ANOTHER FICTION: Jatuh Sebanyak Tiga Kali, Indahnya!








Genre: Romance






Sumber: 9gag.com









Cinta itu apa? Aku bingung untuk mengartikannya. Bahkan, aku bingung bagaimana cinta itu bisa ada? Kenapa mendadak cinta itu muncul. 

Cinta yang kumaksud itu dalam pengertian romansa. Itu seperti yang kulihat di banyak drama televisi. Saat ada sepasang muda-mudi tengah berpegangan tangan, berpelukan, lalu kedua bibir mereka saling bersentuhan. Itu yang kumaksud, cinta yang seperti itu. Kenapa model cinta yang seperti itu harus ada? 

Aku, seorang pelajar SMA, masih jomblo. Aku belum memiliki pacar. Gebetan pun tak ada. Setiap hari, sepulang sekolah, aku langsung masuk warnet. Aku hobi bermain game. Warcraft merupakan favoritku. Namun, aku juga menyukai game seperti Counter Strike. Kalau tak ke warnet, aku langsung tidur di kamarku, kesayanganku. Malamnya aku  mengerjakan tugas sekolah. Aku sudah biasa mengerjakan tugas sekolah di atas jam dua belas malam. Pernahkah kalian mengerjakan tugas sembari menonton sepakbola? Itu, aku lumayan sering melakukannya. Bisa apa, kalian pasti bertanya seperti itu. Bisa banget. 

Kenapa aku mendadak membicarakan mengenai cinta? Tadi, di tempat bimbingan belajar, ada teman yang mengajukan pertanyaan menohok. Bukan pertanyaan "Apa aku punya pacar?", sih. Dia bilang, "Apakah aku pernah jatuh cinta?" Lalu, dia mulai mencerocos tentang indahnya memiliki pasangan. Katanya, ada yang menyemangati-lah, ada yang mengingatkan-lah, dan bla-bla-bla. Haha. Aku tak butuh. Keluargaku sudah cukup. Masih kurang? Ada teman-teman gamer aku. Tetapi.....

.....aku mulai merasa kata-kata itu meresap terlalu dalam ke lubuk hati aku secara perlahan demi perlahan. Lambat, namun pasti. Ibarat orang bermain catur saja--yang tiba-tiba skakmat. Mendadak saja aku sangat ingin memiliki pacar. Mungkin Alung benar. Mungkin ini saatnya aku memiliki pacar.

Menjawab pertanyaan Alung yang tadi sore, aku pernah jatuh cinta. Sekarang ini aku malah tengah jatuh cinta. Masalahnya, apa bisa seorang manusia jatuh cinta ke dua orang sekaligus? Itu masalahku. 

Ceritanya bermula saat aku masih seorang pelajar SD. Kalau tak salah, aku masih kelas 4 SD. Ada seorang murid pindahan datang. Namanya Melati. Kabarnya, satu kelas sudah mengetahui bahwa Melati ini pernah beberapa kali menjadi model video clip. Tapi aku mengabaikan fakta tersebut. Bukan itu yang membuatku jatuh hati ke Melati. Aku menyukai Melati bukan karena dirinya yang pernah menjadi model video clip. Aku hanya menyukai saat Melati berbicara. Saat dia mengenalkan dirinya sendiri, saat dia tersenyum, saat dia tergelak (yang menurutku sangat lucu dan manis), saat dia tanpa sengaja bersin, itu membuat jantungku berdebar-debar kencang. Perlahan tapi pasti, aku jadi sering memperhatikan Melati. Aku suka curi pandang terhadapnya, yang duduk di belakangku. Dia tersenyum, aku balas tersenyum--namun kaku. Aku grogi, sebabnya.

Berkali-kali aku ingin menyatakan perasaanku ke Melati, namun selalu urung. Gagal melulu. Entah karena sibuk mengerjakan tugas, entah karena urusan-urusan lain yang menurutku lebih mendesak. Hingga acara perpisahan sekolah dasar, aku tak kunjung menyatakan. Yang kukatakan, "Selamat, yah, Mel, mau lanjut ke SMP mana?" Bodohnya aku. Aku baru menyesali kecerobohanku selepas acara. Kenapa aku tak menyatakan perasaan aku ke Melati? Melati sudah pindah ke Kalimantan (karena ayahnya pindah tugas ke sana). Aku merana. Aku hanya menggigit sepuluh jariku. 

Karena itulah, sepanjang aku menjadi murid SMP, aku selalu menjaga perasaanku untuk Melati. Aku sangat yakin bisa berjumpa dengan Melati suatu saat nanti. Biarlah aku diledeki jomblo. Aku memiliki misi yang lebih penting selain mengejar cita-cita menjadi komikus (atau minimal desainer). Itu: menjaga hati untuk Melati, sang model favorit aku. 

Mungkin Tuhan menjawab doa-doaku selama ini. Atau, Tuhan hanya merespon segala kesedihanku, yah. Semuanya terjadi ketika aku masuk SMA Kelapa Cengkir. Sebulan-dua bulan aku bersekolah di SMA Cengkir, aku berjumpa dengan Melati lagi. Tidak, tidak, aku tak bertemu Melati di SMA tersebut. Melati berbeda sekolah denganku, yang mana sekolahnya itu jauh lebih berkompeten daripada SMA aku. Kami bertemu kembali di sebuah acara gereja. Sebuah ret-reat. Aku senang sekali bisa bertemu Melati lagi. Tiga tahun penantian yang sangat tidak sia-sia. Mel, kamu tahu betapa beratnya rindu itu? Aku sangat merindukan senyuman manismu.

Apa aku harus menyatakan cinta langsung? Oh, tak semudah itu. Di hatiku, mendadak ada perempuan lain. Itu terjadi saat hari pertama aku menjadi pelajar SMA. Aku jatuh hati ke teman sebangkuku, Nia. Nia memang tidak berkulit putih seperti murid-murid perempuan lainnya yang ada di dalam kelas X-B. Tapi, tetap, bagiku, Nia itu wanita yang luar biasa. Aku sangat menyukai senyuman Nia yang sangat manis. Perubahan emosi dari kesal menjadi senang, itu yang aku sukai dari Nia. Sangat mempesona. Belum lagi, Nia cukup pintar di kelas. Pertanyaan-pertanyaannya yang diajukan ke guru tersebut cukup luar biasa, seluar biasa kepribadian Nia. Nia juga perempuan yang memiliki rasa humor yang sangat bagus. Tak ada yang seperti Nia.

Itulah anggapanku sebelum bertemu Melati. Aku sangat mengagumi Nia. Pernah aku coba menyampaikan perasaanku ke Nia melalui teman dekatnya. Sialnya Adel malah lupa menyampaikan surat itu ke Nia. Adel bilang dia lupa--dan hilang juga. Itu membuatku patah arang. Kemudian, saat aku ingin membuat surat cinta lagi, besoknya aku bertemu Melati di vila tersebut. Kenangan demi kenangan berkeliaran di dalam kepalaku. Kepalaku terpenuhi oleh dua wajah perempuan. Melati dan Nia. Aku bingung pilih yang mana. Melati itu sosok perempuan yang kali pertama membuatku jatuh cinta. Sementara, Nia,..... andai Melati tak kunjung muncul, kurasa Nia itu pengganti yang dikirimkan Tuhan untuk aku. Mana yang aku harus tindak lanjuti?

Aku sempat berpikir apa kukirimkan saja keduanya surat cinta. Andai kedua-duanya memberikan respon positif, bukan salahku memiliki dua pacar. Toh, keduanya itu berbeda sekolah. Lagian aku bisa merasakan indahnya memiliki pacar. Tetapi aku sadar, jika kulakukan, aku menjadi orang jahatnya. Egois sekali diriku, yang tidak memperhatikan perasaan seorang perempuan. Padahal, tiap Mama bertengkar dengan Papa, aku sering memihak ke Mama. Sekarang, masa aku memiliki niat untuk memacari dua orang perempuan? Aku tak setega itu.

Kalau salah satu yang kupilih, itu yang membuatku bingung sekali. Pilih Melati atau Nia. Keduanya memiliki keunggulan masing-masing. Melati yang pernah menjadi model video clip. Nia yang pernah menjadi juara kedua lomba cerdas cermat tingkat kabupaten. Itulah salah satu keunggulan dari mereka berdua. Aku bingung. Aku galau.

*****

Keesokan hari, di Bimbingan Belajar Dewa Gajah,

Sudah kuputuskan aku akan menembak Melati dulu. Suratnya sudah kumasukan ke dalam ransel. Nanti pulang aku akan mampir ke rumah Melati. Aku bisa tahu rumah Melati dari mentorku di tempat ret-reat. Saat kuminta, dia malah  nyengir sembari berceletuk, "Si Melati jomblo juga, kok. Mau pedekate, yah?!" Aku tersenyum kaku ke arah Kak Boy. Kak Boy sialan.

Astaga, apa ini? Perasaan apa ini? Apa ternyata doaku sangat dijawab Tuhan? Mungkin aku baru sadar ternyata Melati ikut bimbel yang sama denganku. Bukankah yang seperti itu suka terjadi dalam kehidupan? 

Aku lalu mencoba mendongak. Ternyata bukan Melati. Perempuan lain masuk ke ruang kelas. Sepertinya anak baru. Dia cantik juga. Saking cantiknya, aku beberapa kali meneguk air liur. Keringat dingin mengucur begitu saja. 

"Misi," Karena dia lebih tinggi dari aku, perempuan ini menundukan kepalanya ke arahku. "Belum mulai, kan, kelasnya?"

Aku kaku menggeleng. "Be-be-belum, k-k-kok. Lima belas menit lagi. Lagian, tumben anak-anak yang lain belum datang."

"Iya, sih." Aduh, bibirnya, seksi sekali, sangat manis, jantungku berdentum-dentum. "Oh iya, aku lupa ngenalin diri. Kenalin, namaku Gita."

Dengan bergemetaran, aku membalas ajakannya untuk berjabat tangan. "Aku Benny."

Gita terbahak. "Haha. Biasa aja kali, kaku begitu. Aku nggak gigit, kok. Kamu lucu juga, yah."

Astaganaga! Dia bilang aku lucu? Mendadak aku terpelontar dari kursi ini, lalu terbang tinggi ke awan. Di sana, aku berjumpa tiga orang bidadari.


PS:
Mohon maaf jika ada kesamaan nama, yah. Jangan baper berlebihan. Hehe. 👦✌

Comments