Thursday, September 21, 2017

SERIAL CINTA & MISTERI: Permainan Alam Lain (4)







Genre: Misteri, Romance







Bagian pertama: Bloody Rose
Bagian kedua: Makhluk-Makhluk Banua Toru
Bagian ketiga: Tuhan Berencana, Manusia Berencana Pula
Bagian keempat: Bayangan Sosok Masa Depan
Bagian kelima: Serangan & Gangguan
Bagian keenam: Black Star
Bagian ketujuh: Ketika Roh-ku Bermain-main
Bagian kedelapan: Santet & Jampi-Jampi
Bagian kesembilan: 
Hunter
Bagian kesepuluh: Mimpi & Penglihatan
Bagian kesebelas: Porsea
Bagian kedua belas: Rekayasa Dunia, Realita Buatan
Bagian ketiga belas: Fasik (1)
Bagian keempat belas: Fasik (2)
Bagian kelima belas: Pengalihan Isu
Bagian keenam belas: Van Weiderveld (1)
Bagian ketujuh belas: Efek Samping
Bagian kedelapan belas: Van Weiderveld (2)
Bagian kesembilan belas: Manipulasi (1)
Bagian kedua puluh: Manipulasi (2)

Bagian kedua puluh satu: Manipulasi (3)
Bagian kedua puluh dua: Serangan Mimpi Buruk
Bagian kedua puluh tiga: Van Weiderveld (3)
Bagian kedua puluh empat: Van Weiderveld (4)

Bagian kedua puluh lima: Trik Jaman Baheula
Bagian kedua puluh enam: Napas Allah
Bagian kedua puluh tujuh: Tuduhan & Penyesatan
Bagian kedua puluh delapan: Permainan Alam Lain (1)
Bagian kedua puluh sembilan: Permainan Alam Lain (2)
Bagian ketiga puluh: Permainan Alam Lain (3)






** Cerita ini pun terinspirasi dan aku dedikasikan untukmu, Shania **





Doa Bapa Kami dalam bahasa Aram versi dialek Galilea.










".....Abwoon d'bashmayaNetqaddash shmak
Teete malkutah
Nehvwey tzevyannach aykanna d'bashmaya aph b'arha
Havlan lahma d'sunqananan yaomana
Washbwoqlan haubvayn aykana daph hnan shbvoqan l'hayyabayn
Wela tahlan le'ynesyuna. Ela patzan min bisha
Metul dilakhe malkuta wahayla wateshbuhta l'ahlam almin
Amen....."

"Apa itu?" tanya Sylvie yang agak bergidik. "Cara mereka mengucapkannya membuatku merinding. Seperti tengah mengucapkan sebuah mantra saja."

Sosok masa lalu dan masa depan Sylvie lalu menjawab. "Itu doa yang sering kamu baca dalam Injil. Diucapkan dalam versi bahasa aslinya, yaitu bahasa Aram--yang konon bahasa ibu Yesus Kristus."

"Oh." Sylvie terkesima. Memang dia merinding, namun sesuatu dalam irama tersebut sepertinya membawa ketenangan batin bagi sukmanya. Sylvie juga merasa ada beberapa malaikat Allah yang tengah menemaninya akibat dari lantunan doa yang seperti lagu tersebut. 

Sosok itu tersenyum penuh arti saat mendapati reaksi Sylvie.

Hari ini pun, malam ini pula, roh Sylvie dibawa sosok itu menerobos pusaran waktu menuju era Perang Salib di tanah Palestina, yang sering disebut juga sebagai Tanah Suci (Holy Land). Apa yang dialami Sylvie mirip seperti yang dialami oleh nabi Habakuk saat rohnya dibawa pergi malaikat Allah untuk menghampiri Daniel di gua singa.

Pada waktu itu di Yudea ada nabi Habakuk. Ia telah memasak bubur dan memecah-mecahkan beberapa potong roti di dalam batil. Ia sedang berjalan menuju ladang untuk mengantarkannya kepada para penyabit. Tetapi berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Habakuk: "Bawalah makanan yang ada padamu itu ke Babel, kepada Daniel di gua singa!"  
Sahut Habakuk: "Tuanku, Babel belum pernah kulihat dan gua itupun tidak kukenal pula."  
Lalu malaikat Tuhan itu memegang dia pada ubun-ubunnya, diangkatnya dia pada rambutnya dan dipindahkannya dengan secepat angin ke Babel, di atas gua itu.  
Maka berserulah Habakuk: "Daniel! Daniel! Ambillah makanan yang dikirim kepadamu oleh Allah!"

Dari sebuah sinagoga di kota Bethlehem--kelahiran Isa Almasih, Sylvie lalu dibawa lagi menuju suatu masa. Kali ini masa depan, di sebuah kota bernama Jakarta yang saat jamannya itu lebih dikenal sebagai Batavia. Tepatnya lagi, di sebuah rumah yang ditempati oleh keluarga kaya raya. Pasalnya sang kepala rumah tangga hobi berpelesiran ke beberapa tempat. Tak ada satu tempat pun yang tak dijelajahinya dari Nusantara ini. Toraja, Senggigi, Sanur, hingga Lembah Baliem, sudah dikunjungi sang kepala keluarga yang katanya seorang pebisnis yang hobi main saham. Rumahnya--oleh karena itu--bergaya khas Mediterania dengan pilar-pilarnya yang perkasa. Andai saja rumah ini tak ditinggalkan, pasti akan jauh lebih indah. Cat-catnya mulai luntur oleh waktu. Bau tengik di mana-mana. Suara tikus bersahut-sahutan.

(Baca: Misteri Mesin Tik Tua).

"Kotor sekali rumah ini," Sylvie mengernyitkan dahi. "Bau pula! Rumah siapa ini?"

"Milik salah seorang kaya raya. Kelak, keturunannya sangat berhubungan erat dengan orang kaya yang sangat munafik. Munafik juga bukan kata yang tepat. Fasik mungkin kata yang jauh lebih tepat." jawab sosok itu dengan raut muka sangat tegang dan serius sekali.

Sylvie mengangguk-angguk. "Anyway, apa itu sebetulnya fasik? Dari dulu aku sering tidak paham orang-orang fasik itu orang yang seperti apa? Dulu aku sering menyangka fasik itu nama lain dari orang berdosa. Tapi sepertinya dugaanku salah."

Balas sosok itu mengangguk. "Memang. Orang fasik itu bukanlah sekadar orang berdosa. Karena kita ini sebetulnya orang berdosa karena Adam dan Hawa. Sebetulnya orang-orang fasik ini jauh melebihi kata 'orang berdosa' dan 'munafik'. Mereka itu senang mengenakan topeng dan wajah kedua mereka. Mereka juga sangat mempelintir sesuatu demi kepentingan mereka serta mendukung apapun yang mereka lakukan. Kebenaran dari Allah sering mereka pelesetkan dan tutup-tutupi. Salah satunya terdapat pada kitab Tambahan Daniel bab 14 ayat 1 sampai dengan 42. Aku membawa roh kamu pun karena berdasarkan ayat-ayat suci tersebut."

Sylvie bingung harus berkata apa. Bibirnya seolah ada yang mengunci untuk tidak mendebat. Hati kecilnya malah berkata, "Simpan saja kejadian ini. Kelak kamu akan akan mengerti dengan sendirinya."

"Hati-hati, Sylvie," Sosok itu memperingatkan. "Dunia sesungguhnya bukanlah tempat yang aman. Banyak orang berwujud kambing yang menyamar sebagai domba. Mudah buat orang-orang seperti itu menciptakan banyak kebenaran palsu demi kepentingan-kepentingan tertentu. Mereka pintar menciptakan sesuatu yang sebetulnya tidak ada, menjadi ada."

"Mengada-adakan sesuatu, maksudnya?" tanya Sylvie untuk memperjelas.

Sosok itu mengangguk. "Jika kamu baca ulang kisah Ishak dan Ribka, lalu membiarkan hati kecilmu menuntunmu, maka kamu akan mengerti suatu kebenaran yang tersembunyi dari kisah tersebut. Hubunganmu dengan Maruap, itulah dasarnya. Sudah ditulis pula oleh Musa beratus-ratus tahun silam. Jadi, bukan suatu hubungan terlarang seperti yang pernah ke telingamu. Dan, selama Allah berkenan, sebuah hubungan asmara pun bisa dimulai dari alam mimpi atau alam bawah sadar. Mereka bisa datang dari mana saja. Maka dari itu, oleh sebab itu juga, jagailah selalu iman dan kepercayaanmu. Biasakan selalu mengikuti hati nuranimu. Jika tengah bimbang pula, selalu berdoa untuk meminta petunjuk-Nya."

*****

Suatu kali seorang pemuda bernama Akira dibawa oleh sahabatnya yang bernama Christoph ke suatu kafe tenda di daerah Bekasi. Ternyata di sana, sudah duduk anteng salah satu paman Christoph yang bekerja di divisi intelijen. Posisinya sangat penting pula, saat Om Bambang menunjukan pada Akira secara hati-hati kartu identitasnya. Berikutnya, Christoph menaruh telunjuknya di depan bibir dan berbisik pada, "Just a secret between you and I, yea?! I know you're a kind of skeptical guy. You can believe in, if you can see the proof. And, I don't want to judge as a liar, Bro. So, you can see that I'm not a damn liar, am I?" 
Obrolan antara Akira, Christoph, dan Om Bambang itu berlangsung cukup lama. Mungkin nyaris seharian. Secara hati-hati--yang lebih seringnya pakai bahasa kode dan isyarat, Christoph dan pamannya lalu bercerita bahwa keluarga Brahm memang cukup memiliki orang-orang berpengaruh. Tak hanya dari pihak ibu, juga dari pihak ayahnya. Ada beberapa dari pihak ayah Christoph yang seorang mata-mata. Satu-dua di antaranya bahkan tengah dan pernah bekerja di divisi intelijen Jerman. Karena faktor itulah, Christoph bisa berkenalan dengan Sylvie, juga keluarga Van Huis. Rumah Sylvie pun ternyata setelah diusut berasal dari leluhur keluarga ibundanya Christoph yang berasal dari keluarga keraton. Dan, keluarga Tjokrobukara benci semua hal itu. Terutama Supandi lebih membenci fakta bahwa baik Christoph maupun Sylvie memang banyak dikaruniai keistimewaan dari Sang Pencipta. Entah itu rumah yang memang berhubungan dengan Sang Pencipta, darah keraton di dalam tubuh ibundanya Christoph, hingga jiwa seorang satria piningit dalam raga Christoph--yang ibundanya pun sama, memiliki jiwa seorang ratu adil yang ditunggu umat manusia. Semua hal itu sudah bukan rahasia umum lagi di kalangan intelijen, khususnya intel-intel dengan bakat spesial. Mereka sudah bisa menebak, sehingga terus mati-matian melindungi ibundanya Christoph beserta keluarga besarnya. Sebelum diapa-apakan oleh antek-anteknya Supandi, keluarga besar ibundanya Christoph--terutama ibundanya sendiri--sudah diselamatkan dan diasingkan ke suatu tempat. Pun, sudah banyak intelijen yang amat membenci keluarga Tjokrobukara serta antek-anteknya. Mereka tahu keluarga itu seperti godfather saja. Pengaruhnya sangat kuat di segala bidang. Semuanya berharap keluarga itu jatuh. Atau minimal merasakan getah akibat aksi-aksi busuk mereka yang nyaris tak terlihat di permukaan.

(Baca: Akhir Bahagia Nan Sungguh Manis Sekali).

Aneh sekali. Maruap pun tengah dibawa sosok bersayap menuju masa depan. Kota dan wilayahnya sangat mirip dengan yang didatangi oleh Sylvie. Bedanya, Maruap lebih ditunjukan sebuah kota satelit yang berada tak jauh dari kota yang didatangi oleh Sylvie.

"Kamu lihat lelaki bule itu?" tanya sosok bersayap tersebut.

Maruap mengangguk.

"Dia memiliki kekasih yang bernama sama dengan kekasihmu itu. Itu bukan sebuah kebetulan jika kamu kubawa menuju masanya. Karena kelak keturunanmu akan berhubungan dengan lelaki bule bernama Christoph tersebut."

Maruap pun hanya meng-oh-kan bibirnya. Dia tak bisa membantah selain membiarkan dirinya terlalu terkesima. Siapa pula sosok bersayap ini? Manusiakah? Atau utusan para Debata-kah?

"Christoph dan Sylvie ini pun semasa hidupnya sering mengalami apa yang kamu dan kekasihmu alami. Hidup mereka berdua selalu menemui segala isu dan hasutan, Maruap. Mereka sering mengalami banyak kejadian aneh, gaib, nan menyeramkan."

Maruap hanya mengangguk sesekali.

"Satu lagi, di dunia ini, di dimensi dan alam ini, yang mana minoritas sangat bermain. Yang minoritas ini kerap kali mengambil keputusannya yang efeknya sangat berpengaruh di alam kamu, alam nyata. Segala misteri yang sering kamu alami bersumber dari alam ini. Para pelakunya selalu sama. Mereka yang mengakunya mewakili minoritas, walau sesungguhnya mayoritas (Ini yang sering disebut Minority Rule)."

Sosok bersayap ini selalu begitu. Kata-katanya selalu membuat Maruap mengerutkan kening.

*****

Kali ini aku berada di sebuah kota. Aku masih seorang musafir yang hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Tempat yang aku datangi itu juga sebuah kota kecil. Lalu aku masuk ke sebuah perumahan dan berkunjung ke sebuah rumah. Rumah yang aku datangi ini cukup besar. Ada lima orang yang tinggal di dalamnya. Dan, di dalamnya, kepala keluarganya itu tampak gamang wajahnya. Anak-anaknya yang lain pun sama. Rupanya beberapa minggu lalu, mereka baru saja kehilangan istri dan ibu mereka. Kehilangan orang yang sangat kita cintai itu memang berat. Hingga...
...seorang anak laki-laki, seorang pemuda, menarik perhatianku. Dia memang tampak kehilangan. Namun auranya sangat berbeda dengan ayah, kakak, adik, dan abang sepupunya. Kata adiknya, dia suka mengeluh dan lumayan manja. Kata kakaknya, sejak ibunya pergi, dia jadi terlihat lebih bebas. Wajar. Sejak ibunya masih ada, pemuda itu begitu dikekang. Pulang di atas jam delapan malam pun, ibunya pasti akan menelepon. Setelah pergi, dia bahkan berani keluyuran, tanpa permisi, dan di atas jam delapan. Kata ayahnya, dia anak yang sangat berbakat, namun pemalu dan minder. Sementara kata abang sepupunya, pemuda itu memiliki suatu kekuatan tersembunyi dan ada yang menjagainya. Ibunya pernah cerita ke abangnya itu, pemuda itu sepertinya sulit mati. Sebab pernah beberapa kali nyaris mati, namun masih bisa bertahan hidup. Pertahanan diri pemuda itu sangat kuat. Aku pun bisa melihatnya sendiri.

Yang aku lihat, dari dalam hatinya terlihat menyorotkan kesedihan yang amat mendalam. Tiap membaca cerita yang ia bikin, aku bisa merasakan cerita itu basah karena air mata yang datangnya dari hati. Buat yang memiliki kepekaan, pasti tahu yang aku maksud. Aku tahu dialah yang paling sangat kehilangan ibunya daripada yang lainnya. Terbukti benar. Kata abang sepupunya, pemuda itulah yang paling sering berziarah--dan selalu meraung di depan makam ibunya.

Setelah kudesak, pemuda itu baru mau mengakui bahwa rumahnya terasa sangat berbeda. Tak ada lagi yang bisa memahaminya sebaik ibunya. Semarah-marahnya dia pada ibunya, ibunya itu yang sangat peduli dan memahaminya. Walau menentang beberapa keputusannya, ternyaat ibunya malah mendukungnya diam-diam. "Yah aku tahu. Abangku itu pernah cerita seperti itu." tuturnya dengan wajah datar, menahan linangan air mata.

"Aku merasa janggal dengan kematian ibuku, Tuan Musafir,"

"Aneh bagaimana?"

"Aneh saja. Aku merasa kematiannya datang tiba-tiba."

"Bukankah kematian selalu seperti itu, selalu datang tiba-tiba?"

"Tapi ini tidak wajar, Tuan Musafir. Seperti dibuat-buat. Seperti ada yang sudah merencanakannya."


Sylvie dan Maruap sama-sama terperanjat. Setelah sekian lama, mereka berdua akhirnya berjumpa lagi di dimensi lain dan masa depan pula. Keduanya sama-sama kaget sekaligus sangat bahagia. Apalagi yang mengantarkan mereka berdua sama-sama oleh sosok yang tampaknya bukan sembarang makhluk. Mereka sangat bijak sekali tiap tutur katanya. Sama-sama memiliki sayap pula kedua sosok itu (kali ini Sylvie tidak ditemani oleh sosok masa lalu dan masa depannya). Apa maksudnya ini? Apakah ini....?





Bersambung.....

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^