Friday, October 27, 2017

SERIAL CINTA & MISTERI: Asaji







Genre: Misteri, Romance







Bagian pertama: Bloody Rose
Bagian kedua: Makhluk-Makhluk Banua Toru
Bagian ketiga: Tuhan Berencana, Manusia Berencana Pula
Bagian keempat: Bayangan Sosok Masa Depan
Bagian kelima: Serangan & Gangguan
Bagian keenam: Black Star
Bagian ketujuh: Ketika Roh-ku Bermain-main
Bagian kedelapan: Santet & Jampi-Jampi
Bagian kesembilan: 
Hunter
Bagian kesepuluh: Mimpi & Penglihatan
Bagian kesebelas: Porsea
Bagian kedua belas: Rekayasa Dunia, Realita Buatan
Bagian ketiga belas: Fasik (1)
Bagian keempat belas: Fasik (2)
Bagian kelima belas: Pengalihan Isu
Bagian keenam belas: Van Weiderveld (1)
Bagian ketujuh belas: Efek Samping
Bagian kedelapan belas: Van Weiderveld (2)
Bagian kesembilan belas: Manipulasi (1)
Bagian kedua puluh: Manipulasi (2)

Bagian kedua puluh satu: Manipulasi (3)
Bagian kedua puluh dua: Serangan Mimpi Buruk
Bagian kedua puluh tiga: Van Weiderveld (3)
Bagian kedua puluh empat: Van Weiderveld (4)

Bagian kedua puluh lima: Trik Jaman Baheula
Bagian kedua puluh enam: Napas Allah
Bagian kedua puluh tujuh: Tuduhan & Penyesatan
Bagian kedua puluh delapan: Permainan Alam Lain (1)
Bagian kedua puluh sembilan: Permainan Alam Lain (2)
Bagian ketiga puluh: Permainan Alam Lain (3)
Bagian ketiga puluh satu: Permainan Alam Lain (4)
Bagian ketiga puluh dua: Para Pengganggu Alam Semesta
Bagian ketiga puluh tiga: Half-Blood (Berdarah Campuran)
Bagian ketiga puluh empat: Campur Tangan Allah
Bagian ketiga puluh lima: Van Weiderveld (5)
Bagian ketiga puluh tujuh: Novena & Rosario
Bagian ketiga puluh delapan: Ilusi Optik
Bagian ketiga puluh sembilan: Exorcism

Seperti Sudah Diatur Allah







** Cerita ini pun terinspirasi dan aku dedikasikan untukmu, Shania **






Ada yah nomor polisi 'P-A-T-R-O-L-I?!' 😂









Tiba-tiba saja aku berada di sebuah dataran tinggi. Ah mungkin ini sebuah bukit. Atau pegunungan. Yang jelas aku bisa menyaksikan keindahan alam yang luar biasa indah. Tanah Bavaria sungguh indah dari atas sini. Bau embun yang sangat harum--lebih harum dari mana pun. Sejenak aku merenung.

Hening.

Hening

Hening

Kedua mata aku tutup rapat-rapat. Aku menengadahkan kepala ke cakrawala. Pelan-pelan aku turunkan kepala ini. Kedua mata beredar ke seluruh penjuru; tidak ada yang lepas dari pengamatanku. Ah lihat itu, brocken spectre. Masa aku melihat bayangan seorang bidadari berambut panjang yang berjalan di atas kabut? Masa bodoh-lah. Aku terlalu terbuai dengan pemandangan yang ada di depan mataku.

Tapi sulit. Semakin kuabaikan, semakin bidadari terus menerus melambai-lambaikan tangan padaku, seolah dia ingin aku menghampirinya. Samar-samar telingaku mendengar dirinya berteriak lumayan kencang, "Hei, sie kommen!!! Meinz prinz, lassen sie uns zu mir kommen!!!" Langsung aku jawab, "Aber ich kann nicht fliegen!!! Später konnte ich fallen!!!" Begitu terus aku dan dia bersapa-sapaan. Terkadang aku mendengarnya berkata-kata dalam bahasa dari negeri tetangga. Aku memang tidak tahu artinya. Namun temanku, Henk, yang dari Den Haag, pernah mengucapkan kata tersebut. Itu: "Wees niet bang". 

Terus menerus seperti itu. Aku dan dia saling bersahut-sahutan seolah-olah tebing ini milik kami berdua. Entah halusinasiku atau bukan, perlahan dia seperti beringsut makin dekat. Bulu kuduk mulai merinding. Saat kakinya hampir menyentuh permukaan tebing, bukannya ketakutan, aku malah semakin bingung. Ada suara jeritan minta tolong. Suara perempuan dan agak mirip suara bidadari itu. Naluriku mendorong ke arah asal suara. 


Ya ampun, ada seorang perempuan hampir mau jatuh. Dia bergelantungan agar tidak jatuh. Katanya terengah-engah dengan logat Belanda, "Du bist zu spät. Ich bin fast bald sterben. Aku sudah hampir jatuh, nih!" Sepintas aku terkesima dengan wajah perempuan yang berjuang agar tidak jatuh ini. Begitu mirip dengan bidadari tersebut. Keanehan lainnya, aku sama sekali tidak pernah mengenalnya. Baik di Mainz, Berlin, Dortmund, Muenchen, hingga Sleman pun, baru kali ini kulihat dia. Namun dia berkata dan menatap padaku seolah kami ini sudah lama saling jumpa dan kenal. Keanehan yang lainnya lagi, ada sesuatu dalam dada ini yang membuatku merasa aku pernah berjumpa perempuan ini. Tapi di mana dan kapan?


*****

Begitu bangun, Sylvie langsung terkesima. Mimpi barusan itu mengapa sama dengan yang sudah dirinya alami? Cara dia berjumpa dengan Maruap pun demikian. Dirinya dan Maruap diperkenalkan dan dipersatukan lewat mimpi. Bahkan sebelum keduanya berciuman secara nyata di sebuah pematang sawah, Sylvie jujur mengakui (kepada Maruap) bahwa dirinya seperti sudah pernah berciuman dengan Maruap sebelumnya. Itu semasa Sylvie kecil di Amsterdam; sebelum tiba di tanah Tapanuli. Dan, seperti biasanya, Maruap sama sekali tak pernah menertawakan Sylvie. Mau Sylvie berkata seperti apa, bagi Maruap, segala perkataan Sylvie bukanlah untuk diledek apalagi ditertawakan. Belum lagi Maruap juga mengalami hal sama dengan yang dialami Sylvie. Sampai-sampai Maruap harus diruwat oleh keluarganya.

Apa maksudnya ini, batin Sylvie sembari berkerut kening. Mengapa ada kejadian seperti itu di Jerman? Sylvie memang belum pernah ke Jerman. Namun ada salah satu bibinya yang berdarah Jerman dan tinggal di daerah Bavaria. Lewat bibinya itu, sedikit demi sedikit Sylvie bisa berbahasa Jerman. 

Paginya, sekitar jam 10 pagi, yang jelas matahari sudah berada di atas kepala, Sylvie lalu menceritakan mimpinya kepada dua orang teman perempuannya. Gouw Ai Thien berkata bahwa mungkin mimpi itu dari Sang Pencipta; mungkin semacam ramalan mimpi. Walaupun demikian, saran Gouw Ai Thien, sebaiknya jangan terlalu dianggap serius. Toh, itu belum terjadi. Nanti Sylvie bisa terus memikirkannya, lalu stress, frustrasi, hingga jatuh sakit. Karina Singh membenarkan.

Gouw Ai Thien lalu menceritakan sebuah kisah dari negeri leluhurnya, Tiongkok. Ini tentang seorang teman Sidharta bernama Asaji. Asaji ini orangnya sangat welas asih, selain dikaruniai suatu kemampuan untuk bisa melihat masa depan. Pada suatu kali, Asaji menyampaikan salah satu mimpinya ke seorang raja. Kata Asaji, sang raja akan dibunuh oleh anak kandungnya sendiri. Oleh karena itulah, sang raja ketakutan sekali. Begitu si anak bermasalah lahir, sang raja terus menerus mencoba untuk membunuh anaknya sendiri. Sang permaisuri tahu. Si anak disembunyikan sampai nafsu membunuh sang raja hilang. Begitu si anak beranjak besar, sang raja tetap membenci anak kandungnya sendiri hanya karena takut nubuatan Asaji menjadi kenyataan. Si anak sangat tertekan dengan segala siksaan dari ayah kandungnya sendiri. Namun waktu itu si anak belum begitu mendendam. Si anak mendatangi ayahnya dengan wajah sangat memelas, lalu meminta sang raja agar memperlakukannya secara manusiawi sekali. Si anak lalu bilang bahwa mungkin nubuatan itu bohong. Si anak kan faktanya sangat mencintai ayah kandungnya sendiri. Sang raja luluh. 

Tahun berganti tahun, sang raja jadi sangat mencintai si anak. Sang raja mulai melupakan nubuatan Asaji. Keluarga itu menjadi sangat harmonis. Itu hanya sampai si anak tumbuh dewasa dan ketahuan bermain cinta dengan seorang perempuan budak. Sang raja tidak menyetujui hubungan tersebut  dan selalu menghalangi agar anaknya jangan sampai bertemu dengan perempuan tersebut. Si anak marah sekali. Diam-diam minuman ayahnya diracuni. 

Sementara buat Asaji, pertapa itu pernah ditunjukan bagaimana kelak dia meninggal, yaitu dengan cara dimakan binatang buas. Karena Asaji ini temannya, Sidharta mati-matian agar hal itu jangan sampai menimpa Asaji. Asaji sangat terkesan, namun berpandangan lain. Baginya, jika itu memang sudah menjadi kehendak Yang Di Atas, buat apa dicegah. Lalu, tanpa sepengetahuan Sidharta, Asaji membiarkan dirinya menjadi santapan anjing-anjing hutan. 

"Itu kisah yang sangat bagus, Ai," ujar Karina Singh. "Cocok juga untukmu, Sylvie. Walau kamu ditunjukan seperti itu, jangan terlalu dibawa pikiran. Aku percaya, kalau memang sudah jalan Tuhan, pasti akan terjadi. Pasti kelak kamu dan Maruap akan bersatu kembali mau sekeras apapun orang-orang coba memisahkan kalian. Mimpi-mimpi yang selama ini kamu dapat pasti akan terjadi. Yah, itu kalau memang benar-benar kehendak Tuhan. Kamu masih ingat, kan, dengan kata-kata Pak Pendeta Simon dulu?"

Sylvie mengangguk. 

"Apa coba?" pancing Gouw Ai Thien. 

"Selalu menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan. Tiap mimpi dan penglihatan itu juga sebaiknya diuji, benarkah dari Tuhan asalnya." jawab Sylvie tersenyum lebar. 

"Dan?" pancing Gouw Ai Thien lagi.

"Apa lagi?" tanya balik Sylvie. "Setahuku, Pak Pendeta Simon hanya menyarankan seperti itu."

Karina Singh yang merespon. "Hanya nikmati saja hidupmu dari hari ke hari, sembari membiarkan itu semua terjadi dengan sendirinya seperti air sungai yang mengalir."





Bersambung.....