ANOTHER FICTION: Heavy Rotation








Genre: Romance













[MIKHA]
Ruangan ini lagi. Ruangan yang serba putih. Ada Rafael di dalamnya. Rafael datang ke alam mimpi aku lagi. Hanya ada antara aku dan dia. Popo Aming tak ada. 

"Fael,"

"Hai, Mikha, gimana kabar kamu?"

"Aku baik-baik aja, El."

"Hubungan kamu gimana sama Abi?"

"Yah, begitu-begitu aja. Kayak pas aku sama kamu."

Rafael terkekeh. "Kamu kayaknya makin akrab sama Abi, yah? Cocok kamu sama dia. Berjodoh."

Aku ikut tertawa. "Apaan, sih?"

"Seriusan aku, Kha. Aku udah lama lihat kamu sama Abi itu banyak kemiripan."

"Tapi, jujur, El, aku lagi kangen sama kamu. Kenapa, yah, Tuhan harus sekejam itu?"

"Mungkin biar Abi bisa merasakan arti kebahagiaan yang sebenarnya. Gue udah lama lihat, sejak kecil, Abi nggak benar-benar bahagia. Bahkan itu termasuk waktu Abi sama Becky. Becky belum bisa memberikan suatu nilai ke dalam hidup Abi."

Aku terdiam, Rafael juga. Keheningan mulai datang. Aku sedikit bergidik. Ini terasa horor sekali. Di ruangan yang serba putih, dan saling diam-diaman, bagiku itu mengerikan. Berdebar-debar juga. Sepertinya Rafael hendak menyampaikan sesuatu yang amat penting. Sebab, dulu aku pernah baca, jika ada seorang yang sudah meninggal datang ke alam mimpi, ada sesuatu penting yang kita sudah selayaknya tahu. 

"Kha,"

"Iya, Bi."

"Stand by him, Mikha. Abi butuh kamu. Aku bisa lihat dari sorot mata Abi yang jauh lebih hidup. Dia juga jadi lebih berani dan tegas juga. Papa-nya aja dilawan demi kamu. Mungkin juga sumber kebahagiaan Abi berada di kamu."

Aku tak menjawab. Bingung juga aku harus menjawab apa. Kata-kata Rafael itu sungguh menggetarkan seluruh tubuhku. 

"Nanti juga kamu tahu kenapa aku ngomong kayak gini. Yang jelas, aku pengin kamu harus tetap ada di sisi Abi. Dia sangat membutuhkan kamu. Please, stand by him, always together, Mikha."

Kata-kata ini keluar begitu saja dari mulut aku tanpa bisa aku bendung. "Aku usahakan. Aku juga mulai merasakan Abi itu bukan sembarang orang. Dia seolah terlahir untuk bersama aku."

Rafael nyengir. Menyebalkan kamu itu, El. Tambah menyebalkan lagi saat aku melihat kamu memegang dagu kamu. 

"Oh iya, Mikha, sori aku nggak bisa menjadi pacar yang sempurna buat kamu. Sori juga, aku banyak bohongin kamu."

"Bohong yang mana, yah, El?"

Rafael tertawa keras. "Kamu sama aja kayak Abi. Sama-sama gampang dibohongin. Sama-sama suka nggak sadar kalian udah dikerjain. Tapi, nanti kamu juga tahu kenapa. Biar waktu yang memberitahukan segalanya."

Belum sempat aku membalas, Rafael sudah hilang bagaikan kabut. Mendadak kepalaku terasa pusing dan berat. Saat kubuka mata, latarnya sudah berubah. Aku bagaikan berada di sebuah bioskop 3D. Aku seperti tengah menonton film yang mana aku berada di lokasinya. Filmnya selalu berubah-ubah. Yang mana intinya, yang hendak dipertunjukan padaku adalah momen-momen aku dan Abi. Itu dimulai dari kejadian di Bandara Ngurah Rai, Cafe Menega setelah pemboman, Pantai Kuta, cottage sepasang bule itu, hingga beberapa kejadian menarik saat aku dan Abi di Tangerang. Aku tertawa. Brengsek kamu, El. Kenapa aku tak diberitahukan sebelumnya? Jadi, semuanya memiliki alasannya. Ada maknanya di balik setiap tingkah laku aneh Abi? Terjawab sudah kenapa Abi berkata seperti itu saat aku dan dia berada di makam Rafael. 

Déjà vu, yah? Aku dan Abi bisa makin dekat karena satu kata dalam bahasa Perancis tersebut. Pula, aku bisa mengenal Abi karena bantuan alam mimpi. Tapi, kenapa? Aku sudah bahagia bersama Rafael. Abi juga sudah memiliki Becky. Apa benar sumber kebahagiaan Abi berada di aku? Kenapa Tuhan merancang permainan takdir seperti ini? Aku tidak habis pikir. 















[GABRIEL KUSTANDI HUTAGALUNG]
Dulu, saat aku masih kanak-kanak, aku sudah mempertanyakan apa itu cinta. Sebelum aku berpacaran dengan Becky atau Mikha, aku sempat membiarkan hati ini diisi oleh beberapa perempuan juga. Sebetulnya cinta itu apa? Buat apa Tuhan menciptakan romansa untuk setiap manusia? Kenapa kehidupan romansa itu suka memberikan banyak pengalaman pahit ke beberapa orang? Pengalaman aku dan pengalaman beberapa orang yang mencurahkan isi hatinya padaku, itulah yang menjadi alasan aku mengeluarkan segala pernyataan tersebut. 

Tuhan, memang harus berapa kali seseorang harus merasakan yang namanya cinta sampai dirinya akhirnya menemukan yang benar-benar klop? Aku tahu, Engkau memang menciptakan setiap makhluk berpasang-pasangan. Pasangan pertama di Bumi itu buktinya. Tapi, tetap saja aku bingung kenapa harus seperti itu. Itulah salah satu pertanyaan aneh nan rumit yang berada di pikiranku.

Sontak, bayangan beberapa perempuan yang sebelum Mikha, muncul silih berganti di pikiranku. Pertama, Becky yang putih khas perempuan Menado. Lalu, muncul wajah-wajah seperti Febe, Maretha, Anastasia, Patricia, Karina, hingga Gabriela. Nama terakhir itu merupakan cinta pertamaku (atau mungkin lebih tepatnya, cinta monyet yang pertama). Walau aku dikenal tak terlalu banyak bicara, aku sudah genit sebetulnya sejak kecil. Saat aku masih kelas 2 SD dulu, aku diam-diam memacari Gabriela. Alasanku sudah berani menyatakan cinta di usia yang sedini itu karena kesamaan nama, selain karena Gabriela memiliki senyuman paling manis di antara anak-anak perempuan di kelas 2A. Aku dan Gabriela berpacaran hanya selama kurang lebih setahun (kami putus karena keluarga Gabriela harus pindah ke Makassar). Dua bulan aku memacarinya, gosip sudah beredar. Salahku juga yang terlalu menempel ke Gabriela. Mama jadi tahu. Aku dimarahi habis-habisan oleh Mama. Papa yang membelaku mati-matian. Kata Papa, "Itu kan cinta monyet, biarkan saja. Anggap saja itu hanya sebagai sebuah pertemanan yang indah." Aku nyengir saja saat mengingat kata-kata Papa. 

Oh..... sekonyong-konyong aku teringat sesuatu. Aku baru menyadari wajah Mikha saat kecil itu begitu mirip dengan wajah Gabriela. Mereka berdua sama-sama memiliki senyuman paling manis. Fakta itu membuatku terkekeh sendirian. Lalu, aku melihat ke arah Mikha. Di malam Natal kali ini, aku memutuskan untuk beribadah di gereja yang biasanya didatangi Mikha tiap minggu. Sekonyong-konyong Mikha balas menatapku. Kedua mata kami saling beradu. Hari ini, malam ini, Mikha sangat terlihat cantik dengan baju berwarna hijau tersebut. Tampilan yang sederhana, namun cukup luks dan enak dipandang. 

"Bi, merry christmas,"

"Masih tanggal 24, Mikha. Misa-nya juga belum berakhir."

"Nggak apa-apa, kan, ngucapin sekarang? Kan, udah nuansa Natal."

"Nggak bisa begitu. Ibarat bayi, masih di dalam perut ibunya, keluarga si bayi udah berpesta duluan. Aneh-lah." Aku terkekeh. Sebetulnya Mikha yang lebih benar. Bayi itu alasanku saja; hanya sebuah pembenaran yang mungkin ngawur.

Mikha menggenggam erat tanganku. Hangat rasanya. Sontak aku merasakan ada sebuah terang yang menenangkan, yang keluar dari kedua mata Mikha. Lagi dan lagi, aku dan Mikha saling bertatapan. Dunia serasa milik kami berdua saja. Jalannya kebaktian Natal, kami hiraukan. Malam ini seolah tercipta untuk aku dan Mikha.

"Bi, mendadak aku teringat kejadian di Cafe Menega itu." 

Sontak, bagaikan sebuah efek heavy rotation, kata-kataku ke Mikha di depan puing-puing tersebut, itu terus menerus menggema di dalam kepalaku. Itu: "...I love you, Mikha. And, I don't want to lose you..."


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. Oh iya, heavy rotation itu merupakan ungkapan untuk menggambarkan kondisi sebuah lagu yang terus menerus diputar.


Comments