ANOTHER FICTION: Rapat Para Hantu - Bagian Pertama







Genre: Horor















Pada suatu ketika, malaikat pencabut nyawa mengumpulkan lima hantu yang baru saja dijemput oleh dirinya. Tak biasanya, memang. Konon, di dunia orang mati, memang selalu ada jarak antara yang mencabut dan yang dicabut. Apalagi, khusus malaikat yang satu ini, dia memang terkenal agak sombong. Jarang sekali dirinya terlihat bercakap-cakap dengan yang dicabutnya. Padahal malaikat-malaikat yang lainnya, yah, banyak yang terlihat coba akrab dengan yang dicabutnya.

Hantu pertama: seorang bapak tua dengan mata satu. Si bapak yang terlihat seperti berusia 78 tahun (saat dirinya dijemput) itu menutupi satu matanya layaknya bajak laut. Dia tertutup di dunia orang mati. Tak banyak basa-basi. Mungkin, si bapak memang sangat tertutup. Saking tertutupnya, tak sedikit hantu yang segan padanya. Setiap kali bersuara, suaranya parau. 

"Di sini, sepertinya banyak yang bingung kenapa bapak menggunakan penutup mata seperti itu. Belum lagi, yang saya dengar, bapak selalu dingin dengan hantu-hantu yang ada." Si malaikat mulai membuka pembicaraan.

Si bapak mendesis. Dia tertawa. Apa pula si malaikat. Bukankah dia tahu kenapa dia seperti ini. Dia sama sekali tak mau mengingat kematian dirinya yang cukup tragis. Amat memilukan. Beberapa saat kemudian dia menitikan air mata. 

Hantu bocah cilik yang duduk di sampingnya terbahak-bahak. Saking tertawanya, dia lupa lehernya bisa copot begitu saja. Jahitan-jahitannya bisa lepas. 

"Ehem," Si bapak menyeringai si bocah. "Nak, jaga sopan santun kamu terhadap yang lebih tua."

"Yah, habis si bapak," Si bocah meneruskan tawanya. "lucu."

Hantu perempuan dengan kepang dua dan berbusana chinese suit ikut sumbang suara. "Pak Tua, dari dulu saya penasaran, itu buat apa penutup mata tersebut? Apa bapak dulunya seorang bajak laut? Saya sangsi ada bajak laut di dunia sana. Apalagi, di Indonesia. Haha. Pembajak lagu, sih, saya sering dengar."

Akhirnya si bapak ikut tertawa lebar juga. Mungkin dia senang ada juga hantu yang berani mempertanyakannya. "Ini ada ceritanya sendiri, Gadis Cantik," 

"Sepertinya rapat kita bisa dimulai," Si malaikat tersenyum.

*****

HANTU BAPAK TUA BERMATA SATU
Badannya letih sekali. Kemacetan kota besar yang luar biasa. Akhirnya dia bisa pulang juga. Rumahku, istanaku, begitu batin si bapak. Ia berharap dirinya bisa mendapatkan pelukan hangat dari sang istri. Apa daya dia hanya bisa membuka pintu yang terkunci dengan payahnya. Ke manakah istrinya itu? 

"Ma, Papa pulang," sahutnya dengan volume yang lumayan kencang.

Sayangnya, tak ada respon. Dia menggerutu. Ke manakah cinta tersebut? Semenjak ketiga anaknya beranjak dewasa, rumahnya terasa hampa sekali. Sepi. Tidak seramai  saat sepuluh tahun yang lalu. Begitu dia memencet bel, sang istri langsung menyambutnya dengan pelukan. Suara televisi dengan volume kencang terdengar dari arah ruang tengah. Anak bungsunya, Riefky langsung menghampiri. Diambilnyalah sekotak martabak kacang dari tangannya. Namun, masa lalu tetaplah masa lalu. Sekarang, rumahnya sangat sepi. 

"Ma, nih, Papa bawakan bakpau, sepertinya masih hangat," Tetap tak ada suara yang merespon. "Oh iya, Ramos sudah tidur?" Ramos merupakan nama cucu pertamanya.

Masih tak ada respon. Ya sudahlah, mungkin istrinya sudah tertidur. Mungkin istrinya masih marah. Padahal, dia berkali-kali sudah menjelaskan perempuan itu hanya rekan kerja. Perasaannya masih untuk istrinya. Bukti kuatnya itu terletak di cincin yang berada di jari manisnya.

Sekotak bakpau itu diletakan di meja dekat dispenser. Tiba-tiba saja Ramos langsung memeluk kakinya. 

"Eh, Ramos," 

"Eyang udah pulang?!"

Diangkatnya tinggi-tinggi si Ramos. Ramos langsung ditaruh di atas pundaknya. "Pasti mau main kan, sama Eyang?"

Ramos mengangguk. "Ayo, main, main,..... main kuda-kudaan....."

"Eyang putri ke mana, Ramos?" Dia mencubit pelan pipi Ramos.

"Lamos gak tau, Eyang? Bangun-bangun Eyang Putli udah gak ada. Lamos cali ke mana-mana, Lamos gak ketemu sama Eyang Putli. Telus, seluluh pintu dikunci, masa, Eyang? Apa Lamos senakal itu, sampai dikunci? Lamos kan jadi takut."

Dia agak terperanjat dengan pengakuan cucu pertamanya yang masih cadel, padahal sudah berusia empat tahun. Tega nian si istri. Masa meninggalkan anak sekecil Ramos sendirian saja di rumah? Semua pintu dikunci begitu saja. Kalau terjadi apa-apa, bagaimana? Kebakaran, misalnya. 

"Ya udah, kan Eyang Kakung udah pulang, Ramos nggak sendirian. Yuk, main kuda-kudaan sama Eyang." hiburnya ke Ramos dengan membuat mimik lucu.

Dia akhirnya memutuskan untuk menemani Ramos bermain, walau badannya masih lemah. Tapi, demi cucu tercinta, dia rela saja. Dia lalu menempatkan Ramos ke punggungnya dan mulai berjalan merangkak. Ramos girang sekalinya. Saking girangnya, Ramos beberapa kali menutup salah satu matanya. Asalkan cucunya bahagia, tak apalah untuk dirinya. 

Kakek dan cucu asyik bermain kuda-kudaan. Mungkin kurang lebih ada sekitar lima belas menit mereka bermain kuda-kudaan. Ada sebanyak sepuluh kali dia mondar-mandir. Beberapa kali Ramos menutupi salah satu matanya. Sebelah tangan Ramos memegang pensil. Biar dia sekali-dua kali mengingatkan untuk tidak menutupi matanya, namanya juga anak kecil. Tetap saja Ramos iseng menutup matanya. Sampai akhirnya.....

"Adududuh....." pekik dirinya kesakitan. Ramos sampai terpental dari punggungnya. Dirinya spontan memegang sebelah matanya yang sepertinya tak sengaja mengenai mata kanannya. Darah mulai mengucur perlahan-lahan. Dengan satu mata tertutup--yang sambil menahan kesakitan, dia coba melihat ke arah Ramos. 

Kenapa hening sekali, pikirnya. Dia mulai was-was. Kekhawatirannya terbukti. Ramos, cucu pertamanya tewas. Terpelantingnya Ramos mengenai guci cina berukuran kecil. Mungkin saking kesakitannya, dirinya tak mendengar suara guci pecah. Dia langsung panik sepanik-paniknya. Dia histeris sendirian. Masih merasa kesakitan, dia tunggang langgang untuk sekadar mencari pertolongan. Dia keluar rumah sambil meraung-raung, dan.....

.....dirinya tak menyadari ada mobil lewat. Mobil sedan itu pun menabraknya hingga berdarah-darah. Samar-samar dirinya melihat sang istri keluar dari mobil bersama seorang lelaki yang tampaknya berusia jauh lebih muda darinya.

Terengah-engah dia berbicara, "Jadi, begini kelakuanmu di belakangku?" Itulah kalimat terakhirnya.

*****

Langsung saja suasana menjadi pecah. Ambyar seambyar-ambyarnya. Hantu-hantu tertawa. Si malaikat hanya tertawa kecil. Bagaimanapun si malaikat memang sudah mengetahui bagaimana si bapak bermata satu meninggal. 

"Haha. Bapak lucu sekali. Mati paling konyol yang aku pernah dengar." ledek hantu bocah cilik dengan leher hampir putus tersebut. 

"Menurutmu begitu, Nak?" Si bapak ingin marah, namun urung. Si bocah cilik telah mengingatkannya dengan Ramos. Oh iya, semenjak tiba di dunia orang mati, dia belum menemukan keberadaan Ramos. Dari nyengir menjadi sedih. Ke manakah Ramos? 

Padahal, tanpa dia sadari Ramos ada di dekatnya lama sekali. Ramos itulah hantu bocah cilik berleher hampir putus. Dia pasti lupa Ramos pernah dijahit lehernya. Ayah Ramos--yang merupakan anak sulungnya--menitipkan ke rumahnya selama masa penyembuhan. Sebab, Rizal dan istrinya sangat sibuk. Saking sibuknya, mereka lupa ayahnya seorang yang sibuk pula. Mereka pikir, beban hidup mereka jadi berkurang dengan menitipkan Ramos ke rumahnya yang sering sepi di malam harinya. Jahitan di leher Ramos konon terjadi karena ulah makhluk gaib. Malamnya Ramos dan beberapa temannya bermain-main ke lokasi pembangunan sebuah rumah. Mereka asyik sekali bermain pasir dan gundukan kerikil sampai salah seorang teman kerasukan dan.....

.....begitulah jahitan itu tercipta. Para dokter sangat bersusah payah untuk melepaskan besi dari leher Ramos. Bagaimana bisa besi tembus menancap ke leher Ramos? Semuanya terbingung-bingung. Sampai ke dunia orang mati pun, itu bagaikan misteri yang tak akan pernah terpecahkan.

"Oh iya, Nak, kamu sendiri bagaimana bisa ke sini. Kamu terlalu muda untuk berada di sini." Sepintas, si bapak tua baru sadar ada yang aneh dengan si bocah. Jahitan di lehernya begitu mengingatkannya dengan jahitan leher Ramos. 

Hantu bocah cilik itu menggeleng. "Aku nggak tahu gimana aku bisa di sini. Bahkan, aku nggak pelnah tahu siapa olangtua aku yang sebenalnya. Kok tega ngebialin aku bisa ada di tempat semengelikan ini."

Si bapak kaget. Mengapa suara si bocah menjadi cadel? Suara si bocah sangat mirip dengan Ramos. 

"Kek, dia itu memang cucu kamu," Hantu pemuda kurus kerontang tertawa mendesis-desis. "Sejak kalian tiba di sini, kalian memang aneh. Tak saling mengenal, padahal datangnya bersama-sama."

Hantu perempuan ber-chinese suit itu terbahak-bahak. "Di sini kan memang kayak gitu. Semua jadi kayak amnesia mendadak. Sama kayak kamu, yang udah ngelupain aku yang udah kamu hamilin."

Hantu pemuda kurus kerontang itu jadi bingung. "Apaan sih maksud kamu? Apa kita pernah mengenal sebelumnya? Aku nggak ingat pernah macarin cewek menor kayak kamu. Kayak perek, kamu itu. Dan, seleraku nggak serendah itu."

"Mau kubeberin segala kejahatanmu pas masih hidup?" Si perempuan langsung berdiri dan berteriak.
 
Mendadak suasananya menjadi tegang dan sangat mencekam.






Bersambung.....



PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun.


Comments