#KCAC Senyawa, Sejiwa,..... dan Pelet










Genre: Romance













"Jes,"

Aku sekonyong terbatuk-batuk. Hampir saja aku menelan bulat-bulat bakso isi telur ini. Mana pedas pula ini. 

"Minum dulu, Jes," Justinia menawarkan aku segelas air minuman mineral. "Lu juga, sih, Fen,  dateng-dateng main pukul pundak, keselek kan si Jessica. Untung nggak kenapa-napa Jessica."

Fena terbahak. "Iya, iya, gue minta maaf.  Oh iya, Jes, lu udah lihat FB-nya si Marco belum?"

"Emang kenapa?" tanyaku penasaran setelah tak tersedak lagi. 

Fena langsung menunjukan kepadaku halaman Facebook Marco. Aku kaget bukan kepalang. Justinia juga sama kagetnya. Bang Marco mengganti foto profilnya. Tak ada lagi fotoku yang tengah menggendong anjing kesayanganku, si Pochi. Beraninya dia memasang wajah perempuan lain. Murahan sekali perempuan yang dipilih Bang Marco. Dari mana Bang Marco mengenal perempuan murahan ini. Tak sebanding denganku yang jelas-jelas berasal dari keluarga terpandang.

Bagaimana keluargaku tak terpandang. Lihat saja, Ayah. Ayah seorang pengacara kondang. Aku bangga dengan Ayah. Berkat Ayah yang sering bersalam-salaman dengan beberapa selebritis tanah air, aku jadi berkuliah di fakultas Hukum. Konon, Ayah bisa menjabat tangan salah satu menteri, itu juga karena profesinya. Lalu, Bunda juga tak kalah terhormat. Beliau memiliki darah biru. Di dalam album foto keluargaku, banyak tersimpan foto-foto keluarga besar Bunda dan acara-acara besarnya. Sangat mewah. Tak jarang, ada banyak pejabat lokal atau aparat yang menghadiri.

Sementara, perempuan ini. Ah, dia ini apa. Aku lihat sekali lagi foto-foto yang ada di dalam folder foto  Bang Marco. Tampak si perempuan ini seorang penyanyi kafe. Dandanannya sangat mencolok dan membuatku muntah darah. Bibirnya saja disulam biar terlihat makin cantik. Dan, aku ragu itu payudara asli. Atas dasar apa Bang Marco menduakanku demi perempuan bernama Dinda ini? 

Justinia merangkulku. Dia lalu menyeka air mataku dengan sehelai tisu yang ia keluarkan dari dalam tas tangannya. "Sabar, yah, Jes. Gue ngerti, kok, pasti berat pas tahu pacar kita tiba-tiba ngegandeng yang lain tanpa sepengetahuan kita."

"Lu beneren nggak tahu, Jes?" Fena berusaha mengkroscek lebih jauh. Mungkin ia takut diriku membohonginya dengan pura-pura bahagia. 

Aku menggeleng, lalu terisak sedikit demi sedikit. Di depan kedua teman terbaikku--juga, di depan para pengunjung kantin kampus, aku membiarkan diriku hanyut dalam tangis. 

"Sori, Jes, gue nggak maksud bikin lu nangis. Gue kira lu cuma pura-pura nggak tahu. Kayaknya lu beneren nggak tahu." Fena langsung duduk di bangku kosong yang masih tersedia. 

"Yang sabar, yah, Jessica." ujar Justinia yang masih merangkulku dan menyeka tiap air mataku. 

"Apa nggak sebaiknya lu coba cari tau?" Justinia langsung melotot. Tapi, Fena malah lebih galak lagi. Justinia ciut seketika, dan Fena melanjutkan lagi kata-katanya. "Maksud gue itu baik, Tin. Kalau Jessica mau, gue bisa bantuin nampar si Marco. Maksudnya apa, selingkuh gitu? Kurang baik apa Jessica? Kita kan sama-sama tahu apa aja pengorbanan Jessica buat Marco. Dari yang nggak suka keju, jadi suka keju."

"Makasih, Fen, kata-kata motivasinya." Aku sekonyong-konyong bangkit berdiri. Kutitipkan saja uang untuk dibayarkan kepada Justinia. Aku pamit ke mereka berdua. Kukatakan, aku tak ikut kelas Pak Brito nanti siang. Aku minta tolong diabsenkan ke mereka berdua yang kebetulan sekelas. 

"Ya udah, lu hati-hati, yah. Kalau lu mau, gue bisa pinjemin lu duit buat naik taksi online. Jangan naik bus, Jes. Ntar lu makin kenapa-napa. Gimana?" Justinia memang sahabat yang terbaik, walau Fena tak kalah baiknya. Dirinya langsung mengeluarkan dompet.

"Udah, nggak usah. Gue nggak apa-apa, kok. Lagian, kayaknya abang gue, si Tony, udah ada di rumah."











...Jangan patahkan seleraku
Bisa hilang felingku padamu
Bila kau slalu meragukanku
Dan tak pernah yakin padaku
Padahal kita sudah senyawa dan sejiwa...

Aku langsung membuka kamarku. Sudah biasa diriku meninggalkan Pochi di dalam kamar. Lagipula kamarku juga tak kukunci. Pochi juga setia dalam rumahnya yang berkerangkeng. Aku lalu  mengangkat rumah Pochi tersebut. Sepertinya Pochi tahu diriku tengah berantakan. Maksudku, bukan wajahku yang berantakan, namun batinku yang amat berantakan.

Kugendong Pochi, dan kubawa anjing Poodle berusia dua tahun ini ke atas tempat tidur aku. Pochi diam saja dan lebih memilih rebahan sambil menatapku nanar. Iya, Pochi, aku lagi patah hati. Si dia tiba-tiba saja menyelingkuhi aku. Patah hati itu seperti ini, yah, Chi? Sakit banget rasanya diselingkuhi itu. Inikah yang namanya sakit tapi tak berdarah tersebut?

Laptop langsung kuambil. Seperti biasanya, aku mengoperasikan laptop di atas tempat tidur. Pochi terus menatapku nanar, yang kini ia berjalan-jalan di belakang punggung aku. Ia kibas-kibaskan ekorku. Sesekali dirinya menjilati tanganku. Kali ini aku tak terganggu dengan jilatannya. Bagiku, jilatan Pochi ini sedikit menenteramkan batin yang tengah berantakan ini. 

Begituku kotak dialog browser terpampang di layar, aku segera membuka Facebook. Ingin kucari tahu siapa perempuan itu dan bagaimana Bang Marco bisa mengenalnya. Pada saat pencarian itulah, aku melihat video menarik. Ini sebuah lagu yang amat sedih. Rasa-rasanya lagu ini seperti berusaha merangkulku seperti Justinia merangkulku tadi siang di kantin kampus.

Oh, ternyata Bang Marco online, batinku sedikit gembira. Kuputuskan untuk mengajak pacar Batak aku ini mengobrol. Mungkin belum terlambat. Hubunganku dengan Bang Marco bisa terselamatkan.

"Bang,"

Bang Marco tak menggubris langsung. Aku menggerutu sendirian. Pochi makin beringsut ke dekat kepalaku. Ia menjilati salah satu pipiku. 

"Ini, Pochi. Calonnya aku selingkuh dari aku. Coba lihat, deh, masih cakepan juga aku daripada si penyanyi kafe ini. Mana fotonya pake filter. Gak natural cantiknya. Cantiknya editan."

Pochi yang dari tadi diam, sontak menggonggong keras. Dia lalu melenguh, dan menjilat-jilati pipiku. Sekarang dirinya mengulet di salah satu tanganku. Aku mengelus-elus bulunya yang sangat lembut. 

"Pochi, nanti kalau kamu udah ketemu betinanya kamu, kamu jangan selingkuhin dia, yah." Pada saat itulah, Bang Marco membalas chat aku.Harapanku sepertinya mulai naik. Mungkin memang masih bisa diselamatkan.

"Yah, ada apa, yah?"

"Abang gimana kabarnya? Ini Cici, Bang. Cici kesayangannya Abang. Abang udah pulang dari Meksiko?"

"Cici siapa, yah?"

Aku tertawa. Ah, mungkin Bang Marco hanya bercanda. "Cici, Bang. Jessica Maria Sondakh, yang Abang beliin boneka beruang waktu itu. Masa lupa?"

"Yang rambutnya ikal itu?

Sudah kuduga, mungkin masih ada harapan. "Iya, yang rambutnya ikal, yang Abang suka elus-elus."

"Ya, ya, aku ingat. Kamu gimana kabarnya? Udah ada gandengan baru belum, nih?"

Hah? Aku nyaris tak percaya membacanya. Ini betul-betul Bang Marco yang mengetikannya? Bang Marco masih sehat, kan? Tak bercanda juga, kan? 

"Gimana? Kamu udah ada gandengan baru, belum?"

"Kan, pacar Cici itu Abang. Masa lupa?"

"Kita bukannya udah putus?"

"Putus dari Hongkong? Kapan? Aku nggak pernah bilang kita putus. Abang jangan ngarang cerita."

"Aku ada buktinya, kok. Bentar."

Lama aku menunggu, namun Bang Marco tak kunjung membalas. Lima belas menit aku menunggu yang sambil bermain dengan Marco, eh Bang Marco malah offline. Aku menggerutu. Pochi menyalak lagi. Sekonyong-konyong bulu kuduk aku mulai berdiri. Ini sesuatu hal yang aku benci. Apa jangan-jangan.....

.....Bang Marco kena pelet? Tidak, tidak, aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Jessica, ayo, jangan berpikir ke arah sana dulu. Berpikir positif, coba. Pasti ada penjelasan lainnya yang lebih masuk akal. 

Eh, tapi memang Bang Marco terasa aneh bagiku. Pochi juga sama gelisahnya denganku. Tak biasanya Pochi menyalak sekeras itu. Aku jadi merinding dengan analisisku barusan.











Seminggu kemudian, 

Aku masih tak percaya hubunganku dengan Bang Marco harus menjadi serumit ini. Dugaan awal aku rupanya benar. Kata Mbok Woro, sorot mata Bang Marco seperti terkena guna-guna. Dalam bahasa Mbok Woro, matanya kosong yang entah ke mana. Saat kutemui langsung di di rumahnya yang jauh lebih sederhana dari rumahku, aku malah dibentak. Sialnya si penyanyi kafe itu berada di sana dan ikut memarahiku. Aku malu sekali. Belum pernah aku merasakan sakit yang seperti ini. 

Berkali-kali pesanku dibalas ketus, baik oleh Bang Marco maupun oleh selingkuhannya yang bernama Dinda tersebut. Aku coba mengungkit-ungkit tiap kenangan antara aku dan dirinya. Sia-sia juga. Yang ada, aku malah dipermalukan balik. Pengorbananku yang sampai harus menyerahkan keperawananku terasa tak ada artinya lagi. Dia malah mengejekku aneh. Balasnya, "Kayaknya aku nggak pernah berhubungan badan sama kamu. Jangan ngarang-ngarang cerita kamu."

Tak hanya di situ saja. Masih banyak keanehan pada diri Bang Marco. Dia malah lupa hampir sebagian besar kenangan aku dan dia. Saat kutunjukan boneka beruang pemberiannya, dia tak mengakuinya. Kubawa Pochi ke hadapannya. Bagaimanapun, saat aku membeli Pochi, ada Bang Marco di dekatku. Pochi juga nama pemberian Bang Marco. Yang terjadi, Pochi malah menggonggong sangat keras dan hampir saja menggigit Bang Marco andaikan tak kucegah. Mungkin benar kata Mbok Woro dan teman-temanku yang lainnya, Bang Marco terkena guna-guna. Ada pelet di dalam otak Bang Marco. 

Sekarang aku tengah coba mendapati hati Bang Marco. Mengikuti saran teman gerejaku, aku menghubungi salah seorang orang pintar. Kata Violeta, Romo Dharmo memang spesialis dalam mengatasi keluhan guna-guna, pelet, atau santet. Semoga saja Romo Dharmo bisa mengembalikan Bang Marco seperti sedia kala. Jujur saja, aku belum mau kehilangan Bang Marco, apalagi harus kehilangan karena guna-guna. Apalagi, sejak dulu aku sangat merasa diriku dan Bang Marco itu seperti berjodoh saja. Kami seperti senyawa dan sejiwa.

Tuhan, tolong berikanlah jalan yang terbaik!


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. Cerpen ini pula masih terinspirasi dari pengalaman seorang adik kelas di kampus dulu. Dia sering mencurahkan isi hatinya ke aku tentang rasa sayangnya yang begitu begitu besar ke pacarnya yang ujungnya malah menduakannya. Beberapa nama dan tempat di dalam cerpen ini sengaja disamarkan. 


Comments