ANOTHER FICTION: Satu Hari Sebelum Meninggalnya Rafael









"Kamisama no Cempe Kanefe" di Janji Jiwa - Kopi dari Hati.






[MIKHA]
Aku heran dengan Mama. Kenapa Mama masih mempertahankan Warung Mi Aming ini? Popo sudah lama meninggal. Sudah sepuluh tahun yang lalu, Popo Aming pergi ke alam sana. Namun, Mama lebih memilih untuk mempertahankan warung makan Chinese food ini. Kata Mama, " Udahlah, Mikha, jangan campurin, ini bagian dari kesibukan Mama. Mama jenuh juga di rumah mulu. Atau, kamu pengennya Mama jadi kayak ibu-ibu sosialita yang duduk-duduk di kafe, terus ngegosip gitu sambil morotin harta suami?" Aku tertawa mendengar alasan Mama. Ada-ada saja. 

Jujur saja, di usianya yang seperti itu, belum lagi kedua anaknya juga bukan anak kecil lagi, ditutup saja warung makan tersebut. Cari kesibukan lain. Kalau mau berusaha, kenapa Mama tidak berjualan pulsa saja? Sekarang ini, yang kulihat, penggunaan telepon genggam tengah marak. Mama bisa meminta Papa agar memodalinya, selanjutnya dia berjualan dari rumah sendiri. Kasihan Mama. Bangun pagi-pagi, dia harus menyiapkan sarapan untuk aku dan Thomas. Belum ada istirahat, dia langsung mandi dan menuju pasar. Mama, Mama, kamu memang ibu super sibuk. Aku bangga punya Mama.

"Kha," Teguran Mama membangunkan lamunan aku yang duduk bertopang dagu di salah satu meja. "Kamu lagi ngelamunin apa, Kha? Ayo, sini, bantu Mama. Bentar lagi, warungnya harus buka. Tuh, lihat, udah ada satu pelanggan mau kemari." Mama menunjuk ke arah seorang bapak berkacamata yang merupakan salah satu pelanggan kami. 

"Nci, udah buka belum, Nci?" Si bapak langsung beringsut makin dekat ke arah Mama. 

"Tinggal dikit lagi, sih, Pak Lubis. Emang mau mesen apa?"  sambut Mama dengan wajah sangat berbinar-binar. Pak Lubis langsung menyebutkan pesanannya. "Oh iya, Mikha, ayo sini, bantu Mama dulu. Kamu masih tahu, kan cara bikinnya. Jangan bilang kamu lupa cara bikinnya sejak kamu pacaran sama si Fael itu?"

Aku memberengut. "Ih, Mama, apaan sih?"

Sontak Pak Lubis menyalip pembicaraan. "Ini anaknya yang dulu itu, yah, Nci? Yang dulu suka baca majalah itu?"

Mama mengangguk, Pak Lubis kembali melanjutkan kembali pembicaraan. "Sudah kelas berapa sekarang? Masih ingat sama Bapak? Bapak ini langganan setia Mama kamu."

Aku menggeleng, nyengir. Ada-ada saja. Sejak aku masih SD, pelanggan Warung Mi Aming ini sangat banyak. Datang dan pergi, yang begitu saja. Mana kuhapal wajah ratusan pelanggan ini. Tapi demi menjaga citra Warung Mi Aming, aku mengiyakan saja. Kasihan Popo di surga sana. Aku menghela napas. 

Sembari memasak pesanan Pak Lubis--yaitu lima kwetiau, aku mendadak terpikirkan oleh Rafael. Rafael, bagaimana kabarnya? Sudah semingguan ini, ia dan teman-teman pecinta alamnya sedang berada di Gunung Gede. Kadang, aku suka heran apa enaknya kegiatan pecinta alam itu. Bagiku, itu sangat melelahkan. Aku sampai geleng-geleng kepala sendiri saat dia, Douglas, Jefri, Marco, dan beberapa teman-teman lainnya berlari-lari tak jelas mengelilingi gedung KW. Kuat sekali Rafael push-up sampai dua ratus kali. Apa yang menyenangkan dari itu semua? Membuat berkeringat badan, badan jadi bau, kan. 

Fael, kamu bagaimana kabarnya? Sudah beberapa hari tak ada kabar dari kamu. Aku kangen kamu, El. Apa di sana tak ada sinyal? Kalau ada sinyal dan pulsa, hubungi aku. Kirimkan saja pesan singkat yang menandakan kamu tak kenapa-napa. Jangan jadi seperti ini. Rindu itu berat. Kamu tahu, kan, betapa beratnya rindu. Jangan siksa aku dengan lima kata tersebut.

"Mikha!" teriak Mama. "Apa-apaan kamu ini? Itu mericanya kebanyakan. Aduh, rusak sudah image warung ini. Popo kamu bisa sedih, Kha."

"Sorry, Ma," Aku menundukan kepala, tak berani menatap Mama. "Apa harus dibuat ulang lagi?"

"Biar Mama aja, sana kamu!" Sepertinya Mama marah karena kecerobohanku yang tak serius memasakkan pesanan Mama. 

"Lagi ada masalah, Dek?" Pak Lubis iseng bertanya. Ia terkekeh-kekeh sembari memegang ponsel Nokia 5130. 

Aku hanya tersenyum malu. Mama yang menjawab, "Biasalah, Pak Lubis, masalah anak remaja. Yah, Mikha, yah, kamu lagi sedih ditinggal pergi kekasih tercinta?!"  Hebatnya Mama. Dia masih bisa memasak sambil mengajak mengobrol pelanggan. Aku saja tak bisa. Apalagi Popo yang sudah almarhumah. 

Mendengar kata-kata Mama tersebut, kedua pipiku memerah. 







"Cualacino" berada di Cluster Victoria, Kota Moderen.





[GABRIEL KUSTANDI HUTAGALUNG]
Ingin rasanya aku bolos saja. Kelas "International Politics" - nya Mr. Xavier juga sangat membosankan. Belum lagi, seingatku,  Mr. Xavier sering tak masuk. Kemungkinan besar dosenku yang berambut gimbal dan hobi mengenakan sombrero itu tak masuk. Apa aku bolos saja? 

Keinginanku untuk tidak ke Melbourne University sangat menggebu-gebu. Bukan sekadar untuk malas-malasan. Hanya saja, pikiranku tengah bercabang. Aku mengkhawatirkan abang kembarku. Mimpiku semalam itu penyebabnya. Sudah tiga hari ini aku memimpikan Rafael. Di dalam mimpiku, Rafael tersenyum, lalu cemberut, dan pergi begitu saja. E-mail aku ke dia juga belum Rafael balas. Saat kutelepon, menurut pengakuan Timo, Rafael pergi ke Gunung Gede. Ketimbang aku, Rafael sangat menggemari aktivitas-aktivitas outdoor. Bagi seorang Rafael, kegiatan mendaki gunung mungkin sangatlah memacu adrenalin. Lalu, pikiran negatifku datang. Aku membayangkan Rafael sekonyong-konyong tergelincir dan jatuh begitu saja.

Tidak! Aku tak boleh berpikir sejahat itu. Dia abangku. Rafael saudara kembarku. Masa aku tega berpikir sejahat itu tentangnya? Walau demikian, kemungkinan itu masih tetap ada, kan. Selain tergelincir, ada kemungkinan diserang ular beracun, keracunan buah atau jamur beracun, tenggelam di sungai, atau mati terbakar api. Ya Tuhan, semoga Rafael tak kenapa-napa. Aku sangat khawatir. Meskipun hubunganku dengan Rafael tak begitu akrab, aku sangat mempedulikannya dari lubuk hatiku. 

Aku segera menghampiri kulkas. Ternyata masih ada sekaleng Coca-cola. Eh, sebentar, rasa-rasanya aku ingin mencoba Budweiser yang ditinggalkan Edu di apartemenku. Aku penasaran seperti apa rasanya minuman beralkohol itu. Toh, Mama yang bawel tak ada di sini. Mungkin saja minuman ini lebih ajaib dalam menghilangkan setiap kegelisahanku atas mimpi-mimpiku tersebut.

DRIIN! 

Bel apartemenku berbunyi. Dengan tergesa-gesa--yang bajuku jadi setengah basah karena  Budweiser, aku menuju pintu depan. Hampir saja aku tersandung. Kubuka pintu. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Edu berada di depan pintu. Dia terbahak. Dan, dia datang sendirian tanpa yang lainnya. 

"What's wrong?" tanyaku. "Oh iya,  bilang ke Bill, aku absen kelas Mr. Xavier dulu. Aku sedang bad mood."

Edu menepuk pundakku. "Gabi, wah, ada kemajuan dari kamu rupanya. Pagi-pagi mulutmu sudah berbau alkohol."








"Ai Shin'Yuu" berada Lagoom Eatery, Kota Moderen, Tangerang.









"Waduh, gimana nih, Rud? Tali-talinya kayak begini lagi? Apa dibatalkan aja nih acara mendakinya? Lagian kita kan udah have fun juga. Udah rafting, udah ekspedisi hutan. Sebagian acara udah kita lakuin, kecuali ini. Climbing. Gimana nih?" priotes Hendra

"Ah, udah, terus aja, my man. Takut lo?" sambar Benny.

"Iya tuh, sekalian uji nyali. Kan lumayan. Kalau sukses, kita bisa ceritain ke anak-anak di kampus. Terutama anak-anak WCL," Alvin menimpali ucapan Benny.

"Ah gila lo. Tali-talinya kayak begini. Ini mah bunuh diri namanya. Lagian, kok bisa kayak begini, sih? Kok nggak diperiksa dulu sebelum berangkat?" gerutu Jefri.

"Lo nyalahin gue nih jadinya?" protes Radith yang merasa disindir.

Itulah obrolan beberapa anak Mahupala, Atmajaya di kawasan Gunung Gede. Mereka tengah meributkan persoalan jadi atau tidaknya mereka climbing. Sampai akhirnya, tokoh yang dikhawatirkan oleh pacar dan adik kembarnya ini angkat suara juga.

"Terusin aja, Brother. Itung-itung uji nyali. Kapan lagi coba dapet pengalaman kayak gini. Kalau kita sukses mendakinya kan lumayan. Ada pengalaman untuk diceritakan ke orang lain kalau kita berhasil menaklukan Gunung Gede dengan peralatan seadanya. Heroik, kan?"



PS:
WCL itu kependekan dari Wanacala. Oh iya, cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri.

Comments