#KCAC Jomblo saat Valentine's Day









Genre: Romance













...and even if the sun refused to shine
even if romance ran out of rhyme
you would still have my heart
until the end of time
cause all I need is you my valentine
oh
you're all I need, my love, my valentine...


Setelah kupertimbangkan masak-masak, setelah mendengarkan saran dari beberapa orang, kuputuskan aku harus move on. Sudah cukup, aku tak mau kesakitan lagi untuk menyelamatkan seseorang yang bahkan tak pernah menyadari apa saja perjuanganku untuknya. Lelah diriku ini dengan setiap sandiwara ini. Aku tak mau lagi dipersalahkan oleh kedua orangtuanya. Jengah sekali aku saat diriku mengetahui tabiat asli dari kedua orangtua Bang Marco. Seperti lintah saja. 

Hari ini aku kembali ke kampus. Padahal seharusnya aku bisa berlibur. Aku nyaris sudah tak ada perkuliahan. Sisa SKS hanya untuk penulisan skripsi. Puji Tuhan, tak ada nilaiku yang D semester lalu. Paling hanya C untuk Contract Drafting (memang kejam itu Pak Samuel, huh!). Rencananya, mulai bulan depan, begitu perkuliahan resmi dimulai, aku akan sibuk mengajukan proposal skripsi. Aku berharap dosen pembimbingku adalah Ibu Halimah. Dia baik sekali, juga ramah. Belum lagi Ibu Halimah amat mudah dijumpai. Banyak desas-desus yang mengatakan bahwa kita akan mengalami kesulitan yang amat luar biasa jika memilih dosen yang super sibuk, yang mana kita sulit temui dan membuat janji bertemu. Oh, aku juga tak mau mendapatkan dosen yang sedikit-sedikit memberikan revisi.

"Selamat, yah, Callista," Aku menyalami teman perempuanku yang sesama angkatan 2014, yang berambut coklat.

"Makasih, Jeng," Callista menjawab sembari tersenyum nakal. "Lu kapan nyusul? Lu, Robi, sama yang lainnya, jangan lama-lama kuliahnya. Jangan tua di kampus. Nanti sulit dapet jodoh. Haha."

Aku tersenyum getir. Ah, kamu seperti tak tahu saja. Aku tengah ingin sendiri dulu. Aku mau menjomblo. Pintu cinta--apalagi jodoh--telah kututup rapat-rapat. Selamat tinggal, Kenangan Indah. Selamat berpisah, Kesakitan dan Rasa Malu.

"Sorry, Jess, nggak ada maksud. Gue tau pasti berat harus mengalami patah hati itu. Hampir seluruh anak 2014 udah pada tahu masalah cinta lu yang penuh keedanan itu. Semangat aja, yah, Jes. Nanti, percaya sama gue, lu bakal nemuin gantinya si Bang Marco itu. Jodoh pasti bertemu, Jes."

Kuaminkan saja sembari tertawa yang penuh kepahitan. Masalahnya, sejak awal, aku merasa Bang Marco itu jodohku. Pertemuan yang nyentrik, proses pendekatan yang maha instan, itulah kenapa aku bisa beralasan seperti itu. Karena itu juga, Aku bisa bertahan dengan beberapa sifat negatif Bang Marco. Aku bahkan membela-belakan diri makan keju. Padahal aku kurang suka dengan keju. Aku suka muntah-muntah tiap mulutku menyentuh sesuatu yang berhubungan dengan keju.

"Eh, tuh, Pia datang. Pia, sini!" teriak Callista ke arah Pia Sinaga, temanku yang angkatan 2015 tersebut. Callista memang terkenal sebagai mahasiswi yang tak tahu malu. Pembawaannya yang seperti itulah, yang menyebabkan Callista memintaku untuk memotret dirinya di dekat patung seorang orang suci dalam kepercayaan Katolik. Aku, Pia, Robi, Justinia, dan Fena jadi terpingkal-pingkal melihat pose Callista itu.

"Pia, Dea ke mana? Kok tumben nggak ada Dea?" tanya Callista.

"Lagi di Bandung, Kak. Dea sekarang sibuk banget. Jadi wanita karir dia kayaknya." jawab Pia terbahak-bahak.

Callista tertawa. "Sibuk apa, sih, dia?"

"Dia ada butik gitu, Kak, di Bandung. Kemarin-kemarin, yang kudengar, dia barusan promo butiknya. Ampe manggil Kuburan Band juga, Kak. Makin hebat si Dea sekarang." ujar Pia tersenyum. "Be-te-we, Kak, nggak susah, kan, dibimbing sama Pak Nugroho?"

"Banyak ngelawaknya dia, Pia. Tiap bimbingan, lebih banyak bercandanya daripada seriusnya." kata Callista nyengir.

"Dia sih emang gitu, Kak."

"Oh iya, kita langsung ke Solaria Pelangi aja. Gue traktir lu semua makan sepuasnya." sahut Callista tersenyum lebar dan mata berbinar-binar. Tangannya mengacungkan sebuah kartu kredit. Akhirnya Callista diijinkan menggunakan kartu kredit oleh mamanya yang seorang sekretaris di sebuah stasiun televisi swasta tanah air. Sebetulnya aku tak masalah jika harus membayar juga. Tapi aku tengah harus berhemat. Aku banjir pengeluaran. Mahal juga menyewa orang pintar itu. Biaya maharnya gila-gilaan.

Sedari tadi, yang kulihat, Robi diam saja. Padahal seharusnya dia banyak bicara. Callista ini salah satu yang paling dekat dengan Robi--yang paling mengerti bagaimana pembawaannya yang suka menusuk orang lewat kata-katanya. Tumben laki-laki berwajah Oriental itu anteng saja. Namun aku lebih suka Robi saat laki-laki tersebut diam seperti ini. Dia terlihat sangat manis sekali (Eh, tapi Robi ini bukan tipeku. Aku juga hanya menganggap Robi sebagai seorang sahabat dan adik yang baik).

"Tumben lu diem, Rob." ujarku jahil. "Sedih, yah, cem-cemannya udah gak bakal sering-sering ke kampus."

Robi tersenyum dulu. "Gue pusing mikirin ke depannya, Jes. Stress banget pasti nyusun skripsi itu. Gue juga takut nanti dapet dosen yang nyebelin gitu."

Karena sudah akrab, enteng sekali Callista mencubit pipi Robi. Kalau aku dan lainnya yang melakukannya, Robi pasti sudah mengamuk. Aku heran kenapa Callista dan Robi tak berpacaran saja. Makin lama, aku rasa, hubungan pertemanan Callista dan Robi sudah melampaui batas. Sudah saatnya mereka pindah ke level yang lebih tinggi lagi. Ayo, Rob, tembak saja Callista!

"Rob, saran gue, jangan pusing-pusing gitu. Santai aja lagi. Kata anak milenial, santuy, Robi." hibur Calllista. "Nanti gue bantuin, deh, bikin skripsinya."

Robi tampak sumringah. Entah yang lainnya menyadarinya atau tidak, aku melihat kedua pipi Robi bersemu merah muda.

Fena berdeham-deham. Justinia batuk-batuk. Sementara, yang lainnya--termasuk aku, hanya cengar-cengir. Kata Fena, "Rob, lu sebetulnya ada perasaan, kan, sama Callista? Gak ada niat ditembak aja, nih?"

"Apaan sih lu?" jawab Robi sewot. Tapi sepertinya aku sangat bisa merasakan Robi sebetulnya hanya malu.

"Eh, gue ke toilet dulu, bentar," ijin Callista tergesa-gesa. Kami semua tertawa terbahak-bahak karenanya.

Hampir lima menit berselang, Pia mengeluarkan katalog itu lagi. Ah, paling dagangannya lagi. Tapi kali ini aku mulai tertarik melirik. Apalagi, ada yang mau kubeli. Parfumnya sangat menggoda aku sekali. Aku ingin merasakan aromanya.

"Kakak-kakak semua yang kayaknya lagi pada jomblo semua," Pia nyengir lebar. "Boleh, dong, dilihat katalognya. Jangan lupa dibeii, yah."

"Tahu aja, nih, si Pia, gue lagi butuh foundation." Justinia langsung bergerak cepat meraih katalog. "Gue pesen yang ini, yah."

"Siap!" kata Pia yang sangat berbinar-binar.

"Pia, gue ikutan beli, dong." kataku  "Parfum yang gue chat kemarin itu masih ada, kan?"

"Masih, Kak."

Sekonyong-konyong Callista  segera muncul. Bersamaan dengan itu, junior kami yang dulunya personel sebuah girlband (yang katanya sering manggung di fX Sudirman) itu menghampiri kami. Kalau tak salah, si junior itu bernama Cecilia, yang biasa dipanggil Sesil. Sesil ini lumayan akrab dengan Callista yang memang memiliki pergaulan yang amat luas.

"Kak Callista, yang gue dengar, katanya Kakak baru lulus sidang, yah. Selamat, yah  Kak."

Belum sempat Callista menjawab, ponsel Sesil berdering. Nada deringnya itu berasal dari Martina McBride. Dialah yang mempopulerkan lagu "My Valentine" yang kudengar barusan. Aku terenyak. Aku baru sadar, hari ini Valentine. Dan, Valentine kali ini, aku resmi seorang jomblo dengan penuh keterpaksaan. Andai tak ada Dinda Anggraeni, aku dan Bang Marco pasti masih bisa merayakan Valentine bareng. Kenangan Valentine terindahku adalah saat Bang Marco memberikan coklat mahal yang katanya berasal dari Swiss tersebut.


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. Cerpen ini pula masih terinspirasi dari pengalaman seorang adik kelas di kampus dulu. Dia sering mencurahkan isi hatinya ke aku tentang rasa sayangnya yang begitu begitu besar ke pacarnya yang ujungnya malah menduakannya. Beberapa nama dan tempat di dalam cerpen ini sengaja disamarkan.

Comments