ANOTHER FICTION: Peringatan dari Alam Mimpi









Genre: Romance














[GABRIEL KUSTANDI HUTAGALUNG]
Wekernya berbunyi sangat kencang. Aku terpaksa membuka mata. Aku mengulet-ulet kedua mataku. Ada kotoran telinga di sebelah mataku. Asin rasanya. Hiiy. 

Heh. Aku tak langsung bangkit berdiri. Aku masih berada di atas tempat tidur. Jam menunjukan pukul lima dua pagi. Aku tahu aku harus buru-buru mandi dan sarapan. Rafael kan mandinya lama. Seperti perempuan saja. Harusnya seperti itu. Namun, ada satu hal yang membuatku termenung dulu. Itu karena mimpi yang kudapatkan barusan. Mimpi itu lagi.

Aku bingung mengapa aku harus bermimpi yang sama. Aku memimpikan seorang perempuan. Perempuan ini bukan anak-anak selayaknya diriku dan Rafael. Dia sudah dewasa. Badannya tinggi sekali. Kedua kakinya begitu ramping. Rambut hitamnya yang panjang terurai-urai sangat mempesona. Di dalam mimpiku, aku tengah menggandeng kedua tangannya yang sangat halus. Aku lalu diajak si kakak cantik ke sebuah tempat. Kami berdua makan es krim yang paling lezat, yang kalian tak akan pernah temukan di mana-mana. 

Kakak cantik itu siapa? Akhir-akhir ini aku jadi kehilangan konsentrasi di sekolah karena wajahnya yang terus menerus menghiasi isi kepalaku. Kak, kapan kita berdua bisa saling berjumpa? Aku sepertinya jatuh hati dengan Kakak. Apa Kakak itu sungguh nyata atau hanya ada di alam mimpi saja? 

"Aduh!" Aku meraung. Ternyata Rafael, kakak kembarku yang jail. Dari arah pintu, Rafael terkekeh-kekeh. Aku sewot ke arahnya. 

"Abi, jangan ngelamun pagi-pagi, ntar kesambet," celetuk Rafael. "Jam segini para hantu masih bergentayangan, loh. Haha."

"Be-berengsek lu, El," Dengan kesalnya, aku mencoba bangkit berdiri. "Lu nggak mandi?"

"Nih, gue baru mau jalan. Tapi gue sempetin dulu mampir ke kamar lu, Bi. Eh, lu lagi ngelamun. Ngelamunin siapa sih? Cieeeee...." ejek Rafael. "Pasti ngelamunin si Melati yang bau itu?! Haha."

Aku melemparkan bantal guling dengan seprai bergambar Doraemon ke arah Rafael. Pertengkaran pun terjadi. Setiap pagi nyaris selalu seperti itu. Mama sampai geleng-geleng kepala karenanya. Kata Mama, dia kapok memiliki anak lelaki semua. Mama begitu mengidamkan seorang anak perempuan sebagai penyeimbangnya dan blablabla lainnya yang tak kumengerti bahasanya.

Kemudian pertengkaran selanjutnya berlanjut menjadi berebut masuk ke dalam kamar mandi. Lagi dan lagi, Rafael yang menang. Aku hanya bisa menggigit jari di luar kamar mandi. Pasti lama, pikirku. 

*****

[RAFAEL KUSTANDI HUTAGALUNG]
Haha. Aku senang sekali bisa menjajah si Abi. Abi lembek banget. Kadang aku suka heran dia itu laki-laki atau bukan. Tapi Abi kan adik kembarku. Pasti laki-laki, si Abi itu. Aku belum pernah melihat sepasang kembar beda kelamin soalnya.

Abi, Abi. Sudah beberapa hari ini aku suka melihat dia melamun. Apa sih yang dia lamunkan? Di beberapa mata pelajaran, Abi mendapatkan nilai merah. Apalagi di pelajaran Matematika, Abi kan jagonya ketimbang aku. Tak biasanya, tugas Matematika-nya itu mendapatkan nilai empat. Ada apa sih sama kamu, Bi? Apa kamu sedang menaksir seorang perempuan? Cerita, dong, sama aku!

Walaupun demikian, tak akan semudah itu. Meskipun kami ini saudara kembar, aku dan dia sering tak sepemikiran. Aku suka gagal menangkap maksud dari tindak-tanduk Abi. Kelakuan kami sungguh bagaikan bumi dan langit. Abi itu langitnya, aku yang jadi buminya. Tiap aku mencoba akrab dengannya, Abi sering menghindar. Perasaan aku tak pernah melakukan sesuatu yang dia tak sukai. Bi, kalau aku ada salah, aku minta maaf.

Aku menyenggol Abi. Dia terlihat masih marah. Aku coba memasang mimik lucu, lalu berbisik, "Bi, yang gue lihat, lu kayak lagi ada masalah. Lu suka ngelamun gitu. Ada apa, Bi? Apa ada cewek di sekolah yang lu naksir? Cerita sama gue. Kita kan saudara kembar."

"Bu-bukan urusan lu, El," Abi masih terlihat dongkol. "Lu mana ngerti juga. Lagian, gue ceritain, lu gak bakal percaya. Ntar lu ngejekin gue lagi."

Aku membuat tanda peace. "Swear, gue nggak bakal ngejekin lu. Cerita, dong."

Dari arah depan mobil, Mama berseru, "Abi, Fael, jangan berantem. Kalian ini hobinya berantem mulu. Tuh, lihat, adik kalian sampe ketakutan."

Spontan aku mendekati Timo, adik kami berdua yang masih duduk di taman kanak-kanak. Aku mencubit dengan gemasnya kedua pipi Timo. Mama lalu memarahiku, karena Timo malah jadi menangis. Inilah aku, Rafael, yang banyak orang mengenalku sebagai anak nakal. Anggapan itu sangat menyusahkan aku sebetulnya. Entah kenapa aku ingin menjadi seperti Abi yang kutu buku. Kenapa juga hanya Abi yang berkacamata? Aku kan juga ingin mengenakan kacamata biar kesan anak nakal lepas dari aku. 


*****

[MIKHA]
Mimpi ini lagi. Mimpi yang aneh. Aku bermimpi menjadi seorang perempuan dewasa. Kenyataannya aku masih seorang anak kecil kelas 4 SD. Huh!

Kali ini aku tengah berjalan-jalan di sebuah komplek perumahan. Ini bukan komplek di mana aku tinggal. Ini komplek yang berbeda. Di sini, aku hanya berjalan-jalan. Begitu saja, hingga aku bertemu seorang laki-laki dewasa. Dia lumayan ganteng di balik kacamatanya yang tampak tebal. Lalu, tanpa bisa kucegah, sekujur tubuhku seperti ada kekuatan yang merasukiku.

"Rafael..... Rafael, ini kamu, kan?"

"Kamu siapa?" kata si laki-laki dewasa tersebut. Tampaknya laki-laki itu terganggu. Memang ada yang salah dengan pertanyaanku. Kelihatannya juga, mungkin kelak aku merasa akan memiliki seorang pacar, dan pacarku bernama Rafael.

Benar saja. Bibirku ini langsung mencerocos. "Kamu keterlaluan bercandanya! Berpura-pura meninggal, dan sekarang pura-pura nggak kenal! Aku tahu kalau kamu belum meninggal. Selama ini, kamu hanya bercanda, kan?"

Apa? Jadi, kelak aku bakal punya pacar. Nama pacarku itu Rafael, lalu si Rafael itu meninggal. Ini bukan suatu masa depan yang kuinginkan. Aku yakin juga, semua anak perempuan juga tak akan pernah menginginkan masa depan seperti itu. Buat apa punya pacar, kalau nanti yang bersangkutan akan meninggal?

Si laki-laki tampak tersinggung. "Maaf, tapi kayaknya kamu salah orang. Namaku Gabriel, bukan Rafael."

"Sori banget. Sepertinya aku belum bisa menerima kepergiannya. Tapi, wajahmu begitu mirip dengannya. Aku benar-benar mengira kamu dia."

Drama apa lagi ini? Jangan bilang padaku, pacarku nanti itu memiliki saudara kembar. Aku sama sekali tak menginginkan masa depan seperti itu. Aku tak ingin memiliki pacar yang kelak meninggal. Aku juga tak mau memiliki pacar yang memiliki saudara kembar. Di pikiranku, masa depan seperti itu sangat suram.

Aku hanya tertawa sendiri mengingat mimpiku semalam. Rafael dan Gabriel, dua orang yang kelak akan berhubungan denganku. Aku merasa keduanya akan menjadi pacarku. Mungkin yang satu akan kupacari dulu, lalu ada masalah, dan aku pindah ke hati saudara kembarnya. Seperti sebuah sinetron saja--yang mana aku menjadi pemeran utamanya.


PS:
Gambar ini berasal dari anime Detective Conan. Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri.



Comments