Wednesday, October 25, 2017

SERIAL CINTA & MISTERI: Novena & Rosario










Genre: Misteri, Romance







Bagian pertama: Bloody Rose
Bagian kedua: Makhluk-Makhluk Banua Toru
Bagian ketiga: Tuhan Berencana, Manusia Berencana Pula
Bagian keempat: Bayangan Sosok Masa Depan
Bagian kelima: Serangan & Gangguan
Bagian keenam: Black Star
Bagian ketujuh: Ketika Roh-ku Bermain-main
Bagian kedelapan: Santet & Jampi-Jampi
Bagian kesembilan: 
Hunter
Bagian kesepuluh: Mimpi & Penglihatan
Bagian kesebelas: Porsea
Bagian kedua belas: Rekayasa Dunia, Realita Buatan
Bagian ketiga belas: Fasik (1)
Bagian keempat belas: Fasik (2)
Bagian kelima belas: Pengalihan Isu
Bagian keenam belas: Van Weiderveld (1)
Bagian ketujuh belas: Efek Samping
Bagian kedelapan belas: Van Weiderveld (2)
Bagian kesembilan belas: Manipulasi (1)
Bagian kedua puluh: Manipulasi (2)

Bagian kedua puluh satu: Manipulasi (3)
Bagian kedua puluh dua: Serangan Mimpi Buruk
Bagian kedua puluh tiga: Van Weiderveld (3)
Bagian kedua puluh empat: Van Weiderveld (4)

Bagian kedua puluh lima: Trik Jaman Baheula
Bagian kedua puluh enam: Napas Allah
Bagian kedua puluh tujuh: Tuduhan & Penyesatan
Bagian kedua puluh delapan: Permainan Alam Lain (1)
Bagian kedua puluh sembilan: Permainan Alam Lain (2)
Bagian ketiga puluh: Permainan Alam Lain (3)
Bagian ketiga puluh satu: Permainan Alam Lain (4)
Bagian ketiga puluh dua: Para Pengganggu Alam Semesta
Bagian ketiga puluh tiga: Half-Blood (Berdarah Campuran)
Bagian ketiga puluh empat: Campur Tangan Allah
Bagian ketiga puluh lima: Van Weiderveld (5)

Seperti Sudah Diatur Allah







** Cerita ini pun terinspirasi dan aku dedikasikan untukmu, Shania **

** Cerita ini merupakan salah satu bentuk kesaksian iman yang saya dan dia (My Shania) alami ❤ **









😇 N-G-I-L-M-U ✌😅✌












Perlahan Frida membungkukkan diri dan bersimpuh. Kembali, setelah sekian lama, ia membenamkan kepala. Tak berani rasanya dirinya menatap wajah Sang Bunda setelah sekian tahun meninggalkan nyaris dari seluruh kewajiban agamanya.

Doa itu dilantunkan kembali. Seperti biasa, doa novena tiga salam Maria. Sepenggal, dua penggal, tiga penggal, hingga...


"...Bunda Maria, Perawan yang berkuasa, bagimu tidak ada sesuatu yang tak mungkin, karena kuasa yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepadamu. Dengan sangat aku mohon pertolonganmu dalam kesulitanku ini, janganlah hendaknya engkau meninggalkan aku, sebab aku yakin engkau pasti dapat menolong, meski dalam perkara yang sulit, yang sudah tidak ada harapannya, engkau tetap menjadi pengantara bagi Puteramu.  

Baik keluhuran Tuhan dan penghormatanku kepadamu maupun keselamatan jiwaku akan bertambah seandainya engkau sudi mengabulkan segala permohonanku ini. Karenanya, kalau permohonanku ini benar-benar selaras dengan kehendak Puteramu, dengan sangat aku mohon, o Bunda, sudilah meneruskan segala permohonanku ini ke hadirat Puteramu, yang pasti tak akan menolakmu. Pengharapanku yang besar ini, berdasarkan atas kuasa yang tak terbatas yang dianugerahkan oleh Allah Bapa kepadamu. Dan untuk menghormati besarnya kuasamu itu, aku berdoa bersama dengan St.Mechtildis yang kau beritahukan tentang kebaikan doa "Tiga Salam Maria", yang sangat besar manfaatnya itu...."

Novena itu sendiri artinya sembilan. Berasal dari bahasa Latin, novem. Konon doa novena timbul dari usaha kesebelas rasul yang berdoa selama sembilan hari berturut-turut--setelah Yesus Kristus terangkat ke sorga. Doa novena ini sendiri didaraskan saat seseorang ingin memohon sesuatu yang sangat mendesak pada Sang Pencipta. Orang itu harus berdoa selama sembilan hari berturut-turut guna mendapatkan suatu rahmat khusus.

(BACA: ONE STORY ONE PHOTO: Novena)

*****

Kali ini giliran Sylvie yang diperlihatkan suatu mimpi akan masa depan. Lagi dan lagi. Entah untuk kali ke sekiannya, sosok Sylvie di masa depan tersebut menunjukannya suatu bayangan masa depannya. Yang jelas, kali ini ia diperlihatkan akan kisah seorang anak bernama Frida yang baru saja akil balig, namun sudah memiliki iman yang sangat luar biasa besarnya ke Allah. Oleh sosoknya di masa depan, Sylvie diberitahukan bahwa anak bernama Frida itu sering mengalami perjumpaan dengan Allah--minimal dengan malaikat--sejak masih balita. Doa novena itu pun Frida panjatkan karena serentetan pengalaman rohani yang Frida sudah alami.

"Frida itu masih kecil, kamu tahu?" Sylvie hanya mengangguk saat diberitahukan oleh sosok dirinya di masa depan. "Walau baru akil balig, dirinya berani untuk melantunkan doa novena. Bahkan sejak dirinya masih berusia tujuh tahun, Frida sudah nekat berdoa novena. Tak hanya itu, tanpa sepengetahuan Papa dan Mama-nya, dirinya pernah coba-coba mempraktekan sendiri doa rosario. Padahal untuk berdoa rosario, perlu kedewasaan rohani dan mental, Sylvie. Orang-orang dewasa pun yang sudah sering mempelajarinya, malah enggan untuk berdoa novena dan rosario. Mereka kalah dari Frida yang jelas-jelas masih berusia tujuh tahun pada saat itu."

Sylvie mengangguk. "Lantas, Frida ini siapa? Apa maksudnya ditunjukan kepadaku?"

Sosok itu tersenyum. "Dia sama seperti dirimu, Sylvie. Bukankah dulu kamu seperti itu? Kamu ingat dirimu pernah ketahuan pengasuhmu tengah kedapatan memainkan butiran-butiran rosario saat masih di Amsterdam?"

Sylvie memutar kedua bola matanya untuk coba mengingat-ingat. "Mungkin. Aku agak lupa-lupa ingat. Itu peristiwa yang sangat sudah lampau sekali."

"Memang."

Sekonyong-konyong Sylvie teringat suatu kejadian pagi tadi. Di Pasar Asahan barusan--saat ditemani Karina Singh dan Gouw Ai Thien. Memang selintas, hanya berlangsung sangat singkat sekali, dan mungkin Maruap tak sadar ada dirinya, namun untuk Sylvie seorang, itu sangat berarti. Walau hanya melihat dari jauh, Sylvie sangat gembira sekali hatinya. Pengalaman tadi pagi menaikan kembali harapannya. Sylvie sontak tersenyum sendiri saat mendadak mengingatnya.

"Bagus kalau kamu sudah ingat," seru sosok tersebut tersenyum. "Itu kesaksian imanmu, Sylvie. Itu ujud doamu, walau tak sesuai dengan ekspektasimu. Namun Allah mengabulkan sesuai dengan cara-Nya sendiri. Itu juga pengalaman rohanimu. Dan, kamu sebarkan itu sebagai ucapan syukurmu kepada Allah."

Sylvie perlahan mengangguk. Mungkin karena sosok itu sosoknya di masa depan, sudah pasti Sylvie langsung menyetujuinya.

"Segala sesuatu ada masanya. Kamu juga jangan pernah jemu berdoa, beriman, dan berharap. Kalian berdua pasti bertemu dan bersatu, walau banyak orang tak suka. Fokusmu--selain mendoakan keluargamu dan keselamatan dirimu--ialah mendoakan Maruap dan keluarganya. Sekarang ini Maruap tengah berada dalam masa-masa paling sukar dalam hidupnya. Cobaan demi ujian harus ia alami. Apalagi baru-baru ini pula, dirinya baru menyadari bahwa ada beberapa sanaknya tengah menjampi-jampinya. Kepercayaan dirinya tengah jatuh. Imannya hancur. Hanya doamu yang sanggup mengembalikan dan memulihkannya."

Sylvie terbelalak mendengarnya. Belum selesaikah cobaan untuk Maruap dan dirinya?


















Tradisi mengatakan bahwa St. Dominic (1221) adalah santo yang menyebarkan doa rosario, seperti yang kita kenal sekarang. Ia berkhotbah tentang rosario ini pada pelayanannya di antara para Albigensian yang tidak mempercayai misteri kehidupan Kristus sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia. Oleh karena itu, tujuan utama pendarasan doa rosario adalah untuk merenungkan misteri kehidupan Kristus. Walaupun catatan riwayat hidupnya tidak menuliskan bahwa St. Dominic menyusun doa rosario, dan juga konstitusi Dominikan tidak menyebutkannya sebagai pencipta doa rosario, namun peran St. Dominic cukup besar dalam memperkenalkannya kepada umat. St. Dominic sendiri adalah saksi hidup yang mendoakan doa rosario tersebut. Namun doa tersebut dalam bentuknya seperti sekarang merupakan hasil pertumbuhan devosi yang terjadi beratus tahun setelah kematian St. Dominic. Doa rosario sendiri mulai popular di sekitar tahun 1600-1700 an, terutama setelah kemenangan pasukan Kristen di Lepanto, di tahun 1571. Saat itu, negara- negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman, sehingga terdapat ancaman yang genting bahwa agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Paus Pius V memerintahkan umat Katolik untuk berdoa rosario untuk memohon dukungan doa Bunda Maria, agar pasukan Kristen memperoleh kemenangan. Perintah ini dilakukan oleh Don Juan (John) dari Austria, komandan armada, demikian juga, oleh umat Katolik di seluruh Eropa untuk memohon bantuan Bunda Maria di dalam keadaan yang mendesak ini. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore. Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto. Walaupun nampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober tersebut.

(Sumber: Katolisitas)

Entah mengapa hati Maruap sangat terasa kebas sekali saat tengah membaca tulisan yang ada di salah satu buku yang ada di perpustakaan gereja. Setelah sekian lama, Maruap kembali ke kampung dan gereja ini. Inilah gereja di mana tiap minggu Sylvie beribadah kepada Allah. Ini juga gereja-nya Pak Pendeta Simon alias Simon Westenbroek. Entah bagaimana kabar Sylvie. Di tengah segala kondisi nelangsanya, dirinya selalu saja memikirkan dan mengkhawatirkan Sylvie. 

Sekonyong-konyong Maruap seperti merasakan bahwa Sylvie lumayan sering mendatangi perpustakaan gereja ini. Ia seperti juga bisa merasakan bangku yang dirinya tengah duduki pernah diduduki oleh Sylvie beberapa hari sebelum Maruap tiba hari senin ini. 

Kunjungan Maruap ke gereja ini pun karena dirinya merasa tergerak hatinya untuk kembali mendatangi gereja dan perpustakaannya. Sosok bersayap itu juga yang menyuruhnya. Itu sama seperti Abraham yang dipinta oleh Allah untuk pergi ke tanah Kanaan yang bermil-mil jauhnya dari Ur-Kasdim.

















Bersambung.....