ANOTHER FICTION: Giliran Mikha yang Mellow









Genre: Romance






















[MIKHA]
Popo sudah lama meninggal. Popo meninggal saat aku tengah merayakan kelulusan SMP aku. Karena itulah, aku suka berpikir kenapa permainan takdir itu begitu jahatnya? Kenapa nasib mempermainkan seseorang seperti itu? Nasib, takdir, fate, destiny, apa pula itu? Kenapa Tuhan membiarkan empat kata tersebut? 

Po, Mikha mendadak kangen dengan Popo. Terimakasih, Po, sudah datang ke mimpi Mikha saat itu. Itu sungguh melunasi rasa kangen Mikha ke Popo Aming. Setidaknya Mikha jadi tahu Popo di sana baik-baik saja. Po, wo ai ni. I love you so much, Po! 

Po, yang bareng Popo itu pacar pertama Mikha. Rafael namanya. Mikha biasa panggil dia Fael. Enak saja memanggil dia Fael. Apalagi teman-teman dan keluarganya juga memanggil dia Fael. Fael itu orangnya jahil. Fael juga bad boy, tapi sebenarnya di dalam hati Fael, dia itu angelic guy

Po, salahkah Mikha jika mencintai dua laki-laki? Mikha sudah bersama Abi sekarang. Abi itu pacar Mikha sekarang. Abi juga adik kembar Fael. Mikha begitu menyayangi Abi karena baik Mikha dan Abi memiliki banyak kesamaan. Mikha merasa antara Mikha dan Abi memiliki semacam benang merah tipis yang menghubungkan kami berdua. Walaupun demikian, Mikha masih memikirkan Fael. Bagaimanapun Fael itu pengalaman pertama Mikha dalam dunia percintaan. Fael itu pacar dan ciuman pertama Mikha. Mikha susah melupakan Fael. Menurut Popo, apa Mikha jadi jahat ke Abi karena masih memikirkan Fael? 

Oh iya, Po, ini Mikha lagi melihat boneka beruang ini. Ini pemberian Popo, kan? Aku masih suka tertawa kalau mengingatnya lagi. Popo Aming menyamar jadi orang lain demi bisa menyampaikan boneka beruang ini. Popo mengaku sebagai bocah laki-laki berkacamata yang nge-fans berat ke aku. Popo, Popo, kenapa harus seperti itu? Kenapa Popo tidak menyampaikan boneka itu ke aku dengan identitas asli Popo? Popo itu nenek aku, bukan sekadar fans yang seringkali orang asing yang belum pernah bertemu sebelumnya. Haha, Popo ada-ada saja! 

Popo, doakan kebahagiaan Mikha bersama Abi. Semoga Abi ini menjadi yang terakhir. Mikha tak ingin Abi bernasib sama seperti Fael, kakak kembarnya. Untuk sekadar melepaskan Abi saja (yang demi Becky pun), Mikha tak rela. Bagi Mikha, Abi itu benar-benar sesuatu. Abi itu segalanya. Mikha sudah kadung amat mencintai Abi.

Kumasukan kembali boneka beruang itu ke dalam kotak yang menjadi kapsul waktuku. Di dalam kapsul waktu itu, ada foto-foto Popo bareng aku. Ada kertas bertuliskan tanda tangan Popo Aming, juga cap jari Popo. Aku tergelak saat mengingat kejadian itu. Saat itu, aku tengah menikmati sore yang mendung bersama Popo. Aku baru saja bangun dari tidur siang. Selepas pulang sekolah di jam sekitar dua belas siang, aku langsung makan dan tidur siang. Aku tidur dengan masih mengenakan seragam sekolah. Mama sampai mengomeliku habis-habisan. Setiap aku diomeli Mama, ada Popo Aming yang membelaiku mati-matian. Popo hampir tak pernah marah padaku. Bahkan dia tak marah saat aku iseng meminta tanda tangan dan cap jari Popo. Alasanku saat itu: sebagai kenang-kenangan saat aku dewasa kelak. Kenyataannya, ini memang menjadi kenang-kenangan  paling berharga aku.

"Kak," Thomas sudah berdiri di dekat pintu kamar aku. "Ayo, Kak. Papa sama Mama udah nungguin, loh."

Aku mengangguk. Hari ini aku dan keluargaku berencana untuk berziarah ke makam Popo Aming, yang notabene merupakan ibu kandung Mama. Akhirnya Papa dan Mama mau juga untuk mengunjungi Popo di rumah peristirahatan terakhirnya di Karawang. Aku maklum kenapa mereka enggan. Jarak antara Tangerang dan Karawang itu lumayan jauh. Mama paling tak suka kemacetan. Sementara titik macet kota Bekasi itu lumayan banyak. Macet sedikit saja--yang karena lampu merah, Mama langsung mengeluh. Mama, Mama, itu ibu kandung Mama, loh, padahal.

Kututup kotak tersebut. Kotak itu kumasukan ke dalam lemari bajuku. Aku bergegas untuk menghampiri Thomas. Thomas berseloroh, "Pagi-pagi udah mellow aja, Kak."

"Suka-suka gue, dong." balasku sengit.

*****

"Kha, kapan Abi melamar kamu?" Mama memang seperti itu. Suka ceplas-ceplos tanpa memikirkan perasaan orang. Aku hampir saja tersedak permen karena omongan Mama barusan. 

Kulihat, Papa malah nyengir di balik setir kemudinya. Thomas bersiul-siul yang sepertinya ejekan ke arahku. Aduh, kenapa topik obrolannya seperti ini? Aku dan Abi masih muda juga. Kami berdua bahkan masih kuliah. Lulus saja belum.

"Aku gak tahu, Ma." jawabku sembari coba memberikan senyuman. "Aku masih kuliah, Abi juga. Apalagi Abi juga harus setengah mulai dari awal kuliahnya." Abi akhirnya memutuskan untuk pindah kuliah ke Indonesia. Dia pindah dari Melbourne University ke Unika Atmajaya.

Mendengar kalimat terakhir yang kuucapkan, Thomas ber-cie cie. Thomas memang adik yang kurang ajar. Kapan, sih, jahilnya itu berkurang?

"Mama ngomong gini karena Mama udah yakin banget Abi emang yang terbaik untuk kamu, Kha." balas Mama yang melihatku dari kaca depan. 

"Papa kurang lebih sama, Mikha. Jangan kelamaan pacaran, langsung disahkan saja." Kemudian Papa langsung terbahak-bahak. 

"Cie, Kak Mikha yang mau dipersunting orang," ledek Thomas, yang langsung kupelototi. "Ampun, Kak. Aku kan cuma bercanda. Gitu aja marah." 

Thomas memang seperti itu. Selalu jahil. Itulah kenapa aku mudah berganti emosi. Kualihkan sebentar pandanganku ke arah jalan. Tampaknya Kijang Papa sudah memasuki kota Bekasi. Mobil Papa baru saja melewati Mal Metropolitan. 

Obrolan selanjutnya masih seputar Abi. Baik Mama atau Papa, kedua-duanya sama-sama berhasrat untuk mengenal Abi lebih dalam lagi. Kujawab saja sebisa aku. Jujur saja, walau sudah berpacaran lumayan lama, aku belum sangat mengenali Abi. Bagiku, Abi sungguh sosok misterius, entah itu misterius secara karakter, sifat, maupun pola pikir. 

Aku tak mudah mencintai
Aku tak mudah mengaku ku cinta
Aku tak mudah mengatakan
Aku jatuh cinta

Senandungku hanya untuk cinta
Tirakatku hanya untuk engkau
Tiada dusta sumpah ku cinta
Sampai ku menutup mata

Radio tengah memutar lagu ini. Aku cukup tersentuh mendengarnya. Lagu ini seperti luapan emosi terpendamku ke Abi. Jantungku jadi berdebar-debar. Beragam ekspresi Abi jadi muncul terus menerus di kepalaku. Aku tersenyum sendiri.

"Ciee, yang lagi kangen, nih, yee,..." ledek Thomas. 

"Kamu sayang banget, yah, sama Abi?" Apa-apaan, sih, Mama? Kenapa ikut-ikutan Thomas. Belum lagi Papa juga ikut-ikutan menjahiliku. Aku, kan, jadi malu, tahu.

"Kalau Kakak pengin tahu itu lagu siapa, itu lagunya Acha Septriasa, yang filmnya Kakak baru tonton dua bulan lalu. Judulnya 'Sampai Ku Menutup Mata'." ujar Thomas. Thomas tahu saja kebiasaanku. Aku memang seperti itu setiap mendengar lagu yang menurutku enak didengar, apalagi untuk didengar di saat-saat emosi tertentu. "Bisa Kak Mikha cari lagunya di I-Tunes, hehe."

Wajahku memerah. Aku sulit berkata apa-apa lagi. Belum lagi obrolan tentang Abi ini masih belum berhenti. Aku heran, dari setiap topik, kenapa harus membicaran Abi? Dan, pernikahan? Oh, tidak, untuk aku pribadi, itu masih jauh sekali. Aku masih ingin berpacaran dulu dengan Abi. Toh, aku juga belum begitu mengenal Abi.


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. 

Comments