ANOTHER FICTION: Kalau Jatuh, Sakit!








Genre: Romance








Nuel Lubis berada tak jauh dari Kantin Cici Fey, Kota Moderen, Tangerang.









Ini kali pertama aku mendatangi sebuah tempat bimbingan belajar. Biasanya aku lebih sering mengikuti les privat saja. Guru yang mendatangi aku ke rumah aku. Sepulang sekolah, tak ada alasan untuk bermalas-malasan, aku langsung saja berganti baju dan menyiapkan materi yang akan menjadi bahan diskusi aku bareng guru les.

Kali ini berbeda. Mau tak mau aku harus bergabung dengan sebuah tempat bimbingan belajar. Kata Bunda, kalau mau lulus SPMB, aku memang harus belajar di tempat bimbingan belajar. Tidak boleh lagi aku mengandalkan guru les. Kak Gloria juga membenarkan hal tersebut. Apalagi, menurut pengakuan Kak Gloria, prosentase aku bisa masuk kampus dan fakultas favorit itu akan semakin besar. Kutimbang-timbang alasan mereka berdua. Kupikir, ini akan menjadi sebuah pengalaman berharga untuk aku. Siapa tahu juga, melalui Opsha, aku bisa menemukan jalan ke arah Rachel. Jujur saja, aku sangat merindukan Rachel. Sejak terakhir aku bertemu dengan dia dua tahun lalu tersebut, aku lama tak bersitatap dengan perempuan berkacamata yang paling manis tersebut. 

Oh, jadi seperti ini tempat bimbingan belajar. Rata-rata tempat bimbingan belajar itu berlokasi di ruko. Itu dari hasil pengamatanku juga. Aku nyengir sendiri, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh isi Opsha. Ada Mas Andri, yang pertama aku dan Bunda temui untuk proses registrasi. Mas Andri orangnya ramah dan lucu. Aku sangat menyukai kepribadian Mas Andri. Selain Mas Andri, tak ada siapa-siapa lagi. Kata Mas Andri, Opsha memang baru buka jam sepuluh. Kelas dimulai pada pukul sepuluh tiga puluh. Ada jeda lima belas menit untuk sekujur tubuh ini menyesuaikan diri dengan Opsha. 

Aku mungkin seperti orang hilang. Buktinya Mas Opsha tertawa. Diperhatikan seperti itu, aku makin kikuk. Agar tak terlalu menarik perhatian, aku duduk di sofa berwarna hijau. 

"Jangan kaku-kaku, Dek," kata Mas Andri nyengir. "Di sini, orang-orangnya udah jinak, kok. Nggak galak. Udah divaksinasi juga."

Aku tertawa kaku.

"Emang mau masuk universitas mana?"

Aku lalu menyebutkan satu universitas paling elit dengan jurusan yang sangat keren sekali (untuk aku pribadi) yang berlokasi di Depok. Apalagi, kalau bukan jurusan Komunikasi. Aku sangat berhasrat sekali menjadi seorang jurnalis atau reporter. Setiap menonton acara berita, aku selalu membayangkan si penyiar itu aku. Aku bahkan suka berlatih menjadi seorang reporter lapangan di depan cermin. 

"Wah, itu kan grade-nya tinggi, Dek. Adek kudu belajar ekstra keras biar bisa tembus. Saran saya sih, kalau masih mau masuk Komunikasi, kenapa nggak coba yang di Serang?"

Aku hanya mengangguk, walau sebetulnya hendak berbicara. Baru mau membuka mulut, datang seorang pengajar dari arah luar. Dia mengenakan jilbab berwarna biru muda. Masih muda, dan cantik sekali kelihatannya. Mungkin dia belum menikah.

"Kenapa, Mbak Fifi?" Mas Andri terkekeh-kekeh. "Kelihatannya kesel banget. Ada apa?"

"Kesel aku, tuh, Mas. Hape aku hilang di dalam angkot. Mana baru beli dua minggu lalu." Sehabis itu, seperti seorang ibu-ibu saat berbelanja sayur, Mbak Fifi ini berceloteh panjang lebar. Kuduga, mungkin dia ini guru bahasa Indonesia. Dia mengingatkanku dengan Ibu Retno yang bawel di SMA Kelapa Cengkir. Apa semua guru bahasa itu seperti itu, yah? Haha.

Sontak aku terpikirkan ide untuk naik ke atas. Aku ingin melihat ruang kelasnya dahulu. Mas Andri mengijinkan. Ia menuntunku untuk masuk ke ruang kelas. Pintunya menggunakan pintu geser. Dindingnya dicat hijau muda. Aku bagaikan berada di ruang kelas TK saja. Begitu aku duduk di salah satu bangku yang sering digunakan di kampus, Mas Andri menyalakan mesin pendinginnya. 

"Dari anak TK mendadak menjadi anak kuliahan, deh," sindir Mas Andri. Brengsek kamu, Mas, batinku terkekeh.

Setelah Mas Andri, aku membuka modul dan membuka beberapa materinya, yang mana aku lebih terpaku di materi Sejarah. Sembari membaca modul, aku terbayang wajah seseorang yang nun jauh di sana. Rachel, aku kangen kamu, kapan kita bisa bertemu lagi.

Pintu digeser. Aku terbangun. Jantungku berdebar-debar. Tak mungkin, kan, doaku langsung dijawab Tuhan. Kilat sekali. Untuk memastikannya, kuangkat kepala. Ternyata bukan Rachel. Tapi, sih, entah kenapa wajah perempuan berambut ikal ini begitu mirip dengan Rachel. Senyumannya sama manisnya. Ingin kutelan layaknya Pop Ice rasa Melon. 

"Belum mulai, yah?!" tanya perempuan berambut ikal tersebut. Perempuan itu tampaknya lebih tinggi dari aku. Mungkin tingginya sekitar 170 cm. Dia mengenakan kaus berwarna hijau tua dan berkacamata. Kacamata yang dikenakannya itu sangat modis sekali. Sangat cocok untuk parasnya yang lumayan ayu.

"Be-belum, kok." Aku gugup sekali. Keringat mengucur deras. 

Dia tertawa terbahak-bahak. "Nggak usah kaku begitu. Aku nggak gigit, kok. Oh iya, kenalin nama aku Amel."

"Farhan." Aku menyorongkan tangan untuk berjabat tangan. 

Amel bergegas duduk. Dia duduk di belakangku persis. Aku mengintip sekilas. Amboi, cantiknya ciptaan Engkau ini, Tuhan.

Aku tak tahu kenapa gadis itu suka langsung menengok ketika kita begitu intens memandangi. Aku langsung panik saat dia menatapku balik. Oh, jantung ini, semoga makin kuat berdetak beberapa kali lagi. 

"Sekolah dari mana?" 

"SMA Kelapa Cengkir."

"Oh, aku dari SMA Musafir. Nggak jauh, kok, dari SMA kamu."

"Iya, aku tahu. Apalagi, ada adik kelas sekolah di SMA Musafir."

Pintu lalu digeser lagi. Gurunya datang. Ternyata Mbak Fifi yang menjadi pengajar hari ini di ruang kelas Hijau ini. Kekeliruan kedua adalah dirinya mengajar Matematika. Ada juga guru Matematika yang bawel. Aku malu sendiri dalam hati.

Selanjutnya, olala, sepertinya aku mulai jatuh hati dengan Amel. Menurutku, dia itu cantik, cukup ramah, memiliki selera humor yang sangat bagus, dan tahu kapan waktu terbaik untuk bercanda dan serius. Dia juga jago sekali dalam mengajar. Penjelasan dari Amel malah cukup efektif daripada dari tiap pengajar di Opsha. 

Karena itulah, sepulang dari Opsha--yang mana jam belajarnya berdurasi hampir jam, aku selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi warnet yang tak jauh dari Opsha. Apa yang kulakukan? Aku diam-diam menyelidiki lebih jauh tentang Amel. Aku berhasil mendapatkan alamat Friendster-nya. Astaga, cowok ini siapa dia? Dia punya pacar? Cowok ini pacarnya atau temannya? 

Tuhan, apakah ini yang dinamakan patah hati? Sakit tak terperikan. Aku mendadak hilang selera makan, yang sebelumnya perutku keroncongan. Aku benar-benar bingung. Sebab, aku tak cukup berpengalaman dengan cinta, khususnya dengan patah hati. Berkali-kali aku memandangi foto Amel bersama cowok yang ternyata bernama Febrian. Ah, mungkin seperti itu. 

Berbekal dugaan seperti itu, rasa patah hati ini sedikit berkurang. Sejak itulah, aku makin intens mendekati Amel. Di pikiranku, bergaung-gaung pemikiran bahwa Amel masih jomblo dan cowok itu hanya teman sekolah Amel. Mungkin teman dekat Amel, cowok berkacamata tersebut. Itulah yang membuat hari-hariku belajar di Opsha menjadi seperti sebuah petualangan saja. Bunda, maafkan anakmu ini. Bukannya belajar untuk SPMB, eh dia malah mengejar-ngejar cewek. Keterlaluan memang aku ini!






Nuel Lubis tengah berada di Kedai Kopi 4D yang terletak di belakang Perumahan Taman Anyelir, Pinang, Tangerang.






Tiga bulan kemudian,

Cinta oh cinta. Cinta seringkali mengubah seorang penakut menjadi pemberani. Otakku telah dikuasai oleh wajah manis Amel. Posisi Rachel jadi sedikit tergantikan. Padahal aku lumayan sering berjumpa dengan Rachel selama ospek tempo lalu. Lucu juga, yah?!

Aku juga bingung ini maksudnya apa. Banyak sekali bantuan yang kudapatkan agar segera bertemu dengan Amel. Mulai dari tak sengaja bertemu dengan teman satu sekolah Amel (yang bernama Rudolf) hingga aku berhasil mendapatkan nomor telepon Amel. Aneh, kenapa Mas Andri mau saja memberikan nomor telepon Amel kepadaku? Tak takutkah dia, aku akan berbuat macam-macam? Ah, itu nanti saja kupikirkan. Sekarang inilah saatnya kujajal nomor telepon tersebut.

Ternyata nomornya aktif. Mas Andri tak berbohong. Dasar aku yang sedang beruntung. Amel sendiri yang menjawab. Jantungku berdebar-debar. Kujawab saja, aku Farhan dari Opsha. Aku dan dia lalu berada dalam sebuah obrolan yang cukup lama. Kurang lebih lima belas menit, aku dan dia mengobrol. Di akhir obrolan, dia memberikanku nomor ponselnya. Harapanku membuncah hingga melampaui langit ketujuh. 

Amel, tolong jangan angkat aku setinggi-tingginya. Kalau jatuh, sakit, Mel!


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. Cerpen ini pula terinspirasi dari pengalaman seorang teman saat aku masih belajar di sebuah bimbingan belajar. Beberapa nama dan tempat di dalam cerpen ini sengaja disamarkan. 



Comments