ANOTHER FICTION: Malam Tahun Baru Pertama Gabriel dan Mikha








Genre: Romance























[GABRIEL KUSTANDI HUTAGALUNG]
Hah? Telingaku sekonyong-konyong berdiri mendengarnya. Apa Mikha tak salah ucap? Lusa kan sudah tahun baru. Sudah tanggal 1 Januari 2008. Masa iya Warung Mi Aming tetap buka? Setahuku, kedua orangtua Mikha turut merayakan tahun baru dengan cara kristiani. Lalu, seperti kebanyakan Nasrani lainnya, sudah pasti merayakan satu hari itu dengan cara berleha-leha, walau kata 'berleha-leha' itu terkesan agak kurang sedap didengar. 

"Kamu serius, Kha?" tanyaku yang masih tak percaya. Mungkin Mikha berkelakar. "Emang di rumah kamu, gak ada acara khusus? Lusa tahun baru, loh, Kha. Masa iya masih berjualan?"

"Justru kata Mama, omzetnya bagus banget di hari raya. Lebaran kemarin, banyak yang mesen kue kering ke Mama. Banyak yang datang ke warung juga. Lagian, bukanya cuma sebentar aja, kok. Abis misa, buka dua-tiga jam, langsung balik ke rumah. Lanjut jualan lagi malam."

Aku terbahak. Rasanya aku masih tak percaya mendengarnya. Ini keluar sendiri dari mulut Mikha. "Wah, Mikha, Mama kamu emang luar biasa. Pantes anaknya seluar biasa ini."

Mikha menjawir sebelah tanganku. "Kamu mau ngegombalin ya?"

"Dikit." kataku, yang agak kewalahan menggunakan sumpit demi menghabiskan mi pangsit ini. Hari ini, sepulang gereja, sehabis menjemput Mikha dari gerejanya, aku dan dia makan di Bakmie GM (kata Mikha, ini salah satu tempat kuliner favorit Mikha). Mikha tertawa melihat aksiku yang sangat kewalahan. Sarannya, lebih baik aku menggunakan garpu saja, jangan sok-sokan menggunakan sumpit.

"Abis pulang gereja, loh. Tuh, kan, udah kena karma. Lagian, udah tau nggak bisa pake sumpit, sok banget pake sumpit." ledek Mikha terbahak. Dia, sih, enak. Makanannya itu hanya sepiring nasi goreng. Walaupun, pilihan kuliner Mikha sedikit nyentrik. Di tempat seperti ini, malah memesan nasi goreng. Alasan Mikha: nasi goreng di tempat ini memiliki cita rasa yang berbeda daripada tempat-tempat lain.

Tawaku sepertinya makin kencang saja. Beberapa pengunjung jadi memperhatikan kami berdua. "Hubungannya di mana, Kha? Ada-ada aja kamu, tuh."

"Yah, dari aku aja, sih." Mikha nyengir. Astaga, senyuman Mikha sangat luar biasa. Kusuka melihatnya, Tuhan. "Kalau kataku, kurang pantes aja."

"Haha. Kamu bisa aja. Kamu nganggepnya aku bohong, nih, ceritanya?! Maksud kamu, sehabis dengar khotbah pendeta, kita nggak boleh bohong, gitu?"

"Itu kamu sendiri, loh, yang ngomong. Bukan aku." Giliran Mikha yang tertawa. Suara tawanya sangat renyah, serenyah tawa bidadari, walau aku ragu suara bidadari itu seperti apa.

"Ya udah, kamu yang menang. Tapi lain kali, aku pasti yang menang."

"Tuh, kan, mikirnya udah jahat lagi. Belum lewat hari, udah mikirnya jahat. Yang dikhotbahin, keluar kuping kiri, yah?"

"Khilaf, Sayang." ujarku mengecup pipi Mikha. "Oh iya, rencana malam tahun baruan kita gimana? Jadi, kan? Mama kamu nggak marah?"

Mikha menggeleng, masih tertawa juga. "Mama udah ngasih lampu hijau, kok."

Aku dan Mikha sepakat akan merayakan pergantian tahun baru di Ancol. Aku bahkan memiliki ide gila yang mungkin tak akan terpikirkan sebelumnya di kepala aku. Nanti, salah satu mobil di rumah, akan aku pinjam. Aku berencana mengajak Mikha untuk mengikuti konvoi orang-orang yang hendak merayakan pergantian tahun di jalan-jalan ibukota. Muaranya nanti di Ancol. Sejak kecil, itu salah satu impianku yang belum terwujudkan. Itu: merayakan malam tahun baru bersama kerumunan orang sembari menyaksikan beberapa pertunjukan musik. Noraknya aku. Mikha sampai tertawa saat aku menyampaikan ide tersebut. Mikha sendiri tak keberatan. Hanya saja, Mikha mengeluh betapa jenuhnya dirinya melihat kemacetan Jakarta yang makin hari makin parah--apalagi saat besok nanti. 
















[BECKY]
Aku tak percaya mendengar kata-kata Mami barusan. Untuk kali pertama, Mami malah melawanku. Tega nian Mami. Mami malah berada di pihak seorang perempuan yang dengan amat jahat merebut Abi dari aku. Aku masih terngiang-ngiang kata-kata Mami barusan.

"Yah, udahlah, Echi, laki-laki itu banyak. Lupain aja si Gabriel itu. Mungkin emang bukan jodoh kamu." Echi merupakan nama panggilan aku di rumah sejak kanak-kanak. Aunty Sherly yang rada cadel itu pencetusnya. Tanteku yang hobi mengeriting rambut itu suka salah sebut Becky menjadi Echi. 

"Kok Mami ngomong gitu? Bukannya ngebelain aku, malah ngomongnya nyakitin gitu."

"Yah, habis mau gimana, Chi. Nasi sudah menjadi bubur. Buat apa ditangisi? Yang Mami lihat, seolah-olah hidup kamu hanya ada Gabriel melulu. Kamu jadi kurang perhatian sama Mami, Papi, adik-adik kamu, juga yang lainnya."

"Mami jahat!"

"Terserahlah. Tapi, saran Mami, lupain Gabriel. Mami--dari awal--nggak gitu suka sama dia. Terlalu nyinyir dia. Sok sekali dia."

"..."

"Dan, satu lagi, kalau lagi ada acara keluarga, Mami mohon kamu jangan pasang ekspresi sendu begitu, seolah-olah kamu habis Mami siksa. Yang terakhir, saat arisan ibu-ibu bulan lalu, kamu pasang ekspresi begitu, Mami jadi bahan omongan ibu-ibu di arisan. Mami malu banget, Echi."

Menyebalkan. Mami tak berperasaan. Aku masih dongkol mengingat obrolan dua minggu lalu tersebut. Padahal aku korbannya, eh malah aku yang terpojok. Aku butuh kata-kata motivasi, bukan cercaan. Pedih hati ini. Aku merana sekali. Lebih merana lagi, saat melihat dia bersama yang lainnya. Ya sudahlah, air mata, keluarlah dari pelupuk mataku. Aku tengah berada di apartemen aku. Lagi kosong ini. Kiri dan kanan, tengah tak ada di tempat. Yang kiri, pasangan suami-istri itu tengah berlibur ke Singapura. Yang kanan, mahasiswa itu balik ke kampung halamannya di Timor Leste. Aku saja yang tak ke mana-mana. Aku lagi malas balik ke rumah. 

Semenyebalkan Mami, lebih dongkol lagi jika aku mengingat kejadian di Cafe Olala saat itu. Saat harga diriku tercabik-cabik oleh perlakuan kurang menyenangkan Abi. Kepalaku memutar kembali memori itu.

Aku berkemas-kemas. Hampir saja aku tersandung. Beberapa pengunjung memperhatikanku. Kafe ini seperti menyindir aku. Mereka memasang lagu yang menyebalkan. Itu "Teman Tapi Mesra" dari Ratu. Aku tak mau hanya dianggap sebagai teman. Aku mau lebih. Bagaikan terbakar oleh lagu berengsek itu, aku berjalan tergopoh-gopoh. Aku harus segera menyampaikan uneg-uneg aku ke Abi.

Aku berlari dan berlari. Kutangkap tangan si laki-laki. Ternyata memang Abi. Segera kukatakan langsung, "Bi, balikan lagi. Aku minta maaf kalau udah salah sama kamu. Kuakui, yang kulakuin di Barcode itu emang salah." Kukatakan itu semua saat Abi bersama perempuan lain. Siapa lagi kalau bukan musuh bebuyutanku, Mikha. Dari sahabat berubah menjadi musuh. Itulah posisi Mikha untuk aku sekarang ini.

Abi hanya tersenyum. Tapi, berani sumpah, dia dongkol. Mikha terlihat risih dengan keberadaanku. Kalau aku di posisi Mikha, pasti aku juga risih. Aku memang perempuan aneh.

"Eh, Becky, lagi apa?" Malah Mikha yang menjawab. Sementara Abi hanya mendesis, "Kalau soal itu, aku udah maafin kamu. Sisanya, sori."

Malunya aku. Pelayan kafe jadi menertawaiku. Berengsek kamu, Bi. Hinaan ini sungguh tak termaafkan. Tapi, karena cintaku yang amat besar, kutanggung segala rasa malu. Terimalah aku ini. Diduakan pun aku siap-siap saja.

"Tapi, kenapa?" rintih aku yang jadi menitikan air mata.

"Aku udah punya Mikha sekarang. Kami saling mencintai. Dan, rasa sayangku ke kamu sudah berkurang drastis. Cinta tak bisa dipaksa, Ky." Abi seperti memanas-manasi aku dengan langsung merangkul Mikha. Dikecupnya dahi Mikha. Itu pemandangan terpanas yang pernah kulihat.

"Emang bagusnya Mikha itu apa, Bi? Cantikan juga aku ketimbang Mikha." rengek aku. Berani sumpah, Abi pasti menganggap aku anak kecil yang sangat kekanak-kanakan. "Apa kamu masih marah sama kejadian di Barcode itu? Aku minta maaf yang itu. Aku udah putusin si Wilson itu."

Kulihat Mikha tak merespon. Di mataku, tatapan Mikha seperti mengejek aku. Iya, Mikha, aku memang pecundang. Hina aku, injak-injak aku. Tapi jangan pernah kamu ambil Abi aku. Satu lagi, Mikha, dulu kukira kamu itu bisa menjadi
best friend forever aku. Ternyata yang ada kamu malah menjadi the worst friend forever.

Abi mendesah. Ia mengeluh. "Udah yah, jangan diterusin. Kamu cari aja laki-laki lain. Lagian, kalau kupikir-pikir, kamu sama aku itu nggak cocok banget. Kita banyak bedanya. Paham?"

Lalu Abi melepaskan pelan-pelan genggaman tangan aku yang mulai melemah. Aku sangat frustasi. Abi perlahan-lahan menjauh dari aku. Yang terakhir kudengar, "Kha, kita pindah ke tempat lain aja, gimana? Bikin bete di sini." Mikha tak menjawab, hanya mengangguk.


Ah, sudahlah. Perutku jadi lapar dengan segala kesedihan. Aku bangkit berdiri dan tergopoh-gopoh menuju televisi plasma. Aku beringsut ke arah meja telepon. Kuraih yellow page dan langsung mencari nomor KFC. Sehabis memesan seporsi ayam goreng, kola, dan kentang goreng, diriku memasang lagu "Don't Sway" dari Bic Runga.


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. 


Comments