ANOTHER FICTION: Rahasia Kecil Rafael (3)









Genre: Romance






You know I can't smile without you
I can't smile without you
I can't laugh and I can't sing
I'm finding it hard to do anything
You see I feel sad when you're sad
I feel glad when you're glad
If you only knew what I'm going through
I just can't smile without you

You came along just like a song
And brightened my day
Who would have believed that you were part of a dream
Now it all seems light years away

And now you know I can't smile without you
I can't smile without you
I can't laugh and I can't sing
I'm finding it hard to do anything
You see I feel sad when you're sad
I feel glad when you're glad
If you only knew what I'm going through
I just can't smile

Now some people say happiness takes so very long to find
Well, I'm finding it hard leaving your love behind me

And you see I can't smile without you
I can't smile without you
I can't laugh and I can't sing
I'm finding it hard to do anything
You see I feel glad when you're glad
I feel sad when you're sad
If you only knew what I'm going through
I just can't smile without you 

[GABRIEL KUSTANDI HUTAGALUNG]
Lagu ini kupasang untuk mencairkan ketegangan. Entah kenapa, sejak insiden di rumah Mikha tempo lalu, aku dan Mikha,--hubungan kami berdua jadi kaku. Padahal kita saling kenal sudah lumayan lama. Tapi sekarang kami berdua seolah orang baru yang baru saling kenal. Aku melirik sekilas wajah Mikha yang tengah menatap ke arah pemandangan di samping kirinya. Bahkan, dilihat dari samping pun, Mikha masih terlihat cantik. Mungkin ini yang namanya cantik dari segala sisi.

Untuk lagu ini sendiri, aku tak sengaja memilihnya. Lagu ini datang dari kaset berjudul "80's Hits Love Songs'. Aku tidak tahu siapa yang sering menggunakan mobil ini. Kemungkinan besar pasti Papa yang super-busy dad. Apalagi kasetnya merupakan favorit Papa, khususnya lagu ini. Papa dan Fael sangat menyukai "I Can't Smile Without You" ini. Apa ini semacam pertanda.

Bayangkan saja. Dalam tape recorder ini, sudah ada kasetnya. Saat kusetel, tiba-tiba saja lagu Barry Manilow ini yang terpasang. Maksudnya apa ini? Aku tertawa sendiri. Woy, Fael, Hantu Fael, kemari sini. Aku tahu kamu masih berkeliaran di sekitar aku. Ini pekerjaan kamu, kan, batinku dalam hati.

"Bi, kamu kenapa?" tanya Mikha. Aku terkaget. Apa aku tertawa begitu keras? Perasaan aku hanya tertawa secara komat-kamit saja. "Ada yang lucu? Kok ketawa sendiri? Atau ada sesuatu yang membuat kamu ketawa?"

Aku memandangi Mikha dengan senyuman manis. Aku makin mencintai dia. "Kha, aku senang banget kamu udah mulai ngajak aku ngomong aku lagi. Jujur aja, gara-gara dua hari lalu, kamu itu kayak kaku gitu sama aku. Kalau aku ada salah, yah aku minta maaf."

"Gak apa-apa." Mikha tersenyum. "Maafin juga atas sifat kekanak-kanakan aku, Bi. Soal itu, aku yang salah, main tembak gitu aja. Kamu risih, yah?"

"Awalnya sih risih. Tapi, pas kupikir lagi, mungkin maunya almarhum kayak mau kamu. Aku nggak boleh nutup-nutupin dari kamu juga. Kemarin itu, aku belum siap, Kha."

"Aku mengerti. Tepatnya, aku coba mengerti."

"Dan, jawaban pertanyaan kamu itu--" Mataku kualihkan ke radio mobil. "--ada di lagu ini. Ini lagu kesukaan Papa, soalnya. Dulu, pas aku sama Fael masih kecil, Papa suka dengerin lagu ini. Persis lagu ini." Aku lalu memutar ulang kembali menjadi lagu "I Can't Smile Without You". "Dan Fael merupakan pendukung garis keras Papa. Apa yang Papa suka, coba disukai sama Fael. Sementara aku pendukung Mama."

Mikha tergelak. "Aneh juga keluarga kamu. Kubu-kubuan gitu. Pantes kamu sama dia kayak anjing dan kucing."

Aku tertawa juga. "Walau demikian, sebetulnya nggak gitu juga. Aku juga bingung kenapa aku dan dia jadi kayak ngejalanin hubungan antar rival gitu. Kami suka nggak kompak. Aku ke kanan, dia ke kiri. Aku suka ngecemburuin dia. Eh, ternyata dia juga suka cemburuin aku. Padahal aku pikir hidup dia yang apa-apa serba enak. Haha."

"Nggak heran dia ngerahasian keberadaan kamu dari aku. Fael, Fael." Mikha nyengir, geleng-geleng kepala.

"Kha, kan pertanyaan kamu udah aku jawab, giliran aku yang nanya, yah," Aku seperti bisa merasakan degupan jantung Mikha. "Kalau Fael nggak ngerahasiain, kamu pilih siapa?"

Mikha seperti terkejut. "Bi, kamu apaan? Kamu sama dia adik-kakak. Eling, Bi."

"Iya, aku tahu. Tapi, jawab aja pertanyaan aku. Pilih siapa?"

"Ini untuk saat ini atau waktu itu? Kalau untuk saat ini, aku pilih kamu. Aku merasa jiwa Fael hidup dalam raga kamu. Terus, kalau untuk kondisi waktu itu, aku nggak mau jawab. Itu pilihan sulit dan cukup gila. Pertama, kamu sama dia adik-kakak. Aku nggak mau merusak kebahagiaan suatu keluarga. Kedua, kamu kan punya Becky waktu itu. Sekarang aja aku merasa aku ini kayak tukang tikung, Bi."

Aku tertegun cukup lama. Mikha ini sebetulnya siapa? Aku baru kali pertama menemukan perempuan seperti Mikha.

"Sori, yah, jawaban aku, Bi."

Aku menggeleng. "Nggak apa-apa. Maafin juga aku karena terlalu posesif. Because, you are my precious. You are my great treasure, Mikha. Aku nggak mau kehilangan kamu. Dan, aku nggak bakal ninggalin kamu."

"Aku kaget dengar kata-kata kamu, Bi. Kedengarannya di telinga aku, kayak orang picik. Tapi aku coba mengerti kamu setelah tahu cerita masa lalu kalian berdua."

"Thank's."

"Terus, pertanyaannya kubalikin, nih. Kalau Becky nggak mengkhianati kamu, terus kamu udah tahu soal aku juga, kamu pilih siapa? Aku atau Becky?"

Mati aku. Mikha betul-betul bukan perempuan sembarangan. Aku jadi bingung menjawab apa. Mikha juga sahabat Becky. Dulunya Mikha itu pacar Fael. Belum lagi, Mikha dan Becky itu sangat berbeda. Pilihan yang sangat sulit. Dilematis. Mendadak ada ide nakal untuk kembali ke Becky saja.

"Nggak usah dijawab, Bi. Mendengar kata-katamu itu aja, aku udah senang banget."

"Kata-kata yang mana?" Aku pura-pura tak tahu, padahal tahu kata-kata yang mana. Biar Mikha sendiri yang katakan sendiri kepadaku.

"Me neither. You are my precious, too."

*****

Dalam rangka menyambut Natal, aku membawa Mikha ke pusara Rafael. Mungkin Mikha belum pernah ke makam Rafael semenjak insiden tersebut. Tampak Mikha terlihat nanar memandangi makam Rafael. Aku meletakan sebuket lily putih ke pusaranya.

"El, gue udah sukses ngejagain Mikha kayak mau lu." desisku sepelan mungkin agar tak terdengar Mikha. Tapi benar kata banyak orang, pendengaran perempuan lebih tajam daripada laki-laki. "Benar kata lu, Mikha lebih cocok sama gue."

Benar terkaan aku. Mikha pasti dengar. Lihat, dia menatapku heran. Dia beringsut dan berbisik, "Maksudmu apaan?"

"Bukan apa-apa." Aku menggeleng. "Ya udah, sekarang giliran kamu. Ada yang mau disampaikan, nggak, ke Fael?"

Mikha cepat melupakan omonganku barusan. Dia langsung memandangi makam Rafael lagi. "Fael, makasih yah, udah dateng ke mimpi aku semalam,--"

Apa? Rafael datang ke mimpi Mikha semalam? Berarti dia masih berkeliaran di alam ini? Lantas, mimpiku saat di Bali itu bagaimana?


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. Mohon maaf juga atas ketidaknyamanan membacanya, sebab terjadi gangguan teknis saat menuliskannya. 😩


Comments