ANOTHER FICTION: Aku dan Pacar Raksasa Aku









Genre: Romance













Aku bingung kenapa aku bisa tahan berpacaran dengan Rasheed. Sejujurnya aku risih berada di dekat laki-laki berdarah Bangladesh ini. Bukan karena bahasanya. Sejak awal kami berkenalan, bahasa pemersatu ialah bahasa Arab dan Inggris. Hapalan Al-Quran aku jadi lancar karena Rasheed. Bagiku, Rasheed itu laki-laki sangat motivatif. 

Bagaimana caraku mengenal Rasheed? Aku mengenalnya karena Tinder. Itu,;loh, sebuah situs perjodohan. Awalnya aku sangat tidak menyukai dengan konsep cinta yang seperti itu. Takut juga, pula ragu. Apalagi, aku sering dengar banyaknya kisah orang yang ditipu lewat cara seperti itu. Mengakunya laki-laki, tahunya perempuan. Bilangnya masih lajang, eh tahunya duda beranak empat. Tapi, berbekal rasa ingin tahu (karena teman-teman banyak yang menggunakannya dan sering bisa mendapatkan pacar karena Tinder), aku putuskan mungkin jodohku berada di situs tersebut.

Aku memutuskan untuk menjajal Tinder. Aku sign up. Karena ini percobaan, aku menggunakan nama palsu. Sejak dulu aku sangat senang dengan nama berbau Arab, maka kuputuskan menggunakan nama Aisyah. Aisyah merupakan nama yang sangat indah, khususnya jika kalian tahu maksudku. Kuputuskan menggunakan nama 'Aisyah Malikah Al-Jamil'. Untuk foto, aku main comot dengan foto perempuan Arab yang banyak beredar di mesin pencari. Bukan apa-apa, ini langkah preventif. Kalau suatu saat aku merasa tak aman, tinggal kututup akunnya dan berpura-pura itu bukan aku. Toh, Aisyah Malikah Al-Jamil itu fiktif. Yang nyata, Siti Jumairah, sebuah nama berbau Arab-Jawa. 

Walau percobaan, entah kenapa aku merasa tak sabar. Deg-degan sekali. Kalau kalian bertanya padaku, itu seperti menunggu seseorang yang sudah dijodohkan ke kita. Seperti sudah pasti, namun masih mengawang-awang. Jujur, aku sangat menikmati. Kalau aku tak menikmati, tak akan mungkin teman-teman Tinder aku mencapai seratus orang. Aku sendiri bingung apakah itu orang asli atau bukan. Tapi aku coba ber-husnudzon. Mungkin memang orang asli, dan akulah yang palsu. Aku malu dengan jilbab yang kuknenakan.

Herannya aku, kenapa tak ada yang mempertanyakan. Apa mereka serius mengira namaku itu Aisyah Malikah Al-Jamil? Itu terjadi sampai Rasheed menjadi teman yang ke seratus satu aku. Dia yang kali pertama bertanya padaku tentang identitas asli aku. Kaget juga, sih. Yang lainnya terkecoh, hanya Rasheed yang (sepertinya) tidak. Aku merasa sangat diistimewakan. 

"Ini sepertinya kamu menggunakan identitas palsu?" tanyanya secara pribadi lewat chat. 

Aku kaget, juga bingung harus menjawab apa. Skenario-skenario buruk berkeliaran di kepalaku. Namun, yang positif yang menang. Kujawab saja "iya", lalu kujelaskan kenapa. 

"Haha. Jangan takut. Aku pun pernah seperti kamu. Yah, memang kuakui pentingnya menggunakan nama palsu di internet. Untuk perlindungan, kan?"

"Iya, Rasheed. Alhamdulilah, kamu mau mengerti. Syukran."

"Siapa nama asli kamu? Aku serius ingin mengenalmu lebih jauh. Aku berbeda dengan laki-laki yang kamu kenal di Tinder."

"Siti Jumairah. Weird, isn't it?"

"No, no, no, it is a very beautiful name. I like it. Boleh minta foto asli kamu?"

Aku melampirkan foto asliku. Kuambil dari fotoku saat lulus madrasah tsanawiyah tempo lalu.

"Subhanallah, you are so cute. Perempuan Indonesia memang manis-manis."

"Ah, kamu bisa saja."

Lalu, singkat cerita, aku dan Rasheed makin akrab. Ini pengalaman pertama aku memiliki sahabat dari dunia maya, yang mana itu juga orang asing. Perlahan, dari bahasa tulisan turun ke mata, lalu perlahan turun ke hati. Kami berdua saling mencurahkan isi hati masing-masing. Aku makin senang membaca Al-Quran karena seorang Rasheed. Dia membuatku makin dekat dengan Allah. Wawasanku pun menjadi luas. Sampai akhirnya Rasheed mengajakku untuk bertemu. Aku deg-degan.

Aku kan sudah mengetahui penampilan fisik Rasheed. Aku sudah tahu bahwa tingginya itu 190 cm. Sementara aku hanya 160 cm. Wah, aku jadi minder ini. Nanti bakal jadi bahan tontonan orang. Rasanya pasti kikuk jika berjalan berdampingan. Bagaimana ini, Allah? Aku harus apa?

Kuceritakan kepada Umi. Dia kaget dan bertanya kenapa aku baru bercerita sekarang. Lalu, dia juga bilang, lebih banyak mudaratnya. Apalagi, saat kuceritakan tentang tinggi Rasheed, Umi bilang nanti aku yang susah. Aku bakal kerepotan sendiri. Abi juga sama saja. Dia yang sangat menentang. 

Pada akhirnya, jadi juga aku dan Rasheed kopi darat. Memang aku kikuk saat berjalan  berdampingan. Tapi aku sudah mulai merasakan hati kami berdua saling komunikasi. Rasheed juga sangat mengayomi. Dia enak diajak mengobrol. Tidak kaku. Lambat laun, karena pembawaan Rasheed yang sudah membuatku nyaman, aku tak risih lagi dengan perbedaan tinggi badan antara kami berdua. Aku tak merasa menjadi liliput lagi.

Walaupun demikian, pasti ada awkward moment-nya. Salah satunya, masih banyak tak percaya dia itu pacarku. Dari pihak dia pun sama. Katanya, banyak temannya yang mempertanyakan hal tersebut. Teman-teman aku juga bingung kenapa harus Rasheed  Kata Andini, "Bukannya lebih enak kalau pacar kita itu sama tingginya, yah? Kasihan di kamu, Jum." Aku hanya senyumkan saja. 

Tapi, sih, jujur saja mereka benar. Aku jadi suka membeli high heel agar sedikit membantu Rasheed. Tak terlalu pendek-pendek amat aku saat berjalan berdampingan dengan Rasheed. Belum lagi, aku suka tak enak sendiri jika Rasheed terlalu sering membantu aku terkait segala kesulitanku dengan tinggi badan. Aku seperti orang yang tak mampu saja. Itulah yang sering memicu keributan antara kami berdua. Rasheed tak masalah, aku yang sering tak enak hati. 

Di luar itu,  hubungan aku dan Rasheed selalu luar biasa. Rasheed itu pintar, ramah, pengertian, hapalan Al-Quran-nya luar biasa, dan sangat motivatif. Dia juga yang sangat mengerti setiap selera humorku di saat banyak temanku yang gagal paham. Aku sangat menyukai tiap karakter yang dimiliki oleh Rasheed. Bagiku, Rasheed merupakan satu-satunya laki-laki yang sangat mengerti aku. Aku sangat menyayangi Rasheed.

Masalahnya adalah kedua orangtuaku, khususnya Abi, sangat keberatan aku memacari Rasheed. Kata Abi, dia tak begitu suka memiliki calon menantu yang seperti raksasa, walau Rasheed sangat taat agama. Alasan Umi kurang lebih sama, walau dia lebih memperhatikan aku. Umi suka menakut-nakuti aku yang bukan-bukan. Itu seperti dia mengkhawatirkan aku saat aku dan Rasheed tengah salat bareng. Aku lalu meyakinkan bahwa aku bisa mengatasinya.

Sekarang aku dan Rasheed sudah dua tahun menjalin hubungan. Bulan depan kami mau menikah. Aku melihat foto--foto aku dan Rasheed. Aku tertawa sendiri memperhatikannya. Agar enak dipandang, kami berdua selalu mengusahakan yang terbaik. Yang seperti, aku dan dia lebih sering berfoto sambil duduk. Amat jarang kami berfoto sambil berdiri. Kalau aku yang tak kelihatan, yah berarti Rasheed. Untung tak ada Rasheed. Aku bebas meledekinya, walau kuyakin dirinya tak akan marah.

Intinya, saling pengertian dalam menghadapi hubungan dengan orang yang lebih tinggi seperti Rasheed. Gengsi sebisa mungkin ditekan. Kita harus saling menjaga perasaan dan membaca kesulitan masing-masing. Itu bukan tugas yang mudah. Prakteknya sulit. Tapi, bukan berarti tidak mungkin, loh.


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. Cerpen ini pula masih terinspirasi dari cerita yang beredar di tengah netizen. Kisah klasik, namun masih tetap menarik disimak dan sering terjadi di mana-mana. Beberapa nama dan tempat di dalam cerpen ini sengaja disamarkan. 


Comments