ANOTHER FICTION: Sisi Lain dari Mikha








Genre: Romance







[GABRIEL KUSTANDI HUTAGALUNG]
Aku nyaris tertawa saat melihat Mikha mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Tidak salah itu? Itu kan biskuit bayi. Milna itu yang sering diberikan seorang ibu muda ke bayi kecilnya, kan. Dan, Mikha sepertinya tak keberatan memakannya di dekatku.

Di tengah asyiknya seorang Mikha mengunyah biskuit itu, dia sesekali melihat ke jalan dan aku. Dia tampak risih kenapa aku memandanginya. Dia berhenti mengunyah, walau di dalam mulutnya, ada kunyahan biskuit Milna tersebut. 

"Apa, sih, Bi?" katanya sedikit emosi. "Biasa aja kali liatinnya. Ada yang aneh, yah, dari cara makan aku?"

Aku menggeleng. Pandanganku sesekali ke jalan, sesekali ke Mikha. "Bukan cara makan kamu yang jadi bahan perhatian aku, tapi itu tuh--" Aku menunjuk ke arah tasku. Sembari menjaga konsentrasi mengemudi, aku sedikit mengobrak-abrik tas tangan Mikha. "--kamu makan apa itu?"

"Biskuit Milna." jawab Mikha dengan polosnya. "Emang ada yang salah, aku makan biskuit Milna?"

Aku terbahak, Mikha terlihat tersinggung. 

"Iya, aku tahu, emang aneh kan. Kamu mau bilang, udah usia segini, kok masih doyan makan makanan bayi. Nggak cuma kamu yang bilang, teman-temanku yang lain kayak Diana--si Bawel itu--juga suka nyinyirin kebiasaan makan aku yang aneh itu. Emang ada yang salah, di usia dua puluh ini, aku masih hobi makan makanan bayi? Aku juga nggak tahu, Bi, kenapa bisa sedoyan ini. Kebiasaan dari aku TK kayaknya. Dulu, seingatku, aku sempat diam-diam makan biskuit bayinya Thomas." tutur Mikha panjang lebar sembari mengunyah biskuit Milna tersebut. Sebuah, dua buah--Mikha begitu menikmati makanan bayinya sambil bercerita panjang lebar.

Aku terdiam tanpa kata-kata. Surut sudah niat aku mengejek Mikha lebih lanjut. Aku syok, namun begitu terkesima. Aku mulai mengerti mengapa Rafael amat menyayangi Mikha sampai meminta aku untuk menjagai Mikha.














"...I love you, Mikha. And, I don't want to lose you..."

Kata-kata itu terus menerus bergema di dalam kepalaku. Efek heavy rotation itu masih intens kualami hari ini. Hari ini Mikha sudah berjanji akan menyulap Warung Mi Aming sebagai restoran yang sudah aku booking dengan harga mahal. Padahal, yang sebenarnya, aku tak memberikan apapun; memaksa Mikha apalagi. Dia sendiri yang sukarela untuk melakukannya. Entah apa maksud dari rencana Mikha tersebut? 

Sepanjang perjalanan kecil menuju Warung Mi Aming, sejak Innova aku tiba di salah satu spasi parkir Pasar Lama, aku baru menyadari beberapa hal. Ini semua tentang Mikha. Aku baru sadar Mikha itu siapa. Bagiku, Mikha itu sangat istimewa. Perempuan yang amat sulit ditemukan di mana-mana. Mikha tak ada tandingannya. Aku tertawa sendiri dalam hati akan sedikit analisa aku tersebut.

Ternyata Mikha cukup tenar di pasar ini, aku baru sadar. Satu-dua penjual menyapa Mikha. Bahkan, tanpa Mikha minta, seorang pesuruh bayaran langsung memberikan pertolongan untuk membawa barang bawaan Mikha untuk dibawa ke warung. Mikha terlihat sangat mengenal si anak kecil, yang kelihatannya masih pelajar sekolah dasar.

"Kak, ini pacarnya?" tanya si anak yang mengaku bernama Deni tersebut. Kedua tangannya memegangi kantung plastik yang jika ditimbang, beratnya itu melebihi dua kilogram.

"Iya, begitulah. Emang udah ngerti apa soal cinta?" kata Mikha tersenyum. 

"Udah dong, Kak. Deni kan udah kelas enam."

"Bagus, dong. Semester kemarin dapat ranking berapa?"

"Alhamdulilah, Kak, Deni masuk sepuluh besar."

"Wah, hebat." Mikha memberikan  aplaus berupa tepuk tangan. Tak terlalu kencang, namun cukup membuat Deni senang sekali. 

Walau sudah sekitar jam sepuluh, jalanan di pasar agak becek. Semalam turun hujan. Tak terlalu deras, namun lumayan lama. Seingatku, selama sekitar dua jam hujan, lalu berhenti. Ada jeda sekitar tiga-empat jam, turun hujan lagi. Tadi, ketika kami hendak ke pasar ini saja, hujan gerimis, kok. Tak heran, tanahnya sedikit berbecek. Banyak genangan air di mana-mana. 

"Aduh, Den, jangan diciprat-cipratin gitu," keluhku. Celana jinsku jadi basah. Aku sewot karenanya. 

"Maaf, Bang." ujar Deni menundukan kepala. 

"Biarin aja, Bi. Toh, kita cuma ke warung aja, kok." kata Mikha yang kelihatannya  berusaha meredakan kekesalanku. Lagi dan lagi, senyuman itu membuat sirna segala emosi negatif aku. 

Aku cukup terkesima  memandangi Mikha. Padahal dirinya juga ikut terciprat genangan air kotor, Mikha malah tak kesal sedikit pun. Malah menyebalkannya, Mikha ikut menciprat-cipratkan genangan air itu ke arahku. Aku mendengus saja. Apa-apaan Mikha ini. Sudah tahu aku kesal karena celanaku jadi basah, eh malah dia sengaja melakukannya.

"Kenapa, Abi?" Mikha terkekeh-kekeh. Deni juga ikut terkekeh-kekeh, bahkan ikut sumbang suara. "Kak Mikha emang gitu, Mas. Menurut aku, Kak Mikha itu kayak anak kecil kelakuannya. 

"Kalau Kakak anak kecil, kamu apa dong?" Mikha menjawir sebelah pipi Deni.

Aku terenyak. Kata-kata itu keluar lagi: "...I love you, Mikha. And, I don't want to lose you..." Lalu, aku sekonyong-konyong teringat kejadian saat itu. Tragedi nasional tersebut, yang merupakan awal dari hubungan kami berdua (sebelumnya aku dan Mikha itu murni berteman; aku masih dalam tahap pendekatan). Yang aku ingat, aku panik. Begitu suara ledakan bom terdengar, para pengunjung Kafe Bellarosa berhamburan keluar. Di pikiranku, Mikha bisa jadi korban pemboman tersebut. Itulah alasannya aku berjalan tak beraturan, yang kadang berlari-lari juga. Aku hanya melihat Mikha. Tak peduli kerumunan orang yang terganggu dengan cara berjalanku. Sampai akhirnya,.....

".....sebetulnya aku juga punya perasaan yang sama. Udah lama pula. Cuman masih ragu-ragu sama perasaan sendiri. Tapi akhirnya, makin lama, aku makin yakin kalau aku memang jatuh cinta sama kamu. Berbeda sama dia, posisimu itu benar-benar istimewa di hatiku."

Jadi, hari itu, Mikha ternyata berada tak jauh dariku. Lumayan dekat, walau tak dekat-dekat amat. Aku bingung itu maksudnya apa. Padahal kukira posisiku agak jauh dari Mikha. Kadang aku merasa ada sebuah tangan-tangan tak kelihatan yang coba mendekatkan aku melulu dengan Mikha. 

 . "...I love you, Mikha. And, I don't want to lose you..." desisku, yang kukira Mikha tak akan mendengarnya. Tapi ternyata aku keliru. Mikha dan Deni dengar.

Jawab Mikha, "I do always stand by you ever and ever."

Dan, Deni bersiul-siul, yang mungkin untuk sekadar mengejek. Namanya juga anak kecil.













Setelah meminta ijin dari mamanya, Mikha mulai menjalankan aksinya. Pintu rolling itu langsung ditutupnya. Aku membantu Mikha untuk membereskannya. Walau dapurnya di depan, bagian dapurnya sebetulnya berada di dalam ruangan. Jarang sekali menemukan tempat yang seperti warung makan ini. Aku hanya perlu membantu Mikha untuk memasukan bangku dan meja yang berada di luar pintu rollling tersebut. 

"Mikha ini jago banget masak, loh, Bi." kata mamanya tersenyum dan mengacungkan jempol. "Top deh. Oh iya, nanti kalian jangan macam-macam, yah." 

"Beres,Tante." ujarku dengan kedua pipi bersemu merah. Kuperhatikan sekilas, Mika terlihat tersenang puas. Dia tertawa kecil sambil dirinya sibuk mempersiapkan bahan masakan. Ah, hilang sudah kekesalanku. Aku tak sabar Mikha akan memasakan apa untuk aku. Chinese food? Japanese food? Indonesian food? Balinese food? Atau Western food? 

Dengan kondisi warung makan yang setengah tertutup, apalagi ada laki-laki dan perempuan di dalamnya, tak jadi masalah. Mikha memang sangat supel orangnya. Kaau aku ingat kejadian sebelum tiba di warung, mungkin karena sifat supel Mikha itulah yang membuat perempuan Oriental ini disenangi. Mungkin beberapa pengunjung tak curiga aku dan Mikha akan melakukan perbuatan senonoh. Kalau aku khilaf dan nekat, pengunjung pasar berpikiran Mikha akan teriak sekencang-kencangnya. Apalagi, kuintip sekilas, pasar mulai agak sepi. Sudah mau salat dzhuhur juga. 

"Emang mau masak apa, Kha?" tanyaku penasaran. Aku memperhatikan pacarku itu dari salah satu tempat duduk. Aku mau membantu, namun sudah letih karena beberes barusan.

"Wait and see." Mikha tersenyum manis. Itulah salah satu alasan kenapa aku memutuskan untuk pindah kuliah dari Melbourne ke Jakarta. Walau sebetulnya, aku memiliki banyak alasan kenapa aku rela untuk memulai semua perkuliahanku dari awal. Keluargaku salah satu alasan lainnya. Aku berpikir, dengan kepindahanku dari Melbourne University ke Unika Atmajaya, aku bisa menutup lubang yang ditimbulkan oleh Rafael. Bukankah aku ini saudara kembar Rafael? Melalui keberadaanku di dalam keluarga Hutagalung, Rafael tetap akan selamanya eksis. Masih ada jiwa Rafael di dalam ragaku. Untungnya Papa tak terlalu marah, walau kutahu, dia rugi banyak (Maafkan aku, yah, Pa). Lalu, kalau aku sudah kuliah di Indonesia, aku akan dengan mudah memonitor Mikha. Aku tak perlu menjalani hubungan jarak jauh. Haha, aku tertawa mengingat pikiranku saat itu.

Kali ini kulihat Mikha sibuk memotong-motong aneka rempah-rempah. Minyak goreng sudah dituangkan ke dalam wajan. Ada daging sapi juga, yang kelihatannya bukan daging sapi biasa juga. Aku mulai menebak dia akan memasak apa. Apa sejenis steik? 

"Bi, kamu nggak kangen sama anak-anak The Change? Siapa sih, aku suka lupa. Yang aku ingat cuma Edu itu aja."

Aku tertawa. Paham aku, kenapa Mikha hanya mengingat Edu itu saja. Pasti itu karena kejadian di Bandara Ngurah Rai tersebut. Kuduga, wajah panik dan kata-kata "gracias" Edu itulah. Edu memang yang terlucu di The Change. Aku suka tertawa jika bersama Edu Garcia.

"Yah, jujur sih, aku kangen banget sama Bill, Hide, Adam, sampai si Edu Garcia itu. Tapi, aku lebih kangen lagi sama kamu, Mikha." Aku sok menggombali. Aku lempari Mikha dengan sebuah kiss bye.

Mikha terkekeh. "Apa, sih, kamu? Gombal mulu kerjaannya. Perasaan, Fael gak sesering kamu, deh, gombalin aku."

 Tawaku makin keras. Mungkin terdengar sampai keluar warung.















[MIKHA] 
Ada alasannya kenapa aku memutuskan untuk menjalankan rencana ini. Ini bukan sekadar pamer saja. Lagipula pamer tak ada dalam kamusku. Alasan utamaku: dupa yang terletak di salah satu sudut warung. Ada foto Popo Aming di sana. Itu alasan utamanya. Nanti, selama Abi menikmati beberapa masakanku, aku mau sedikit berdoa dan merenung di depan dupa dan foto Popo Aming. 

Sembari memasak, aku melirik sebentar foto Popo. Aku membatin, Po, Mikha maju nerusin usaha warung makan ini. Karena Mikha sayang banget sama Popo, makanya Mikha mau. Apalagi,.....

......

Kalau kuingat, waktu bersamaku dengan Popo Aming itu tak terlalu lama. Sekitar empat-lima tahun, aku tinggal di Spanyol. Papa saat itu masih sibuk di kantor kedutaan, yang sesekali menyambi sebagai seorang analisa keuangan. Keluargaku lumayan jarang pulang ke Indonesia. Selama tinggal (yang bahkan merintis karir sebagai penyanyi) di Spanyol, paling hanya dua-tiga kali keluargaku balik ke Indonesia. Ah, kenapa Popo harus meninggal lebih cepat? Mikha kan ingin lebih menciptakan banyak kenangan bersama Popo. Sembari memasak, aku jadi tersedu sedan. Aku kangen berat dengan Popo Aming. Apalagi, berkat Popo juga, aku tahu ada banyak hal yang lebih  bernilai daripada sebuah popularitas.

"Mikha, kamu nggak apa-apa? Kok mendadak nangis? Ada apa?" kata Abi, yang sepertinya mau beringsut ke arahku.

"Gak papa, cuman mendadak kangen sama Popo aja."


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri.

Comments