Saturday, September 16, 2017

SERIAL CINTA & MISTERI: Tuduhan & Penyesatan







Genre: Misteri, Romance







Bagian pertama: Bloody Rose
Bagian kedua: Makhluk-Makhluk Banua Toru
Bagian ketiga: Tuhan Berencana, Manusia Berencana Pula
Bagian keempat: Bayangan Sosok Masa Depan
Bagian kelima: Serangan & Gangguan
Bagian keenam: Black Star
Bagian ketujuh: Ketika Roh-ku Bermain-main
Bagian kedelapan: Santet & Jampi-Jampi
Bagian kesembilan: 
Hunter
Bagian kesepuluh: Mimpi & Penglihatan
Bagian kesebelas: Porsea
Bagian kedua belas: Rekayasa Dunia, Realita Buatan
Bagian ketiga belas: Fasik (1)
Bagian keempat belas: Fasik (2)
Bagian kelima belas: Pengalihan Isu
Bagian keenam belas: Van Weiderveld (1)
Bagian ketujuh belas: Efek Samping
Bagian kedelapan belas: Van Weiderveld (2)
Bagian kesembilan belas: Manipulasi (1)
Bagian kedua puluh: Manipulasi (2)

Bagian kedua puluh satu: Manipulasi (3)
Bagian kedua puluh dua: Serangan Mimpi Buruk
Bagian kedua puluh tiga: Van Weiderveld (3)
Bagian kedua puluh empat: Van Weiderveld (4)

Bagian kedua puluh lima: Trik Jaman Baheula
Bagian kedua puluh enam: Napas Allah





** Cerita ini pun terinspirasi dan aku dedikasikan untukmu, Shania **





Terinspirasi dari lagu "Individual-System" yang dipopulerkan oleh Tetra Fang.








[Maruap]

* terinspirasi dari lagu "Armour Zone" yang dipopulerkan oleh Taro Kobayashi.

Hey, kamu ini siapa? Siapa kamu yang ada dalam diriku? Kumohon, tunjukan sosok aslimu. Jangan terus menerus meminjam ragaku. Aku muak telah menjadi alatmu hingga detik hari ini

Hey, kamu! Aku memang tidak tahu siapa kamu. Tapi segala penderitaan ini--menurutku--kamulah penyebabnya. Kamu tahu kan, apa saja yang aku sudah alami? Perempuanku telah pergi. Sampai sekarang aku belum pernah melihat parasnya lagi sejak hari memulangkannya ke rumah keluarganya. Sehabis itu pula, aku hidup bagaikan seorang buronan saja. Padahal masih banyak yang lebih parah daripada aku, tapi mengapa aku yang terus diburu dan diperlakukan layaknya penjahat kelas kakap. Aku salah apa? Sampai-sampai seisi dunia ini memperlakukan aku seperti binatang saja. Bahkan ada pula yang entengnya menganggapku ini dajjal atau antikris.

Hey kamu! Kamu tahu kan, Mamak meninggal. Dia dibunuh dengan cara sangat keji. Kata 'tidak berperikemanusiaan'  sangatlah bukan kata yang tepat untuk menggambarkan kekejian mereka. Mereka malah bukan manusia, kurasa. Mereka para begu yang selama ini telah menyamar. Kalau kamu di pihakku, balaskan dendamku, dendam Bang Togar, juga dendam Bang Binsar. Juga, untuk Sylvie. Aku tahu, sangat tahu pasti, betapa menderitanya Sylvie sekarang ini.

ARGH! MENGAPA KAMU TAK MAU MENJAWAB?

Hey, berhenti aku bilang! Tubuhku sudah memerah. Aku juga masih punya hati. Berbeda dengan mereka, para keparat tersebut, yang sudah memberikan segala masalah ini untuk aku.

Kamu beranggapan seperti itu? Apakah ini benar-benar jalan terbaik? Mata ganti mata, telinga ganti telinga. Persis seperti nabi Musa katakan dulu itu. Kitab suci itu turunan pula dari Taurat kan? Berarti Debata memang mensahkan cara seperti ini. Bukan tak mungkin pula, kamu itu datang dari Debata langsung.

Jesus! Aku tengah mengalami kesukaran akhir-akhir ini. Hatiku ini terus bergulung dan berdebur layaknya ombak Selat Malaka. Apakah kita ini hidup di zona perang? Mengapa hari-hariku ini seperti tengah berperang saja? Padahal aku tak terdaftar sebagai seorang ksatria--apalagi tentara sewaan Belanda.

Hey kamu! Mengapa kamu tak menjawab? Mengapa kamu hanya muncul sekali lalu menghilang layaknya angin? Suaraku sudah serak seperti ini. Hampir kehabisan suara aku ini. Brengsek kamu ini! Ayo, bicara! Aku tahu kamu ini temanku. Bantulah aku dalam melawan para buas yang tengah tertawa kencang menyaksikan segala penderitaanku ini. Sekarang ini yang kulihat, nasibku hanya dua: makan atau dimakan. Kamu bisa lihat kan, betapa lapar dan dahaganya kerongkonganku ini?! Kuku-kukuku ini bahkan sudah menjelma menjadi cakar anjing-anjing hutan, yang siap menghabisi para bedebah sialan ini. Bantulah aku, hey kamu!

Betapa sakit sekali hati aku ini. Tak menyangka aku ini. Orang yang kuanggap keluarga, saudara, dan teman, eh malah menusukku seperti ini. Aku ini bagaikan ikan mati dalam sebuah akuarium mimpi buruk. Antara hidup dan matiku ini, segala yang kudengar hanyalah "oh!". Apa kita ini benar-benar hidup di zona perang? Sampai-sampai aku serasa tak memiliki siapa-siapa di pihakku? Tak adakah yang menjadi rekanku? Terserah kamulah kalau ikut-ikutan menganggapku sangat impulsif.

Harga diriku sudah banjir oleh air mata dan darah. Segala kebenaran--di mataku--masih seperti sebuah kebohongan dan dusta. Mengapakah para bangsat ini seperti selalu menghalangi jalan dan hidupku? Hey kamu, bantu aku untuk menghabisi mereka semua ini! Habisilah mereka! Mereka sangat butuh penghakiman paling mengerikan atas segala perilaku gelap mereka. Tak ada yang mereka tinggalkan hanya semata agar aku terlihat sebagai manusia normal.

Tidak ada pengampunan untuk mereka!



Terinspirasi dari lagu "Individual-System" yang dipopulerkan oleh Tetra Fang. 


[Sylvie]

* terinspirasi oleh  lagu "Moon Pride" yang dipopulerkan oleh Momoiro Clover Z. 

Bulan hari ini sangat indah. Bulan ini membuatku lupa akan tiap masalah yang aku hadapi. Dia juga sudah selalu mengingatkanku akan Maruap. Masih terngiang mimpi waktu itu saat aku menyaksikan pria yang sangat kucintai itu terkapar tak berdaya dan tak ada siapapun di sisinya.

Hey, bulan! Bolehkah kupinjam kekuatanmu? Ada yang bilang terangmu itu sangat ampuh mengusir segala hawa jahat. Aku merasa sangat banyak sekali hawa jahat di sekitarku. Semuanya seperti monster bertopeng manusia bagiku. 

Air mataku terus menerus berjatuhan. Hampir saja mataku meleleh. Entah bagaimana dengan Maruap. Mungkin dialah yang paling menderita. Yang kudengar dari pamannya, Maruap sangat depresi dan tertekan. Di tengah segala kesakitannya, namaku sering disebut. Aku pun sama, Maruap. Namamu selalu kusebut. 

Di tengah cahaya rembulan ini, aku menangis. Doaku selalu berseru-seru pada Allah. Mengapa nasibku jadi seperti ini? Tapi aku selalu ingat kata Pak Pendeta Simon bahwa tak masalah sekeliling kita menjadi gelap, kita tak akan pernah sendiri. Akan selalu ada terang bersinar yang menemani kita. 

Tiap gadis itu selalu memiliki harga diri. Tidak-tidak-tidak, tiap manusia pun seperti itu. Jadi, aku tak seharusnya menyerah. Tak seharusnya kudengar segala isu dan hasutan itu, terutama yang soal Maruap. Aku sangat yakin itu semua tidak benar. Begitu tahu Maruap tengah berada dalam hidup seperti di sebuah neraka, aku sangat ingin melakukan sesuatu. Bagaimanapun aku bukan tak seperti perempuan-perempuan lainnya. Bagiku, mereka semua manja dan sangat ingin hidup di atas orang lain terlebih pada kekasih mereka. Aku tak seperti itu.

Kita kan tak seperti itu. Kita sesungguhnya bukanlah makhluk lemah. Ada yang melindungi kita layaknya terang bulan menyelubungi tiap sudut di permukaan bumi. Terang bulan itu lalu menyapu segala kesedihan; membakar segala kebencian dan amarah. Itu juga yang menuntun kita ke arah cinta sejati kita. Hal yang sama terjadi pula pada hidupku. Rasa-rasanya tak akan ada yang mau percaya dengan segala ceritaku. Dikiranya aku hanya mengarang-ngarang cerita. 

Di bawah langit berbintang ini, aku mengaduh pada Tuhan, baru saja aku berjumpa dengan seseorang yang sangat memahamiku, mengapa aku harus terpisah dengannya? Aku tahu ini bukan kehendak-Mu, Allah! Kuasa-kuasa lainlah yang memisahkan. Mungkin kuasa kegelapanlah tepatnya.

Namun aku tahu. Aku tak pernah sendirian. Maruap pun sama. Ada terang ilahi yang saling menghubungkan kita. Bahkan antara aku dan Maruap itu seperti memiliki benang merah yang saling mengikat cinta kita. Kami berdua pun seperti diperlengkapi banyak persenjataan roh. Samar-samar kulihat, di tengah sekaratnya itu, Maruap menenteng sebuah pedang berwarna putih dan biru yang sangat besar. Aku pun sama. Persenjataan roh itu, kekuatan itulah,..... yang makin mempererat kita secara batin dan saling melihat kelemahan kita masing-masing. Semacam kekuatan untuk saling menerima pula. 

Di tengah segala duka dan sengsara, aku dan Maruap masih bisa terus berkilau di tengah pelukan langit berbintang. Kapankah duka ini berhenti? Kapankah pula segala dinding dan kuasa kegelapan ini menyerah, lalu memberikan pada kita jarak dan waktu yang akan menjembatani kita berdua? Ya Allah, berikanlah aku keberanian lebih! 

Di tengah kekosongan hati ini, aku merasa seperti ingin meraung-raung. Aku sangat merasa kesepian. Di tengah kesepian ini, aku sangat ingin bertemu kamu, Maruap! 

Mau alam semesta berkata apa, mau segala isu dan hasutan itu terus bergulir di hadapanku, mau berapa kali aku bereinkarnasi, aku masih akan terus jatuh cinta dan mencintimu, Maruap, dengan sangat sepenuh hatiku. Aku berharap kita berdua bisa terbang menuju langit berbintang yang tanpa mengenal batas. Dunia dan alam semesta ini boleh salah paham dan terus menuduh, tapi aku kan yang memiliki keyakinan. Dan, Allah pasti mendukungku pula. Pasti itu!

Sebab, hubunganku dengan Maruap ini sangat direstui oleh Allah. Biarlah alam semesta ini mau berkata apa. Aku akan terus berjuang. Itulah janjiku di bawah langit berbintang. Maruap pun pasti akan melakukan hal yang sama. Kurasa, pasangan legendaris tengah lahir. 




Bersambung.....

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^