ANOTHER FICTION: Becky Mellow








Genre: Romance

















[BECKY]
Aku berada di tempat ini lagi. Kafe ini sungguh kenangan buruk untuk aku. Yang terburuk dari yang buruk. Ini mimpi buruk. Dan, aku seorang masokis. Sudah tahu mimpi buruk, malah kudatangi. Asa aku itu hanyalah... semoga ada keajaiban. Semoga Abi datang ke Cafe Olala ini. Supaya aku bisa mengajukan permohonan maaf, lalu aku dan Abi rujuk lagi. Aku sungguh tak mau kehilangan Abi. Dia cinta mati aku.

Lagu "Pudar" dari Rossa terdengar dari dalam kafe. Lagu ini menemaniku sembari menikmati segelas Americano dan sebatang Marlboro. Rasa galau masih belum menghilang dari kalbu. Kenapa susah menghilangkan bayangan kamu, Gabriel? Kamu bagaikan candu untuk seorang Rebekah Justinia Sondakh. Candu yang sulit disembuhkan. 

Abi, kamu tahu tidak, aku menyesal sudah menyelingkuhi kamu? Laki-laki di Barcode itu sama sekali tak ada apa-apanya daripada kamu. Kamu segalanya. Mereka kalah cerdas daripada seorang Gabriel Kustandi Hutagalung. Kumohon, kembalilah padaku. Berikan aku kesempatan kedua. Tuhan saja maha baik dan maha mengampuni. Dia mau memberikan pengampunan ke setiap umat-Nya. Aku ingat bagaimana Yesus mengasihi Maria Magdalena. Aku bahkan lebih jalang daripada Maria Magdalena. Masa kamu tetap tak mau memberikan aku pengampunan? 

Setiap aku menelepon, kamu selalu reject. Tak ada satu pun SMS aku yang kamu balas. Sampai habis ini pulsaku. Kamu sudah berubah menjadi si raja tega. Padahal dulu kamu itu seorang malaikat untuk aku. Kamu bagaikan Malaikat Agung Michael untuk aku, Abi. Masa kamu tega menjatuhkan dirimu sendiri senadir itu? 

Aku mengobrak-abrik tas tangan. Secarik kertas aku keluarkan dari dompet Louis Vuitton ini. Isinya puisi. Ini kali pertama aku berhasil menyelesaikan sebuah puisi. Biasanya Abi yang sering membuatkan puisi untuk aku. Aku tahu Abi aku sangat puitis. Aku menyukai dia karena sisi pujangganya itu. 

Hati ini terluka
Pedih rasanya
Kau sudah berubah
Kau pilih dia daripada aku
Bajingan kau!
Aku benci
Aku benci
Aku benci

Kau tak pernah mengerti apa yang kurasakan
Diserang rasa aneh yang tak bisa dihalau
Jangankan dihalau
mengerti pun tidak aku ini
Waktu bergerak begitu mundur
membuat berantakan sanubari ini
Kutanggung ini sendiri
Kini aku tiada yang menemani
Kamu ke mana
selain bersama sundal itu 


Mendadak mata aku menangkap kilauan bayangan aneh. Sosok berkacamata itu. Abi aku. Dia lewat. Terimakasih, Tuhan, sudah mengabulkan doaku. Kali ini bantulah aku agar bisa rujuk lagi dengan dia. Itulah doaku berminggu-minggu, Tuhan. 

Aku berkemas-kemas. Hampir saja aku tersandung. Beberapa pengunjung memperhatikanku. Kafe ini seperti menyindir aku. Mereka memasang lagu yang menyebalkan. Itu "Teman Tapi Mesra" dari Ratu. Aku tak mau hanya dianggap sebagai teman. Aku mau lebih. Bagaikan terbakar oleh lagu berengsek itu, aku berjalan tergopoh-gopoh. Aku harus segera menyampaikan uneg-uneg aku ke Abi. 

Aku berlari dan berlari. Kutangkap tangan si laki-laki. Ternyata memang Abi. Segera kukatakan langsung, "Bi, balikan lagi. Aku minta maaf kalau udah salah sama kamu. Kuakui, yang kulakuin di Barcode itu emang salah." Kukatakan itu semua saat Abi bersama perempuan lain. Siapa lagi kalau bukan musuh bebuyutanku, Mikha. Dari sahabat berubah menjadi musuh. Itulah posisi Mikha untuk aku sekarang ini.

Abi hanya tersenyum. Tapi, berani sumpah, dia dongkol. Mikha terlihat risih dengan keberadaanku. Kalau aku di posisi Mikha, pasti aku juga risih. Aku memang perempuan aneh. 

"Eh, Becky, lagi apa?" Malah Mikha yang menjawab. Sementara Abi hanya mendesis, "Kalau soal itu, aku udah maafin kamu. Sisanya, sori."

Malunya aku. Pelayan kafe jadi menertawaiku. Berengsek kamu, Bi. Hinaan ini sungguh tak termaafkan. Tapi, karena cintaku yang amat besar, kutanggung segala rasa malu. Terimalah aku ini. Diduakan pun aku siap-siap saja. 

"Tapi, kenapa?" rintih aku yang jadi menitikan air mata. 

"Aku udah punya Mikha sekarang. Kami saling mencintai. Dan, rasa sayangku ke kamu sudah berkurang drastis. Cinta tak bisa dipaksa, Ky." Abi seperti memanas-manasi aku dengan langsung merangkul Mikha. Dikecupnya dahi Mikha. Itu pemandangan terpanas yang pernah kulihat.

"Emang bagusnya Mikha itu apa, Bi? Cantikan juga aku ketimbang Mikha." rengek aku. Berani sumpah, Abi pasti menganggap aku anak kecil yang sangat kekanak-kanakan. "Apa kamu masih marah sama kejadian di Barcode itu? Aku minta maaf yang itu. Aku udah putusin si Wilson itu."

Kulihat Mikha tak merespon. Di mataku, tatapan Mikha seperti mengejek aku. Iya, Mikha, aku memang pecundang. Hina aku, injak-injak aku. Tapi jangan pernah kamu ambil Abi aku. Satu lagi, Mikha, dulu kukira kamu itu bisa menjadi best friend forever aku. Ternyata yang ada kamu malah menjadi the worst friend forever

Abi mendesah. Ia mengeluh. "Udah yah, jangan diterusin. Kamu cari aja laki-laki lain. Lagian, kalau kupikir-pikir, kamu sama aku itu nggak cocok banget. Kita banyak bedanya. Paham?"

Lalu Abi melepaskan pelan-pelan genggaman tangan aku yang mulai melemah. Aku sangat frustasi. Abi perlahan-lahan menjauh dari aku. Yang terakhir kudengar, "Kha, kita pindah ke tempat lain aja, gimana? Bikin bete di sini." Mikha tak menjawab, hanya mengangguk. 

Kudengar, kedua pegawai kafe ini tertawa. Salah satunya bahkan langsung mengecilkan suara yang begitu aku memergokinya. Aku sangat malu. Dengan tersaruk-saruk aku keluar kafe. Malu rasanya. Entah apa yang merasuki aku hingga aku nekat seperti itu. Namun, kalau tak seperti itu, bukan cinta namanya. Cinta seringkali membuat seseorang bertingkah irasional.

Dari jarak yang agak jauh dari Cafe Olala, aku seperti terketuk. Apa aku harus move on dari Abi? Laki-laki kan banyak. Masa tak ada yang seperti Abi? Sulit rasanya membuat keputusan untuk melupakan Abi. Bayangan wajah Abi masih menguasai pikiranku. Laki-laki seperti Abi itu langka. Sampai ke ujung dunia, aku tak akan berhasil dapatkan.


*****

[MIKHA]
Aku masih terngiang kejadian tadi siang. Aku hanya tertawa kecil. Kenapa bisa ada orang seperti Becky? Aku sama sekali tak menyangka Becky yang optimis bisa  sememalukan itu. Padahal, kalau kuingat dari cerita Abi (yang berhasil aku kroscek dari teman-teman), salah Becky sendiri. Laki-laki sebaik Abi itu kenapa disia-siakan? 

Sontak aku ingin bernyanyi. Kuambil gitar yang ada tulisan 'Korupsikah Aku?'. Timbul satu lagu yang ada di pikiranku. Dari Chrisye. Ini sebuah lagu klasik yang sangat indah. Jemariku langsung lincah memainkan senar demi senarnya. 

Andai aku bisa ...
Memutar kembali
Waktu yang telah berjalan
Tuk kembali bersama di dirimu selamanya...

Bukan maksud aku membawa dirimu
Masuk terlalu jauh
Ke dalam kisah cinta
Yang tak mungkin terjadi..

Dan aku tak punya hati
Untuk menyakiti dirimu
Dan aku tak punya hati tuk mencintai
Dirimu yang selalu mencintai diriku
Walau kau tahu diriku masih bersamanya ...

Walaupun kau tahu
Kau tahu diriku
Masih bersamanya ....






PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. Sementara, puisi tersebut terinspirasi dari Blink - Hello Mellow.


Comments