ANOTHER FICTION: Drama Video Prank dan Ojek Online









Genre: Drama















Rapat. Aku tegah rapat bersama tim. Biar sok keren saja, aku menyebutnya seperti itu. Pada kenyataannya, tim ini aku sendiri yang bentuk. Mereka ini aku yang modali. Beruntungnya aku terlahir dari keluarga kaya raya. Papa aku itu seorang investor di sebuah perusahaan otomotif yang berada di kota Metropolitan. Sementara Mama aku memiliki usaha catering cukup ternama (Modalnya, sih, dari Papa juga). Vlog ini pun masih ada kucuran dana dari Papa. Makanya aku sangat memperhatikan isi konten. Jangan sampai ada yang membuat Papa tersinggung. Alhamdulilah, Papa hampir tak pernah marah dengan video-video yang aku dan teman-teman hasilkan. Dia sering tertawa yang aku lihat.

Mengenai isi vlog aku, kebanyakan videonya itu video-video prank. Tim yang berisi dari dua puluh orang ini sangat menggemari aktivitas jail-menjaili, yang dulu sering kami tonton di televisi lokal. Masih, ingat, Sontak, kan? Inspirasi vlog kami dari sana. Ditambah lagi, kami sangat terinspirasi dari Nanchatte, program luar negeri yang sejenis dengan Sontak. Tadinya kami pikir vlog ini bakal tak bertahan lama. Selain pesaingnya lumayan banyak, pembuatan videonya lumayan susah. Untungnya vlog aku yang berjudul "Prank Haris" masih bisa bertahan. Penghasilannya lumayan, loh. Aku pernah mengajak tim berjalan-jalan ke Pantai Anyer.

Sekarang ini, aku dan tim tengah mengalami masalah serius. Kami tengah dihujat massal akibat video mengerjai seorang ojek online. Padahal, jujur saja, aku sama sekali tak memiliki niat negatif. Selain hanya untuk sekadar lucu-lucuan, maksud dari video yang masih viral itu ialah mengajak kepedulian orang banyak untuk lebih memperhatikan nasib ojek online. Aku dan Jason sering mendengar keluh kesah beberapa driver yang seringkali dibatalkan pesanannya oleh pelanggannya. Mereka sering menuai kerugian yang tak kira-kira. Bahkan, ada yang sampai berutang hingga lima juta hanya karena persoalan 'cancel order'. Ada juga yang harus pensiun sebagai driver karena masalah tersebut. Itulah alasan tim "Prank Harris" membuat video tersebut.

Sayangnya kebanyakan masyarakat malah menghujat, yang kulihat. Aku geram sendiri membaca komentar-komentar negatif ini. Loh, justru maksudku merancang video ini bertujuan sangat positif. Malah, aku dan kawan-kawan memberikan uang sepuluh juta ke si driver di akhir video. Belum lagi, setelah kamera mati, kami memberikan bantuan kemanusiaan lain seperti sembako dan memberikan pulsa dua ratus ribu. Anaknya, kami bayarkan uang sekolah selama dua bulan. Itulah yang masyarakat tak lihat. Mereka hanya menangkap yang berada di permukaan lautnya saja. 

"Masih bete, Ris?" tanya Jason, rekanku di setiap video. Ia menyorongkan rokok ke arahku. Aku langsung menyalakan rokok dan mengisapnya. 

Aku buang napas. "Yah, begitulah, Sen. Gimana nggak bete? Hujatannya begini amat. Padahal maksud gue nggak sejahat itu. Kok masyarakat mandang gue sama teman-teman sejahat itu? Udah kayak gue paksa kerja rodi aja si driver."

"Yah, biarinlah. Biarin masyarakat menilainya kayak gimana, Bro. Menurut gue, wajar aja kenapa mereka mandangnya jahat. Coba lu tonton lagi videonya dari awal. Lu tontonnya sebagai orang awam. Pasti lu bakal mandangnya jahat juga. Nggak peduli apa yang ada di balik sesuatu, yang dinilai itu selalu yang ada di permukaan. Makanya, Bro, tiap orang berlomba-lomba menciptakan kesan baik."

Aku tak menggubris. Aku hanya terbahak-bahak saja. Beberapa kali aku buang asap. Ada angin apa, Jason berkomentar seperti ini. Macam kerasukan jin tomang saja, Si Jason. Haha. Harus kuakui, dia benar. Walaupun aku masih kesal saja diperlakukan seperti pendosa besar. Setiap hujatan ini sangat tak masuk akal.Kadang aku beranggapan kata-kata makian seperti datang dari pasukan Iblis saja. Tak berhati nurani. Apakah bibir mereka itu tak pernah disekolahkan? Aku sangat mempertanyakan.

"Diam aja lu." Jason nyengir. "Hati-hati kesambet. Lu kesambet, gue tinggal pergi. Pura-pura nggak kenal gue. Haha."

"Sialan lu." balasku tertawa juga. "Tapi kata-kata lu benar, sih. Walau jatuhnya nyebelin, pas lu yang ngucapin."

"Selow, mamen," Dia mengisap rokok untuk kemudian diembuskan lagi. "Itulah gue, gue emang suka nyebelin, tapi hati kayak Sinterklas."

Tawa langsung pecah di antara kami berdua. Itulah salah satu alasan aku mengajak Jason bergabung. Jiwa komediannya sangat luar biasa. Ide-ide lucu sering terlahir dari kepala Jason. Video yang tengah viral tersebut juga merupakan buah pikiran dari Jason.

"Terus, sekarang gimana?" tanyaku yang mulai terlihat khawatir lagi, walau cengiran masih mengembang. "Sekarang kita dicap negatif, nih. Komentar-komentar jahat masih aja bermunculan. Gue sempet berniat mau tutup vlog gue. Capek hati, Bro. Mending gue main saham, kayak yang disarankan Bokap gue."

"Weits, jangan dulu. Masa mau berhenti di tengah jalan? Tenang ajalah, badai pasti berlalu. Itu cuma kegilaan sesaat. Ntar juga hilang sendiri, Bro. Percaya sama gue!" Jason menepuk pundak aku sambil tersenyum. "Segala sesuatu itu punya waktunya masing-masing. Itu yang pendeta gue bilang. Dan, soal keributan di internet, biar Cia dan Dira yang urus. Mereka kan bagian humasnya."

Aku hanya tersenyum. Rokok langsung kumatikan. Kali ini giliran vape yang kunyalakan. Aku menggunakan vape yang rasa kesukaanku. Itu: vape rasa pisang. Tak peduli apa kata dokter, kebiasaan merokok ini sudah dihilangkan. Merokok, ayah menghilang. Tak merokok, ibu yang menghilang. Ini seperti buah simalakama saja. Aku hanya bisa tak merokok selama dua minggu saja. Itu juga demi Lina, pacarku yang akhirnya malah menikah dengan laki-laki lain (Kabarnya, laki-laki itu mantannya saat SMP).

"Udah ngerokok, nge-vape pula. Bolong paru-paru lu yang ada." Jason terbahak, aku terbahak pula. "Udah, yuk, masuk ke dalam. Anak-anak udah nungguin lu. Kita bikin video yang baru aja. Toh, Mas Tio juga nggak komen apa-apa sama sekali. Sekeluarganya diam-diam aja, dan justru suka menghindar media. Itu artinya, Bro, everything is okay. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Mending bikin yang baru. Kepala gue penuh ide-ide segar, nih."

Itulah Jason. Ahli suntik semangat yang paling hebat. Dia sangat bertanggung jawab dengan apa yang sudah dilakukan. Selain itu, baru kuingat, Jason sudah memperhitungkan semuanya bakal begini. Jason sangat luar biasa. 

Benar yang dibilang Jason. Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Lebih baik terus berkarya daripada memusingkan tiap anggapan orang. Toh, kita tak bisa memuaskan keinginan semua orang.

*****

Mas Tio adalah korban penjailan kami yang terakhir. Hingga detik ini, kami belum membuat video prank baru. Tujuh puluh persen dari kami sepakat untuk menahan diri dulu. Sekarang ini, aku dan kawan-kawan tengah mengunjungi kontrakan Mas Tio. Kecil sekali kontrakannya. Ternyata selain mengojek, Mas Tio membuka usaha sate di depan kontrakannya. Nanti di akhir misi, aku akan mentraktir satu tim.

Jason mengetuk pintu. Yang keluar, seorang anak kecil berpakaian lusuh nan kumal. Anak ini sepertinya masih SD. Katanya, namanya Tegar. Tegar lalu menjawab pertanyaan kami: "Dua minggu lalu, Abah berangkat umroh."

Begitu Ruswan menjawab seperti itu, seorang wanita berambut diikat keluar kontrakan keluar. Ternyata istri Mas Tio. Aku dan tim mendadak dieluk-elukan bagaikan dewa-dewi dari kahyangan. Segenap tim terheran-heran.

"Makasih banyak, yah, Mas-Mbak semua," Ia menyelamati aku dan yang lainnya. "Berkat uang dari kalian, Ruswan bisa sekolah lagi. Sempat Ruswan mau dikeluarin gara-gara telat bayar uang sekolan sebulan. Uang itu jugalah yang mengantarkan si Abah berangkat umroh."

Lalu, istri Mas Tio ini menceritakan segala hal baik yang terjadi setelah video prank yang masih viral tersebut. Wah, hidungku kembang kempis. Bebanku hilang seketika dari pundak. Hilang sudah kekesalanku ke para netizen yang sudah memaki-maki seenak jidat.



PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun.

Comments