ANOTHER FICTION: Rahasia Kecil Rafael (1)







Genre: Romance














[GABRIEL KUSTANDI HUTAGALUNG]
Ini kali pertamanya aku diajak main ke rumah Mikha. Dibilang besar, tidak juga. Namun, kata Mikha, ada enam kamar di dalam rumahnya. Yang satu itu kamar orang tuanya. Lalu, kamar Mikha, kamar Thomas, kamar pembantunya (yang sekarang bekerja itu Mbak Giyanti), dan terakhir, kamar tamu (yang sering dipakai saat hari-hari raya). Ada halaman di depan dan belakang rumah Mikha. Sebelumnya, di pikiranku, Mikha memiliki kolam renang pribadi seperti rumah Becky. Sayangnya, itu tak ada. Paling hanya ada kolam ikan yang berukuran agak besar. Di dalam kolam itu, ada beberapa ikan. Sejak kecil, aku suka melihat ikan-ikan berenang. Aku malah hapal jenis-jenis ikan. Yang besar itu ikan koi, yang tengah beradu dengan ikan mas yang warnanya keemasan. Lalu, yang di pinggir kolam itu ikan sapu-sapu. 

Tak ada siapa -siapa di rumah Mikha, selain Mbak Giyanti. Kedua orangtua Mikha tengah tidak ada di tempat. Papanya bekerja untuk sebuah produk susu. Sebagai finance analyze-nya, selain masih cukup aktif bekerja di sebuah kantor kedutaan Spanyol. Sementara mamanya hanyalah ibu rumah tangga, selain mengelola Warung Mi Aming. Kata Mikha, sehabis dari warung, mamanya memang memiliki banyak kesibukan seperti bayar tagihan listrik atau telepon. "Mama juga buka usaha salon. Ga jauh, sih, dari Pasar Lama." Begitulah yang dikatakan Mikha saat kutanya kenapa rumahnya begitu sepi. Terakhir, Thomas pasti tengah bersekolah. Adiknya yang sama jahilnya dengan Timo itu tengah sibuk mempersiapkan ujian nasional. Mikha bilang kemungkinan besar Thomas langsung ke tempat bimbingan belajar. 

Aku masih mondar-mandir tak jelas di lantai dasar rumah Mikha. Dari teras belakang ke teras depan. Aku sedikit berhati-hati berjalan-jalan. Ada tiga buah guci berukuran besar yang ditempatkan di ruang tengah.  Tampaknya juga kedua orangtua Mikha sangat memperhatikan keindahan. Pemuja keindahan, menurutku. Lihat saja, dinding ruang tamu dan ruang tengahnya. Ada beberapa lukisan yang ciamik sekali. Salah satunya, lukisan penari Bali. Oh iya, aku hampir lupa, papanya itu orang Bali. 

Aku berhenti sejenak di depan sebuah bufet. Ini Mikha saat kecil? Hah? Aku kaget melihat fotonya. Tampak Mikha kecil tengah menyanyi di depan puluhan pasang mata. Mungkin hanya untuk kontes kecil-kecilan seperti kontes tingkat RT atau keluarga. Tapi sepertinya tidak. Pakaian yang dikenakan tampak mahal. Tak mungkin itu sekelas RT. Kebetulan Mikha tengah ke arahku. Dia tersenyum. Di belakang Mikha, Mbak Giyanti membawa nampan berisi kue kering dan es jeruk. 

"Mbak Mikha ini dulunya artis, Mas. Kata si ibu, Mbak Mikha pernah masuk dapur rekaman. Ada kenalan bapak yang bekerja di dapur rekaman. Itu foto Mbak Mikha sewaktu manggung. Ga terkenal, sih, tapi tetap aja, Mas, bikin iri. Apalagi itu juga mimpi saya bisa masuk dapur rekaman sama nyanyi di depan banyak orang." celoteh Mbak Giyanti yang beberapa kali terselipkan suara cekikikannya. 

"Cerita lama, Bi. Gak penting juga." Mikha membenarkan.  "Ya udah, Bi, duduk dulu. Atau masih mau lihat-lihat isi rumahku? Tapi nanti rumahku jangan kamu malingin, yah?!"

Aku tertawa, Mbak Giyanti tertawa pula.  Beberapa detik kemudian, Mbak Giyanti balik ke dapur. Katanya sih, banyak tumpukan piring kotor di dapur. Dia juga mewanti-wanti agar jangan bertingkah macam-macam. "Kalau cowok sama cewek lagi berduaan, yang ketiganya pasti setan," ujar Mbak Giyanti memasang mimik seram. Aku hanya tertawa saja. Sementara Mikha jadi sewot. Walau sewot, Mikha tetap terlihat cantik di mataku.

"Kamu nggak pernah cerita soal ini," Aku menunjuk ke arah foto Mikha kecil yang berada di atas panggung.

"Kan, aku baru kali ini ngajakin kamu ke rumahku juga. Lagian, buatku, itu cerita nggak penting, Bi. Cuma cerita seorang anak kecil yang merengek-rengek ke papanya agar bisa jadi penyanyi. Bukan sebuah cerita yang perlu dibanggain ke banyak orang. Aku malah sering malu kalau nginget masa-masa itu lagi." ucap Mikha panjang lebar.

Aku langsung beranjak duduk. Tak sopan saja, hanya Mikha yang duduk. Aku meminum es jeruk yang menjadi bagianku. Mikha mencomot satu kastangel. 

"Yah, tapi kan, Kha, nggak semua orang dapet kesempatan kayak begitu. Itu luar biasa, menurutku. Aku bangga banget bisa jadi pacar dari seorang perempuan yang pernah menjadi penyanyi cilik. Sama bangganya pas nemenin Becky pemotretan untuk sebuah majalah perempuan." Di kalimat terakhir, ekspresi aku berubah menjadi temaram. Kalau saja, tak ada insiden di Barcode. Kalau saja Rafael tak datang ke mimpiku saat itu. Mungkin aku masih menjadi semacam bodyguard pribadi Becky. Tiap Becky menjalani pemotretan dan syuting, aku sering ikut. Aku memacari Becky sejak kami berdua masih SMA. Kami dulu satu sekolah. 

Mikha tertawa. Ia mencubit tanganku. "Tuh, kan, katanya cuma aku yang ada di hati. Ingat mantan lagi, deh, ceritanya. Benar, yah, kata orang-orang, mantan emang susah dilupain."

"Apaan, sih, kamu, Kha?" Aku nyengir. "Cuma inget dikit, gak boleh?"

"Gapapa, kok. Itu kan bagian dari hak asasi kamu. Aku nggak berhak mengatur-ngatur isi kepala orang."

"Thank's."

"Thank buat apa?"

"Untuk kata-kata yang terakhir tadi. Aku kira kamu bakal marah. Eh, ternyata kamu malah nggak marah sedikit pun."

"Kata siapa aku nggak marah?" Mikha langsung merajuk. Mungkin lebih tepatnya ia berpura-pura merajuk. "Sebagai gantinya, ceritain aku lebih banyak soal Fael."

"Oh, jadi kamu ngajakin aku ke rumah kamu, ada maksud-maksud tertentu?"

"Gak boleh?" Mikha merajuk makin parah. "Aku, kan, cuma pengen tau aja soal keluarga kamu. Dia kakak kembar kamu, kan? Lagian, ada yang aku mau tunjukin ke kamu." Mikha langsung mengobrak-abrik isi binder-nya.Dia menyerahkan beberapa lembar kertas folio yang sudah dilubangi kepadaku. 

"Itu," Aku menerima kertas-kertas itu dari Mikha. Aku agak terkejut. "Itulah alasanku mengajak kamu main ke rumah aku. Biar enak ngomonginnya, Bi. Aku pengen tau aja soal Fael, soal hubungan kalian berdua. Dan, aku yakin banget itu bukan buah pikiran Fael. Kalau aku ingat seluruh kejadian, masih lebih puitis kamu." 

"Ini emang buatanku." Aku mengangguk-angguk. "Seingatku, Fael pernah minta aku bikinin dia puisi. Katanya, mau dikasih ke pacarnya. Waktu itu, aku nggak pernah kepikiran pacarnya itu kamu. Yah, aku mau-mau aja, sih. Soalnya aku udah diimbalin begitu."

"Oh, gitu." Ganti Mikha yang meminum es jeruk. "Terus, maaf yah kalau aku jadi sok ikut campur, kamu sama dia nggak gitu akrab, yah?"

"Tahunya dari mana?" Aku terkekeh-kekeh. 

"Yah, aku ngebaca dari segala cerita yang aku terima, sih. Mulai dari aku baru tau soal kamu setelah Fael meninggal, soal puisi-puisi palsu itu, dan masih banyak yang lainnya."

Aku hanya terdiam. Lama aku terdiam, Mikha makin gelisah. Sebetulnya aku enggan menjawab. Bagaimanapun Rafael sudah lama meninggal. Jangan terlalu mengingat-ingat orang yang sudah meninggal. Apalagi jika kita sampai membicarakan keburukan-keburukan yang bersangkutan. Tapi mungkin Mikha memiliki alasan kuat kenapa harus mengorek-orek masa lalu. Mikha itu pacarku, dia calon istriku (walau aku belum yakin kalau hubungan ini akan bertahan hingga ke pernikahan). 

"Ya, udah, Bi, nggak usah cerita sekarang kalau belum siap. Aku nggak akan maksa, kok. Makasih, yah, buat kejujurannya." Selanjutnya Mikha mengajak aku untuk menonton sebuah film animasi. Filmnya tentang sekumpulan binatang yang berpelesiran hingga Madagaskar. Sebuah film binatang yang sangat keren!


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. 


Comments