ANOTHER FICTION: Rindu yang Menyiksa








Genre: Romance
















Rindu.....

Kata itu sungguh menyiksa kalbu
Mengapa rindu itu harus ada?
Mengapa rindu itu harus menghiasi suatu hubungan?
Mengapa Tuhan menciptakan rindu?
Rindu itu sangat berat



Di Tangerang,

Pernahkah kalian betapa berat rindu itu? Padahal hanya lima kata. Pengucapannya mudah pula. Namun, pada prakteknya, susah. Itulah rindu. Gairah bisa menurun, terkadang. Sesekali bisa memberikan suntikan semangat berlipat-lipat.

Itulah yang dirasakan Mikha. Perempuan berdarah Pontianak-Bali ini tengah gundah. Dari tadi ia uring-uringan melulu. Ah, kenapa Tuhan memberikan dia cobaan seperti ini. Ini berat sekali. Ini pengalaman pertama Mikha dalam menjalani hubungan jarak jauh. 

Kadang Mikha suka bertanya-tanya mengapa Gabriel tidak memutuskan untuk melanjutkan studi di Indonesia. Keluarga Hutagalung merupakan keluarga yang berkecukupan. Tidaklah sulit untuk memindahkan Gabriel dari Melbourne ke Jakarta. Di Jakarta, kampus segudang. Tak mungkin tak ada yang cocok dengan kualifikasi yang dimiliki oleh Gabriel. Lagipula, jangankan Jakarta, di Tangerang, ada satu kampus yang Mikha rasa cocok sekali untuk Gabriel. Gabriel, kan, orangnya supel (walau awalnya Mikha menganggap Gabriel kaku). Dia memiliki empat teman orang asing. Pastilah Gabriel cocok untuk berkuliah di kampus tersebut. 

Mikha tengah kangen. Dari tadi dia bolak-balik membuka Word dan Friendster. Belum ada pembaharuan dari Gabriel. YM dan LC kepunyaan Gabriel masih dalam status offline. Ah, mungkin Gabriel tengah sibuk sekali. Mikha beberapa kali berpikir positif, namun yang negatif datang lagi. Abi, aku kangen banget sama kamu, batin Mikha. 

"Hei," Diana melambaikan tangan di depan Mikha. "Kha, sadar woy, sadar. Eling. Nyebut, Mikha. Kesambet yang ada lu."

Mikha tersentak. Lamunannya tersadar oleh lambaian Diana. "Apa sih, lu, Di? Resek!"

Diana terbahak, sementara Arini terkikik. "Cie,..... yang lagi LDR. Yang pangerannya lagi ada di negeri Kangguru sana. Jangan-jangan Abi-nya lagi selingkuh sama koala lagi?"

"Brengsek lu, Di." Mikha nyengir. 

"Ya udah, Mikha, kerjain makalah dulu," ucap Arini tersenyum. "Besok harus dikumpulin ke Bu Wina, kan?!"

*****

Di Melbourne,

Sekarang Gabriel mulai merasa mengerti perasaan teman kulit hitamnya yang bernama Adam Nomvethe. Ah, brengsek, mengapa dia dulu dia suka mengejek-ejek Adam yang menjaga kesetiaannya ke Renatha Zoyasha. Padahal, perkara menjaga perasaan itu terbilang susah. Kita berada di sini, sementara pasangan kita berada di tempat yang bermil-mil jauhnya dari kita. Menyeberangi lautan pula. 

Ini juga pengalaman pertama Gabriel dalam menjalani hubungan jarak jauh. Sebelumnya Gabriel pernah menjalaninya bersama Becky. Ingat Becky, ingat pula segala kekecewaan di dalam hati Gabriel. Mengapa Becky tega bermain belakang? Gabriel pikir Becky selalu menjaga perasaan dan kepercayaannya. Nyatanya Gabriel diselingkuhi. Becky ternyata memang bukan perempuan tepat untuk Gabriel. Pisah merupakan jawaban tepat. 

Mikha merupakan yang kedua dalam episode hubungan jarak jauh kali ini. Gabriel yakin Mikha tak seperti Becky. Mikha lebih lembut, lebih peka, lebih keibuan, dan lebih banyak memiliki kesamaan dengan Gabriel. Melihat wajah Mikha, Gabriel seperti menatap masa depannya. Sangat cerah. 

Kali ini, Gabriel tengah berada di sebuah kafe. Satu lasagna sudah habis. Teman-teman CHANGE-nya belum tiba sama sekali. Lama sekali mereka. Apa pula yang dilakukan mereka? Gabriel menggerutu sendirian. Sesekali pandangannya teralih ke laptop. Halaman Friendster Mikha. Tak jarang Gabriel menghela napas. Gabriel pun tengah  merasakan kerinduan yang sama tanpa disadari oleh Mikha.

"Hey, dude!" Edu Garcia, teman Gabriel asal Kolombia menyapanya dengan tawa menyebalkan khas lelaki Latino tersebut.

"Hey, bukankah kita sudah pernah bilang untuk tidak mengajak orang asing dalam setiap pertemuan CHANGE?" protes Gabriel yang melihat perempuan blonde yang memeluk erat lengan Edu.

"Dia bukan orang asing, dude. Dia pacarku, Gabe. Lagipula dia hanya sebentar saja. Dia memiliki urusan di sekitar sini. Bukan begitu, Sayang?" Perempuan yang ternyata bernama Beatrice ini mengangguk. Lalu, keduanya berpelukan erat dan berciuman. Brengsek, inilah cobaan maha dahsyat untuk seseorang yang tengah rindu berat seperti Gabriel. 

Beatrice kemudian pergi. Gabriel lalu beringsut dan berkata, "Another women, dude? Ada berapa perempuan telah kamu kencani untuk bulan ini?"

Edu terbahak. "Yang tadi itu hanya crush, Gabe. Tak lebih dari itu. Lagipula dia yang mengajak bertemu sebentar. Masa aku tolak ajakannya mentraktir? Lumayan, Gabe, untuk menghemat pengeluaran."

Gabriel nyengir. "Pantas kamu lama datang ke sini."

"Haha. Well, yang lain ke mana? Dan, dari tadi kuperhatikan, kamu tengah melamun. Merindukan tuan putri kamu yang berada nun jauh di sana?"

Ah, Edu ini selalu tahu bagaimana harus memukul telak lawan bicaranya. Sifat jailnya tak pernah berubah. Pantas Edu sering bergonta-ganti pasangan. Kepekaan Edu itu masih kurang. Begitulah pikir Gabriel.

*****

Di Tangerang,

Sampai sekarang, Becky masih terngiang-ngiang dengan kejadian Cafe Olala tersebut. Apa maksud pernyataan Gabriel? Gabriel sulit dikonfirmasi. Beberapa kali mantannya itu menolak jawab. "Cari tau aja sendiri!" Itulah jawaban yang selalu diberikan oleh Gabriel.

Mengapa Gabriel menjadi sejahat itu? Salah Becky di mana? Brengsek Abi, umpat Becky dalam hati. Apa tak ada kesempatan kedua untuk dirinya? Tuhan saja selalu memberikan kesempatan kedua untuk tiap umat-Nya. Mengapa Gabriel tak bisa seperti itu? 

Sejauh ini, belum ada lelaki seperti Gabriel. Ini sudah laki-laki kesekian yang  dipacari Becky. Namun, Gabriel tetaplah Gabriel. Tidak ada yang bisa menyamainya. Becky tak bisa mengambilnya. Gabriel is not available right now. Laki-laki berkacamata itu sudah dimiliki oleh Mikha, sahabat sekaligus musuhnya.

Beberapa kali Becky merutuki Mikha. Ini sudah rokok kelima yang diisap oleh Becky. Suara Becky jadi parau karena kebiasaan merokoknya yang makin menjadi. Belum lagi kebiasaan minum Becky yang gila-gilaan. Dalam semalam party, lima loki tequila bisa ditenggaknya.

"Udahlah, Ky, cowok banyak. Tinggalin aja Abi. Bukan jodoh lu juga kali." hibur Patricia yang memberikan tisu ke Becky yang hidungnya mulai mampat.

"Ah, lu, kan gue udah bilang, nggak ada yang kayak Abi. Karena Abi juga, gue bisa mengontrol kebiasaan merokok dan minum gue, Pat." 

"Yah, terus mau gimana? Orangnya juga udah punya cewek, kan?" 

"Bantuin gue, dong, agar Abi segera mutusin Mikha."

Patricia melongo. Baru kali ini perempuan keriting itu mendengar ide gila seperti itu keluar dari mulut Becky. Apa mungkin Becky tengah tertular virus berbahaya dari sebuah sinetron? Atau, mungkinkah Becky sudah kehilangan akal sehatnya hanya karena laki-laki berkacamata seperti Gabriel?



Kamu bedebah
Kamu bajingan
Kamu tak bermoral
Mengapa kamu tinggalkan aku begitu saja?
Tega kamu!

Aku benci kamu!
Aku ingin kamu balik lagi seperti dulu
Jadilah kamu yang dulu
Jadilah milikku lagi

Aku masih cinta kamu
Aku masih sayang kamu
Aku sulit melupakanmu

 Jangan perlakukan aku seperti ini!



Comments