ANOTHER FICTION: Melihat Dunia dari dalam Omprengan








Genre: Romance
















Akhirnya mobil omprengan ini tiba. Selesai sudah urusan bersama temanku. Capek sekali seluruh tubuhku. Melelahkan berurusan dengan orang seperti Beni tersebut. Dia itu sangat perhitungan sekali. Tak tahukah dirinya aku memiliki selusinan masalah selain masalah dengan dirinya? 

Aku masuk ke dalam mobil omprengan dengan hati dongkol. Saat sebelah kakiku baru saja terdaratkan di dalam mobil omprengan ini, ponsel ini berdering. Seorang teman mengirimkan sebuah pesan. Seperti biasa, dia mencurahkan seluruh isi hatinya padaku. Aku tersenyum membacanya.

Dari arah supir mobil omprengan, mengalunlan sebuah lagu. Sebuah lagu Barat yang aku merasa cukup familer. Dari Ray Charles, yang berjudul "I Can't Stop Loving You". Terasa pas sekali dengan pesan si teman. Yang dia curahkan padaku itu perihal cinta. Dia tengah bertengkar dengan pacarnya.

"Bete, Kak, sekarang. Lagi bete banget sama cowok aku. Kurang baik apa aku sama dia? Tega banget aku ditinggalin demi cewek murahan itu." Dari caranya dia menuliskan pesan tersebut, aku sangat bisa merasakan dirinya tengah emosi yang luar biasa. Aku coba memahami pesan demi pesan yang dikirimkannya padaku. Aku mulai merasakan segala perasaannya yang tertuang dalam pesan-pesannya tersebut.

Belum selesai membaca, pesan yang lain bermunculan. Drin, drin, drin,..... bertubi-tubi aku diserang oleh dirinya melalui serentetan pesan berisi kekesalan dan kekecewaan terhadap pacarnya. Tampaknya si pacar merupakan laki-laki berengsek. Yang aku heran, kenapa dirinya memacari si berengsek. Menurutku, keberengsekan seseorang pasti sudah terlihat sejak awal. Itu kalau kita mau peka.

Namun, yah sudahlah. Kadang hidup memang seperti itu. Ada banyak alasan kenapa kita mengendurkan kewaspadaan kita. Bisa saja Dira terlalu terlena dengan pesona laki-laki tersebut. Badan si laki-laki cukup atletis. Dia terlihat seperti model sebuah minuman berenergi. Dira bilang pacarnya itu seorang pilot dengan gaji yang cukup fantastis untuk ukuranku. Modal ada, tampang tak mengecewakan. Aku nyengir sendiri--yang membuatku diperhatikan seorang ibu berjilbab ungu yang tengah memangku anaknya. Mungkin si laki-laki menyembunyikan sisi jahatnya dengan tampang, bodi, dan uang.

"Sabar aja, Dir." Begitu pesan singkatku kepada Dira. Aku masih nyengir saat mengirimkan pesan pertamaku.

"Iya, Kak." ujar Dira yang entah tengah berbuat apa. Emoticon yang dia gunakan memang emoticon sedih. Tapi aku kurang yakin dia tengah tersedu sedan. Bisa saja dia tengah tertawa sambil makan mi samyang.

"Emang kamu beneren cinta sama dia?"

"Ya iyalah, Kak. Aku bahkan sampe bela-belain belajar masak demi dia. Aku yang biasanya nggak suka ke salon, jadi sering menicure-pedicure ke salon. Pengorbananku demi dia udah banyak banget, Kak. Apa semua cowok kayak dia, Kak?"

Aku syok. Dir, aku ini seorang laki-laki. Aku tersinggung dengan isi pesannya tersebut. Tapi aku coba tidak terpengaruh. Kubalas saja, "Yah, nggak semua cowok kayak gitu, Dir. Mungkin kamu lagi apes aja ketemu cowok kayak Rivai itu. Ya udahlah, Dir, putusin aja cowok kayak gitu."

"Emang aku udah putusin. Kakak nyimak nggak, sih?"

Sabar, Herman, sabar. Jangan kamu banting ponsel kamu. Harga ponsel mahal. Belum lagi beli sim card-nya.

"Nyimak, Dir. Sori, aku lagi dalam bus. Makanya agak nggak konsen."

"Padahal cewek selingkuhannya itu nggak lebih baik dari aku. Si cewek cuman tukang pijit di tempat refleksi. Udah gitu, yang bikin aku kesel, duit yang aku kasih itu malah dia kasih ke selingkuhannya. Gimana nggak kesel, cobak?"

"Oh iya, Dir, ini kamu nggak salah tulis?"

"Yang mana?"

"Kamu seriusan, kamu pernah?"

"Maksud Kakak apaan?"

"Soal ML. Emangnya kamu beneren pernah ngelakuinnya?"

Sebab, Dira mencantumkan beberapa screenshoot chat dirinya dan Rivai. Dira mengadu kepada Rivai yang tega menyelingkuhinya, padahal sudah melakukan hal yang sejauh itu ke Rivai. Walaupun aku penasaran apa itu betul-betul nyata. Mungkin saja aku salah baca. Lebih baik bertanya langsung daripada timbul kesalahpahaman.

"Yah, namanya juga cinta, Kak. Kalau aku nggak cinta, ngapain aku ngelakuinnya? Udah sakit, nahan baunya nggak kira-kira."

"Astaga, kok mau, Dir?"

"Biar Rivai makin cinta sama aku, Kak."

"Tapi kan nggak harus sampe segitunya, Dir."

"Ah, nanti kalau Kak Herman punya pacar juga bakal tau. Kak Herman jomblo, sih."

Astaga. Sudah di luar mataharinya sangat menyengat, penuh sesak di dalam mobil omprengan, badan letih sekali, eh dia malah meledekiku. Tahu begitu, aku tak akan meladeni sedikit pun setiap pesannya kepadaku. Aku jengah. Langsung aku mute chat dengan Dira. Kupasang beberapa lagu yang enak didengar seperti "Remember Me" yang dinyanyikan oleh Iñigo Pascual.

Begitu aku mulai mendengarkan lagunya, berkali-kali ponselku bergetar. Ah, paling dari Dira. Kuabaikan saja. Aku terus mendengarkan lagu sambil menutup mata. Sesekali kubuka dan melihat ke arah pemandangan di luar jendela mobil omprengan ini. Tampaknya lalu lintas mulai ramai. Seorang pengendara motor berusaha menyalip taksi. Motornya tersenggol, lalu terjadilah keributan kecil di jalan raya. Beberapa pejalan kaki jadi menyaksikan keributan kecil tersebut. Ada satu-dua pengguna jalan yang menghentikan kendaraan entah hendak melerai atau sekadar menonton saja. Sisanya, hanya berjalan dan tidak mempedulikan keributan kecil tersebut seolah-olah itu tak pernah mereka lihat hari ini.

Kadang aku merasa hidup seperti itu. Tiap manusia pasti memliki masalah. Ada yang memperhatikan, ada pula yang mengabaikan. Masalah itu hanya tetap di situ-situ saja. Tak berubah seperti keributan antara si supir taksi dan si pengendara motor. Itu juga seperti masalah Dira dan pacarnya. Aku yakin masalah Dira tersebut tak diketahui oleh semua orang. Hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya, yang dalam hal ini, aku dan beberapa orang temannya.

Kubuka mataku lagi. Sekali lagi kuintip chat tersebut. Ada tiga puluh pesan yang masuk. Semuanya dari Dira sepertinya. Kubuka lagi pula, chat antara aku dan Dira. Astaga, Dira bahkan mengirimkan aku beberapa screenshoot dia dan Rivai. Ada video dan rekaman suara pula. Memori ponselku bisa penuh.

"Be-te-we, Kak, Kak Herman nggak tersinggung, kan. Aku minta maaf, Kak. Aku lagi emosi, eh malah Kak Herman yang kena aku omelin. Maaf, yah, Kak. Lagian, kayaknya enakan jadi kayak Kakak, ngejomblo aja. Kalau ngejomblo kan, nggak perlu takut diselingkuhin juga. Aku mau ngejomblo aja dulu. Nanti pasti datang dengan sendirinya. Jadiin pelajaran juga aja, biar hati-hati milih pasangan hidup."

Begitulah beberapa pesan terakhir dari Dira. Aku hanya menyimak saja, yang membalas sedikit pesan Dira. Aku bahkan tak merasa memberikan solusi. Justru aku sempat emosi dengan kata-kata Dira tersebut. Aku jadi tertawa terhadap kejadian hari ini. Dira sendiri yang menyelesaikan masalahnya. Solusi itu Dira sendiri yang memutuskan. Bukan aku yang menyuruh Dira menjadi jomblo. Itu keputusan Dira. 

Lalu, kututup chat tersebut. Musik masih mengalun di kedua telingaku. Aku mulai berdiri. Sudah tiba di tujuan diriku. Hey, Hari Senin yang katanya lebih sibuk dari hari-hari lainnya, terimakasih atas pelajaran hari ini! Terimakasih juga untuk Dunia atas segala cerita menariknya!


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. Cerpen ini pula terinspirasi dari pengalaman seorang adik kelas di kampus dulu. Dia sering mencurahkan isi hatinya ke aku tentang rasa sayangnya yang begitu begitu besar ke pacarnya yang ujungnya malah menduakannya. Beberapa nama dan tempat di dalam cerpen ini sengaja disamarkan. 


Comments