Sunday, November 12, 2017

SERIAL CINTA & MISTERI: Horcrux (Horrible Crucifix)







Genre: Misteri, Romance







Bagian pertama: Bloody Rose
Bagian kedua: Makhluk-Makhluk Banua Toru
Bagian ketiga: Tuhan Berencana, Manusia Berencana Pula
Bagian keempat: Bayangan Sosok Masa Depan
Bagian kelima: Serangan & Gangguan
Bagian keenam: Black Star
Bagian ketujuh: Ketika Roh-ku Bermain-main
Bagian kedelapan: Santet & Jampi-Jampi
Bagian kesembilan: 
Hunter
Bagian kesepuluh: Mimpi & Penglihatan
Bagian kesebelas: Porsea
Bagian kedua belas: Rekayasa Dunia, Realita Buatan
Bagian ketiga belas: Fasik (1)
Bagian keempat belas: Fasik (2)
Bagian kelima belas: Pengalihan Isu
Bagian keenam belas: Van Weiderveld (1)
Bagian ketujuh belas: Efek Samping
Bagian kedelapan belas: Van Weiderveld (2)
Bagian kesembilan belas: Manipulasi (1)
Bagian kedua puluh: Manipulasi (2)

Bagian kedua puluh satu: Manipulasi (3)
Bagian kedua puluh dua: Serangan Mimpi Buruk
Bagian kedua puluh tiga: Van Weiderveld (3)
Bagian kedua puluh empat: Van Weiderveld (4)

Bagian kedua puluh lima: Trik Jaman Baheula
Bagian kedua puluh enam: Napas Allah
Bagian kedua puluh tujuh: Tuduhan & Penyesatan
Bagian kedua puluh delapan: Permainan Alam Lain (1)
Bagian kedua puluh sembilan: Permainan Alam Lain (2)
Bagian ketiga puluh: Permainan Alam Lain (3)
Bagian ketiga puluh satu: Permainan Alam Lain (4)
Bagian ketiga puluh dua: Para Pengganggu Alam Semesta
Bagian ketiga puluh tiga: Half-Blood (Berdarah Campuran)
Bagian ketiga puluh empat: Campur Tangan Allah
Bagian ketiga puluh lima: Van Weiderveld (5)
Bagian ketiga puluh tujuh: Novena & Rosario
Bagian ketiga puluh delapan: Ilusi Optik
Bagian ketiga puluh sembilan: Exorcism
Bagian keempat puluh: Asaji
Bagian keempat puluh satu: Doa dan/atau Mantra
Bagian keempat puluh dua: 6 Orders 6 Freimaurers 6 Ordos

Seperti Sudah Diatur Allah







** Cerita ini pun terinspirasi dan aku dedikasikan untukmu, Shania **






Corak lukisan di dinding yang ada di sebuah mal di kawasan Jakarta Selatan (yang sangat terlihat horor sekali), jujur, sebenarnya baru muncul setelah aku ambil gambarnya dengan menggunakan kamera ponsel Nokia Lumia. Awalnya, hanya gambar biasa.













Daniel 5:1-23, 25-30
Raja Belsyazar mengadakan perjamuan yang besar untuk para pembesarnya, seribu orang jumlahnya; dan di hadapan seribu orang itu ia minum-minum anggur.
Dalam kemabukan anggur, Belsyazar menitahkan orang membawa perkakas dari emas dan perak yang telah diambil oleh Nebukadnezar, ayahnya, dari dalam Bait Suci di Yerusalem, supaya raja dan para pembesarnya, para isteri dan para gundik mereka minum dari perkakas itu. Kemudian dibawalah perkakas dari emas dan perak itu, yang diambil dari dalam Bait Suci, Rumah Allah di Yerusalem, lalu raja dan para pembesarnya, para isteri dan para gundik mereka minum dari perkakas itu;
mereka minum anggur dan memuji-muji dewa-dewa dari emas dan perak, tembaga, besi, kayu dan batu. 
Pada waktu itu juga tampaklah jari-jari tangan manusia menulis pada kapur dinding istana raja, di depan kaki dian, dan raja melihat punggung tangan yang sedang menulis itu. Lalu raja menjadi pucat, dan pikiran-pikirannya menggelisahkan dia; sendi-sendi pangkal pahanya menjadi lemas dan lututnya berantukan. Kemudian berserulah raja dengan keras, supaya para ahli jampi, para Kasdim dan para ahli nujum dibawa menghadap. Berkatalah raja kepada para orang bijaksana di Babel itu: "Setiap orang yang dapat membaca tulisan ini dan dapat memberitahukan maknanya kepadaku, kepadanya akan dikenakan pakaian dari kain ungu, dan lehernya akan dikalungkan rantai emas, dan di dalam kerajaanku ia akan mempunyai kekuasaan sebagai orang ketiga." 
Tetapi semua orang bijaksana dari raja, yang telah datang menghadap, tidak sanggup membaca tulisan itu dan tidak sanggup memberitahukan maknanya kepada raja. Sesudah itu sangatlah cemas hati raja Belsyazar dan ia menjadi pucat; juga para pembesarnya terperanjat. Karena perkataan raja dan para pembesarnya itu masuklah permaisuri ke dalam ruang perjamuan; berkatalah ia: "Ya raja, kekallah hidup tuanku! Janganlah pikiran-pikiran tuanku menggelisahkan tuanku dan janganlah menjadi pucat; sebab dalam kerajaan tuanku ada seorang yang penuh dengan roh para dewa yang kudus! Dalam zaman ayah tuanku ada terdapat pada orang itu kecerahan, akal budi dan hikmat yang seperti hikmat para dewa. Ia telah diangkat oleh raja Nebukadnezar, ayah tuanku menjadi kepala orang-orang berilmu, para ahli jampi, para Kasdim dan para ahli nujum, karena pada orang itu terdapat roh yang luar biasa dan pengetahuan dan akal budi, sehingga dapat menerangkan mimpi, menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi dan menguraikan kekusutan, yakni pada Daniel yang dinamai Beltsazar oleh raja. Baiklah sekarang Daniel dipanggil dan ia akan memberitahukan maknanya!"
Lalu dibawalah Daniel menghadap raja. Bertanyalah raja kepada Daniel: "Engkaukah Daniel itu, salah seorang buangan yang telah diangkut oleh raja, ayahku, dari tanah Yehuda? Telah kudengar tentang engkau, bahwa engkau penuh dengan roh para dewa, dan bahwa padamu terdapat kecerahan, akal budi dan hikmat yang luar biasa. Kepadaku telah dibawa orang-orang bijaksana, para ahli jampi, supaya mereka membaca tulisan ini dan memberitahukan maknanya kepadaku, tetapi mereka tidak sanggup mengatakan makna perkataan itu. Tetapi telah kudengar tentang engkau, bahwa engkau dapat memberikan makna dan dapat menguraikan kekusutan. Oleh sebab itu, jika engkau dapat membaca tulisan itu dan dapat memberitahukan maknanya kepadaku, maka kepadamu akan dikenakan pakaian dari kain ungu dan pada lehermu akan dikalungkan rantai emas, dan dalam kerajaan ini engkau akan mempunyai kekuasaan sebagai orang ketiga." 
Kemudian Daniel menjawab raja: "Tahanlah hadiah tuanku, berikanlah pemberian tuanku kepada orang lain! Namun demikian, aku akan membaca tulisan itu bagi raja dan memberitahukan maknanya kepada tuanku. Ya tuanku raja! Allah, Yang Mahatinggi, telah memberikan kekuasaan sebagai raja, kebesaran, kemuliaan dan keluhuran kepada Nebukadnezar, ayah tuanku. Dan oleh karena kebesaran yang telah diberikan-Nya kepadanya itu, maka takut dan gentarlah terhadap dia orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa; dibunuhnya siapa yang dikehendakinya dan dibiarkannya hidup siapa yang dikehendakinya, ditinggikannya siapa yang dikehendakinya dan direndahkannya siapa yang dikehendakinya. Tetapi ketika ia menjadi tinggi hati dan keras kepala, sehingga berlaku terlalu angkuh, maka ia dijatuhkan dari takhta kerajaannya dan kemuliaannya diambil dari padanya. Ia dihalau dari antara manusia dan hatinya menjadi sama seperti hati binatang, dan tempat tinggalnya ada di antara keledai hutan; kepadanya diberikan makanan rumput seperti kepada lembu, dan tubuhnya basah oleh embun dari langit, sampai ia mengakui, bahwa Allah, Yang Mahatinggi, berkuasa atas kerajaan manusia dan mengangkat siapa yang dikehendaki-Nya untuk kedudukan itu. Tetapi tuanku, Belsyazar, anaknya, tidak merendahkan diri, walaupun tuanku mengetahui semuanya ini. Tuanku meninggikan diri terhadap Yang Berkuasa di sorga: perkakas dari Bait-Nya dibawa orang kepada tuanku, lalu tuanku serta para pembesar tuanku, para isteri dan para gundik tuanku telah minum anggur dari perkakas itu; tuanku telah memuji-muji dewa-dewa dari perak dan emas, dari tembaga, besi, kayu dan batu, yang tidak dapat melihat atau mendengar atau mengetahui, dan tidak tuanku muliakan Allah, yang menggenggam nafas tuanku dan menentukan segala jalan tuanku. 
Maka inilah tulisan yang tertulis itu: Mené, mené, tekél ufarsin. Dan inilah makna perkataan itu: Mené: masa pemerintahan tuanku dihitung oleh Allah dan telah diakhiri; Tekél: tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan;
Peres: kerajaan tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia." 
Lalu atas titah Belsyazar dikenakanlah kepada Daniel pakaian dari kain ungu dan pada lehernya dikalungkan rantai emas, dan dimaklumkanlah tentang dia, bahwa di dalam kerajaan ia akan mempunyai kekuasaan sebagai orang ketiga. Pda malam itu juga terbunuhlah Belsyazar, raja orang Kasdim itu.

*****

Begitu Maruap selesai membaca kitab Daniel itu, entah mengapa dirinya jadi ingin  pulas tertidur.  Di alam mimpi, sosok bersayap yang ternyata merupakan salah satu dari tujuh malaikat agung itu menjelaskan kepadanya bahwa dirinya tidak hanya berhadapan dengan keluarga Van Weiderveld dan Porsea saja. Yang dilawannya ialah para otak di balik kedua hal tersebut. Otak-otak ini juga merupakan dalang utama dari banyak aksi peristiwa penting dunia. Ada rumor mengatakan pula bahwa otak-otak itu juga yang menskenariokan banyak aksi kejahatan dan kriminalitas. Konon, Perang Dunia 1 dan Perang Dunia 2 itu merupakan aksi dari para otak yang sesungguhnya merupakan abdi dari Raja Iblis.

"Sesungguhnya, apa yang dialami oleh Raja Belsyazar itu sering terjadi di era ini, bahkan era-era setelah kamu dan kekasihmu hidup sekarang ini. Banyak orang dengan kuasa-kuasa tertentu ingin mencoba untuk menyamai Sang Pencipta. Salah satunya, yang terjadi kampungmu ini, Maruap. Melepas roh, memecah-mecahkannya menjadi beberapa bagian, yang kemudian dipindahkan ke benda mati. Itu semata dilakukan demi hidup abadi atau tujuan singkat lainnya: harta, ketenaran, kekuasaan, hingga kesaktian. Orang-orang semacam itu akan selalu ada di mana pun dan kapan pun. Tujuan mereka selalu sama: menciptakan hegemoni baru dan menjadi penguasa yang mengontrol umat manusia, yang mana melampaui wewenang Sang Pencipta. Lawan yang kamu hadapi ini jenis yang bisa kamu hadapi dengan pertolongan Sang Pencipta."

Maruap mengangguk. Ia tak berani mendebat lagi. Sebab, pasti dirinya akan kalah telak. "Tapi bisakah jiwa manusia diletakan ke dalam benda mati? Kalau benar begitu, sakti sekali orang-orang itu. Di kampung ini saja, hanya orang-orang tertentu yang bisa seperti itu."

"Itu--kamu sudah tahu jawabannya." jawab sosok bersayap itu. "Selalu mendekatkan diri dan minta petunjuk Allah. Karena seringkali antara kuasa Allah dan kuasa orang-orang tertentu itu bedanya sangat tipis sekali. Banyak orang sering masuk ke dalam perangkap, yang begitu sudah masuk, sulit keluar. Hal-hal seperti itu kelak sering digunakan. Meletakan banyak mata-mata roh di mana-mana demi tujuan dan ambisi mereka."

"Oh iya, Maruap," ujar sosok bersayap itu sembari tersenyum. "aku mau memperkenalkan kamu dengan seseorang. Semoga apa yang dia alami bisa menjadi pelajaran berharga buat dirimu."

*****

Sore ini aku pergi ke rumah itu bersama pacarku, Zafira. Aku mengenakan T-Shirt bertuliskan "I'm proud to be Illuminatist" (Illuminatist itu semacam nama lain untuk tiap awak media RedemIllumination. Awak media-media lain yang memberikan ke majalah kami karena ideologi kami itu) dan celana blu jins butut. Sementara Zafira mengenakan kaus ketat merah jambu yang ditutupi kardigan berwarna biru tua. Sesekali kulirik Zafira, yang gadisku itu langsung serta merta menutupi dadanya. Ia nyalang, aku nyengir.

"Mas Kira," ucapnya, yang terdengar penuh ketakutan. Sebelum sampai, Zafira memintaku untuk keluar dari RedemIllumination. Alasannya: "Majalah tempat Mas Kira itu udah gak beres. Maa keluar aja."

Aku jawab sambil terkekeh, "Gak beres kenapa, Zaf?"

"Iya, gak beres. Aku udah pernah cerita belum, temanku ada yang pernah kerja di sana. Belum ada sebulan, dia udah disuruh ngeliput di tempat-tempat bahaya; dan gak dapet asuransi pula. Seminggu kemudian, sepulang ngeliput, dia langsung masuk ICU. Trombositnya turun mendadak."

"Ngeliput apa sih? Setahuku, RedemIllumination itu selalu peduli sama keselamatan awak medianya. Mereka selalu menjaga kode etik pers."

"Itu kan yang Mas Kira tahu. Temanku cerita juga, terserah Mas Kira mau percaya atau gak, tempat Mas kerja itu suka ngadain ritual-ritual khusus di malam-malam tertentu. Konon sih, majalah Mas itu udah jadi corong sejumlah mafia dan cukong buat melawan pemerintah."

Jujur saja, aku hampir naik pitam, lalu menampar Zafira. Tapi aku urung. Aku kelewat sayang sama Zafira. Kurasa, tak ada perempuan yang secantik, sebaik, dan secerdas Zafira. Makanya aku hanya membalasnya dengan suara kencang, "Zaf, Mas gak suka yah, kamu bicara yang gak-gak soal majalah di mana Mas kerja!!! Jangan sembarangan kalau ngomong. Mana buktinya?"

"Terserah Mas kalo gak percaya. Aku ngomong gini karena aku sayang sama Mas Kira. Aku gak mau Mas kenapa-napa."

Begitulah perdebatan sengitku dengan Zafira. Mengingat itu lagi, kutatap wajah manis Zafira yang tampak kalut. Kurangkul dia, kucium pipinya, dan membisikan sesuatu, "Zaf, Mas minta maaf yah, yang tadi. Mas lagi ada tekanan, jadi marah-marah gitu ke kamu."

"Gak papa, aku ngerti. Tapi apa gak sebaiknya kita pulang? Aura rumah ini bikin aku merinding, Mas."

"Mas-mu ini juga,"

"Balik aja yuk, Mas. Mas mendingan berhenti aja dari sana. Bahaya, Mas, kalo diterusin. Aku dengar dari Papa aku, pemerintah lagi nyelidikin soal keanehan yang terjadi di sana. Ada desas-desus yang mengatakan majalah Mas itu sering melindungi para pengemplang pajak. Bahkan jadi corong buat para kepala daerah bermasalah."

"Iya, sih. Sempat Mas pikir-pikir, kamu benar juga, Zaf. Pernah pas lagi ngeliput, Mas dengar hal-hal itu juga. Tapi kalo Mas keluar, cari kerja kan gak gampang. Apalagi buat yang kakinya kayak Mas ini." Mataku menatap pada kedua kaki O-ku ini. Pandangan Zafira pun sama.

"Gak usah minder gitu. Mas-ku ini kan jurnalis paling cerdas se-Indonesia. Kalo gak ada yang nerima, bikin media sendiri aja, yang gak aneh-aneh. Gak susah, kok. Apalagi Papa punya kenalan yang bisa mengurus perijinannya."

Aku tersenyum--hampir mau lepas tawaku. Zafira sudah terkekeh. Cukup sudah obrolannya, setelah kudesak beberapa kali, Zafira mau juga masuk untuk menemaniku menyelidiki rumah ini. Sekonyong-konyong pintu depan terbuka. Astaga, yang keluar ternyata Sylvie. Kali ini busananya bukan busana ala abad pertengahan. Ia berpakaian trendi, sama seperti Zafira, namun lebih seksi. Di saat seperti inilah, iman seorang pria diuji; dan kesetiaannya diuji--apakah mereka benar-benar mencintai pasangannya?

"Mij Liefde, morgen (baca: pagi, cintaku!). How are you? I have waited for you so long time. Miss you so much, Mij Liefde." kata Sylvie dengan suara yang kuyakin pasti pria mana pun akan langsung tergoda. Apalagi diucapkan seraya berpakaian yang begitu menggoda.

Kulirik Zafira yang langsung terbakar api kecemburuan. Ia sewot banget. Buru-buru aku langsung berujar, "Sumpah, Zaf. Aku gak kenal-kenal amat sama cewek ini. Cuma ketemu sekali waktu kunjungan pertama. Udah gitu dia langsung ngilang abis--"

Ups, aku keceplosan. Zafira makin sewot. Lirihnya, "Abis ngapain ayo? Kamu gak lagi ngapa-ngapain, kan?"

"Be--"

Sylvie terkekeh penuh kemenangan. Langkahnya dipercepat menuju diriku dan Zafira. Ia tersenyum dan mengerling nakal. Bibirnya menyentuh bibirku--yang bikin mata Zafira langsung mengeluarkan api nyala. Sylvie makin memanas-manasi Zafira, "Honey, you're great that day. I do really-really love you. Mooie voldaan--sangat puaaas..."

"Brengsek! Kita kan waktu itu gak ngapa-ngapain. Jangan ngomong yang gak-gak!" bentakku, agar emosi Zafira mereda.

"You forgot, honey? I mean, quickie. Oh, how very sweet quickie. Lekker--enaknya..."

Kulihat lagi wajah pacarku. Zafira mulai makin merah wajahnya. Ini perempuan Belanda ini apaan sih? Kita kenal baru waktu itu, kok sudah main bilang aku dan dia sudah berhubungan intim secara kilat? Malah dia yang kurang ajar, sudah meninggalkanku begitu saja. Walau, yah jujur saja, aku pria tulen. Digoda begitu, ada suatu perasaan lain dalam dada yang kalau kuberitahukan ke Zafira, dia pasti cemberut parah.

"Mas benar kan, gak ngapa-ngapain sama cewek bule ini?" tanyanya sangsi.

Aku bikin tanda V. "Serius, Mas gak bohong! Mas gak ngapa-ngapain sama cewek bule ini. Mas cuma sayang sama kamu doang, Zaf. Percaya sama Mas, yah."

"Oh, Honey," Ia mengecup bibirku lagi. "Please, don't forget that day. And you should leave that woman. Jij tahu, perempuan itu terlalu kurus buat kamu yang begitu perkasa. Jij lebih cocok sama eik. Am I sexy, Honey? Sexy girl meets sexy boy... oh, you've really been created for me, Honey!"

"Nona Sylvie yang terhormat,..." Oh aku salah. Harusnya kan, "<i>My</i> very beloved Sylvie, please don't make ambiguous issue. I don't like that. It hurted my girlfriend's heart."

Sylvie terkikik. Zafira makin sebal. Aku salah tingkah. Berani sumpah, aku tidak mengapa-apakan Sylvie Van Huis ini. Aku terlalu menjaga perasaan Zafira Jupriantono. Di saat itu, oh sialan, saat Zafira-ku yang berambut panjang nan lurus ini hendak meninggalkanku (saking kesalnya), akhirnya suara pria Jerman itu muncul juga. Suaranya sama, kata-katanya sama, aku--dan juga Zafira--jadi bergidik hebat.

"DIE TÜR ÖFFNEN! HEY, Sie hören können, ist es nicht?? Sagte ich, OFFENE TÜR!!!"

Sekonyong-konyong Sylvie langsung balas teriak, "Honey, please, don't go mad. Verzoeken--tenang, Honey, I didn't do anything with that man."

Hah? Aku bingung yang bercampur ketakutan. Mungkin Zafira merasakan hal sama. Begitu melihat kondisi langit yang gelap tak wajar, juga suhunya yang dingin kelewatan, dan ranting-ranting yang saling bertabrakan, dedaunan yang berjatuhan dahsyat (bak diserang topan), suara gemuruh yang tiada henti, hingga pagarnya yang buka-tutup berkali-kali (suara decitannya itu bikin ngilu, pun ngeri), aku teringat akan tulisanku di mesin tik sebelum aku pergi. Tulisan sebanyak sepuluh paragraf. Semuanya menjadi nyata.

Yup, semuanya. Langitnya, suhunya, kondisi lingkungannya, pakaian si Sylvie-nya, dialog si Sylvie,... semuanya menjadi nyata.

Bulu kudukku berdiri serentak.

(BACA: Serial GGKT: Antara Zafira dan Sylvie)

*****

"Begitu ceritanya, Lae," Akira mengakhiri segala ceritanya bagaimana dirinya bisa berjumpa dengan Maruap di alam mimpi. "Saya datang dari masa depan. Saat itu memang sudah berdiri negara republik bernama Indonesia, yang sudah tidak dijajah oleh Belanda, Jepang, maupun bangsa-bangsa lain. Dan, tiba-tiba saja setelah kejadian di rumah mewah itu, aku mendadak pusing dan tertidur. Tahu-tahu, begitu bangun, aku sudah bertemu Lae Maruap ini, yang berasal dari jaman penjajahan."

Maruap mengangguk. "Tadi siapa namamu."

"Akira. Akira Kencana, lengkapnya."

"Nama yang aneh untuk ukuran pribumi."

Akira tertawa. "Sudah banyak yang bilang, Lae. Katanya, mirip dengan nama orang Jepang. Lagian, di masaku, banyak orang menggunakan nama yang, maaf,  tidak kampungan."

Maruap berusaha menahan diri agar tidak tersinggung. Sebagai tangkisan, mungkin kata 'kampungan' itu sama artinya dengan kata 'pribumi' di jamannya. Pasti pemuda berdarah Jawa ini kesulitan dalam memilih kata. Sehingga kata itulah yang dipilih. Lagipula, dari rautnya, tampak Akira ini jujur dan apa adanya. Tidak ada sesuatu pun yang ditutupi darinya. Satu lagi, pasti dirinya memiliki masalah yang hampir sama dengannya. Sampai Allah mempertemukan dirinya dengan Akira di alam mimpi. Berpetualang waktu pula.

Maruap mengangguk. "Pasti kamu tengah ada masalah dengan orang-orang tertentu."

"Dari ceritaku barusan yah, Lae?"

Maruap kembali mengangguk, lalu perlahan menunduk dan menggeram. "Di jaman apapun, orang-orang seperti mereka akan selalu ada sepertinya. Dasar keluarga penyembah setan!" Begitu desisnya, yang lalu sekonyong-konyong Maruap teringat kejadian sebelum dirinya berjumpa dengan Akira ini. Mungkin yang dikatakan oleh sosok bersayap itu benar. Tanpa sepengetahuan dirinya dan segenap manusia Bumi, ada beberapa organisasi penyembah setan (dan mungkin juga alien) yang hidup di muka bumi ini, yang mengontrol segala kegiatan dan aktivitas banyak orang dengan tangan-tangan tak kelihatannya mereka.

Akira tampak paham dengan apa yang didesiskan oleh pemuda Batak tadi. Sepertinya lawan yang mereka berdua itu sama dan berasal dari akar-akar yang sama pula. Mungkin pula RedemIllumination ini bagian dari organisasi-organisasi tertentu.





Ada kucing misterius di atap sebuah mal, yang memiliki sorot mata aneh dan menyeramkan.







Crucifix, konon benda ini sering digunakan dalam ritual penyembahan-penyembahan tertentu, sebelum Yesus Kristus atau Isa Almasih terlahir ke dunia. Sampai sekarang, konon pula, sering digunakan sebagai simbol atau media oleh beberapa kelompok tertentu.






Bersambung.....