ANOTHER FICTION: Surat Cinta Gabriel untuk Becky













Genre: Romance








Dear Rebekah Justinia Sondakh dari kelas 1-1,

Halo, Rebekah. Eh, kamu dipanggilnya apa, sih? Yang aku dengar, ada yang manggil kamu Rebekah, ada yang manggil kamu Becky, ada juga yang manggil kamu Kiki. Enaknya manggil kamu apa, nih?

Oh iya, kenalin namaku Gabriel Kustandi Hutagalung, dari kelas 1-4. Kamu bisa panggil aku Abi. Gabi juga boleh. Namaku pasti agak sulit kamu ucapin, yah. Hehe. Harus kuakui, namaku memang ribet. Atau, mungkin kamu punya panggilan sendiri buatku? Haha. Kege-eran, yah, aku?

Rebekah, lewat surat ini, aku pengin ucapin satu terimakasih buatmu. Terimakasih banyak untuk bantuanmu ke aku waktu acara Natal kemarin itu. Aku satu seksi sama kamu, Rebekah. Walau beda kelas, kita sama-sama anak Seksi Perlengkapan. Terimakasih banyak, yah, sekali lagi. Yang paling aku ingat juga, bantuanmu  waktu ngajarin aku cara bikin goa itu. Tangan kamu terampil banget. Aku juga terkesan banget waktu kamu perbaikin cara gambarku. Gambar wajah Bunda Maria buatanku, kamu perbaiki. Buatanmu malah yang paling bagus. Udah begitu, kamu malah bilang ke anak-anak, itu gambar buatanku. Sekali lagi, terimakasih.

Rebekah, aku juga mau bilang, penampilanmu itu bagus banget waktu nyanyi  di acara Natal. Badanku merinding banget waktu kamu nyanyiin lagu "All I Want for Christmas is You". Kamu belajar nyanyi di mana? Boleh, dong, rekomendasi tempat kursus menyanyi yang bagus, Rebekah. Di tempatnya kamu belajar, malah jauh lebih baik. Ada kesempatan buat aku bisa mengenal kamu jauh lebih dalam lagi. Aku penasaran juga, Rebekah yang asli itu kayak gimana.

Haha. Aku tahu kamu punya pikiran apa. Mungkin kata-kataku jelas banget, yah. Errr.... pertama kali aku kenal kamu, aku kayaknya naksir sama kamu. Mungkin kamu tidak terlalu ingat, tapi buatku, itu satu kenangan paling berharga. Aku nggak pernah lupa kejadian waktu MOS itu. Aku sekelompok sama kamu. Kita di kelompok Bunga Matahari. Mentor kita itu Kak Ronald Prakoso. Di antara anak-anak perempuan yang ada di kelompok Bunga Matahari, kamulah yang paling cantik. Gombal banget, nggak, sih, aku, Rebekah? Haha. Kata orang, kata-kata gombalan itu sebetulnya luapan isi hati kita yang sebenarnya. Haha. Malah jadi ngelantur aku.

Rebekah, ada satu puisi buat kamu, coba dengarkan.

Rebekah,

Aku tidak tahu
Tak tahu apa kamu merasakan hal sama
Tapi aku penasaran
apa kita memiliki perasaan yang sama

Aku di kelas 1-4
Kamu di kelas 1-1
Kita cukup jauh
Empat ke satu
Bagaikan pungguk merindukan bulan
Apalagi kelasku memiliki banyak murid nakal
Beda dengan kamu
kamu berada di kelas sempurna

Rebekah,
Aku hanya bisa mengagumi dari jauh
Semenjak MOS itu,
tiap jam istirahat aku selalu curi pandang
Mataku selalu tertuju ke kamu
Aku selalu mencari keberadaanmu
laksana kumbang mencari serbuk bunga
Itulah kamu untuk aku

Salahkah aku jika cemburu?
Kamu memang supel
Tak heran banyak laki-laki di sekitar kamu
Aku suka panas melihat kamu dengan satu laki-laki
Sering kusangka itu pacar kamu
Tapi, kata seorang teman, hanya sebatas teman
Benarkah seperti itu?

Rasa-rasanya tak percaya kamu itu seorang lajang
Kamu terlalu cantik untuk menjadi seorang lajang
Menurutku, tiap perempuan cantik selalu dimiliki
Kamu terlalu cantik, Rebekah!
Yakinkan aku
Apa benar kamu masih lajang?

Rebekah,
aku menyukai kamu
Tiap teman-teman membicarakanmu,
aku selalu sangat penasaran
Tiap sebelum tidur,
aku selalu memandangi foto-foto kamu
Iya, aku suka diam-diam mengambil gambar kamu
Terkadang aku suka minta bantuan seorang teman

Rebekah,
entah bagaimana aku harus mengatakannya
Aku sangat mencintaimu
Aku ingin kamu selalu memperhatikanku
Aku ingin mengenal kamu lebih dalam lagi
Maukah kamu, Rebekah?

Semoga kamu suka sama puisiku tersebut. Itulah luapan isi hatiku ke kamu selama ini. Maaf, yah, Rebekah, aku cuma bisa menyampaikan lewat bahasa tulisan. Aku terlalu penakut untuk bisa menyampaikannya langsung. Besar harapanku, kamu mau menerimaku.

Kutunggu jawabanmu.

Best regards,
Gabriel Kustandi Hutagalung
SMS aku ke 081288776655
Atau, telepon aku, walau aku terlalu penakut untuk mengangkat. Jadi, SMS saja.













[BECKY]
Kubuka lagi surat paling berharga ini. Surat ini masih tersimpan di diary aku. Aku tak pernah coba membuangnya, walau kamu sudah bersama perempuan lain. Bi, apa aku sudah tak memiliki kesempatan kedua? Tolong, maafkan aku. Tuhan Yesus saja mau memaafkan yang bersalah pada-Nya. Masa kamu enggan mengampuni aku? Aku janji, Abi, aku tidak akan pernah mengkhianati kamu. Aku juga menyesal sudah bermain api. Kusangka kamu tidak berada di Indonesia. Aku terlalu terbawa suasana saat berada di Barcode itu.

Bi, apa kamu tidak tahu betapa menangisnya aku? Bantal ini sudah banjir dengan air mata. Kaset ini sepertinya sudah mulai kusut saking terlalu sering diputar. Berkali-kali diary ini penuh dengan air mata. Tulisanku jadi makin ceker ayam. Semuanya karena kamu, demi kamu. Kembalilah padaku. Kumohon, Abi!

Memang apa bagusnya Mikha itu? Dia terlalu pendek. Mikha juga terlalu kurus. Masih lebih cantik aku. Mataku juga sipit. Karena, dengar-dengar kamu menyukai perempuan yang bermata sipit. Kulitku juga malah lebih putih. Sementara, Mikha, coba lihat, betapa kusam kulitnya. Sungguh tak sedap dipandang. Aku jauh lebih cantik daripada Mikha. Kurang bagus apa coba aku?

Abi, maafkan kesalahanku. Aku tahu aku salah. Aku seperti seorang pelacur. Tapi, aku khilaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku. Kembalilah padaku. Juga, lupakah kamu setiap kenangan di antara kita? Kata-kata kamu di surat ini sangat terasa manis sekali. Saat itu, hingga saat ini, aku sangat terbuai dengan kata-kata kamu. Kamu membuatku benar-benar menjadi seorang perempuan sejati. Kamu sangat memanjakanku. Aku sangat senang kamu perhatikan. Sekarang, lupakah kamu?

Bi,..... ah sudahlah. Mataku lelah. Seluruh tubuhku kelelahan. Batinku merintih. Aku mau tidur, ah. Kututup diary aku. Kembali kusimpan di dalam satu rak, yang sebelumnya kugembok dulu. Kadang ada yang suka iseng mengacak-acak isi kamarku. Makanya, aku suka menggunakan bahasa sandi  sebagai bahasa pengantar di dalam diary ini.

Aku bergegas menuju tempat tidur. Kupandangi foto Abi sejenak. Kucium bibirnya sebelum kuletakan di samping kepalaku. Lalu, aku coba menutup mata.


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. Nomor yang tertera itu fiktif. Jangan dicoba, yah! 😃✌


Comments