ANOTHER FICTION: Kisah Cinta The CHANGE










Genre: Romance








Tousan kaasan arigatou
Taisetsu na hito ga dekita no desu
Yatte ne!













"Hide, pelankan," 

Aku tengan berada di perpustakaan hari ini. Mr. Harding memberikan tugas yang memaksaku untuk masuk ke perpustakaan. Aku juga tak anti ke perpustakaan. Masalahnya, aku tengah berada dalam situasi oh-buku-aku-muak. Kurang lebih seperti itu.  

Aku jengah. Kupelototi teman Jepang aku ini--yang hobi mengganti warna rambut. "Hide, aku bilang, kan, pelankan. Or, please, your headset. Using it. You sucks!"

Hide hanya tertawa sembari memakan keripik jepang kesukaannya, Ishiyaki. Ia menyodorkannya padaku. Kuambil dengan jengkelnya. 

"Yeah, that's right. Pakai headset-nya." Aku nyengir. "Dan, thank for that snack. Oishi desu." Aku mencoba sedikit untuk berbahasa Jepang. Setelah tiba di Melbourne, lalu berkenalan dengan Hidetoshi Aosato, aku mulai tertarik untuk mempelajari bahasa ibu Hide. Penyebabnya: Hide belum mahir  berbahasa Inggris. Kemudian, muncul kesepakatan tersebut. Aku membuat Hide lancar berbahasa Inggris. Hide mengajariku bahasa Jepang. Sejak kecil, aku memang sudah tertarik untuk belajar bahasa Jepang. Doraemon itu satu-satunya alasannya. 

Sementara, yang Hide dengar itu merupakan lagu yang dipopulerkan oleh Morning Musume. Itu sebuah idol group. Haha. Sampai sekarang, aku terheran-heran mengapa Hide begitu menyukai Morning Musume. Jujur saja, aku lebih menyukai penyanyi-penyanyi solo atau band. Melihat yang seperti itu, membuatku makin sakit kepala saja. Terlalu ramai. 

"Hide, tampaknya kamu begitu menyukai Morning Musume, kenapa?" celetukku terkekeh-kekeh. "Apa tak bosan mendengar lagu yang itu-itu saja. "Happy Summer Wedding" itu melulu yang kamu dengar. Atau "Love", atau "Renai Revolution". Apa kamu tak memiliki pilihan musik yang lainnya?"

Hide nyengir. Aku balas nyengir. Lalu, kami saling balas tertawa. Selanjutnya, kami berhenti tertawa. Hide termenung, lalu berkata, "Aku menyukainya dengan satu alasan jelas, Gabi. Bukan hanya karena musiknya yang membuatku makin energik, namun karena seseorang."

Aku terbahak. Hide tak tersinggung, hanya nyengir. "Tumben kamu bicara cinta. Biasanya kamu lebih sering membicarakan Morning Musume, drama-drama televisi, atau bir."

Hide seolah emosi mendengar kata-kataku. "Gabi, aku juga punya cinta."

"Just kidding, Hide." Aku terbahak, lalu merangkul Hide. "Okay, tell me, I'm very curious."

Ternyata Hide memiliki kekasih di Jepang sana. Namanya Ami Musashige. Dari penggambaran Hide, Ami memiliki paras yang sama seperti Ai Kago. Setiap melihat Ai Kago, Hide seperti bisa merasakan keberadaan Ami, pacar sekaligus teman masa kecilnya. Apalagi Ami pula yang membuat Hide menggemari musik seperti yang diusung oleh Morning Musume. Awalnya Hide tak suka. Karena suatu insiden kecil, Hide perlahan mengubah pandangannya terhadap musik-musik seperti itu.

"Kamu bisa bayangkan, Gabi, aku dibangunkan dengan cara seperti itu. Fukitsu!" Ami memasang headset ke kedua telinga Hide. Ponsel Hide dikutak-katik, dan dengan jailnya, Ami mengganti nada dering alarm ponsel Docomo Hide menjadi lagu "Happy Summer Wedding" tersebut. 

"Aku kaget sekali. Mau marah, aku tak bisa." Hide menghela napas. Padahal Hide berhak marah. Itu, kan, rumah Hide. Ami hanya tamu yang menginap sebentar karena kedua orangtuanya ke Nagoya, karena ada kerabat yang meninggal. "Senyuman Ami itu sangat luar biasa. Belum lagi, Ami mengatakan sesuatu yang sangat manis. Tentang pernikahan. 'Buat persiapan kita menikah, makanya bangun, jangan molor melulu'. Begitulah katanya. Semenjak kejadian itu, diam-diam aku mulai menyukai lagu tersebut, juga Morning Musume. Aku merasa ada perasaan tersembunyi Ami di dalam "Happy Summer Wedding". Sebelumnya aku merasa Ami tak benar-benar mencintaiku."

Aku mengangguk-angguk. 

"Saat aku tiba di Melbourne ini, lagu-lagu Morning Musume itulah yang membuatku bertahan. Setiap mendengarnya, aku selalu teringat Ami, To-chan, Ka-chan, dan Rei-chan. Ah, jangan lupakan, anjing kesayanganku, Hero."

"Well, kamu tak harus mendengarkannya tiap detik. Kadang, teman-teman kamu ingin mendengar pilihan lagu lain dari ponselmu." saranku. "Tapi, itu hanya sekadar saran. Aku tak memaksa. Lagipula, Morning Musume juga sama asyiknya dengan A1 dan M2M."

"Yeah, Gabe, thank's. Arigatou." Hide membungkukan kepalanya. "Aku janji, jika bersama kalian, aku akan mendengarkan musik-musik lainnya. Graeme Strachan juga lumayan. Aku menyukai 'All My Friends are Getting Married'."

Aku terbahak. "Menikah lagi. Kamu sudah ingin menikahi Ami? Wow!"

Hide nyalang. "Damn, Gabi, you are ******* ****!

*****

Sepertinya ini minggu cinta untuk aku. Di saat aku tengah merindukan Becky, selanjutnya teman-teman CHANGE aku terkena virus cinta. Dua hari lalu Edu berhasil menggebet seorang blonde girl, yang asli Melbourne. Lalu, ada Hide yang mendadak menceritakan kisha cintanya dengan Ami yang cukup membuatku nyengir lebar. Oh iya, jangan lupakan, minggu lalu Adam Nomvethe yang digoda beberapa teman-teman perempuannya, namun sok jual mahal. Kata Nomvy, dia sudah memiliki kekasih. Edu tertawa-tawa dan merasa Nomvy berkelakar. Nomvy bingung sendiri. Tak seperti Hide yang menunjukan foto Ami di ponsel Docomo-nya, Nomvy tak bisa menunjukannya. Alasannya: wajah Renatha selalu ada di pikirannya, tak butuh foto.

Kini, hari ini, ada satu anak CHANGE yang terkena virus cinta. Itu: Bill Carroll.

Dari tadi Bill terlihat menggerutu. Ia mengutuki mantan pacarnya, Wilhelmina--atau biasa disebut Mina. Dengan seenaknya, Mina memutuskan hubungan dengan Bill. Padahal, menurut pengakuan Bill, hubungannya dengan Mina sudah berjalan selama tujuh tahun. Belum lagi, mereka berdua sudah memiliki seorang bayi imut-imut yang sudah berusia dua tahun. Walau demikian, Bill tak menikahi Mina secara resmi. Mereka kumpul kebo.

"Rasa-rasanya aku menyesal sudah memacari Mina. Kurang apa aku, Guys?!" Bill menyorongkan wajah ke arah kami berempat. "Aku pun rela bekerja part-time di Harry Michigan. Kalau bukan demi Mina, aku sudah tak kerasan bekerja untuk si Tua Michigan yang cerewet itu."

"Sabar, Bill," hiburku. "Coba nanti bicarakan baik-baik dengan Mina. Pasti ada alasannya kenapa Mina seperti itu. Kupikir, tampaknya ada yang memanas-manasi Mina untuk putus.."

"Kamu berpikir seperti itu? Aku malah tak terbersit ide itu. Thank you, Gabi." Bill menepuk sebelah tanganku.

Selanjutnya, aku dan lainnya kompak untuk membuat Bill rujuk dengan Mina. Pikirku, kasihan Cheryl. Seorang anak pasti lebih bahagia bersama ayah dan ibu kandungnya. Kelak Cheryl pasti bingung mengapa dirinya bisa memiliki dua ayah dan satu ibu. Selama dua mingguan ini, masalah Bill ini cukup menyita pikiranku dan yang lainnya. Rumit juga. Apa setiap perempuan memiliki pikiran seruwet Mina? Apa Becky seperti itu juga? Kenapa Mina bisa dengan mudah diprovokasi oleh teman-temannya? Kadang aku suka kasihan dengan Bill. Kalau aku jadi Bill, kutinggalkan saja Mina, lalu kubawa pergi Cheryl. Tapi itu tak mudah. Apalagi Billy sangat mencintai ibu dan anaknya sekaligus.

Haha. Aku geleng-geleng kepala sendiri. Nanti saja kukerjakan tugas kuliah dari Mr. Warwick. Aku memilih untuk merebahkan diri di atas tempat tidur. Aku sangat penat membereskan masalah Bill Carroll yang satu ini. Ini pun belum selesai. Masih tarik ulur. Tiba-tiba saja Mina merasa rasa sayang Bill berkurang. Padahal, yang kuamati, Bill sangat mencintai Mina. 

Well, yang aku bisa simpulkan dari seluruh kejadian tersebut, segalanya bisa terjadi jika membawa-bawa cinta. Everything is possible. Cinta membuat segala sesuatunya mungkin-mungkin saja. Mulai dari Nomvy yang sangat menjaga perasaan Renatha yang sempat kukira fiktif (ternyata Renatha betul-betul ada setelah ia menunjukan surat dari Renatha), Hide yang menyukai idol group karena Ami, Edu yang dengan anehnya bisa menggebet beberapa perempuan selama satu minggu, atau kisah cinta Bill yang nyaris di ujung tanduk. 

Cinta oh cinta.....


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri.




Comments