ANOTHER FICTION: Becky Mencoba Move On








Genre: Romance











[BECKY]

Aku bukan seorang munafik
Kuakui itu salah
Aku seorang yang jalang
Aku seorang yang sundal
Aku pantas mendapatkannya

Duka kurasakan
Hati ini menjerit-jerit
Air mata bercucuran layaknya tetesan hujan
Aku ingin kamu kembali
Kita mulai lagi dari awal

Sekarang tak akan sama
Aku sebal
Aku kesal
Aku jengkel
Mengapa aku harus mengalami ini? 
Mengapa harus dia yang kamu pilih? 
Mengapa kamu campakkan aku? 
Mengapa? 
Mengapa?
Mengapa?

Hati menjerit
Senyum memudar
Air mata terus menetes
Kelabu menyelimuti

Bahagiakah kamu? 
Apa kamu bahagia? 
Aku malah tidak
Aku kecewa berat
Masih kuingat kata-kata manismu dulu
Sekarang itu bagaikan tipu muslihat untuk aku
Aku tak bahagia
Separuh kebahagiaanku di kamu
Namun kamu tinggalkan aku demi dia
Apa sekarang kamu bahagia? 
Puaskah kamu? 



Mungkin puisi ini tak akan pernah tersampaikan ke kamu, Bi. Aku perlahan jadi mahir membuat puisi karena kamu. Terimakasih sudah mengajari aku untuk bersastra selama ini. Oh iya, Abi, lagu yang terdengar di foodcourt mal ini kesukaan kamu, kan. Kamu selalu menyukai lagu "Jingle Bell Rock". Aku bahkan masih ingat betapa kamu bisa memutar lagu ini hingga ribuan kali setiap Desember datang. Aku pun menyukai lagu ini untuk kamu--yang hatimu sudah pindah haluan ke dia.

Di sini, disaksikan ratusan pengunjung mal, mungkin Mami benar, mungkin Hansen benar, mungkin teman-teman benar, asalkan kamu bahagia, aku rela melepaskanmu. Mungkin Mikha memang yang terbaik untuk kamu, sementara aku pilihan terburuk untuk kamu. 


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. 


Comments