Sunday, October 22, 2017

SERIAL CINTA & MISTERI: Van Weiderveld (5)








Genre: Misteri, Romance







Bagian pertama: Bloody Rose
Bagian kedua: Makhluk-Makhluk Banua Toru
Bagian ketiga: Tuhan Berencana, Manusia Berencana Pula
Bagian keempat: Bayangan Sosok Masa Depan
Bagian kelima: Serangan & Gangguan
Bagian keenam: Black Star
Bagian ketujuh: Ketika Roh-ku Bermain-main
Bagian kedelapan: Santet & Jampi-Jampi
Bagian kesembilan: 
Hunter
Bagian kesepuluh: Mimpi & Penglihatan
Bagian kesebelas: Porsea
Bagian kedua belas: Rekayasa Dunia, Realita Buatan
Bagian ketiga belas: Fasik (1)
Bagian keempat belas: Fasik (2)
Bagian kelima belas: Pengalihan Isu
Bagian keenam belas: Van Weiderveld (1)
Bagian ketujuh belas: Efek Samping
Bagian kedelapan belas: Van Weiderveld (2)
Bagian kesembilan belas: Manipulasi (1)
Bagian kedua puluh: Manipulasi (2)

Bagian kedua puluh satu: Manipulasi (3)
Bagian kedua puluh dua: Serangan Mimpi Buruk
Bagian kedua puluh tiga: Van Weiderveld (3)
Bagian kedua puluh empat: Van Weiderveld (4)

Bagian kedua puluh lima: Trik Jaman Baheula
Bagian kedua puluh enam: Napas Allah
Bagian kedua puluh tujuh: Tuduhan & Penyesatan
Bagian kedua puluh delapan: Permainan Alam Lain (1)
Bagian kedua puluh sembilan: Permainan Alam Lain (2)
Bagian ketiga puluh: Permainan Alam Lain (3)
Bagian ketiga puluh satu: Permainan Alam Lain (4)
Bagian ketiga puluh dua: Para Pengganggu Alam Semesta
Bagian ketiga puluh tiga: Half-Blood (Berdarah Campuran)
Bagian ketiga puluh empat: Campur Tangan Allah

Seperti Sudah Diatur Allah







** Cerita ini pun terinspirasi dan aku dedikasikan untukmu, Shania **







PT. Djojonegoro, milik seorang pengusaha paling kakap dan berpengaruh di Indonesia, T. Djojonegoro. Plat mobilnya T ini (mungkin) buntutnya itu huruf TJD; plat Djakarta. TJD itu (mungkin) inisial namanya. 










Awalnya rumah ini memang punya keluarga Van Huis. Hingga pada suatu hari datanglah keluarga Tjokrobukara yang seenaknya mengeksekusi rumah mewah ini menjadi rumah keluarga mereka. Sang kepala keluarga, Supandi mendekati notaris pribadi keluarga Van Huis untuk memanipulasi pembelian. Rekayasa tanda tangan ayah Sylvie mulai dilakukan. Konon pengambilalihan rumah mewah itu melibatkan pula sejumlah petinggi aparat dan militer. Yang jadi pertanyaan dan masih tak kumengerti: untuk apa Supandi itu sebegitu ngotot membeli mati-matian rumah mewah ini? Rumah mewah kan banyak. Apalagi yang bergaya Mediterania. Tapi aku memilih untuk urung bertanya dan memilih untuk terus menyimak.

Sang kepala keluarga, Arie membawa kasus itu ke pengadilan. Di pengadilan negeri, Supandi menang. Arie tak puas dan memilih banding. Lagi-lagi Supandi menang di pengadilan tinggi. Sampai ke peninjauan kembali pun, Supandi tetap menang. Arie tak menyerah begitu saja. Dengan menyewa beberapa detektif swasta, Arie mendapati adanya banyak kecurangan dalam pembelian rumah mewah ini. Rupanya Supandi mencium gelagat Arie tersebut. Sebelum bukti kebusukannya terungkap ke mana-mana, Arie dan keluarganya terus berusaha dibungkam. Diteror dengan telepon dan SMS, dikirimi santet, diikuti saat hendak bepergian, dan banyak cara untuk mengintimidasi keluarga Van Huis. Hingga akhirnya, Supandi mengeluarkan senjata pamungkas. Anak bungsu keluarga Van Huis diculik. Selama enam bulan, penculikan itu terjadi.

Karena rasa ingin berbakti itulah, Sylvie dan Christoph menyelidiki sendirian. Tambah runyam jadinya. Sylvie ikutan disekap di suatu tempat bareng adiknya. Christoph pun sama. Demi menyelamatkan Sylvie, setengah wajahnya rela dibakar.

Katanya sih, kasus itu tak pernah menguak ke khalayak karena pengaruh keluarga Tjokrobukara yang begitu kuat. Apalagi kebanyakan petinggi media juga kenal betul dengan Supandi. Media-media itu selama ini mendapatkan sokongan dana dari perusahaan-perusahaan yang dimiliki keluarga Tjokrobukara. Pun dengan beberapa petinggi aparat dan militer. Bahkan pengaruh keluarga Tjokrobukara telah sampai ke ranah pemerintahan. Pantas saja kasus itu tertutup sedemikian rapatnya.

Arie dan istrinya diam-diam dihabisi di suatu jalan yang menuju ke Puncak. Anak-anak mereka yang lainnya juga sama. Menurut pengakuan Sylvie, ada salah satu adiknya yang dijual ke Rusia sebagai pekerja seks komersial. Pacar Sylvie, Christoph juga kena imbasnya. Keluarganya juga dibungkam. Mereka dikirim ke negeri leluhur mereka.

(Baca juga: SERIAL GGKT: Kunci Gaib untuk Kasus Gaib)

*****

Sewaktu ditunjukan suatu mimpi dan penglihatan akan suatu peristiwa di masa depan, Maruap sangat terkesima dan terpekur. Bagaimana tidak, entah di era 1700-1800-an, entah pula di era modern, nyatanya sama saja. Orang-orang tak berperikemanusiaan macam keluarga Van Weiderveld atau Porsea itu akan selalu ada di jaman apapun. Di mata Maruap, mereka itulah monster berwujud manusia, setan bertopeng manusia, musang berbulu domba, para penipu ulung, sang penghasut, hingga provokator amat lihai. Keberadaan dan aksi-aksi busuk mereka nyaris tak terlihat oleh awam. Karena mereka sanggup menutupinya dengan aneka kebaikan palsu. Keadilan yang dipraktekan mereka juga sesungguhnya keadilan semu. Tak ada welas asih, apalagi empati, saat melihat korbannya jatuh.






@ Roppan, Plaza Semanggi. Aku bukan bermaksud selfie. Tapi niatku ingin mengambil foto bapak-bapak yang duduk di belakang aku dan Dias. Aku kira itu Weli, wakilnya T. Nyatanya bukan. Beberapa hari kemudian, di mal yang sama, kami pernah berjumpa Weli. Ternyata Dias benar. Weli dan T bukanlah tokoh fiksi seperti yang ada di pikirannya. Keduanya benar-benar nyata keberadaannya. Weli itu tampilannya seperti kakek-kakek yang awet muda. Kalau sudah jalan, dia gesit banget kayak kancil. Pernah aku nggak sengaja mengambil foto Weli, sayang terhapus secara tak sengaja. 






Bersambung.....