Air Mata & Acungan Jempol


.




Screenshot Nuel Lubis dengan salah seorang teman.









Dulu, di 2015, saat tengah menggarap sebuah naskah, ada seorang kenalan di internet pernah memberikan suatu tips and trick. Secara tidak sengaja, sih. Maksudnya, begini. Si Kenalan ini kuminta menjadi editor pribadiku. Tiap satu bab, dia memberikanku revisinya. Nah, saat naskahnya dia kembalikan itulah, dia bilang padaku, saat membaca ulang naskahnya, dia seperti merasakan ada seorang gadis kecil tengah menangis di dalamnya. Kupikir, itu hanya guyonan belaka. 

Nyatanya, empat tahun kemudian, dan satu tahun setelah "Amoreureka" terbit, aku baru benar-benar paham kata-kata temanku tersebut. Kadang tiap membaca "Amoreureka" , ada beberapa halaman seperti tengah mengeluarkan air mata. Ini juga aku baru sadar dari temanku yang lainnya, yang kemudian diaminkan yang lainnya (seperti tercantum di screenshoot di atas tersebut). 

Kalau dipikir, ada benarnya juga. Pertama, "Amoreureka" digarap di tahun 2015. Situasi dan kondisi yang ada di sekitarku juga kurang begitu bagus. Apalagi fisik Mami di bulan April tersebut, mendadak turun drastis. Kakak pertama tengah hamil muda saat itu. Aku pun tengah mengalami konflik dengan beberapa orang. 

Alasan kedua, saat pengajuan naskah ke penerbitnya (yang dalam arti ini, Raditeens Publisher) juga ada lumayan banyak kendala. Salah satunya, perihal finansial. Untungnya, pihak Raditeens berbaik hati dengan memberikan kelunakan padaku. Aku bisa mencicil pembayarannya. Sampai akhirnya, tepat awal bulan Juli, "Amoreureka" bisa berubah menjadi sebuah novel, yang awalnya hanya sebuah file Word. 

Haha.

Itu baru tentang "Amoreureka", loh. Belum karya-karyaku yang lainnya. Salah satunya, "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh". Yang ini sebetulnya bukan sebuah kisah sedih. Hanya saja, kisahnya sama. Kuingat, saat Desember 2014, aku pernah iseng saja mempromosikan isinya lewat status BBM. Aku sedikit mengenalkan beberapa tokoh yang berada di dalamnya. Setelah selesai melakukannya, beberapa menit kemudian, aku seperti bisa menangkap ada semacam antusiasme luar biasa dari teman-temanku. Sepertinya, saat itu, mereka sudah tak sabar menunggu "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" bisa menjelma menjadi sebuah novel. Sepertinya "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" sudah mendapatkan banyak acungan jempol sebelum eksis di toko buku di tahun 2016.

Hmmm, dari situlah aku belajar bahwa memang ada beberapa hal yang harus mengandalkan kepekaan hati kita untuk bisa merasakan dan mengalaminya. Kadang, di dunia ini, ada beberapa emosi yang sulit dijelaskan. Yah, itu seperti kata si Kenalan tentang salah satu naskahku tersebut. Dia bilang, ada tangisan gadis kecil. Lalu, kata teman-temanku tentang "Amoreureka". Terakhir, yang sebelum terbit, ada banyak acungan jempol di dalam naskah "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh". 

Mungkin ada gunanya Tuhan menciptakan hal-hal seperti itu. Seperti, salah satunya: saat pikiran kita tengah kacau, kita seolah diminta untuk berdiam diri dan berintrospeksi diri. Di saat seperti itulah, kita bisa merasakan hal-hal yang kuceritakan di atas, yang tak jarang bisa malah makin menyemangati kita secara misterius. 

Aneh? Banget!







Comments