SERIAL CINTA & MISTERI: Mak Comblang (1)







Genre: Misteri, Romance







Bagian pertama: Bloody Rose
Bagian kedua: Makhluk-Makhluk Banua Toru
Bagian ketiga: Tuhan Berencana, Manusia Berencana Pula
Bagian keempat: Bayangan Sosok Masa Depan
Bagian kelima: Serangan & Gangguan
Bagian keenam: Black Star
Bagian ketujuh: Ketika Roh-ku Bermain-main
Bagian kedelapan: Santet & Jampi-Jampi
Bagian kesembilan: 
Hunter
Bagian kesepuluh: Mimpi & Penglihatan
Bagian kesebelas: Porsea
Bagian kedua belas: Rekayasa Dunia, Realita Buatan
Bagian ketiga belas: Fasik (1)
Bagian keempat belas: Fasik (2)
Bagian kelima belas: Pengalihan Isu
Bagian keenam belas: Van Weiderveld (1)
Bagian ketujuh belas: Efek Samping
Bagian kedelapan belas: Van Weiderveld (2)
Bagian kesembilan belas: Manipulasi (1)
Bagian kedua puluh: Manipulasi (2)

Bagian kedua puluh satu: Manipulasi (3)
Bagian kedua puluh dua: Serangan Mimpi Buruk
Bagian kedua puluh tiga: Van Weiderveld (3)
Bagian kedua puluh empat: Van Weiderveld (4)

Bagian kedua puluh lima: Trik Jaman Baheula
Bagian kedua puluh enam: Napas Allah
Bagian kedua puluh tujuh: Tuduhan & Penyesatan
Bagian kedua puluh delapan: Permainan Alam Lain (1)
Bagian kedua puluh sembilan: Permainan Alam Lain (2)
Bagian ketiga puluh: Permainan Alam Lain (3)
Bagian ketiga puluh satu: Permainan Alam Lain (4)
Bagian ketiga puluh dua: Para Pengganggu Alam Semesta
Bagian ketiga puluh tiga: Half-Blood (Berdarah Campuran)
Bagian ketiga puluh empat: Campur Tangan Allah
Bagian ketiga puluh lima: Van Weiderveld (5)
Bagian ketiga puluh tujuh: Novena & Rosario
Bagian ketiga puluh delapan: Ilusi Optik
Bagian ketiga puluh sembilan: Exorcism
Bagian keempat puluh: Asaji
Bagian keempat puluh satu: Doa dan/atau Mantra
Bagian keempat puluh dua: 6 Orders 6 Freimaurers 6 Ordos
Bagian keempat puluh tiga: Horcrux (Horrible Crucifix) 
Bagian keempat puluh empat: Noblesse Oblige
Bagian keempat puluh lima: Hades
Bagian keempat puluh enam: Teror Para Siluman Mimpi

Seperti Sudah Diatur Allah







** Cerita ini pun terinspirasi dan aku dedikasikan untukmu, Shania **













Rut 2:1-23
Naomi itu mempunyai seorang sanak dari pihak suaminya, seorang yang kaya raya dari kaum Elimelekh, namanya Boas.
Maka Rut, perempuan Moab itu, berkata kepada Naomi: "Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku." Dan sahut Naomi kepadanya: "Pergilah, anakku."
Pergilah ia, lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh.
Lalu datanglah Boas dari Betlehem. Ia berkata kepada penyabit-penyabit itu: "TUHAN kiranya menyertai kamu." Jawab mereka kepadanya: "TUHAN kiranya memberkati tuan!"
Lalu kata Boas kepada bujangnya yang mengawasi penyabit-penyabit itu: "Dari manakah perempuan ini?"
Bujang yang mengawasi penyabit-penyabit itu menjawab: "Dia adalah seorang perempuan Moab, dia pulang bersama-sama dengan Naomi dari daerah Moab.
Tadi ia berkata: Izinkanlah kiranya aku memungut dan mengumpulkan jelai dari antara berkas-berkas jelai ini di belakang penyabit-penyabit. Begitulah ia datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketika pun ia tidak berhenti."
Sesudah itu berkatalah Boas kepada Rut: "Dengarlah dahulu, anakku! Tidak usah engkau pergi memungut jelai ke ladang lain dan tidak usah juga engkau pergi dari sini, tetapi tetaplah dekat pengerja-pengerjaku perempuan.
Lihat saja ke ladang yang sedang disabit orang itu. Ikutilah perempuan-perempuan itu dari belakang. Sebab aku telah memesankan kepada pengerja-pengerja lelaki jangan mengganggu engkau. Jika engkau haus, pergilah ke tempayan-tempayan dan minumlah air yang dicedok oleh pengerja-pengerja itu."
Lalu sujudlah Rut menyembah dengan mukanya sampai ke tanah dan berkata kepadanya: "Mengapakah aku mendapat belas kasihan dari padamu, sehingga tuan memperhatikan aku, padahal aku ini seorang asing?"
Boas menjawab: "Telah dikabarkan orang kepadaku dengan lengkap segala sesuatu yang engkau lakukan kepada mertuamu sesudah suamimu mati, dan bagaimana engkau meninggalkan ibu bapamu dan tanah kelahiranmu serta pergi kepada suatu bangsa yang dahulu tidak engkau kenal.
TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung."
Kemudian berkatalah Rut: "Memang aku mendapat belas kasihan dari padamu, ya tuanku, sebab tuan telah menghiburkan aku dan telah menenangkan hati hambamu ini, walaupun aku tidak sama seperti salah seorang hamba-hambamu perempuan."
Ketika sudah waktu makan, berkatalah Boas kepadanya: "Datanglah ke mari, makanlah roti ini dan celupkanlah suapmu ke dalam cuka ini." Lalu duduklah ia di sisi penyabit-penyabit itu, dan Boas mengunjukkan bertih gandum kepadanya; makanlah Rut sampai kenyang, bahkan ada sisanya.
Setelah ia bangun untuk memungut pula, maka Boas memerintahkan kepada pengerja-pengerjanya: "Dari antara berkas-berkas itu pun ia boleh memungut, janganlah ia diganggu;
bahkan haruslah kamu dengan sengaja menarik sedikit-sedikit dari onggokan jelai itu untuk dia dan meninggalkannya, supaya dipungutnya; janganlah berlaku kasar terhadap dia."
Maka ia memungut di ladang sampai petang; lalu ia mengirik yang dipungutnya itu, dan ada kira-kira seefa jelai banyaknya.
Diangkatnyalah itu, lalu masuklah ia ke kota. Ketika mertuanya melihat apa yang dipungutnya itu, dan ketika dikeluarkannya dan diberikannya kepada mertuanya sisa yang ada setelah kenyang itu,
maka berkatalah mertuanya kepadanya: "Di mana engkau memungut dan di mana engkau bekerja hari ini? Diberkatilah kiranya orang yang telah memperhatikan engkau itu!" Lalu diceritakannyalah kepada mertuanya itu pada siapa ia bekerja, katanya: "Nama orang pada siapa aku bekerja hari ini ialah Boas."
Sesudah itu berkatalah Naomi kepada menantunya: "Diberkatilah kiranya orang itu oleh TUHAN yang rela mengaruniakan kasih setia-Nya kepada orang-orang yang hidup dan yang mati." Lagi kata Naomi kepadanya: "Orang itu kaum kerabat kita, dialah salah seorang yang wajib menebus kita."
Lalu kata Rut, perempuan Moab itu: "Lagipula ia berkata kepadaku: Tetaplah dekat pengerja-pengerjaku sampai mereka menyelesaikan seluruh penyabitan ladangku."
Lalu berkatalah Naomi kepada Rut, menantunya itu: "Ya anakku, sebaiknya engkau keluar bersama-sama dengan pengerja-pengerjanya perempuan, supaya engkau jangan disusahi orang di ladang lain."
Demikianlah Rut tetap dekat pada pengerja-pengerja perempuan Boas untuk memungut, sampai musim menuai jelai dan musim menuai gandum telah berakhir. Dan selama itu ia tinggal pada mertuanya.

Sebelum tidur, Sylvie menyempatkan diri untuk baca kitab suci sebelum berdoa malam. Lagi-lagi, nats yang dibacanya itu dipilih secara acak. Tanpa perencanaan. Lalu, di bagian kata-kata Naomi itu, Sylvie tersentak. Bagaimana tidak, ceritanya begitu mirip dengan apa yang dia alami hari ini.

Hari ini, Sylvie berjumpa kembali dengan pujaan hatinya. Bagaikan kisah Rut yang dipertemukan Boas lewat peran orang ketiga, begitulah bagaimana Sylvie bertemu kembali (untuk memuaskan rasa rindu yang begitu besar) dengan Maruap. Adalah Theresia, salah satu sepupu jauh Sylvie yang menjadi juruselamatnya. 

Sudah sejak lama sekali, beberapa sepupu Sylvie coba mencari tahu tentang keberadaan Sylvie. Tentunya mereka tidak seperti anggota keluarga Van Weiderveld yang dalam tanda kutip. Mereka bersih. Jauh pula dari sikap menduakan, menghambakan, apalagi menyelingkuhi Allah. Mereka mencari Sylvie dengan niat baik; bukannya untuk memisahkan Sylvie dengan Maruap. Sebab di lubuk hati terdalam mereka, khususnya Theresia, mereka percaya Sylvie dan Maruap memang sudah dipersatukan oleh Allah, bahkan semenjak keduanya masih berada dalam rahim ibu mereka masing-masing. Bagaikan ada sebuah benang merah khusus  tak kelihatan yang menghubungkan antara Sylvie dan Maruap saja. 

Subuhnya, Sylvie dikagetkan oleh suara ketukan pintu. Saat dibuka, ternyata ada Theresia De Boer. Theresia ini merupakan anak dari salah satu sepupu ibundanya Sylvie, Rita (yang mana sebelum menikah dengan Robert, bermarga De Boer). Tadinya Sylvie agak ketakutan. Sebab awalnya Sylvie mengira bahwa Theresia ingin membawanya pulang ke rumahnya yang bagaikan istana di tengah hutan. Namun setelah menjelaskan berkali-kali dengan mulut berbusa-busa (juga dibantu oleh kedua temannya, Karina dan Gouw), Sylvie percaya bahwa Theresia ini datang dengan penuh damai sejahtera, tanpa adanya pengaruh dari Pak Robert. Bahkan Theresia bilang, dirinya mengetahui keberadaan Maruap. Dan, bahwa Maruap sangat merindukan dan mengkhawatirkan Sylvie. 

Sylvie kaget, meski awalnya tak percaya. Namun setelah diyakinkan berkali-kali, Sylvie percaya dan mau mengikuti Theresia untuk menemui Maruap. Tentunya dengan diam-diam. 

Sesampainya Sylvie di tempat persembunyian Maruap, mata Sylvie sangat berkaca-kaca  melihat Maruap yang tengah beternak babi. Perlahan-lahan didekatilah Maruap. Sylvie menyapa, Maruap menengok. Mereka langsung bersitatap dan berpelukan. Spontan Maruap mencium mesra bibir mungil Sylvie sembari berkata, "Aku sangat merindukanmu, Sylvie. Sampai sekarang pun aku masih tetap mencintaimu, walau ayahku coba mengenalkanku dengan perempuan lain. Aku akan selalu mencintaimu mau bagaimanapun orang-orang bajingan ini coba memisahkan kita berdua dengan cara-cara setan mereka."

Ujar Sylvie, "Aku pun sama,"

*****

Sebetulnya dikatakan ikhlas, tidak juga. Dalam hatinya, Theresia ini memiliki satu maksud tersendiri. Ternyata usut punya usut, Theresia naksir dengan anak dari pelayan di rumah keluarga Hinsa. Nama anak itu Utomo, seorang berdarah Jawa-Melayu-Menado.

Sebelum mempertemukan Sylvie dengan Maruap, tanpa sengaja Theresia berjumpa dengan Maruap yang tengah ditemani oleh Utomo di sebuah pasar ikan yang ada di pesisir Sumatera. Maruap dan Utomo tengah sibuk membantu Tulang Hinsa berjualan ikan di sana. Di pasar itu, lumayan banyak ditemukan para pedagang Eropa. Tak hanya dari Belanda, namun ada pula dari Inggris, Spanyol, Portugis, hingga Turki.

Tiba-tiba saja jantung Theresia berdegup kencang. Tadinya Theresia mengira mungkin saja dirinya mendadak menyukai Maruap. Bagaimanapun Maruap bertubuh besar, gagah, dan perkasa. Namun perlahan saat dirinya beringsut langsung, terutama saat berjabat tangan dengan Utomo, Theresia makin berdebar-debar. Pikir Theresia, ah mungkin karena lelaki pesolek ini aku jadi sangat berdebar, apa maksudnya, diakah orangnya?

Kejadian sewaktu di pasar itu, juga saat berada di rumah Tulang Hinsa, masih terus terngiang-ngiang di kepala Theresia. Terlebih Theresia sulit mengikis bayangan wajah Utomo yang sangat pesolek dan berpipi pipih. Begitu pulang, Theresia langsung menceritakannya kepada Sylvie.

Sylvie sontak terbahak dan berseloroh, "Yang benar? Kamu menyukai Utomo itu? Dia hanya anak pelayan, loh. Kamu serius naksir dia? Bukankah tipe lelaki kamu itu yang sangat berkelas? Lagipula, yang aku lihat, Utomo ini juga tipe pria yang sedikit bajingan. Hati-hati kamu dalam menghadapi pria semodel Utomo ini."

"Aku serius, Sylvie. Beberapa kali aku berada di dekatnya, jantungku terus menerus berdetak kencang tak karuan." kata Theresia bersungut-sungut.

Sylvie berhenti terbahak dan nyengir. Ia menekuri sebentar paras Theresia yang tak kelihatan tengah bercanda. Lalu, Sylvie berkata, "Mungkin Utomo itulah orangnya. Kalau kamu sudah sangat yakin, perjuangkanlah!"






Bersambung.....
Terilhami dari kisah nyata. Terhidayahkan dari Allah langsung.

Comments