Sok Jadi Translator








"Learning English by playing video games. Learning Japanese by watching anime." - Seseorang dari negeri antah berantah.








Meme sangat bersejarah. Aku selalu teringat dengan seseorang, yang sampai putus kontak di social media karena meme ini. Kok konyol yah? Suka ketawa kalau aku ingat lagi.








Jadi, saat 2014 itu, aku lagi senang banget dengan satu aktivitas. Itu: sok-sokan jadi translator buat orang lain, padahal masih belajar juga bahasanya. Kok bisa? 

Ya, bisa-lah, kalau mau belajar dan berusaha. Haha. Sok banget bahasa aku, yah. Tapi itu semua karena apa yang menimpa aku di 2013. Apa yang terjadi denganku saat itu? Well, aku terkena virus jejepangan. Mendadak aku jadi menyukai all-about japan. Dari situlah, aku iseng belajar bahasanya. Mulanya aku cari bahan pembelajarannya dari internet. Modul-modul belajar bahasa Jepang bahkan masih tersimpan rapi dalam laptop. Tak hanya itu saja, kalau masih kurang, aku beli buku belajar bahasa Jepang, beli buku kotak-kotak juga, sampai akhirnya, aku menceburkan diri ke grup-grup bahasa Jepang. Iseng aku bertanya, jikalau ada yang aku tak paham. Hingga.....

Aku juga bingung kenapa begitu. Kalau diingat lagi, kok konyol banget yah? Padahal kemampuan bahasa Jepang aku masih pas-pasan, kok sudah sok sekali menerjemahkan postingan seseorang, yang lalu kutuangkan ke dalam sebuah grup (yang bahkan aku ciptakan sendiri)? Tak hanya postingan seseorang (yang seringnya sih, postingan Anna Murashige), aku bahkan berani menerjemahkan lirik lagu berbahasa Jepang. Sok, yah? Haha. Tapi aku ikhlas saja melakukannya. Sama sekali tidak terbebani. Saat itu, bagiku, yah buat have fun saja, selain untuk memperlancar kemampuan bahasa Jepang aku. Kalau ada yang kritik karena salah, yah aku terima. Namanya juga baru belajar. Lalu, kalau ada yang senang membaca hasil terjemahan kita, rasa senangnya bukan main, padahal kayaknya ada yang salah menerjemahkan. Haha. Konyolnya!

Haha. Karena itulah, karena aku pernah mencoba menjadi translator dadakan yang amatiran, aku tahu banget bagaimana rasanya menjadi seorang translator atau penerjemah. Senangnya itu saat yang menikmati terlihat senang banget. Susahnya itu saat-saat di mana  aku tengah menerjemahkan. Aku harus bolak-balik buka modul, Google Translate, kamus konvensional, dan mencoba menangkap maksudnya apa (Kan, sering tuh, selain ada makna denotasi, ada makna konotasi pula). Yah, itu dari sudut pandang aku. 

Ah, kangen! Mau ketawa juga saking konyolnya. Terheran-heran juga, kok mau sering melakukannya secara cuma-cuma? Kok  bisa senekat begitu, yang sok banget menerjemahkan, padahal aku masih amatir (bahasa game: aku masih noob)? Kok bisa? Kok bisa? Kok mau? Kok mau? Haha. Entahlah, saat-saat itu,..... segala sesuatunya terjadi  dengan penuh kemisteriusan sekali. Aku sendiri bingung bagaimana menyampaikannya. 

Lalu, yang terakhir, sampai sejauh mana kemampuan berbahasa Jepang aku? Sebatas suki, daisuki, aishiteru. Haha.

Pelajaran dari masa tersebut: 
Aku mendapatkan yang namanya ilmu ikhlas.






Comments