ANOTHER FICTION: Rahasia Kecil Rafael (2)








Genre: Romance














"Hati-hati, yah, make kompornya, Mikha," wanti-wanti sang nenek tersenyum ramah. "Salah-salah, nanti kamu kenapa-napa. Nggak ada yang jual nyawa manusia di pasar ini."

Mikha kecil mengangguk. Mengikuti instruksi sang nenek, Mikha hati-hati menghidupkan kompor. Awal-awalnya takut-takut. Maklum saja, segala yang berhubungan dengan api, memang bahaya. Di pikiran Mikha kecil, nanti begitu kenop kompor digeser ke kanan, bakal meledak. Mikha tak mau mati di usia seperti ini. Tapi, kan, belum tentu, kekhawatiran Mikha terbukti. Dia takut-takut untuk menggeser kenopnya ke kanan. 

"Nggak usah takut, Mikha, ayo," Neneknya menyemangati. "kamu pasti bisa. Itu, kan baru nyalain kompor, belum goreng nasinya. Nggak akan meledak, kok."

Mikha memberanikan diri untuk menyalakan kompor. Kali ini, tahan dulu, baru geser ke kanan. Akhirnya bisa juga, keluar api dari lubang kompornya. Mikha kecil sangat senang. Dia nyaris saja berteriak. Kalau pun berteriak, tenang saja, warung mi-nya sudah tutup. Makanya, Mikha baru sekarang diajarkan untuk belajar memasak. Yah, biar tak mengganggu pelanggan warung. 

"Tuh, kan, bisa," kata neneknya tersenyum, lalu neneknya menunjuk ke arah nampan berisi rempah-rempah yang sudah dipotong. Yang memotong itu masih neneknya. Belajar memasaknya harus pelan-pelan. Sekarang, belajar menghidupkan kompor dulu. Nanti, Mikha akan diajari untuk memotong bawang dan cabai merah.  "Sekarang, masukin minyak gorengnya. Tuanginnya hati-hati, Mikha. Habis itu, taruh ke wajannya, bumbu-bumbunya. Kamu aduk-adukin sampai keluar aroma wangi."

Mikha mengangguk. Ia mulai mengikuti instruksi neneknya. Dengan takut-takut Mikha menaruh minyak goreng ke wajan ukuran besar. Sesekali dia menjerit kepanasan karena cipratan minyak goreng. Kata neneknya, itulah kesulitan orang belajar memasak. Neneknya juga dulu kepanasan juga. Lalu, setelah mulai dirasa pas, inilah waktunya Mikha untuk menuangkan bumbu-bumbunya. 

"Hati-hati, yah, Mikha, pas mengaduknya," Neneknya lagi-lagi mengingatkan. Di benak Mikha, neneknya sangat bawel sekali. Namun, Mikha sangat senang diperhatikan. Apalagi sebentar lagi, mungkin Mikha akan mahir memasak nasi goreng. Ke depannya Mikha-lah yang akan rutin memasak nasi goreng sebagai sarapan untuk keluarganya. 

Mikha mengaduk-aduk bumbu-bumbunya, terus seperti itu, sampai keluar aroma wangi, setelah itu, Mikha baru memasukan nasi gorengnya. Dituangkannya kecap manis dengan hati-hati. Jangan sampai kebanyakan, nanti kemanisan. Mikha hapal tiap instruksi sang nenek.

"Nah, gampang, kan, masak nasi goreng itu," ujar neneknya sambil memberikan acungan jempol. "Besok-besok Popo ajarin resep rahasia Popo. Mungkin kelak kamu yang jalanin warung makan ini. Kamu mau, kan, Mikha?"

"Aku mau, Po." Mikha sangat berbinar-binar. 

"Oh iya, Mikha, Popo mau nanya. Mana yang lebih asyik, jadi artis atau koki warung makan ini?" goda neneknya. Mikha tersipu malu. Itu pilihan yang sangat sulit. Pertama, belajar memasak itu sangat mengasyikan. Kedua, walau lumayan padat aktivitasnya, Mikha sangat menyenangi aktivitas menyanyi di depan umum. 

*****

[MIKHA]
Aku terbangun. Masih jam dua lima belas pagi. Ini untuk keenam kali aku memimpikan Popo. Mimpi yang barusan itu pengalaman aku saat belajar menghidupkan kompor. Sebelumnya aku pernah bermimpi Popo langsung memeluk aku saat jari telunjuk aku teriris pisau. Pernah lagi aku bermimpi diberikan kesempatan untuk memasak untuk pelanggan warung, yang harus dilakukan sambil menyanyi.

Kenapa  aku harus terus menerus memimpikan Popo? Tapi, aku memang akhir-akhir ini agak merindukan Popo. Aku kangen dengan masakan Popo Aming. Walau banyak pelanggan yang menyukai masakanku, tetap saja masakan Popo Aming tak bisa ditandingi. Apa mungkin juga Popo Aming ingin aku tetap melanjutkan usaha warung mi kepunyaannya. Kata Mama, warung mi itu sudah ada selama tiga generasi, dan Mama itu generasi ketiga. Aku mungkin generasi keempat.

Lebih baik aku berdoa dulu. Biar lebih tentram hati aku ini. Aku memutuskan untuk bersimpuh. Kedua tangan kutaruh di atas tempat tidur. Aku mulai membuat tanda salib. Sehabis doa yang agak lama, aku melanjutkan tidur. Aku bermimpi lagi.

Mimpi yang aneh. Seluruh ruangannya putih. Tak ada warna lain selain putih. Hanya ada putih, putih, dan putih. Ini di mana, sih? 

"Hai, Mikha," sapa seseorang yang sangat aku kenal. Mirip Abi, namun bukan Abi. Itu Fael. Aku kangen sekali dengan Fael, laki-laki yang pernah cukup lama membuat jiwaku mati. Di samping Fael, ada Popo Aming. Baik  Fael maupun Popo Aming mengenakan pakaian serba putih. Fael mengenakan setelan jas putih, Popo Aming mengenakan gaun terusan berwarna putih. 

"Fael, Popo," Mataku hampir saja mengeluarkan air mata. Apa aku menangis saja? 

"Nangis aja lagi, Kha," Fael seperti membaca pikiranku. Dia tertawa yang rada menyebalkan. "Aku udah lama nggak lihat kamu nangis, apalagi tersenyum. Kayaknya juga adek kembar aku cocok banget sama kamu, yah. Kalian punya banyak kemiripan."

"Apaan, sih, kamu, El." rengut aku. "Tahu, nggak, gara-gara satu orang bodoh, aku merana banget? Aku kehilangan kamu banget waktu itu."

Fael tertawa lagi. "Sori, sori, aku minta maaf, Kha. Mungkin kematian aku emang bagian dari takdir Tuhan, Kha. Matinya harus kayak gitu."

"Huh!"

"Oh iya, Mikha, ada yang mau Popo sampaikan," Giliran Popo Aming yang bicara. "Tolong ziarahin makam Popo di Tanah Gocap, yah. Tak terurus jadinya."

"Iya, Po. Maaf juga, Po, sejak kuliah, aku jarang banget ke makam Popo." 

"Terus, kamu mau nggak, Kha, nerusin usaha warung mi itu? Kamu, kan, udah jago masak. Popo pengen warung mi itu terus ada."

Bagaimana, yah? Apa harus kuiyakan? Terus, nanti gelar sarjana hukum aku bagaimana? Sudah impianku sewaktu SMA, ingin menjadi pelindung hak-hak perempuan. Aku sudah berencana akan mengambil kursus advokat nanti. Tapi, tak enak aku menolak Popo.

"Nggak usah kamu pikirin sekarang, Kha," ujar Popo Aming tersenyum. "Kamu pikirkan saja dulu."

Popo Aming selalu begitu. Tak pernah berubah. Dia selalu bijak, yang sebijak tabib di film-film silat China. Karena itulah, aku sangat menyayangi Popo Aming. 

"Cieeee... yang lagi nyelidikin aku..." Fael menggodaiku. "Aku tahu, kok, kamu lagi nyelidikin soal masa lalu aku."

"Kamu nggak suka?"

"Gak masalah, sih. Tapi buat apa? Itu nggak akan mengubah keadaan. Aku tetap aja meninggal."

Baru aku mau menjawab, mendadak latarnya berubah menjadi kamarku lagi, bukan ruangan serba putih itu lagi. Kali jam sudah menunjukan jam empat dua puluh. Suara azan Subuh sayup-sayup terdengar. Yang tadi itu, mimpi yang sangat aneh, namun mengasyikan. Mimpi yang cukup lama pula. Seingatku, aku sempat menyaksikan beberapa kilasan masa kecil Fael. Dia ternyata sering bertengkar dengan Abi. Aku mulai paham kenapa Fael merahasiakan keberadaan Abi dari aku. Tampaknya Fael cemburu dengan Abi. Tapi, kupikir, buat apa? Tiap orang memiliki keistimewaan masing-masing, kan. Aku menyukai  Fael, karena dia Fael.

Eh, sebentar, benarkah begitu? Bagaimana kalau saat itu aku sudah mengetahui mengenai Abi. Bisa jadi aku akan meninggalkan Fael demi Abi. Tak bisa kupungkiri, Abi memiliki banyak pesona daripada Fael. Ah, betapa munafik diriku ini!


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. 


Comments