ANOTHER FICTION: Déjà vu









Genre: Romance



Nenek penjual telur asin yang sangat memiliki tempat di hatiku. Dia suka membangkitkan banyak kenangan yang tersimpan di dalam otakku.








[GABRIEL KUSTANDI HUTAGALUNG]
Awalnya aku tak membenci kopi. Aku sangat suka menyukai minum kopi. Hanya saja, setelah kematian abang kembarku, ada sedikit rasa traumatis. Bayangan kejadian itu muncul begitu saja di pikiranku setiap kali aku melihat secangkir kopi. Apapun jenis kopinya. 

Itu bermula saat 2015 itu. 2 Maret 2005. Segalanya begitu mendadak dan cepatnya. Tanpa peringatan, berita itu datang. Aku memang kurang akrab dengan Fael. Namun, kehilangan tetap kehilangan. Pedih rasanya. Pernahkah kalian merasakan separuh jiwa kalian hilang? Itu yang kurasakan saat Fael meninggal. Separuh jiwaku seperti dicabut dari aku. Kebas sekali saat itu. Mau menangis, air mata tak kunjung keluar. Hanya hatiku yang menangis teriris-iris. 

.....

PRAAANG! Tanpa sengaja aku memecahkan gelas. Malu sekali rasanya. Ini kali pertama aku masuk tempat seperti ini. Dunia malam yang serba glamor, mengasyikan, dan memabukan. Kenikmatan itu hilang saat gelasnya tergelincir dari genggaman tanganku. Semua mata tertuju padaku. Aku jadi menunduk malu. Edu datang menyelamatkanku dan berkata, "Everything is alright. Dia sudah mulai teler rupanya." Berengsek, whisky-nya saja belum sempat kuminum, bagaimana bisa aku sudah teler. Tapi tetap saja aku berterimakasih ke Edu karena sudah menyelamatkan aku dari rasa malu yang luar biasa. 

Setelah situasinya kondusif, teman-teman mengerubungiku. Hide langsung bertanya, "Gab, why? Kamu belum minum sekalipun, tapi sudah berlagak teler, ada apa?"

"Tell us, Gabe," desak Nomvy berdesis. "Kita sahabat. Sahabat tidak akan pernah meninggalkan temannya menjalani kesulitan sendirian. Kamu punya masalah?"

Aku tak memiliki masalah saat ini. Aku luar biasa senang hari ini. Saking senangnya, aku nekat mengkhianati kepercayaan Papa dan Mama dengan mendatangi salah satu club di Melbourne. Aku sendiri bingung kenapa aku sampai menjatuhkan gelas berisi whisky ini. 

Aku menggeleng kepada teman-temanku. "Entahlah, aku sendiri bingung kenapa aku menjatuhkan gelas ini. Sepertinya aku mendapatkan firasat, sesuatu yang buruk akan terjadi." 

Ponsel flip aku berdering. Aku sigap mengambilnya dari kantong kemeja. Tumben Papa sampai meneleponku. Biasanya komunikasi kami lebih sering melalui surat elektronik. Sudah begitu, beliau meneleponku di jam sepuluh malam (Di Tangerang, mungkin masih jam enam petang). Jantungku jadi berdegup. Darah dalam tubuhku berdesir dahsyat. 

"Halo, Pa, ada apa?"

"Fael meninggal, Bi. Kamu bisa segera pulang? Nanti Papa kirim uang buat ongkosnya."

Bibirku kelu. Kuiyakan saja bisa. Teman-temanku jadi ikutan terbawa panik. Aku lalu mengajak mereka untuk keluar club biar enak berceritanya. Sebelumnya aku berhutang dulu ke Edu atas gelas yang pecah.

Itulah kenapa aku jadi sedikit membenci kopi. Sebelum meminum whisky, aku menikmati segelas Panama Geisha--yang masih di gelas yang sama. Kopi sering mengingatkanku dengan kejadian di club tersebut.

*****

[MIKHA]
Déjà vu. Apakah kalian tahu kata dari bahasa Perancis tersebut? Aku tahu artinya. Kebetulan dulu semasa SMA aku pernah belajar bahasa Perancis. Tokoh Esmeralda di "Hunchback of Notre Dame" adalah pemicunya. Tokoh perempuan gipsi itu membuat hatiku bergetar untuk mempelajari bahasa dan budaya Perancis. Bagiku, bahasa Perancis itu seksi. Aku selalu menyukai dengungan orang Perancis. 

Déjà vu itu bisa dibilang sejenis pengulangan kejadian. Kita mengalami kejadian yang sama persis dengan sebelumnya. Kadang istilah ini juga bisa untuk aktivitas di alam mimpi. Aku pernah mengalami déjà vu yang seperti itu. Tiba-tiba saja aku mengalami kejadian yang sama seperti yang kualami di alam mimpi. 

Tadi pagi, saat hendak presentasi untuk tugas Hukum Peradilan Tata Usaha Negara, aku mendadak aku tersandung. Banyak mahasiswa yang menertawaiku. Ibu Sri memarahiku ketimbang mengasihani aku. Arini langsung membantuku berdiri--yang dibantu oleh Diana. Diana yang comel itu segera membentak satu mahasiswa yang mengejekku. Itu semuanya sama persis dengan hari meninggalnya Rafael. Aku tak pernah lupa tanggalnya: 28 Februari 2005.

Bedanya dengan kejadian tadi pagi, saat itu aku mengikuti kelas Hukum Adat-nya Pak Nugroho. Setelah aku tersandung, Douglas mengirimkan aku beberapa pesan pendek. Isinya kurang lebih begini: "Kha, maaf ya gue cuma bisa SMS, gue gak berani nelepon langsung. Tapi langsung aja yah, sori banget juga, gue cuma mau nyampein, Fael meninggal. Telepon gue kalau lu ada waktu."

Itulah cerita di balik déjà vu tadi pagi. Aneh sekali, maksudnya apa? Kenapa Tuhan harus memberikan kejadian yang sama persis? Itu kan mengingatkanku dengan Fael, mantan pacarku sekaligus kakak kembar dari pacarku yang sekarang.

*****

[RADIT]
Aku jauh-jauh dari Bogor sengaja mampir ke makam Rafael yang berlokasi di Tangerang ini. Rafael itu salah satu sahabatku di fakultas Hukum. Dia sangat solider. Rafael juga sangat peduli dengan teman-temannya yang tengah kesulitan. Dia sering menolong tanpa pamrih. Aku ingat dia pernah membantuku membayar uang kuliah. Kebaikannya yang lain yang tak akan pernah aku lupakan adalah saat dia membantuku agar cepat jadian dengan Arini, perempuan bertinggi 160 cm yang hitam manis.

Itulah kenapa aku jadi sangat menyayangi Arini setelah Rafael meninggal. Hubunganku dengan Arini ini tak bisa lepas dari campur tangan seorang Rafael. Aku masih ingat bagaimana gigihnya Rafael dalam mencomblangiku dengan Arini. Dia sampai memanfaatkan Mikha demi mengorek-orek informasi mengenai Arini. Bahkan tempat penembakannya pun Rafael yang pilih. Kalau dari dompetku, mana sanggup aku mentraktir di American Grill yang sepotong steak bisa seharga Rp 200.000.

Sekarang ini aku dan Arini tengah ada masalah serius. Aku pusing jadinya sampai aku tak bisa berkonsentrasi untuk kuis besok. Mendadak Arini minta putus. Padahal hubungan kami adem ayem saja hingga detik ini. Setelah kudesak terus menerus, ternyata Arini minta putus karena tekanan keluarganya. Abi-nya Arini ingin menikahkan Arini dengan anak teman Abi-nya. Arini hanya bisa bilang dia harus menuruti permintaan sang Abi. Jika tidak, akan menghancurkan hubungan bisnis antara Abi dan teman Abi-nya. Apalagi, menurut pengakuan Arini juga, dia harus mau dengan perjodohan tersebut. Tampaknya keluarga Arini butuh uang jika aku ingat kembali bagaimana ekspresi Arini saat bercerita. Sisanya, Arini enggan bercerita panjang lebar lagi padaku. Alasannya: privasi.

El, gimana ni, apa gue harus ngelepasin Arini, desis aku di depan pusara Rafael. Aku masih mencintai Arini. Tapi, jika menyangkut uang, aku bisa apa. Biasanya ada kamu yang membantu kesulitan finansialku. Kamu juga, Fael, yang dengan mudahnya membujuk teman-teman dan para senior untuk mau memberikan pinjaman uang. Sekarang, kamu tak ada. Aku rada segan untuk meminta pinjaman ke orang-orang di kampus. Apa mereka mau? Apalagi untuk seorang Jefri. Yah, kamu tahu sendiri, Jefri pelit setengah mampus. El, aku harus bagaimana? Apa aku harus move-on saja dari Arini? Aku masih mencoba untuk terus berekonsiliasi dengan Arini. Aku belum mau putus dari Arini. Aku sangat menyayangi perempuan asal Makassar tersebut. Apalagi, makin tak tega lagi aku kalau aku ingat ada peranan kamu dalam hubunganku dengan Arini. Bagaimana ini, Fael?

*****

Rafael:
Dit, gue tau, lu masih mempertahankan Arini karena gue. Ya udahlah, itu mungkin yang terbaik. Jangan mau pacaran karena sebuah keterpaksaan. Sebelum gue meninggal, lu suka ngeluh sama gue soal Arini. Arini terlalu tertutup-lah, Arini yang punya selera kampungan-lah, yang beginilah, yang begitulah. Lepasin aja Arini. Gue bisa ngeliat lu sebetulnya mempertahankan Arini karena nggak mau nyakitin gue. Lu juga udah mulai nggak nyaman sama Arini, kan. Lepasin, nanti Tuhan kasih yang lebih baik dari Arini. Mungkin anak teman bokapnya itu yang terbaik buat Arini, Dit.


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. 

Comments