Sometimes We Just Enjoy the Moment without a Camera



















Foto di atas memang pada saat aku bersama Alvin, Ucha, dan Daniel ke Ancol sehabis mengikuti kelas Hukum Pidana di jam 7 pagi, hari jumat. Tadinya, aku yang disuruh pose di atas panggung. Namun, karena keragu-raguanku, dan biar aku berani juga, Daniel langsung gerak cepat ke atas panggung layaknya seorang rocker. Kebetulan, just for your information, Daniel memang anak band.

Tahun berikutnya, di 2009. Lagi-lagi sehabis mengikuti sebuah kelas (lupa kuliah apa), aku diajak orang-orang yang sama untuk mendatangi sebuah studio band yang berada di daerah Benhil (baca: Bendungan Hilir). Studionya kecil, namun sangat berkesan. Yah, mungkin karena pengalaman pertama. Pengalaman pertama aku menyentuh beberapa alat di sana. Aku sempat diajari Daniel dan Ucha, cara bermain bas dan gitar. Fega juga ikut andil mengajariku main drum setelah beberapa kali melihatku sangat terkesan dengan aksi bermain drumnya yang menurutku keren sekali. Sementara Alvin, aku lupa dia berbuat apa saat itu. Haha. Yang jelas, wow, I got the fabulous experience!!!!! Pulangnya, Fega malah naik bemo dan meninggalkan aku dan ketiga temanku yang lainnya, yang mulai meradang. 















Foto berikutnya, aku save dari Facebook seorang kawan. Aku save bukan hanya untuk dokumentasi pribadi saja, namun juga karena tempatnya itu. Tempatnya sangat penuh memori.

Dulu, di lantai 5 Plaza Semanggi, ada arena bilyar begitu. Bayarannya tidak terlalu mahal. Saat itu, dengan patungan bareng Ucha dan Daniel, aku sudah bisa merasakan memegang stik bilyar untuk kali pertama. Oh iya, fotonya (yang di atas, yang foto kedua) juga terjadi belakangan (lagian foto teman juga, haha). Kejadian sebenarnya terjadi saat semester pertama di tahun 2007. Sembari menunggu kelas, salah satu dari Daniel dan Ucha (lupa yang mana) berinisiatif untuk bermain bilyar. Aku diajak. Yah, karena penasaran seperti apa bermain bilyar itu, aku ikut saja. Ada kali sekitar satu jam kami bermain. Pokoknya sangat seru sekali. Salah satunya, saat aku diajari cara memegangnya oleh Daniel. Beberapa kali giliranku, Daniel dan Ucha sempat cekikikan tak jelas melihat caraku bermain. Hahaha. Ya, namanya first experience, Mas Bro sekalian! 













Entah masih ada atau tidak sekarang-sekarang ini, foto di atas merupakan foto penampilan depan Pasar Benhil. Di lantai dua, ini terjadi sekitar tahun 2015 kemarin, masih ada satu-dua salonnya. Lima tahun sebelumnya, ada cukup banyak, tuh, salon plus-plus di sana. Haha.

Ceritanya bermula saat aku ikut kepanitiaan untuk menyambut para mahasiswa baru di ospek fakultas (yang aku melakukannya demi lulus kuliah tepat waktu). Lalu, ketua seksi di mana aku bernaung, sebut saja Seli, menyuruh aku untuk beli bahan-bahan untuk acara ospeknya di Pasar Benhil. Saat ke sana, aku sempat kelabakan mencari tempatnya. Hingga, nyasarlah aku hingga lantai dua dari Pasar Benhil tersebut. Kaget aku. Banyak salon, banyak 'mbak-mbak' setengah montok. Mereka sangat agresif sekali dalam mendekatiku. Satu-dua kapster menggodaku seperti ini: "Bang, yuk, Bang, aku keramasin yah, Bang," Untungnya aku tahan iman sambil beberapa kali menolak. Langsung aku tergesa-gesa turun dan mendapatkan toko yang tepat. Tapi, dari arah tangga, aku sempat menoleh ke belakang dan melihat ada juga satu-dua kapster yang lumayan (yang ini abaikan). 

 












Well, pada saat kejadian, memang aku sudah memegang handphone berkamera (Handphone aku saat itu Sony Ericsson K660i). Namun justru aku lupa mengabadikannya dalam kamera handphone. Mungkin terlalu asyik dengan suasana kejadiannya. Atau mungkin terlalu malu dan gengsi untuk selfie-selfie di tempat kejadian. Yang jelas, percaya atau tidak, aku menceritakan pengalamanku yang sesungguhnya, walau tanpa bukti foto di tempat kejadian. Semua foto yang berada di post ini (kecuali foto paling atas) hanya ilustrasi saja dari kejadian-kejadian yang aku ceritakan. Yah, aku mah begitu. Banyak pengalaman asoy, eh lupa foto-foto. Haha.

Lagipula, tak selamanya setiap momen yang kita alami harus diabadikan dalam bentuk sebuah gambar foto. Ada kalanya, karena beberapa alasan khusus, kamera (yang bisa kamera apa saja)-nya kita singkirkan terlebih dahulu. Oh iya, jadi ingat cerita seorang bloger yang supaya acara kopdar (baca: kopi darat) lebih terasa, tiap peserta kopdar diminta untuk meminggirkan dahulu handphone kepunyaan masing-masing.







Comments

  1. Memang mengabadikan momen sebaiknya seperlunya saja. kalo terlalu ambisi untuk mengambil momen di setiap detik, malah jadi gak menikmati momen. kecuali kamu sie dokumentasi. hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^