#KCAC Radio Galau versi Jessica Maria Sondakh









Genre: Romance















Galau, yah? Di atas tempat tidurku yang menggunakan seprai bergambar Hello Kitty, aku meributkan sesuatu yang tak jelas. Semua karena film Indonesia ini. Film ini diputar saat aku masih kelas sepuluh. Dulu film ini aku tonton bersama teman-teman SMA. Aku masih lajang. Jomblo, bahasa pasarannya. Pemahamanku mengenai cinta mungkin masih nol juga. Makanya aku bisa tertawa sepuas-puasnya saat menonton film ini di Mal Metropolitan.

Sebetulnya, sekarang ini aku juga mengajukan pertanyaan yang sama. Entah bagaimana kata 'galau' itu bisa sefenomenal ini. Kenapa pula kata 'galau' harus dikaitkan dengan persoalan cinta. Bisa saja seseorang galau karena diuber-uber debt-collector (sampai harus menguber-uber saudara atau temannya). Atau, ada seorang remaja yang galau karena mendapatkan nilai lima tujuh untuk pelajaran Kimia (padahal aku mendapatkan enam saja, sudah bersyukur sekali). Intinya, menurutku, kata 'galau' tak identik dengan persoalan cinta.

Aku tertawa kencang menyaksikan adegan di mana Bara dilecehkan oleh temannya. Penyebabnya, karena Bara jomblo. Dulu, aku tertawa dengan status jomblo, yang mana merasa jomblo itu sangat hina. Sampai-sampai aku sempat ikut biro jodoh di sebuah situs dan majalah demi bisa menyamai teman-teman sekolah. Aku suka iri dengan teman-teman perempuan yang menggandeng mesra tangan pacarnya; atau yang diantar-jemput dengan motor RX King.

Itu dulu. Kalau sekarang aku merasa status jomblo itu lebih menyenangkan. Aku bahagia dengan kesendirianku. Walau, aku sendiri bingung apakah situasiku sekarang bisa membuatku berstatus jomblo. Aku merasa ini mungkin yang disebut  hubungan yang rumit. Di satu sisi, aku masih suka merasa diriku ini memiliki pacar. Aku masih suka keceplosan bilang aku ini pacar Bang Marco. Namun, di sisi lain, aku sadar betul, masa lalu mungkin hanya menjadi masa lalu. Segalanya berbeda sekarang.

Sekarang, tak ada lagi foto bareng aku dengan Bang Marco. Yang terakhir itu aku malah lupa. Tapi, seingatku, foto terakhir itu saat dia belum kepergok selingkuh dengan penyanyi kafe murahan itu. Itu juga saat terakhir aku bisa merengkuh tangannya yang agak berbulu dan berurat. Saat-saat terakhir pula rambutku yang ikal diremas-remas oleh Bang Marco. Sedih sekali saat aku harus mengingatnya lagi.

Videonya aku hentikan. Aku tatap wajah pemeran Bara dan temannya. Air mata mulai keluar. Kurang lebih Bang Marco itu seperti Bara di "Radio Galau FM" ini. Aku kangen Bang Marco mendadak. Tapi aku terlalu takut menghubunginya. Sebelumnya aku kirimkan Bang Marco SMS, malah si tukang tikung yang membalas. Aku didamprat habis-habisan. Mood yang tadinya secerah bunga matahari, mendadak kelam seperti awan hitam kala hujan lebat. Belum lagi, ada semacam kebencian tersendiri ke Bang Marco. Tega sekali cowok Batak itu menyelingkuhi aku.

Kuraih ponselku yang berkondom ungu cerah. Aku menyalakan aplikasinya. Yang kupasang itu kanal favoritku, pusatnya orang-orang yang menggalau karena cinta. Tepat sekali aku menyetelnya saat penyiar favoritku, Kak Nikta, tengah membacakan surat-surat yang masuk. Surat pertama yang kudengar itu tentang putus cinta. Ada juga yang mengalami hal sama denganku. Ternyata aku tak sendirian. Sekonyong-konyong ada energi tambahan yang merasuki ragaku. Aku kembali bersemangat dan tersenyum lebar. Hey, kamu, Octavia, semangat. Udah, lupain aja cowok kayak gitu. Kamu berhak bahagia tanpa perlu diatur-atur kayak boneka Barbie. Dia gak sayang juga kali. Begitulah saranku dalam hati.

Lucu juga beragam pengalaman yang dibacakan oleh Kak Nikta. Ada juga kisa seorang laki-laki yang hobi bermain game. Dia bisa berkenalan dengan perempuan cantik karena sebuah warnet. Si laki-laki yang bernama Bimo ini hanya bisa memandangi si perempuan dari jarak-jarak tertentu, yang sambil melakukan aksi-aksi tertentu untuk menarik perhatian gebetannya. Salah satunya seperti saat si Bimo iseng saja membayar tagihan warnet si gebetan dengan sepengetahuan si perempuan. Terus menerus perasaan itu dibendung laki-laki tersebut. Pada akhirnya si perempuan digandeng oleh laki-laki lain yang jauh lebih berani Bimo hanya menggigit kuku saat mendapati gebetannya sudah berstatus sebagai pacar orang.

Atau, kisah sepasang laki-laki dan perempuan yang berkenalan dan menjalin hubungan melalui internet. Tiap malam minggu mereka berpacaran lewat webcam. Saling kirim foto masing-masing. Kata mereka, kalau kangen, tinggal memandangi fotonya. Andini bahkan sampai mencium-cium foto pacar jarak jauhnya yang bahkan belum pernah ditemui langsung. Andini bilang, mencium foto pacarnya itu sudah seperti mencium bibir si pacar betulan. Sampai akhirnya, Andini hanya bisa menyesali perbuatan anehnya tersebut saat pacarnya memutuskan hubungan di hari pertama mereka berdua berjumpa. Alasan si pacar: si pacar tak suka dengan tompel Andini (jadi selama ini Andini sering mem-filter foto-fotonya sebelum dikirimkan ke pacarnya yang tinggal di  Los Angeles).

Dasar Andini! Kenapa mau menerima cintanya jika belum benar-benar bertemu? Kalau belum yakin, sebaiknya kan berteman saja dulu. Daripada nekat melakukan hal-hal nekat kepada seseorang yang bertemu saja belum pernah. Kalian hanya bersapa melalui dunia maya, tapi sudah berani melakukan kebohongan seperti mengedit foto hingga tompel yang lumayan besar itu secara ajaib hilang.

Menertawakan orang lain memang mudah sekali. Tanpa kusadari sebetulnya aku pun sama saja dengan Andini. Kalau kuingat kata-kata  Bang Marco, betapa bodohnya aku yang dengan mudahnya menerima ajakan Bang Marco untuk menjadi pacaran. Saat itu, Bang Marco iseng bermain ke sebuah gereja tua di Jakarta Pusat. Dia pergi bersama teman-temannya yang kata Bang Marco, teman-temannya aktif di OMK. Sementara aku pergi ke gereja tersebut karena menemani Tante Shantika yang tengah sibuk menggalang dana untuk sebuah kegiatan gerejawi. Singkat cerita, di dalam goa Maria, Bang Marco mendekatiku. Aku yang tadinya tengah khusyuk berdoa, malah asyik mengobrol bersama Bang Marco. Obrolan makin mesra hingga kami saling bertukar nomor telepon. Pertemuan berikutnya kami sudah resmi berpacaran. Masa pendekatan yang sangat singkat sekali. Itu hampir sama dengan bagaimana Andini didekati oleh mantannya tersebut.

Aku konyol, yah, Pochi? Kenapa bisa aku menerima Bang Marco secepat itu? Alasannya apa? Apa aku terpesona dengan fisik atau rupa Bang Marco? Atau aku terlalu terbuai dengan kata-kata manis Bang Marco? Atau karena aku tergoda untuk segera melepaskan kejombloanku? Begitu ada laki-laki  yang menunjukan ketertarikan dan mendekatiku, aku langsung berkata "ya" dengan mudahnya. Aku sendiri apa alasanku menerima Bang Marco. 

Yang jelas, aku merasa keputusanku yang terdahulu itu sebuah kesalahan terbesarku. Bagaimana tidak, sekarang Bang Marco malah membiarkan dirinya sendiri tergoda oleh pesona seorang penyanyi kafe bernama Dinda Anggraeni. Yang tadinya, aku memandangi foto Bang Marco dengan senyuman lebar. Sekarang, aku ingin merobek saja foto-fotonya yang tersimpan rapi dalam album foto khusus dirinya tersebut.

.
PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. Cerpen ini pula masih terinspirasi dari pengalaman seorang adik kelas di kampus dulu. Dia sering mencurahkan isi hatinya ke aku tentang rasa sayangnya yang begitu begitu besar ke pacarnya yang ujungnya malah menduakannya. Beberapa nama dan tempat di dalam cerpen ini sengaja disamarkan.

Comments