya luar biasa. Aku sudah berharap tak ada revisi lagi. Apa daya ekspektasiku tak terwujud.

Tapi, kenapa Alien Prince menutup akun? Alien Prince ini siapa? Aku sempat berpikir itu Bang Marco. Dugaanku langsung kutepis. Sebab, gaya bahasa Alien Prince lebih sopan. Andaikan Bang Marco itu Alien Prince, mungkinkah? Kurasa, laki-laki Batak itu sudah bahagia sekali dengan si penyanyi kafe. Mungkin dia sudah memiliki anak. Tak mungkin Bang  Marco ini Alien Prince.

Ah, mungkin Alien Prince ini teman Bang Marco. Aku juga kurang mengenal lingkungan pergaulan Bang Marco. Kalau aku mengenal dengan baik, aku tak mungkin telat mengetahui perselingkuhan Bang Marco tersebut. Faktanya aku mengetahuinya dari Fena, temanku di fakultas Hukum. Pasti Alien Prince itu dari salah satu teman Bang Marco. Itu pasti.

Omong-omong, tega juga si laki-laki Batak itu membagikan chat-ku dengan dirinya ke orang lain. Ada berapa banyak yang dia beritahukan? Maksudnya apa? Mau playing victim-kah dirinya? Aku berdecak-decak kesal dengan prasangka aku barusan. Mood aku kembali mendung.













Satu tahun kemudian,

Aku sudah lulus kuliah. Diriku lulus sidang dengan nilai yang sangat memuaskan. Nilainya itu A Plus. Tak sia-siaku perjuanganku selama ini, khususnya dalam meladeni tiap permohonan dari Pak Kris. Sekarang ini aku tengah menunggu ijazahku keluar saja.

Di saat aku tengah membaca animasi favoritku, sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel aku. Dari Fena. Langsung kuangkat.

"Halo,'

Tanpa tedeng aling-aling, Fena berkata, "Jes, lu udah tahu belum, mantan lu baru aja meninggal?"

Jantungku serasa mau copot. Benarkah ini?

"Yang bener lu, Fen?"

"Seriusan, gue gak bohong. Marco meninggal. Kan, lu tahu sendiri gue tinggal nggak jauh dari dia."

Aku diam seribu bahasa.

"Mau ikut gak?"

Aku masih tak menjawab.

"Kalau mau, ntar dateng aja ke rumah gue. Pokoknya, dateng aja, Jes. Walau udah jahat sama lu, dia kan pernah masuk ke dalam kehidupan lu. Lagian, ada banyak hal yang lu perlu tahu dari dia. Gimana?"













Kuputuskan untuk datang ke rumah Bang Marco. Untungnya keluarganya tak terlalu mengungkit kejadian yang sudah berlalu. Aku juga tak terlalu merisaukan jika permohonan maaf itu palsu. Lalu, ada gunanya pula aku ikut melayat. Ada beberapa fakta yang aku dapatkan.

Pertama, Bang Marco meninggal dengan tragis. Selain dirinya didiagnosa mengidap HIV, Bang Marco tumbang dalam bus trans Jakarta. Begitu hendak dibawa ke rumah sakit, Bang Marco tak bisa diselamatkan lagi.

Kedua, Bang Marco sudah lama tak berhubungan dengan Dinda. Dia sendiri yang memutuskan hubungan dengan penyanyi kafe tersebut. Doaku juga ternyata dikabulkan Tuhan. Bang Marco mulai terlepas dari segala ikatan gaib tersebut. Matanya mulai terbukakan. Dirinya mulai sadar Dinda memang bukan perempuan baik-baik.

Ketiga, mungkin karena terjebak dalam rasa bersalah, dia tak berani menghubungiku lagi. Dia malah menjadi semakin liar saja. Bang Marco mendekati beberapa perempuan seperti Indri, Eka, Novi, dan beberapa nama lainnya. Semua perempuan itu diajak berhubungan intim oleh Bang Marco. Menurut salah satu kenalannya, Bang Marco tak begitu menyukai berhubungan intim dengan kondom.

Keempat, Alien  Prince itu ternyata Bang Marco. Itu kuketahui setelah ditunjukan oleh mamanya isi ponsel dari Bang Marco. Aku sangat kaget bukan kepalang. Ada-ada saja. Kenapa harus menggunakan identitas anonim? Kenapa juga harus mengelak saat kutanyakan? Kalau dia memang tulus mengaku salah dan meminta maaf, bukankah dia seharusnya melakukannya dengan cara lebih sopan lagi?

Kelima, sejujurnya aku memang sangat kehilangan Bang Marco. Aku mulai jujur dengan perasaanku sendiri. Kutatap foto Bang Marco dari jauh. Kataku secara batin. Bang, Cici sebetulnya masih cinta sama Abang. Cici mau kasih kesempatan kedua untuk Abang. Makasih juga buat kata-kata motivasinya itu.



PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. Cerpen ini pula masih terinspirasi dari pengalaman seorang adik kelas di kampus dulu. Dia sering mencurahkan isi hatinya ke aku tentang rasa sayangnya yang begitu begitu besar ke pacarnya yang ujungnya malah menduakannya. Beberapa nama dan tempat di dalam cerpen ini sengaja disamarkan.


Comments