[BEFORE-AFTER] Tantangan Menghabiskan Ketoprak untuk Dua Orang

















Seporsi ketoprak, di daerahku, harganya itu Rp 7000. Lalu, aku bayar Rp 20.000 untuk dua porsi.

Anyway, tentang ketoprak sendiri, sekitar tahun 2011, ada seorang wanita penulis bertandang ke IMMANUEL'S NOTES. Dia berkomentar di salah satu post yang sudah kuhapus (aku merasa harus menghapus beberapa post dengan alasan sekuritas). Post itu tentang ketoprak. Lalu, si wanita penulis itu mengutarakan kekurang-sukaannya, karena porsi ketoprak yang luar biasa banyak. Dia kurang suka makan ketoprak, karena alasan porsi.

Yah, penganan tradisional bernama ketoprak (atau ada yang menyebutnya kupat tahu) memang begitu. Porsinya luar biasa banyak. Saking banyaknya, kenyang yang diberikan ketoprak itu bisa awet sampai enam jam lebih. Sebab, ada tahu, lontong, tauge, bihun putih, dan bumbu kacangnya (yang ada juga yang menambahkan beberapa topping seperti telur rebus) yang membuat kita harus benar-benar mengosongkan perut untuk bisa menyantapnya dengan nyaman. Maksudku, menghindari kita dari sangat kekenyangan, yang berbuntut dengan sakit perut. 

Satu porsi saja sudah seperti itu. Apalagi jika kita makan untuk porsi dua orang. Nah, karena tengah kelaparan berat, aku beli ketoprak dengan porsi untuk dua orang, walau sebetulnya memang lagi pengin juga, sih. Haha. Eh, jangan salah yah, foto di atas--yang bagian before, memang terlihat sedikit. Itu mungkin karena wadahnya agak kecil. Alhasil, terlihat sedikit. Aslinya, ketoprak yang aku makan itu memang tiga kali lebih banyak dari yang biasa aku makan. Kemudian, awalnya sempat ragu apa bisa aku menghabiskannya. Sebab, pernah kejadian, buntutnya aku menyisakan makanan yang lalu berakhir di tong sampah (jangan ditiru!). 

Pada akhirnya, ketoprak senilai Rp 20.000 dengan porsi untuk dua orang itu bisa kumakan dalam durasi kurang dari 60 menit. Tiga puluh menit juga tidak sampai. Dan, habis. Seperti pada bagian after, tak ada yang tersisa saat kutaruh di bak cuci piring. Aku kekenyangan sekali, yang beberapa menit kemudian, perutku melilit.

Last but not least, something I want to tell: just do it, if you feel that it must be. We will never know what it will be like, if we don't do and finish it.


* Tulisan ini terinspirasi dari salah seorang teman SD, Fernando.






Comments