SERIAL CINTA & MISTERI: Human Special Radar from God







Genre: Misteri, Romance







Bagian pertama: Bloody Rose
Bagian kedua: Makhluk-Makhluk Banua Toru
Bagian ketiga: Tuhan Berencana, Manusia Berencana Pula
Bagian keempat: Bayangan Sosok Masa Depan
Bagian kelima: Serangan & Gangguan
Bagian keenam: Black Star
Bagian ketujuh: Ketika Roh-ku Bermain-main
Bagian kedelapan: Santet & Jampi-Jampi
Bagian kesembilan: 
Hunter
Bagian kesepuluh: Mimpi & Penglihatan
Bagian kesebelas: Porsea
Bagian kedua belas: Rekayasa Dunia, Realita Buatan
Bagian ketiga belas: Fasik (1)
Bagian keempat belas: Fasik (2)
Bagian kelima belas: Pengalihan Isu
Bagian keenam belas: Van Weiderveld (1)
Bagian ketujuh belas: Efek Samping
Bagian kedelapan belas: Van Weiderveld (2)
Bagian kesembilan belas: Manipulasi (1)
Bagian kedua puluh: Manipulasi (2)

Bagian kedua puluh satu: Manipulasi (3)
Bagian kedua puluh dua: Serangan Mimpi Buruk
Bagian kedua puluh tiga: Van Weiderveld (3)
Bagian kedua puluh empat: Van Weiderveld (4)

Bagian kedua puluh lima: Trik Jaman Baheula
Bagian kedua puluh enam: Napas Allah
Bagian kedua puluh tujuh: Tuduhan & Penyesatan
Bagian kedua puluh delapan: Permainan Alam Lain (1)
Bagian kedua puluh sembilan: Permainan Alam Lain (2)
Bagian ketiga puluh: Permainan Alam Lain (3)
Bagian ketiga puluh satu: Permainan Alam Lain (4)
Bagian ketiga puluh dua: Para Pengganggu Alam Semesta
Bagian ketiga puluh tiga: Half-Blood (Berdarah Campuran)
Bagian ketiga puluh empat: Campur Tangan Allah
Bagian ketiga puluh lima: Van Weiderveld (5)
Bagian ketiga puluh tujuh: Novena & Rosario
Bagian ketiga puluh delapan: Ilusi Optik
Bagian ketiga puluh sembilan: Exorcism
Bagian keempat puluh: Asaji
Bagian keempat puluh satu: Doa dan/atau Mantra
Bagian keempat puluh dua: 6 Orders 6 Freimaurers 6 Ordos
Bagian keempat puluh tiga: Horcrux (Horrible Crucifix) 
Bagian keempat puluh empat: Noblesse Oblige
Bagian keempat puluh lima: Hades
Bagian keempat puluh enam: Teror Para Siluman Mimpi
Bagian keempat puluh tujuh: Mak Comblang (1)
Bagian keempat puluh delapan: Mak Comblang (2)
Bagian keempat puluh sembilan: Mak Comblang (3)

Seperti Sudah Diatur Allah







** Cerita ini pun terinspirasi dan aku dedikasikan untukmu, Shania **






Bakal calon kaver "Lentera Rohani: Sapaan Kasih dari Cipinang" (2017).










Jakarta, 2015-2016

Ini sebuah kisah yang terjadi di sebuah kota. Cerita tentang sepasang kekasih yang dipersadarkan, dipersatukan, dan dipertemukan oleh Sang Pencipta dengan jalan yang sangat tak biasa. Kalian bisa menyebutnya horor. Karena memang terasa menyeramkan untuk yang tak terbiasa mendengarnya. Untuk yang terbiasa, kisah ini bak sebuah fairy's tale.

Mereka berbeda usia sepuluh tahun. Yah aku tahu, cukup lebar jarak usianya. Namun kalau Sang Pencipta sudah berkehendak, jarak seperti itu, apalah artinya. Mereka memang berbeda. Dimulai dari beda generasi hingga beda-beda lainnya. Namun kalau kalian memiliki pengamatan yang jeli, akan ketahuan jika keduanya memang berjodoh. Dari bentuk wajahnya saja sudah sama. Juga tanggal dan bulan lahir keduanya, yang berdempetan angka-angkanya (yang pria lahir 26 November 1988, yang wanita pada 27 Desember 1998).  Karakter keduanya pun hampir sama jika ditelisik baik-baik. Baik pria maupun wanitanya, mereka sama-sama cenderung baik ke semua orang, ceroboh, suka bertindak gegabah, hingga kecenderungan keduanya yang sulit menghindar dari orang-orang yang akan menjatuhkan dan menyesatkan mereka berdua.

Awalnya sang pria sama sekali masa bodoh dengan yang namanya cinta. Dia lebih mengutamakan yang namanya persahabatan dan mimpi-mimpinya (yang semuanya lahir karena sering dianggap-remeh orang lain). Pria ini tipe pemuda yang ulet dan pekerja keras. Dia juga tipe yang selalu ingat Sang Pencipta. Walau kurang begitu religius, ibadahnya masih suka bolong-bolong, serta sering keluar di tengah-tengah kebaktian, setidaknya saat Sang Pencipta datang memanggilnya, dia patuh. Dia sangat percaya panggilan hati nurani itu datangnya dari Sang Pencipta. Alhasil, karena pandangan yang seperti itulah, dia berbuat nekat selepas lulus kuliah, yang menyebabkan dia sering bertengkar dengan almarhumah ibundanya yang sangat dicintainya. Mungkin kebiasaan ibadah yang buruk dan keyakinan pada hati nurani yang berasal dari Sang Pencipta itulah yang mendorong dirinya menjadi pribadi yang naif. Orang-orang sekitar banyak yang membohonginya. Tak terkecuali dari keluarganya sendiri. Hingga suatu kali, wanita yang dicintainya itu melecehkan prinsipnya.

Bagaimana bisa seperti itu? Pria itu, wanita itu, mereka sudah saling mengenal selama satu tahun sembilan bulan. Nyaris dua tahun hubungan unik itu berlangsung.

Usut punya usut, semuanya terjadi karena wanitanya sendiri. Dia seorang wanita yang lebih tidak religius dari prianya. Kurang begitu mempercayai bahwa cara prianya sadar akan keberadaannya itu murni karena campur tangan Sang Pencipta. Saat prianya datang menyapanya di sebuah aplikasi messenger, wanita itu seenaknya mempermainkannya. Si pria tak menyerah, dan terus menyapa wanita itu. Wanita itu hanya menganggap segala sapaannya sebagai angin lalu. Malah seenaknya wanita itu menganggap pria itu mengetahui akun pribadinya dengan cara-cara 'khusus' (padahal sang wanita yang mendatangi prianya secara roh). Buat kalian penggemar hal-hal tak kasatmata, pasti tahu maksudku.

Kenyataannya, si wanita salah total. Si pria malah tidak tahu apa-apa soal yang dimaksud oleh si wanita. Yang pria itu tahu, pria itu hanya seenaknya saja melakukan pencarian dengan kata kunci tertentu di sebuah messenger. Hanya itu. Lagipula pria itu pria polos, kan. Pria itu begitu yakin semua yang berhubungan dengan wanitanya karena kehendak Sang Pencipta. Tanpa pernah menyadari bahwa banyak hal yang tidak pernah diketahui pria itu hingga usianya yang kedua puluh lima tahun. Pria itu bahkan tidak tahu soal rahasia alam semesta, masalah alam sadar-alam bawah sadar, dan mrogo sukmo. Pria itu juga tidak tahu jika yang namanya mimpi, penglihatan, maupun pertanda itu bisa diciptakan oleh manusia. Beda dengan si wanita yang sudah terbiasa dengan semua hal tersebut. Oleh karena itulah, si wanita seenaknya 'memantau' kehidupan si pria di saat si pria tidak bisa melakukannya. Sampai di situ, saya merasa kasihan dengan si pria polos tersebut. Wanitanya sangat egois. Dia sungguh tak pernah membiarkan kehidupannya diketahui si pria, termasuk masa lalu si wanita.

Namun begitu anggapan saya awalnya. Hingga saya akhirnya bisa mengetahui bahwa wanitanya juga awalnya sudah buka diri selebar-lebarnya soal siapa dirinya. Sang wanita tahu prianya memantau hidupnya lewat segala akunnya. Makanya si wanita sesekali membuka diri jika memang dialah yang selama ini terus menempel si pria dua puluh empat jam nonstop; dan setia mendatangi si pria dalam mimpi.

Hanya saja si pria--karena kurang begitu mengetahui soal hal-hal tersebut--kurang yakin dan terus minta diyakini Sang Pencipta apakah wanita itu orangnya. Dia terus minta diyakinkan apakah wanita itu memang mencintainya, di saat wanita itu terus menerus menunjukan rasa cintanya, juga buka diri selebar-lebarnya. Begitu terus hingga akhirnya satu alam semesta mengetahui hubungan unik mereka berdua. Apalagi setelah kepergian ibunya, pria itu seperti liar. Dia berani ke sana ke mari menceritakan segala keluhannya tentang seorang wanita aneh yang mendekatinya dengan cara aneh pula. Keputusan yang sangat blunder. Sebab seringkali orang yang dimintai saran oleh pria itu juga orang yang salah, yang kurang begitu mengetahui kasusnya (apalagi kasus keduanya terhubung dengan kasus unik lainnya, yang terhubung secara kesengajaan oleh ego maha tinggi seseorang).

Si wanita tetap sabar dengan segala perlakuan prianya. Dia selalu meyakinkan prianya bahwa dirinya sangat mencintainya. Hingga tibalah saatnya orang-orang di sekitar wanita itu menjadi penyesat, yang membuat jarak si wanita dengan si pria jadi perlahan menjauh. Para penyesat itu juga berkeliaran di sekitar si pria.

Lalu apa yang terjadi dengan pasangan yang keduanya kurang memiliki hubungan harmonis dengan Sang Pencipta?


*****

Tapanuli, Era 1800

Malam ini, kembali Maruap berjumpa dengan sosok bersayap itu lagi. Saat ini, setelah menunjukan kepadanya bayangan akan peristiwa di masa depan, Maruap diberikan lagi suatu pengetahuan khusus yang  belum tentu tiap manusia mengetahuinya.

Dari sosok bersayap itu (yang ternyata sosok yang sama dengan yang menghampiri Tobit yang tertawan di negeri orang Asyur), Maruap baru menyadari satu hal. Sesuatu hal yang sangat penting. Ternyata, tanpa dirinya ketahui selama ini (juga untuk beberapa orang), Allah sudah menganugerahi tiap manusia semacam antena atau radar. Radar inilah yang jadi pelindung serta pengingat untuk seseorang terhindar dari hal-hal kurang mengenakan yang datangnya dari alam roh serta dunia supranatural, gaib, dan/atau mistik.

Ada yang bilangnya, itu namanya indra keenam. Ada yang lebih suka menyebutnya insting. Yang lain lebih enak menyebutnya naluri atau intuisi (atau perasaan). Beberapa lainnya sering menyebutnya sebagai ilmu kebatinan. Apapun itu penyebutannya, itulah antena, radar, perisai roh, serta pengingat gaib bagi tiap umat manusia yang sudah dianugerahi oleh Allah. Tidak hanya kepada manusia, Allah juga mengaruniakannya ke tiap makhluk ciptaan-Nya, termasuk pula ke para malaikat yang jatuh.

Memang tidak semua makhluk atau manusia sadar. Lebih banyak pula yang belum sadar sepenuhnya terhadap fenomena alam roh, alam batin, alam supranatural, alam bawah sadar, atau apapun itu penyebutannya. Tentang indra rahasia dari Allah ini pun, tak semua orang menyadarinya. Terkadang, mungkin karen kekurangtahuan orang tersebut, dirinya menyangka itu hanya dimiliki oleh segelintir orang tertentu saja. Padahal, sesungguhnya setiap insan memilikinya. Sejak masa Penciptaan, Allah memperlengkapi tiap manusia (serta makhluk-makhluk lainnya),  indra tersebut. Mungkin semenjak terjadinya peristiwa pemberontakan oleh sejumlah malaikat itulah penyebabnya. Tak ada yang tahu pasti. Sebab itu masih menjadi rahasia ilahi. Allah masih menyegelnya.

"Kalau kita tiba-tiba merasakan seperti ada sesuatu tak enak yang mau kita alami, itulah bukti dan tanda dari keberadaan radar spesial tersebut." tutur sosok tersebut. "Juga, ketika kita mendadak merinding saat melewati tempat-tempat tertentu."

Maruap masih terus menyimak. Kali ini di sampingnya ada Akira, Mawan, serta Davtan (yang berdarah Batak-Menado). Ketiga teman barunya itu berasal dari era dan tempat yang berbeda. Masalah-masalah mereka memang berbeda, namun sebetulnya sama. Akarnya dari orang-orang yang sama. Mereka--para musuh Allah.

"Jadi, sebetulnya radar ini tidak selamanya tentang mimpi, penglihatan, serta segala sesuatu yang bersifat ajaib, mukjizat, atau kasarnya sihir; apalagi hanya untuk sekadar bisa melihat makhluk halus. Radar ini berasal dari Allah langsung, agar tiap makhluk dan/atau manusia bisa melindungi dirinya sendiri dengan cara menghindarkan diri sebisa mungkin dari hal-hal yang kurang mengenakan. Allah mengharapkan radar ini juga bisa menjadi semacam pengingat agar senantiasa dekat dengan-Nya. Agar tiap makhluk dan/atau manusi tidak takut dengan beberapa hal atau fenomena tertentu. Itulah mengapa Allah mengaruniakan radar itu kepada tiap makhluk ciptaan-Nya. Sesungguhnya itu tidak istimewa sama sekali. Tak perlu begitu dibanggakan apalagi sampai didewakan melebihi Allah sendiri."

*****

Tengah malam, Sylvie begitu giat berdoa. Tak peduli tengah dipantau oleh sejumlah mata gaib (dari roh orang-orang hidup), dirinya begitu khusyuk berdoa. Masa bodoh dirinya sempat beberapa kali kepalanya pusing. Doanya selalu sama agar segala penderitaannya berakhir. Kekasihnya, Maruap tidak harus sering mengalami segala siksaan secara fisik dan roh. Keluarganya dijauhkan dari segala sikap yang menduakan Allah. Dia dan Maruap cepat berjumpa dan bersatu. Itulah selalu doa Sylvie setiap harinya selama kurun waktu hampir dua jam.







Bersambung.....
Terilhami dari kisah nyata. Terhidayahkan dari Allah langsung.