I 💙 Bahasa Belanda !














"I little recognize the meaning of the first sentence. It means, "These places is built since 1968 to 1742 (maybe, I guess, that's the Museum of Fatahillah). Hopefully I  won't get wrong. Even I used to learn Dutch little." - @nuellubis



Foto di atas itu saat aku tengah jalan-jalan ke Kota Tua, yang katanya terkenal agak angker (sampai ada sepupu yang bilang, "Wuih, hebat juga lu, Bang, ke sana sendirian aja!"). Kalau tak salah, itu di Museum Wayang, yang berada di seberang Museum Fatahillah. 

Hmmm.....

Anyway, bisa baca, kan, tulisan yang ada di foto? Itu tertulis dalam bahasa Belanda (bahasa Belanda saat itu). Nah, saat aku pertama ke sana di sekitar April 2015, aku sempat agak terkesima. Lama aku terdiam. Sebab, dalam hati aku spontan baca tulisan bahasa Belanda. Satu-dua kata seperti tahu artinya. Salah satunya, yang pasti itu 'nieuwe' yang artinya 'baru'. Sisanya, fifty-fifty. Lantas, aku menebak-nebak apa artinya. Ya, itu seperti ikut kuis iseng-iseng berhadiah (dengan hadiah piring cantik). 

Sesampai di rumah, yang sekitar jam 2 siang, aku coba lihat artinya di kamus Belanda-Indonesia (di rumah, di rak aku, ada beberapa kamus bahasa asing, mulai dari Mandarin, Jepang, Jerman, Italia, Spanyol, Batak sampai bahasa kalbu juga ada). Eh ternyata, very surprisingly, hampir benar dugaanku. Hanya salah sedikit.

Haha. Kocak ya? Bisa benar begitu. Hampir 85% keakuratannya. Tentang bahasa Belanda itu sendiri, aku sejak kecil memang begitu. Aku merasa dekat dengan bahasanya. Kalau lihat teksnya, sedikit-sedikit aku paham artinya. Tapi jangan ajak aku ngobrol, kacau kalian itu. Haha. 

Haha. Well, that's me. Aku kurang paham kenapa bisa agak mengerti bahasa Belanda. Kemudian, itu berlanjut dengan minat yang makin menjadi-jadi ke bahasa Belanda. Saat mau lulus SMA, you know what, aku sempat mau ambil Sastra Belanda. Aku seperti tertarik saja ingin mempelajari bahasa dan kebudayaannya lebih lanjut. Pada akhirnya, mentok-mentok aku kuliah di fakultas Hukum. Aku sangat bersyukur bisa berkuliah di FH Atmajaya, Jakarta. Sebab kenapa? Ada satu-dua dosen suka terselubung mengajariku bahasa dan budaya Belanda. Salah satunya, Ibu Wienarsih (dosen Pengantar Hukum Indonesia). 

Oh iya, kenapa ya aku bisa sebegitunya ke Bahasa Belanda? Dulu, aku sempat tonton drama Filipina begitu. Ada adegan di mana diberitahukan bahwa mungkin yang bersangkutan memiliki darahnya. Biasanya kalau spontan begitu, ada dorongan dari alam bawah sadarnya. Haha. Apa mungkin ada darah Belanda ya aku ini? Well, I can't answer it. Let God (by the time) will answer it.

Yang jelas, selain bahasa Batak dan Cina Pasar (Hokkien, bukan, ya?) yang paham sedikit-sedikit, sejak kecil aku memang (sepertinya) agak paham dengan bahasa Belanda. Selain tiga bahasa tersebut, saat masih SD, aku sempat tergugah untuk belajar bahasa Perancis (yang Perancis merupakan satu dari tiga negara yang sangat ingin kukunjungi).







Comments