ANOTHER FICTION: Antara Becky dan Perempuan Misterius








Genre: Romance














Pernahkah kalian merasakan yang seperti ini? Maksudku, mungkin lebih tepatnya mengalami. Saat kalian sudah memiliki pacar, mendadak kalian terbayangkan seseorang yang lain. Awalnya kalian tak berniat untuk selingkuh, namun perlahan tapi pasti, kalian jadi menduakan sang pacar. Apa pernah? 

Itulah yang kualami sekarang ini. Becky memang menjadi dingin akhir-akhir ini. Tapi aku tak memiliki alasan kuat untuk pindah ke lain hati. Aku masih sangat mencintai Becky. Walau yang terjadi sebaliknya. Mendadak pikiran dan mimpiku terbang jauh menuju ke seorang perempuan berwajah Oriental. Perempuan ini bukan perempuan asing. Seingatku, aku pernah berjumpa dengan perempuan ini. Hanya saja, aku tidak tahu namanya. Pertemuan yang sangat singkat, namun sangat membekas.

Aku ingat sekali. Rasanya kenangan ini seperti baru terjadi kemarin sore saja. Padahal kejadiannya sudah lama sekali. Ini saat aku masih SMP. Rafael tak diajak. Bukan Mama pelit tak mengajak Rafael, tapi memang Rafael menjadi semakin aneh semenjak masuk SMP Markus. Dia lebih suka tenggelam dalam pergaulannya sendiri daripada keluarganya. Ajakan Mama untuk ke pasar ditolak Rafael dengan alasan dirinya ada sparring Basket bersama teman-temannya. Padahal dulu aku, Rafael, dan Mama sering ke pasar di waktu senggang (seringnya, sih, tiap pagi). 

Sial buat Rafael, untung buat aku. Aku yang kecipratan, kan. Ternyata, aku baru tahu ibu yang punya warung mi ini memiliki anak perempuan yang luar biasa cantik. Sebelumnya si ibu memang pernah bercerita dia memiliki dua anak, yang salah satunya sebaya dengan aku dan Rafael. Namun, baru kali ini anak perempuannya datang ke warung mi ini. Sembari menunggu pesanan Mama dibuatkan, aku beberapa kali curi pandang ke arah si perempuan. Cantiknya perempuan tersebut. Mata sipitnya itu yang sangat menarik perhatianku. Indah sekali, sangat menawan. Cara dia menghampiri aku dan Mama itu sangat membuatku terkesan. "Mau pesan apa, yah, Tante?" Kata-kata itu terus terbayang di pikiranku.

Kudengar dia tertawa. Aku tersadar di lamunanku di jam sembilan dua puluh lima. Aku melihat ke arahnya. Astaga, jantung ini, tolong dipelankan. Aku takut dia mendengarnya. Aku kan jadi malu. Harus kusembunyikan di mana mukaku ini? 

Anak perempuan itu menghampiriku. Aku menggigit bibir bawah. Air liur ini berkali-kali ini ingin menetes. Aduh, kenapa harus ke sini? Huss, huss, jangan ke sini. Malu, tahu. Aku belum siap. 

"Oh iya, kamu kelas berapa?" tanya anak perempuan tersebut, yang mengenakan kaus putih bergambar Sailor Moon. Ia mengenakan celana pendek di atas lutut--yang berwarna merah marun. Lalu, ia menyorongkan  tangan untuk mengajakku berjabat tangan.

"Ke-kelas dua," jawabku gugup

Ia terkekeh. "Sama, dong, kayak aku. Aku juga kelas dua. Kelas 2 SMP. Aku sekolah di--" Seingatku dia menyebut satu nama sekolah swasta terkenal di Tangerang. Sayang aku lupa apa nama sekolahnya. Tak hanya itu, aku juga lupa apakah dia menyebutkan namanya atau tidak. Yang samar-samar kuingat, aku dan dia terlibat obrolan yang sangat menarik. Kami membicarakan mengenai aktivitas sekolah kami masing-masing, mengenai kegemaran kami masing-masing, bahkan yang kuingat, obrolan kami menyentuh sesuatu yang menyeramkan. Aku ingat anak perempuan bermata sipit dan berambut panjang (yang mana rambutnya dikepang dua) tersebut lumayan sering menakut-nakuti aku. 

Hanya itu kurasa, kenanganku tentang dirinya. Semenjak pertemuan nan singkat di warung mi itu, aku tak pernah lagi berjumpa dengan--sampai sekarang, aku menyebutnya Aming. Itu kuambil dari nama warung mi tersebut, Warung Mi Aming. Bahkan, aku juga tak tahu Aming itu siapa. Apakah Aming itu nama mamanya, neneknya, atau siapanya. Yang jelas, semenjak saat itu, tiap ke Warung Mi Aming, aku tak pernah bertemu perempuan itu lagi. Sampai akhirnya, di Melbourne ini, wajah Aming kembali datang berkali-kali ke pikiran dan alam mimpiku. Ini gila, aku bahkan sudah memiliki pacar. Ayolah, Aming, menjauhlah dari pikiranku.

*****

Hari ini tanggal 24 Desember 2004. Besok sudah hari Natal. Kali ini aku tak bisa pulang ke Indonesia. Entah karena culture shock, atau karena alasan lain, aku tak memiliki dana cukup untuk pulang ke Indonesia. Papa jadi mengomel kepadaku. Ini kali pertama aku dimarahi sekeras itu oleh Papa. Yang kudengar dari Timo, Mama yang mencoba menenangkan emosi Papa. Kata Mama, "Biarin aja, Pa, Abi kan udah dewasa, sekali-kali natalan bareng teman-teman juga tak ada salahnya." Aku terbahak. Mama, kamu luar biasa! 

Anak-anak CHANGE sudah berkumpul di apartemenku. Bagaikan sudah diatur, keempatnya juga memutuskan untuk tidak mudik. Untuk Adam Nomvethe, dia memutuskan untuk tidak pulang kampung dengan alasan kesibukan yang luar biasa. Selain kuliah, dia juga anak Red Cross. Untuk Hide, dia memang pelupa. Dia lupa untuk memesan tiket pulang ke Tokyo. Makanya, Hide, jangan mabuk melulu (Mabuk kamu itu bahkan sudah mengandaskan dua mata kuliah, kan?!). Untuk Edu, dia lebih mementingkan perempuan daripada keluarganya di Kolombia. Lagian, kata Edu, keluarganya juga tak terlalu peduli dia mau pulang atau tidak. Sementara, terakhir, untuk Bill, keluarga Bill yang memutuskan datang ke Melbourne dua hari setelah Natal. 

Mereka berempat sibuk mendekorasi apartemenku semeriah mungkin. Besok, sehabis ibadah Natal, kami akan mengadakan semacam party di sini. Mereka memang brengsek, kenapa harus apartemenku yang sialnya terpilih. 

Bill lalu mendekatiku. Dia menawariku sekaleng coca cola, sementara dia menenggak segelas tequila. "What's wrong, Dude? Tell me."

Perlahan aku mulai menceritakan segala kegelisahanku. Mulai dari mimpiku tentang Becky, perlakuan Becky yang dingin, hingga bagian perempuan itu. Bill menyimak dengan perhatiannya. Kemudian, mungkin karena tertarik--apalagi suaraku memang tak kecil, yang lainnya ikut mendengarkan. Mungkin ada sekitar lima belas menit aku bercerita, yang kadang suka dipotong. Aku sangat senang memiliki teman yang begitu mempedulikanku. 

"Gabi," ujar Bill tersenyum. "Aku rasa kamu salah pilih perempuan."

"Why?" tanyaku penasaran tanpa merasa kesal sedikit pun.

"Dari yang kudengar, pacarmu itu sepertinya tak terlalu mencintaimu. Mungkin dia menerima kamu dengan alasan-alasan khusus. Percayalah, Gabe, aku pernah melihat yang seperti kasusmu itu di sini. Coba kamu ingat baik-baik alasan kamu menembaknya itu apa, responnya dia bagaimana, dan ingatlah segala ceritamu dengan dia."

"That's right, Gabi," Hide membenarkan. "Ini seperti kataomoi. Kamu tahu, kan, kataomoi? Unrequited love, Gabi. Dari awal cintamu hanya bertepuk sebelah tangan dengan pacarmu itu. Memang aneh, tapi aku beberapa kali melihatnya sewaktu aku masih di Tokyo. Kadang perempuan-perempuan di sana sangat nakal. Mereka memacari seorang laki-laki tanpa mempedulikan apakah mereka betulan cinta atau tidak."

"Dan, mimpi-mimpi kamu itu--menurutku--semacam pertanda." sambung Bill lagi. "Ya sudahlah, Brother, putuskan saja pacarmu itu. Tak ada gunanya dipertahankan." 

Aku sama sekali tak merespon. Tepatnya, aku memutuskan belum menjawab. Yang kukatakan hanyalah, "Thank, Guys, for this time. Oke, selanjutnya, let's go, it's time for God."

Keempat temanku tergelak. Edu langsung merangkulku erat sembari memukuli kepalaku. Nomvy menggelitiki perutku. Bill menciprati aku dengan tequila. Hide hanya terbahak-bahak tak jelas. Dan, tahukah kalian, aku bangga memiliki teman-teman seperti anak-anak CHANGE ini. Mereka sering ada di saat aku membutuhkan. Terimakasih, Tuhan, atas persahabatan indah ini!


PS: 
Gambar diambil dari MV Breaker - Miss Mystery. Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri.


Comments