ANOTHER FICTION: Another Love Story of Mikha










Genre: Romance















[GABRIEL KUSTANDI HUTAGALUNG]
Hening. Suasana menjadi hening Sepulang aku dan Mikha dari makam Rafael, tak ada yang keluar dari mulut kami berdua. Aku masih terbawa kesal dengan kata-kata Mikha tersebut. Aku tahu rasanya aneh untuk menjadi kesal. Tapi, tetap saja. Aku seperti dikhianati oleh saudara kembar sendiri. Apakah aku berhak untuk merasa emosional dengan Rafael? Bisa jadi itu bukan salah Rafael. Ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak dirinya. Lagipula dia sudah tak memiliki raga. 

Aku menoleh ke arah Mikha. Entah apa yang terjadi, Mikha ikut menoleh. Apa ini artinya Mikha itu belahan jiwa aku? Aku tak tahu. Yang jelas, Mikha sangat manis sekali. 

"Bi," ujar Mikha yang terlihat bingung. "Kamu kenapa, sih? Apa aku salah, ngomong kayak gitu?"

Aku spontan menggeleng. "Nggak-lah. Itu kan hak kamu. Cuman,..."

"Cuman kenapa?" Mikha masih berusaha menyelidiki. "Yah, tapi nggak apa-apa kalau kamu nggak mau ngomong. Aku--kalau ada salah ngomong, aku minta maaf."

"Oke." Untuk meredakan ketegangan, aku memasang lagu "A Whole New World" dari Phil Collins. Mikha terbawa suasana lagu. Ia bersiul-siul sendiri. Sesekali dirinya melihatku sembari tersenyum manis, sesekali pandangannya terbawa ke jalanan yang ada di luar mobil. 

"Ini lagu kesukaanku pas remaja dulu." Mikha sekonyong-konyong tertawa sendiri. Aku ikut tertawa. Kalau Mikha, aku tak tahu alasan dia tertawa. Sementara aku, diriku tertawa menyaksikan tingkah laku Mikha. Bagiku, Mikha sangat ekspresif. Dia berbeda dari tiap perempuan yang pernah masuk ke dalam hidupku. Selain itu, Mikha juga cukup lugu, walau lugu bukan kata yang tepat. Dia hanya mudah sekali dialihkan perhatiannya. Mikha tipe perempuan yang mudah dibujuk, namun teguh pendirian. Aneh memang, deskripsi aku untuk Mikha.

"Aku juga suka sama lagu ini, Kha. Kalau nggak salah, ini lagu dari film Aladdin, kan?" timpalku nyengir. "Filmnya aja udah bagus, apalagi  lagunya ini."

"Kalau aku bilangnya, menyentuh. Aku suka banget sama perjuangan Aladdin yang miskin untuk seorang Putri Yasmin yang kaya raya. Eh, nama ayahnya Yasmin, siapa sih?"

Aku terbahak. "Siapa, yah? Aku lupa, Mikha. Tapi emang disebut, yah, dalam filmnya?"

"Kalau nggak salah, sih. Aku lupa, tapi." Kali ini Mikha memasang ekspresi bingung yang membuat perutku terkocok. Mikha, Mikha, kamu sungguh suatu harta karun. Aku tak akan pernah melepaskanmu dengan amat mudah.

"Oh, iya, Mikha, aku boleh nanya sesuatu, nggak?"

"Tanya apa?"

"Tapi, maaf, yah, pertanyaan aku agak gimana gitu."

"Mau nanya apa, sih? Nggak nanya soal--" Mendadak dia melihat ke arah dadanya yang agak besar. Itu juga menjadi sebuah pertanyaan dalam diri aku, sih.

Aku terbahak yang sangat kencang. Astaga, Mikha, kenapa berpikirnya ke arah sana? Aku bahkan tak berniat bertanya mengenai itu sekarang ini. Mikha memang gadis yang lucu. 

"Kha, aku nggak mesum juga kali,"

"Aku kira kamu kayak Fael. Dulu Fael pernah nanyain hal gitu ke aku. Dia nanyain gitu di perpus kampus, pulak."

"Hah? Fael nanyain soal ukuran dada kamu?" Aku seperti tak percaya mendengarnya. Fael memang anak nakal. Dia sejenis bad boy, namun aku ragu dia itu cabul.

"Iya. Makanya aku kira kamu juga sama. Habisnya kamu takut-takut gitu nanyainnya. Emang mau nanya apa?"

Hening. Aku ragu aku harus melanjutkan pembicaraan. Haruskah kuajukan pertanyaan ini? Tapi aku penasaran apakah Mikha memiliki mantan lain selain Rafael. Alasan aku bertanya seperti itu karena wajah dan kepribadian Mikha.

"Kamu aneh banget hari ini, Bi." keluh Mikha.

Aku hanya tersenyum. Lalu aku mengetuk-ngetukan jemariku ke setir untuk mengikuti irama lagunya. Perlahan  aku mulai bernyanyi, "I can show you the world. Shining, shimmering, splendid. Tell me, princess, now when did you last let your heart decide?" Saat bagian 'princess', aku menoleh ke arah Mikha.

"Aneh, dasar! Diajakin ngomong, malah nyanyi. Kayak merdu aja suaranya." gerutu Mikha. Tapi aku tahu sebetulnya Mikha menikmati kemampuan olah vokal aku. Ada semburat suatu rasa senang di wajah dan bibirnya. Aku sangat bisa merasakannya.

"Yah, kamu tutup kuping aja,"

"Males ah. Mending bilang aku, kamu mau ngomong apa? Mau nanyain apa? Terus, kenapa kamu mendadak kesal pas di makam Rafael?"

Aku menghela napas, nyengir juga. "Harus, yah?"

"Tuh, kan, aneh."

"Tapi jangan marah, yah?!"

"Mau nanyain soal apa? Bukan soal 'itu' kan?" Itu yang dimaksud Mikha, dadanya Mikha. Apa selama ini--di bayangan Mikha--aku masih cerminan dari Fael? Kalau Fael pernah bertanya seperti itu, itu tak berarti aku juga. Polos kamu itu, Mikha.

"Aku mau nanya..." Aku terdiam sebentar. Mikha menunggu, terus menunggu. Lagu ini terputar mungkin untuk yang kali ketiga. Aku tak terlalu memperhatikan.

"...apa kamu pernah pacaran sebelumnya? Maksudku, sebelum sama aku dan Fael?"

Mikha terlihat terenyak. Kedua matanya sekonyong-konyong menerawang entah ke mana. Entah apa juga yang dilamunkan Mikha.

"Kha, aku nggak salah, kan, bertanya kayak gitu?" Kedua tanganku melambai-lambai di depan wajah Mikha untuk sekadar menyadarkannya ke alam nyata.

Mikha tersentak. "Eh, tadi nanya apa, Bi?"

"Aku, nanya apa kamu pernah punya pacar?"

Sekarang yang aneh siapa. Mikha mengobrak-abrik isi tas tangannya. Dia lalu menunjukan sebuah brosur. Brosur ini berwarna hijau. Isinya berupa undangan ke sebuah acara kebaktian kebangunan rohani (KKR) dari sebuah gereja kharismatik.














"Eh, Bi, mau ikut acara ini, nggak?" Mikha mengajukan brosur itu ke hadapanku. Aku melihat sekilas. Ternyata memang acara KKR. "Ada temanku yang gerejanya lagi ngadain KKR. Ikutan, Bi."

Aku tertawa. "Mikha, jawab dulu pertanyaan aku."

Mikha terdiam, aku juga terdiam. Kami berdua saling menatap. Lama juga saling tatapan ini. Phil Collins mengumandangkan lirik ini mendadak dengan kerasnya: "...a whole new world..."

"Ya udah, Mikha, nggak mau jawab, nggak apa-apa. Mungkin kamu belum siap. Kayaknya aku paham juga. Itu bagian dari kenangan buruk kamu, kan? Sori, yah."

"Bukan  gitu, Bi." Mikha agak sedikit menundukan kepalanya. Lalu dia menatap ke arahku. "Aku cuman kebawa suasana dari lagu ini aja buat mengingat yang sebelumnya. Antara lagunya dan pertanyaan kamu, kedua-duanya senada."

"Oh, gitu,"

"Kalau kamu masih mau tahu jawabannya, mungkin pernah. Yah, itu kalau bisa dianggap pengalaman pacaran."

"Maksudnya?"

"Aku sendiri bingung antara aku sama Dean itu bisa dibilang pacaran atau nggak waktu itu. Jujur aja, aku sama Dean itu teman yang dekat banget. Dia sahabat aku. Lagian, waktu itu, aku sama Dean juga nggak terlalu ngerti cinta-cintaan. Tapi, teman-teman udah gencar banget ngeledekin kami berdua pacaran. Bahkan ada satu teman yang bilang kami kayak suami-istri." Mikha sekonyong-konyong tertawa.

Aku ikut tertawa juga. Lucu juga. Eh, tapi ada yang aneh. Kalau hanya teman dekat, kenapa Mikha lama juga melamunnya? Busyet, Abi, ayo jangan cemburu tak jelas. Kendalikan perasaan dan emosi kamu.


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. 

Comments