Menjiwai Pengalaman Orang Lain


















Salah satu alasan lainnya kenapa aku sampai seroyal begini demi memupus rasa penasaran akan sebuah cerita webtoon itu karena aku sangat menyukai komik. Sejak masih pelajar SD, aku lebih menyukai cerita bergambar daripada cerita tanpa gambar. Kalau komik, mau setebal apapun, aku bisa menyelesaikannya dalam kurun waktu..... errrr, 5-6 jam (kalau lagi senggang). Sementara novel, satu bab saja selesai dalam waktu satu hari (maksudku, novel yang tebal). 

Itu alasannya pula tanpa sadar aku sudah membaca enam belas judul webtoon dan menghabiskan 194 coin aku. Sedih, sih (karena harus keluar duit), tapi puas banget. 

Hmmm..... oh iya, dari situlah, aku juga tersadarkan akan suatu hal. Aku paham kenapa diriku sangat tertatih-tatih dalam menyelesaikan "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh". Mungkin selain karena aku minim pengalaman, aku juga lebih menyukai komik daripada novel. #misiterakhirrafael kan novel, tentunya harus sering-sering membaca buku tanpa gambar. Masuk akal, nggak, sih? 

Last but not least, dari semua webtoon yang kubaca, aku mendapatkan satu pelajaran penting: 

Pengalaman orang lain itu juga bisa menjadi pengalaman kita sendiri selama kita menjiwainya sebagai pengalaman kita sendiri. Paham? Maksudku, kita memiliki kepekaan nurani yang luar biasa dalam menanggapi setiap pengalaman orang lain. Biar lebih paham, begini, mana yang lebih kita rawat, barang orang lain atau barang sendiri? Nah!







Comments