15 Tanya Jawab bareng Nuel Lubis
















👤 Apa yang menjadi inspirasimu dalam menulis? Dapat idenya dari mana? 
Nuel Lubis: Apa, yah? Banyak, sih. Apa saja bisa menjadi inspirasiku dalam menulis. Tukang tape di luar rumah pun bisa membuatku bergetar, lalu tebersit ide untuk menulis. Seperti "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" yang idenya datang karena kebiasaan melamun aku sebelum tidur. Atau "Ai Shin'Yuu" yang terlahirkan karena sebuah idol group. Atau seperti "Cualacino" yang terinspirasi dari chat aku dengan seorang teman perempuan. Intinya, idenya bisa datang dari mana saja.

 ðŸ‘® Berapa lama waktu yang kamu perlukan dalam menulis? 
Nuel Lubis: Kalau sekadar menulis cerpen, dua-tiga jam. Kalau menulis novel, dua-tiga bulan, yang bahkan bisa sampai tujuh tahun. 

👷 Di mana kamu menulis biasanya? Apa kamu punya semacam ruangan pribadi impian seperti kebanyakan penulis lainnya?
Nuel Lubis: Aku sering menulis di kamar. Sesekali menulis di kafe atau tempat-tempat yang ada jaringan wifi-nya. Haha. And, then, well, aku juga punya. Ruangan pribadi impianku itu yang ada rak-rak buku yang berisi buku-buku menarik, kopi, snack-snack DEP SEDEP, dan wifi. Simpel. 

💁 Apa kenangan favoritmu saat membaca sebagai anak-anak, remaja, dan dewasa?
Nuel Lubis: Sebagai anak-anak, aku lebih suka membaca komik. Aku pernah membaca Tin-Tin, Smurf, Lucky Luke, Donal Bebek, atau Gufi. Namun, aku pernah membaca buku-buku tanpa gambar seperti novel-novel yang ditulis oleh R. L. Stine atau Enid Blyton. Lalu, sebagai remaja, aku suka membaca Detective Conan dan Lupus. Begitu aku beranjak dewasa, aku sangat senang membaca karya-karya J.K. Rowling, Stephenie Meyer, Raditya Dika, atau Andrea Hirata serta Ahmad Fuadi.

💂 Menurutmu, dari mana kecintaanmu bercerita datang?
Nuel Lubis: Ini pertanyaan yang sulit dijawab, yah. Mungkin dari Papi, kali, yah. Menurutku, dia pencerita yang luar biasa. Belum lagi, aku memiliki kakak sulung yang luar biasa hebat dalam story-telling. Satu lagi, tak banyak yang tahu, aku orangnya senang bertanya layaknya Thomas Alva Edison. Pernah ada teman terusik dan berkata, "Banyak nanya lu, kayak wartawan aja!" Haha.

👯 Dari semua tokoh fiksi yang sudah kamu ciptakan, manakah yang menjadi favorit kamu? 
Nuel Lubis: Apa, yah? Mungkin Gabriel Kustandi Hutagalung, kali, yah?! Karena sewaktu menggambarkan Gabriel, aku seperti menjadi diriku sendiri. Terus, tokoh yang paling sulit untuk kugambarkan itu Ruth Melisa dalam "Cualacino". Itu kali pertama aku menulis sebagai seorang perempuan dan itu terinspirasi dari seseorang yang sangat luar biasa. Karena dialah, aku tahu banyak mengenai perempuan--yang bahwa perempuan tak semisterius yang dibicarakan di mana-mana.

👴 Bagaimana cara kamu dalam menggunakan social media
Nuel Lubis: Yah, seperti orang pada umumnya. Aku senang scrolling, menulis status yang tak jelas, share video atau lagu, atau... ini sebetulnya rahasia, yah, namun aku sangat menyukai aktivitas stalking gebetan. Haha. 

👩 Saran apa yang akan kamu berikan untuk mereka yang mau serius menekuni dunia tulis menulis? 
Nuel Lubis: Pertama, aku tak jago memberikan saran. Kedua, aku sendiri masih hijau di dunia tulis menulis. Ketiga, saranku itu be yourself. Tulislah yang kalian suka. Kalau menurut kalian, ada satu buku yang belum tercipta di dunia ini dan merasa harus ada, kalianlah yang  akan menuliskannya.

👧 Apa kamu sudah memiliki penggemar? Kalau sudah, seperti apa mereka? 
Nuel Lubis: Entahlah, aku tak terlalu memperhatikannya. Sejujurnya aku tak terlalu ingin terkenal. Bagiku, punya banyak teman jauh lebih menyenangkan daripada punya banyak fans. Apalagi kalau aku sampai punya banyak pacar yang cantik-cantik. Haha. Yang terakhir, aku hanya melindur saja. 

👳 Novel-novel kamu itu sangat plural. Ambil contoh "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh". Gabriel yang Batak, jatuh cinta dengan dengan Mikha yang Bali-China Pontianak. Apa yang mendasari kamu untuk menuliskan yang seperti itu? 
Nuel Lubis: Aku juga tidak tahu. Aku hanya menuliskan yang ada di dalam pikiranku. Namun, kalau kamu memaksa, mungkin itu lebih karena faktor pergaulan aku yang sangat multikultural. Aku memang Batak, tapi aku berteman akrab dengan suku Jawa, Tionghoa, Ambon, Sunda, bahkan aku sangat senang menjalin hubungan pertemanan dengan bule. Mungkin itu kali, yah. 

👲 Beberapa novel kamu itu khas Menado, kenapa bisa begitu? Kamu, kan, Batak, yah. Kenapa hobi menciptakan tokoh Menado? Apa kamu punya pacar atau gebetan orang Menado? 
Nuel Lubis: Haha. Kenapa, yah? Aku bingung juga menjawabku. Tapi, percayalah, semua gebetanku tak ada yang orang Menado. Mungkin karena aku die-hard fans-nya Menado culture. Aku sangat menyukai kebudayaan Menado. Masakan Menado sangat DEP SEDEP, khususnya ayam rica-rica. Sambal roa yang terbaik dari semua sambal Indonesia lainnya.

👱 Kamu suka menyebut kata DEP SEDEP tiap membahas kuliner, itu dari mana asal usulnya? 
Nuel Lubis: Oh, itu aku mendapatkan inspirasinya dari Bang Gaphe. Dia seorang yang luar biasa. Aku sangat mengagumi filosofi yumilah yumiwati-nya. Dari situlah, aku mulai berpikir sudah saatnya aku memikirkan suatu jargon yang kubentuk sendiri. Jangan hanya jadi follower, namun jadilah trendsetter. Begitulah. Sementara untuk penggunaan katanya, itu datang dari saat kita berteriak di ruangan bergema. Sedep dep dep dep. Terus, aku berpikir itu akan menjadi kata yang keren banget.

💃 Apa kriteria pasangan hidup kamu? 
Nuel Lubis: Aku tak memiliki kriteria-kriteria khusus sekarang ini. Kalau dulu, aku sangat terobsesi dengan perempuan berkacamata. Itu dikarenakan gebetan pertamaku itu seorang perempuan berkacamata. Terus, aku pernah sangat suka melihat perempuan berambut pirang alami, bukan yang dicat. Haha. Eh, tapi itu dulu. Kalau sekarang, tak ada kriteria khusus sama sekali. Yang penting, aku dan dia ada chemistry. Satu lagi, aku sangat mempercayai konsep jodoh atau belahan jiwa (soulmate).

👦 Percaya keberadaan hantu, tidak? 
Nuel Lubis: Aku sangat percaya bahwa kita--manusia--tak sendirian hidup di dunia ini. Lagipula, sejak kecil, aku menyenangi majalah-majalah misteri, uji nyali, atau kisah-kisah horor.

👧 Eh, katanya nama kamu itu pernah ada di sebuah FTV. Apa judulnya? Bagaimana ceritanya? Susah tidak untuk menuliskan satu tulisan yang akan digarap menjadi sebuah FTV? Inspirasinya dari mana? 
Nuel Lubis: Oh, itu "Cantik-Cantik Supir Angkot" yang tayang di tanggal cantik: 15 Desember 2015. Tentang seorang perempuan tomboy yang akhirnya jatuh cinta dengan anak juragan angkot. Inspirasinya itu dari Mendiang Tulang Hinsa yang pernah menyupiri angkot. Terus, mengenai susah atau tidaknya, aku hanya menuliskan ide ceritanya saja, namun sangat sulit. Aku harus merevisi beberapa kali. Seberapa sulitnya, mungkin lebih tepatnya kalian tanyakan itu ke penulis skenarionya. Aku hanya menuliskan sinopsis skenarionya saja.


Comments