4 Tahun Meninggalnya Mami
















24 Juli 2015, sekitar jam 9-10 malam. Aku tak pernah lupa. Sebab, itu saat terakhir Mami menghembuskan napas. Satu hari sebelumnya, aku membesuknya di Rumah Sakit Dharmais untuk kali terakhir. 

Hmmm.....

.....

Aku sengaja mengutip kata-kata dari dua animasi yang aku suka tonton di masa kecil aku. Itu dari "Remi: the Nobody's Boy" dan "Candy-Candy". Yang terakhir, samar-samar kuingat Mami suka mengucapkannya padaku agar aku lebih menikmati hidup; juga agar tak menyerah begitu saja. Sementara yang pertama, tiap aku suka dibawa Mami entah ke mana, aku seolah ditunjukan bahwa hidup seringkali bisa kejam terhadap kita. Semuanya tergantung bagaimana kita menyikapinya. 

Oh iya, foto ilustrasi sengaja aku tampilkan seperti itu. Rasanya sangat istimewa sekali, ziarah ke makam Mami bersama orang lain selain keluarga inti sendiri. Kan, biasanya aku ziarah bareng keluarga inti atau paling tidak sendiri. Apalagi, Mami kayaknya juga senang banget diziarahi oleh yang bukan suami dan keempat anak kandungnya. 

Eh, tahu, nggak, sebetulnya sudah sejak lama aku ingin berziarah bersama teman. Yang di foto, itu masih sebatas saudara, yah. Nah, aku tebersit ingin berziarah bersama seorang teman. Semoga itu bisa kesampaian di lain waktu, yah.

Terimakasih untuk Bang Mardin, Tulang Hinsa, Layka, Kak Esil, Tanto, dan Hansen, yang sudah mau menemaniku ziarah ke makam Mami. Terimakasih juga untuk Bang Joni (sayang, aku suka lupa melulu untuk berfoto bersamanya). Sebab, dia ini yang sering menemaniku ziarah. Huhuhu.

.....

Mi, sudah empat tahun Mami telah tiada. Raga boleh tiada, namun kenangan akan Mami akan selalu hidup di sanubari Iman.











Comments