#misiterakhirrafael = Ratatouille (?) - PART 2

















Entah kenapa bagian blurb dari "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" begitu kuat sekali menempel di benak beberapa orang. Aku jadi teringat dengan kunjungan ke rumah salah seorang sanak saudara. Mungkin karena bagian blurb ini, kesan horor yang menyeruak di pikiran tiap calon pembaca. 

Well, honestly, novel ini bukan novel horor, yang tak ada maksud negatif (lebih mirip novel "Seoulmate"-nya Lia Indra Andriana yang hantu-hantuan, padahal romance loh!). 85% romance (yang sebetulnya aku mau bilang 99% romance; bagian 1% yang dipermasalahkan tersebut hanyalah bumbu penyedap). Juga, di dalam novel ini tidak ada kata-kata tidak senonoh (adegan ranjang sama sekali tidak ada di dalam novelnya). Apalagi, yang katanya sih, muatannya negatif. Lalu, tentang penggunaan judulnya. Itu dipilihkan langsung oleh penerbitku (yang aku percaya, judul itulah yang paling tepat dari segi ceritanya tanpa ada niat provokatif sama sekali). Aku tidak dilibatkan sama sekali. Beberapa bagian mereka ubah,--yang jujur, aku suka sekali dengan hasil suntingan mereka. Buatku secara pribadi, itu menyebabkan "Dèjá vu" (nama lama #misiterakhirrafael) menjadi lebih hidup dan..... catchy

Novel ini sendiri tentang apa, silahkan klik label #misiterakhirrafael ya. Aku lumayan sering bercerita novel ini tentang apa. Yup, novel ini tentang kisah cinta Gabriel dan Mikha. Sejak bab awal hingga bab akhir, ceritanya berputar dari mereka seringnya. Yang dimulai dengan cerita tentang bagaimana Gabriel bertemu dengan Mikha (yang awalnya Mikha percaya tak percaya bahwa Gabriel itu adik kembar dari Rafael). Lalu, Gabriel mendapatkan semacam wangsit untuk menjagai Mikha dari kakaknya langsung. Sampai akhirnya, Gabriel menembak Mikha,..... selanjutnya mereka resmi berpacaran. 

Biar lebih meyakinkan, walau tahun lalu (yang lewat vlog), aku pernah menunjukannya, akan kutunjukan juga sinopsis paling awal dari "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh". Check it out!

Bagian ini pernah kusodorkan ke suatu divisi di penerbit lainnya.







Bagian pertama dari sinopsis awal "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh".








Bagian kedua dari sinopsis awal "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh".






Last but not least, itulah sedikit klarifikasi aku tentang "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh". Lagi dan lagi. Jikalau sehabis post ini ter-publish, masih terdengar isu tak sedap, aku angkat tangan. Pasrah saja sudah. Yang jelas, novel tentang kisah cinta Gabriel dan Mikha ini tak ada niat negatif sama sekali. 100% bermuatan positif. Bagian "bertemu di alam mimpi" (seperti yang berada di bagian blurb--salah satunya) itu hanya bumbu penyedap saja. Beberapa bagian tersebut, jikalau mau dihilangkan (lalu diganti dengan yang lainnya), bisa banget sekali. Tidak mempengaruhi alur ceritanya, kurasa. Aku rasa juga, sebelum novel berlatar coklat itu muncul, sudah ada beberapa novel (yang apalagi romance) yang menggunakan bumbu seperti itu, yang dijual di beberapa toko buku. Lupa apa judulnya, tapi aku pernah lihat beberapa kisah dan/atau tema seperti itu di toko buku. Bahkan sejak kecil (yang dihabiskan di era 90-an), aku sudah menemui yang seperti itu. Ya, itu kalau aku tak salah ingat. Hehe.












Sudah ah, segitu saja sedikit penjelasan dari aku. Haha. Benar-benar, deh, novelku yang satu ini mengingatkanku dengan film animasi "Ratatouille" (baca #misiterakhirrafael = Ratatouille). Karena kesan seekor tikus di dapur yang sudah menyeruak lebih dahulu, si tikus yang jenius dalam hal memasak itu pun sempat terhambat. Beberapa teman dari teman manusia si tikus menjauh gara-gara mengetahui bahwa si pria manusia itu bekerja sama dengan seekor tikus dalam hal menyiapkan masakan. Mungkin seperti itulah segala kesan yang tak enak dari "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh", yang terhalang oleh segala stigma (atau mitos kali ya?!) yang sudah muncul lebih dulu.

And then, happy new year, Guys!

Salam damai! 😁✌







Comments