#KCAC Dagelan Macam Apa Ini?






Genre: Romance







Jangan lupa beli "Sebuah Kenangan tentang Cinta"! Harga Rp 45.000!









Aku mampir dulu ke kantin kampus. Apalagi beberapa temanku tengah menunggu di sana. Kulihat dari kejauhan, sudah ada Robby yang menjengkelkan. Walau suka menjengkelkan karena kata-kata nyelekitnya, harus kuakui Robby itu orangnya baik. Dia seorang pendengar yang baik. Kadang, saran dari Robby sangat memberikan dampak ke dalam masalah yang tengah kuhadapi. Ah, mungkin saja Robby bisa memberikanku saran terhadap hubunganku dengan Bang Marco.

"Eh, Jes," ujar Justinia nyengir. "Senyum, dong. Pagi-pagi udah cemberut aja."

"Kuis hari ini susah banget. Bu Rini kalau kasih soal, nggak kira-kira. Nyusahin mahasiswanya yang ada." keluhku yang langsung segera duduk.

"Nggak beli makanan dulu?" tanya Fena yang duduk di sebelahku. "Ato mau gue pesenin? Lu harus cobain lontong baru itu. Enak banget, sumpah. Gue sampe ketagihan." Fena menunjuk ke arah penjual ketupat sayur yang sebelumnya memang belum pernah kulihat sebelumnya. Fena ini memang ahlinya kuliner enak. 

"Boleh juga, tapi beliin, ya, Fen," Aku mengedipkan sebelah mata ke arah Fena. "Jarang-jarang lu traktir teman."

"Eh, Jes, katanya lu lagi ada masalah, yah?" Si Robby mulai buka suara setelah Fena bergegas ke arah penjual ketupat sayur tersebut. Justinia memberikan kode ke Robby agar hati-hati dalam berucap. Tak apa-apa, kali, Tin, aku siap menceritakannya ke Robby. Mungkin Robby bisa memberikan solusi juga. 

"Iya, Rob. Justin udah pernah ngomong, kan?" Nama lengkapnya itu Justinia Fernanda Maspaitella, seorang perempuan Ambon yang sangat manis sekali wajahnya. Aku dan anak-anak angkatan 2014 sering memanggilnya Justin, walau ada pula beberapa yang memanggilnya Nia.

"Gue turut prihatin, Jes, sama masalah lu, yah. Sampe harus ngalamin hal-hal kayak begituan. Sampe orang-orang sekre pada tahu." kata Robby tersenyum kecil, lalu menghirup minuman teh kemasannya.

Aku menatap galak ke arah Justinia. Justinia langsung terburu-buru minta maaf. Katanya, dia keceplosan berbicara saat berada di dalam kelas, dan kebetulannya lagi ada dosen di dalamnya. Mana dosennya itu yang terkenal suka bergosip. Siapa lagi kalau bukan Evelyne. Emak-emak rumpi yang dandanannya melebihi penampilan seorang personel girlband tanah air. 

"Apa nggak sebaiknya lu tinggalin aja cowok itu, Jes? Tuh, lihat, badan lu sampe kurusan. Nyampe ke kita aja, lu ampe batuk-batuk sama bersin-bersin. Pucat banget wajah lu." ucap Robby sembari memegang sebelah pergelangan tanganku. "Kurusan gini tangan lu sekarang."

"Makasih perhatiannya, Rob. Gue nggak apa-apa. Masih bisa gue tahanin, kok." kataku yang tersenyum balik.

Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Fena tampak kerepotan membawakan nampan berisi dua piring ketupat sayur. Wangi sekali ini. Pilihan Fena memang jitu sekali. Pasti sangat enak sekali, ketupat sayur ini.

"Jes, lu udah hubungin orang pintar yang direkomenin sama Fena?" tanya Justinia. Fena ikut mendesakku agar segera menjawab. 

"Udah. Gue bahkan nyamperin paranormal kenalan Mbok Woro juga. Namanya Mbah Teten. Katanya, butuh waktu agak lama agar Bang Marco lepas dari pengaruh pelet itu." jawabku sembari mulai menyantap ketupat sayur tersebut.

"Pantes lu jadi agak kurusan gitu. Lu beneren cinta banget sama si Marco itu, yah?" ujar Robby yang dari nada suaranya, sepertinya Robby cukup simpati. Benar, kan, yang kubilang, Robby orangnya baik sebetulnya, walau omongannya suka pedas nan tajam.

Aku hanya menghela napas, lalu menatap ke arah langit lepas. Tampak awan-awannya sangat indah sekali. Mulai terik, namun masih adem cuacanya. Aku suka.

"Rob, jaga dikit cara ngomong lu!" tegur Fena galak. 

"Maaf kalau begitu. Gue cuma mikirin kondisi Jessica, Fen. Kasihan Jessica." Robby kembali memegangi pergelangan tanganku.

"Nggak apa-apa, Fen. Gue nggak tersinggung, kok. Gue udah biasa disakitin." kataku tersenyum.













Pochi kukeluarkan dari rumahnya. Kuletakan dia ke atas tempat tidurku. Sudah seminggu ini, Pochi sama murungnya denganku. Dia tak menggonggong sama sekali saat aku meletakan laptop seperti biasanya. Kunyalakan laptop. Letih aku. Hari ini aku tak melakukan dulu saran dari Mbah Tenten dan Romo Dharmo. Aku mau istirahat dulu beberapa hari. Kalau bisa, aku akan bolos dari perkuliahan aku dulu. Mama juga menyarankanku untuk tidak berkuliah dulu selama beberapa hari. 

Beberapa menit kemudian, aku langsung membuka browser. Youtube-lah yang aku buka. Aku memilih untuk menonton animasi Jepang ini. "Keppeki Danshi! Aoyama-Kun" ini dulu animasi favorit Bang Marco. Bang Marco merupakan penggemar setia Aoyama-Kun. Dia selalu bilang,  permainan sepakbolanya jauh melebihi Aoyama-Kun. Aku benarkan saja sambil tertawa dalam hati. Bang, kenapa Abang jadi seperti ini ke Cici? Kenapa Abang tega menduakan Cici? Kurang cantik apa Cici? 

Sejak kali pertama menonton aksi Aoyama-Kun, aku sudah sangat tergila-gila. Setiap Bang Marco berpelesiran, hanya dengan memandangi wajah Aoyama-Kun, rinduku ke Bang Marco terbayar. Bagiku, Bang Marco setampan Aoyama-Kun. Atau, mungkin yang terjadi itu sebaliknya. Aoyama-Kun yang menyerupai Bang Marco. Aduh, mengingat kembali setiap kenangan tersebut, air mataku jadi menetes dan membasahi seprai. 

"Ganteng, yah, Pochi, si Aoyama?!" Pochi langsung menggonggong saat kuajukan pertanyaan tersebut ke dia. 

"Mirip kayak Bang Marco. Semoga Bang Marco bisa kembali kayak dulu, yah, Chi. Kita berdoa yang terbaik." Aku langsung mencium pipi Pochi. 

Sontak ponsel yang kuletakan tak jauh dari laptop itu berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk. Dari nomor asing. Aku coba lihat. Oh, ternyata dari si perempuan murahan itu. Siapa lagi kalau bukan Dinda Anggraeni.

"Ngapain lu hubungi cowok gue? Dasar kegatelan! Ganjen lu, ah! Bang Marco udah punya cewek, dan ceweknya itu gue. Ngerti lu?"

Sontak aku langsung terbakar emosi. Kumatikan sejenak video animasi tersebut. Ini maksudnya apa? Bukankah dia yang genit? Kok merebut laki-laki orang? Walau hanya imitasi dan murahan, di jari manis Bang Marco sudah ada sebuah cincin, meskipun cincinnya sudah dibuang demi penyanyi kafe yang mengajak ribut jam dua siang ini. 

"Eh, kalau ngomong, dijaga. Situ yang ngerebut cowok orang. Pas kenalan sama Bang Marco di kafe Situ mangkal, bisa lihat kan ada cincin di jari manis Bang Marco?"

"Ngomong apa, sih, lu? Dia sendiri yang ngaku ke gue, dia masih jomblo. Nggak ada cincin di jari manisnya. Kalau mau mimpi, pas malam, enak tuh!"

"Emang ada, Cewek Murahan! Dan, satu lagi, gue sama dia juga emang pernah berhubungan seks. Gue bahkan sempat hamil anak dia selama tiga minggu sebelum dia sendiri yang minta gue gugurin, karena katanya dia pengin gue hamil pas dia lagi nggak berlayar."

Dia memasang emoticon tertawa. "Aduh, lu jago banget, yah, ngarang cerita?! Dia sendiri yang bilang, dia belum pernah berhubungan seks sama perempuan mana pun. Cuma sama gue katanya."

Dagelan macam apa lagi ini? Sekarang ini saja aku sudah tak perawan. Aku bahkan masih menyimpan record dari kehamilan pertamaku. Sampai sekarang pun aku masih mau muntah setiap membayangkan proses aborsinya. 


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. Cerpen ini pula masih terinspirasi dari pengalaman seorang adik kelas di kampus dulu. Dia sering mencurahkan isi hatinya ke aku tentang rasa sayangnya yang begitu begitu besar ke pacarnya yang ujungnya malah menduakannya. Beberapa nama dan tempat di dalam cerpen ini sengaja disamarkan.

Comments

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^