ANOTHER FICTION: Wo Ai Ni, Mikha!








Genre: Romance




.








Akhirnya aku bisa berjalan-jalan lagi di pasar ini. Tempatnya masih sama seperti dulu. Ada becek, bau keringat, tawar-menawar, dan bau amis ikan. Aku suka sekali. Aku kangen masa lalu. Bahkan kelenteng itu masih ada. Apa kue bulannya masih mereka jual? Apa penjualnya masih engkoh yang itu?

"Abi, sini!" panggil Mikha, pacarku yang baru. Dia pengganti Becky, yang sudah sangat mengkhianati aku. Jika mengingat namanya saja, aku luar biasa mendumel. Tapi, sudahlah. Masa lalu, yah masa lalu. Jangan terlalu diingat yang buruk-buruk.

Omong-omong, tempat makan itu, aku seperti teringat sesuatu. Itu seperti tempat makan yang dulu kudatangi setiap kali diajak Mama ke pasar. Namanya masih sama: Warung Mi Aming. Tapi apa hubungan Mikha ke tempat makan ini? Mendadak aku teringat gadis kecil itu. Gadis kecil berkaus Sailor Moon itu,--apa mungkin dia Mikha?

Sial buat Rafael, untung buat aku. Aku yang kecipratan, kan. Ternyata, aku baru tahu ibu yang punya warung mi ini memiliki anak perempuan yang luar biasa cantik. Sebelumnya si ibu memang pernah bercerita dia memiliki dua anak, yang salah satunya sebaya dengan aku dan Rafael. Namun, baru kali ini anak perempuannya datang ke warung mi ini. Sembari menunggu pesanan Mama dibuatkan, aku beberapa kali curi pandang ke arah si perempuan. Cantiknya perempuan tersebut. Mata sipitnya itu yang sangat menarik perhatianku. Indah sekali, sangat menawan. Cara dia menghampiri aku dan Mama itu sangat membuatku terkesan. "Mau pesan apa, yah, Tante?" Kata-kata itu terus terbayang di pikiranku.

Kudengar dia tertawa. Aku tersadar di lamunanku di jam sembilan dua puluh lima. Aku melihat ke arahnya. Astaga, jantung ini, tolong dipelankan. Aku takut dia mendengarnya. Aku kan jadi malu. Harus kusembunyikan di mana mukaku ini? 

Anak perempuan itu menghampiriku. Aku menggigit bibir bawah. Air liur ini berkali-kali ini ingin menetes. Aduh, kenapa harus ke sini? Huss, huss, jangan ke sini. Malu, tahu. Aku belum siap. 

"Oh iya, kamu kelas berapa?" tanya anak perempuan tersebut, yang mengenakan kaus putih bergambar Sailor Moon. Ia mengenakan celana pendek di atas lutut--yang berwarna merah marun. Lalu, ia menyorongkan  tangan untuk mengajakku berjabat tangan.

"Ke-kelas dua," jawabku gugup

Ia terkekeh. "Sama, dong, kayak aku. Aku juga kelas dua. Kelas 2 SMP. Aku sekolah di--" Seingatku dia menyebut satu nama sekolah swasta terkenal di Tangerang. Sayang aku lupa apa nama sekolahnya. Tak hanya itu, aku juga lupa apakah dia menyebutkan namanya atau tidak. Yang samar-samar kuingat, aku dan dia terlibat obrolan yang sangat menarik. Kami membicarakan mengenai aktivitas sekolah kami masing-masing, mengenai kegemaran kami masing-masing, bahkan yang kuingat, obrolan kami menyentuh sesuatu yang menyeramkan. Aku ingat anak perempuan bermata sipit dan berambut panjang (yang mana rambutnya dikepang dua) tersebut lumayan sering menakut-nakuti aku. 


"Hei, kok malah ngelamun gitu?" tegur Mikha. "Dan, kamu minggir, jangan di situ. Kamu ganggu pengunjung yang lain."

Aku lalu terburu-buru menyingkir. Ada becak yang terganggu dengan diriku yang berdiri terlalu lama. Si tukang becak menggerutu. Dia mengumpatku, aku langsung minta maaf. Si tukang becak itu membawa beberapa kotak yang berisi ikan. Bau amisnya sangat menusuk hidung. Selanjutnya, aku mengikuti Mikha yang menuntun aku ke dalam sebuah kapsul waktu. Kapsul waktu itu bernama Warung Mi Aming.

"Emang kamu pernah ke sini, Bi?" tanya Mikha. "Oh iya, kamu mau aku bikinin apa? Gini-gini aku jago masak, loh. Beberapa menu Chinese food, aku bisa bikininnya."

Aku langsung duduk, begitu dipersilahkan oleh Mikha. Yang berubah itu hanyalah dekorasi warung makan ini. Jauh lebih rapi. Dindingnya sekarang dicat dengan warna krem. Meja makannya juga tidak berbahan dasar kayu lagi. Sekarang warung makan ini menggunakan meja makan dengan bahan plastik. Sudah seperti restoran bintang lima saja.

"Iya, Mikha, aku dulu pernah ke sini. Rasa-rasanya kayak baru kemarin sore aja. Oh iya, Mikha, aku mau nanya, apa kamu punya nenek? Aming itu nama nenek kamu, kan? Kamu biasanya manggilnya itu popo." kataku panjang lebar, sembari mengedarkan pandang ke seluruh isi warung makan ini.

Mikha mengangguk. Dia duduk di samping aku. "Iya, itu nama nenek aku. Dan, popo itu nenek dalam bahasa China."

"Iya, aku tahu." Lalu aku menatap Mikha. Sekonyong-konyong Mikha berubah menjadi gadis kecil itu lagi. Jantungku langsung berdentum-dentum.

"Emang kamu pernah ke sini, Bi? Yah, rumah makan ini kan udah ada sejak lama. Sejak aku kecil malah."

Aku mengangguk.

"Wah," Mikha hanya mengucapkan satu kata itu. Ada seorang perempuan tua menghampiri kami berdua. Mungkin itu ibu Mikha. Bentuk matanya begitu mirip dengan Mikha. Ia menyodorkan tangan. "Kamu pacarnya Mikha, kan, yang saudara kembarnya itu meninggal? Tante turut berduka, yah, Abi. Namamu Abi, kan? Mikha sering cerita soal kamu."

"Iya, Tante. Abi itu panggilan aku. Nama lengkap aku Gabriel Kustandi Hutagalung."

Ibu Mikha terkekeh. "Abi mau pesan apa? Terus, mau Tante yang bikinin atau Mikha yang bikinin? Mikha emang beneren jago masak, loh. Chef Marinka kalah ketimbang Mikha."

"Tante bisa aja." Aku tertawa, Mikha tersipu malu. "Tapi, boleh dong, Mikha yang buatin.  Aku pengen banget dimasakin sama Mikha. Kha, buatin aku kwetiau sapi, dong. Agak pedes, yah."

"Boleh." Mikha langsung berdiri dan menuju dapur yang terletak di bagian muka warung makan ini. Namanya juga tempat makan bermenu masakan China, dapurnya seringnya di depan. Itulah, kurasa, yang membuat tempat makan seperti ini bisa bertahan.

Begitu Mikha mengambil celemek, dia langsung unjuk kemampuan. Cekatan sekali Mikha memotong-motong sayur-mayur dan rempah-rempah. Dua-tiga menit kemudian, wangi kwetiaunya sudah tercium. Sedapnya. Beruntungnya aku, yang begitu Mikha memasak, tak ada pesanan lain, yang sebelumnya itu pesanan berupa nasi goreng ayam.  Aku juga beruntung memiliki pacar yang jago memasak.

Sembari menunggu pesananku jadi, aku mengingat-ingat lagi masa itu. Jika benar Mikha itu gadis kecil itu, kenapa tak ada respon saat kubilang aku pernah ke sini sebelumnya? Memang warung makan seenak ini pasti pengunjungnya banyak sekali. Mikha tak mungkin mengingat setiap pengunjungnya. Walau aku ingin sekali Mikha langsung mengenaliku sebagai anak laki-laki itu, yang hobi mengekori ibu kandungnya. Aku merasa ada ikatan batin yang sangat kuat antara aku dan Mikha. Ayolah, Mikha, aku anak laki-laki itu!

"Abi," ujar ibu Mikha yang duduk di dekat aku. "Tante mau nanya, maaf kalo sok tahu yah, nama mama kamu itu Marianne, bukan?"

Aku mengangguk. Malah ibunya yang mengingat. Tapi, tak apalah. Toh, didengar oleh Mikha. Walau aku ragu juga. Mungkin suara oseng-oseng itu menghalangi Mikha untuk mendengar obrolan kami. Belum lagi suara bising dari luar warung makan ini.

"Kayak udah diatur Tuhan, yah. Dulu kamu itu, seingat Tante, suka ngobrol sama Mikha. Mikha lagi asyik baca majalah, kamu suka ganggu." Ibu Mikha terbahak-bahak. Aku pun tertawa. Entah ada angin apa, Mikha langsung menoleh. "Emang, iya, Ma?"

Wah, ternyata Mikha dengar (aku lupa aku duduk tak jauh dari dapur). Ini kesempatan untuk aku membuktikan analisa aku. Ya Tuhan, apa memang Mikha orangnya? Aku tak mau kelewat percaya diri. Malu sekali, Tuhan, kalau sampai salah duga.

"Iya, Mikha, masa kamu lupa? Mama ingat, kok, Abi ini emang anak laki-laki yang waktu itu. Apalagi kamu, tuh, Bi, punya kebiasaan yang mirip sama anak laki-laki itu. Sama-sama suka menggaruk-garuk pelipis kiri."

Beberapa pengunjung langsung memperhatikan aku, Mikha, dan ibu Mikha. Mereka saling sumbang pendapat mengenai obrolan barusan. Ada satu pengunjung yang bilang mungkin aku jodohnya Mikha. Ada juga yang bilang itu kebetulan yang sangat penuh keajaiban. Pengunjung lainnya malah mengaitkannya dengan satu kisah dari kitab suci. Sabtu pagi ini sangat berkesan. Lebih berkesan lagi, apalagi kalau bukan kwetiau sapi buatan Mikha ini.

Kataku sebelum makan, "Wo ai ni, Mikha."



PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri.


Comments