ANOTHER FICTION: Accidentally First Kiss








Genre: Romance













[RAFAEL KUSTANDI HUTAGALUNG]
Sudah empat bulan aku menjalani hubungan asmara dengan Mikha. Aku selalu ingat bagaimana aku menyatakan cinta ke Mikha. Aku sangat oportunis. Aku memanfaatkan momen. Mikha dan aku sama-sama mahasiswa baru, yang berada di ruangan dan pengarahan mentor yang sama. Sekali lagi, kuucapkan terimakasih untuk Bang Barry (yang aktivis kampus) dan Kak Cherry (yang ternyata wajahnya sering bermunculan di banyak majalah wanita). 

Aku tahu firasatku tak pernah salah. Intuisi seorang Rafael Kustandi selalu bisa diandalkan. Mikha sungguh gadis luar biasa. Dia cerdas, cantik, dan sayang dengan anak-anak. Maka dari itu, Mikha terjun di Gasuh, sebuah organisasi otonom yang terlibat di bidang kemanusiaan, khususnya anak-anak. Aku lihat Mikha sangat menikmati interaksinya dengan anak-anak jalanan. Dia tak risih memeluk erat seorang anak kecil yang mantan penderita kusta. Aku salut sekali dengan Mikha. Mau ditukar dengan fotomodel sekelas Natalie Portman pun, aku tak akan mau. Mikha sungguh harta karun terbesar yang pernah miliki. Tak akan pernah kulepaskan. 

Kali ini aku tengah berada di sebuah warung makan. Kata Mikha, warung makan ini peninggalan neneknya yang sudah almarhum. Aming itu nama neneknya. Foto sang nenek ada di bawah jam dinding itu--yang bertuliskan 'gong xi fat choi'. Kalau kuamati baik-baik, wajah Nenek Aming sangat ceria. Senyumannya sangat lebar dan tulus. Foto hitam putih yang sangat bercerita. Bahkan, hanya melalui foto kumal ini, aku bisa merasakan bahwa tampaknya Mikha sangat dekat dengan Nenek Aming. Kamu luar biasa, Mikha. Aku makin mencintai kamu dengan sepenuh hatiku.

"Fael, maaf yah, lama nunggunya," Mikha menghampiriku dengan membawakanku sepiring nasi goreng ham. Inilah salah satu kelebihan Mikha yang lainnya. Dia piawai dalam urusan memasak. Kata Mikha, nenek dan mamanya yang sering mengajarinya memasak. Sejak kecil, Mikha suka diajak ke warung makan ini. Karena sering melihat aktivitas yang sama, lama-lama Mikha tertarik untuk belajar memasak. Awalnya mamanya tak mengijinkan, namun karena dia terus merengek, apalagi sang nenek menyetujui, Mikha diajari memasak. Yang simpel saja dulu, nasi goreng. Yang berlanjut ke menu-menu berat seperti bihun, kwetiau, pangsit, atau bistik. 

"Enak, nggak, masakanku?" tanya Mikha yang sepertinya penasaran, walau pastinya, dalam sanubarinya, dia yakin pasti aku sangat menyukai. Kadang perempuan itu seperti seekor kucing, yang malu-malu mau. Apa yang ada di mulut itu suka berbeda dengan apa yang ada di hati. 

Aku mengacungkan jempol. Lalu, aku perlahan beringsut dan memonyongkan bibir. Mikha memasang aba-aba penolakan. Bahkan untuk sekadar ciuman pipi pun, Mikha tak mau. Begitu tahu niat cabulku, ia langsung galak setengah mati. Perutku dicubitinya sampai merah. Jika tengah marah, kadang Mikha suka seperti seekor macan. Ganas luar biasa!

"Kamu kenapa, sih, Kha? Kita udah empat bulan pacaran, tapi aku belum kamu ijinin untuk nyium kamu." Aku pura-pura merengut, walau sebetulnya merengut betulan dalam batin. "Terus gunanya pacaran apa? Aku paling cuma diijinin megang sama ngerangkul kamu. Sisanya, kita pacaran cuma dalam bentuk tulisan. Selebihnya, aku lebih ngerasa kayak temenan aja sama kamu."

"Emang harus, yah, ampe ciuman?" tanya Mikha dengan tatapan judes. "Setahuku, hubungan antara laki-laki dan perempuan tidak hanya berlandaskan pada aktivitas fisik kayak ciuman. Begitu yang kubaca di Cosmo Girl." 

"Tapi, ada yang bilang, Mikha, biar hubungan makin lengket, harus ada aktivitas fisik."

Bukan Mikha yang menjawab, namun suara dehaman dari mamanya. Mamanya terlihat gusar sekali. Dia langsung mendekati aku. Ujar mamanya, "Fael, jangan ajari anak Tante yang bukan-bukan. Kamu itu pacarnya, bisa dibilang calon suami Mikha. Berlakulah selayaknya imam buat Mikha."

Aku malu sekali mendapatkan perlakuan seperti itu. Beberapa pengunjung warung makan ini menatapku seolah-olah aku pembunuh bayaran. Sadis sekali tatapan mereka semua. Salahku di mana? Bukannya aku benar, yah? Aku hanya meneruskan kata-kata orang lain. Itu kudapatkan dari orang lain, bukan buah pemikiranku sendiri.















[MIKHA]
Malam yang sangat dingin. Udaranya sangat dingin. Panas dari kayu bakar ini tak menjadi jaminan bahwa kalian tak akan merasa kedinginan. Tetap saja dingin, bahkan saat aku sudah mengenakan sweter oranye ini. Aku meringkuk di tubuh Rafael. Beberapa teman kami bersiul-siul menggodai kami. Apalagi si keriting Douglas. Dia yang paling sering menjahili hubungan kami. Kadang Douglas suka memanas-manasi aku. Kenyataannya, aku tahu Rafael sangat mencintai aku. Aku tak salah saat menerima cintanya di ospek yang lalu.

"El, jagungnya udah matang, nih," sahut Jefri nyengir. "Jagungnya dua atau mau satu aja? Kan, biar romantis, El. Sepiring berdua."

"Berengsek lu, Jeff." rengut Rafael. "Lu pikir makan mi tek-tek apa, sepiring berdua?!"

Aku tertawa. Yang lainnya pun tertawa. Perlahan aku mulai merasakan kehangatan. Itu tak hanya dari pelukan Rafael, namun juga dari pecahnya suasana malam ini. Aku mulai merasakan kobaran api dari kayu bakar ini.

"Eh, udah mau tengah malam, nih. Mau pergantian tahun, kan. Kita mulai aja acaranya." Marco bangkit berdiri. Ia menunjuk ke arah Radit. "Dit, buruan keluarin."

Radit langsung mengeluarkan radio dan pengeras suara. Rencananya, di Puncak ini, aku dan teman-teman Hukum akan merayakan pergantian tahun dengan cara yang sedikit nyeleneh. Kami akan menyalakan radio, lalu memasang rekaman suara Rafael yang tengah menghitung mundur. Kenapa harus Rafael? Dia itu ketua Mahupala untuk angkatan 2004. Yang hadir di sini juga kebanyakan anak-anak pecinta alam. Aku bisa bergabung karena ajakan Rafael. Awalnya aku enggan, namun Rafael mendesakku dengan alasan: banyak juga yang datang dengan membawa pasangan. Nyatanya, aku dibohongi.  Hanya ada satu-dua orang yang membawa pasangan, selain Rafael.

Radionya dinyalakan. Kaset juga sudah dipasang. Jefri melihat jam khusus, yang lengkap sampai ke hitungan detik. Douglas yang ditugaskan untuk menghitung mundur. Pada saat itu, aku tak peduli dengan countdown tersebut. Aku sangat merasakan pelukan hangat Rafael, juga jagung bakar yang manis ini.

"Sepuluh... Sembilan... Delapan... Tujuh... Enam... Lima... Empat... Tiga... Dua..." Douglas menghitung mundur, yang mengikuti suara Rafael di kaset. Satu-dua orang mengikuti suara Douglas. Begitu hitungan satu, yang lainnya langsung meniup terompet. Aku spontan menutup kedua telinga seperti kebiasaanku sejak kecil. Di saat itulah, saat kedua telingaku tertutupi, kedua mataku ikut terpejam, aku merasa bibirku seperti tengah dikecup. Nyatakah ini?

Begitu kubuka mata, ternyata ciuman ini nyata. Jagungnya terjatuh ke tanah berumput, padahal belum habis kumakan. Mungkin karena suara terompet itu, aku menjatuhkannya tanpa sengaja. Gantinya, aku merasakan manisnya bibir Rafael yang sedikit berbau tembakau di tengah suara jangkrik. Tak peduli yang lain menyoraki, Rafael tetap mencium mesra aku. Hari ini, di Puncak, aku--Ni Made Ayu Mikha Aurelia--dengan terpaksa menyerahkan keperawanan bibirku ini. Hangatnya bibirnya sehangat pelukan Rafael.


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. Sementara, kedua gambar berasal dari teman di dunia maya, Handrianus dan Isabella.

Comments