Wednesday, September 20, 2017

SERIAL CINTA & MISTERI: Permainan Alam Lain (3)







Genre: Misteri, Romance







Bagian pertama: Bloody Rose
Bagian kedua: Makhluk-Makhluk Banua Toru
Bagian ketiga: Tuhan Berencana, Manusia Berencana Pula
Bagian keempat: Bayangan Sosok Masa Depan
Bagian kelima: Serangan & Gangguan
Bagian keenam: Black Star
Bagian ketujuh: Ketika Roh-ku Bermain-main
Bagian kedelapan: Santet & Jampi-Jampi
Bagian kesembilan: 
Hunter
Bagian kesepuluh: Mimpi & Penglihatan
Bagian kesebelas: Porsea
Bagian kedua belas: Rekayasa Dunia, Realita Buatan
Bagian ketiga belas: Fasik (1)
Bagian keempat belas: Fasik (2)
Bagian kelima belas: Pengalihan Isu
Bagian keenam belas: Van Weiderveld (1)
Bagian ketujuh belas: Efek Samping
Bagian kedelapan belas: Van Weiderveld (2)
Bagian kesembilan belas: Manipulasi (1)
Bagian kedua puluh: Manipulasi (2)

Bagian kedua puluh satu: Manipulasi (3)
Bagian kedua puluh dua: Serangan Mimpi Buruk
Bagian kedua puluh tiga: Van Weiderveld (3)
Bagian kedua puluh empat: Van Weiderveld (4)

Bagian kedua puluh lima: Trik Jaman Baheula
Bagian kedua puluh enam: Napas Allah
Bagian kedua puluh tujuh: Tuduhan & Penyesatan
Bagian kedua puluh delapan: Permainan Alam Lain (1)
Bagian kedua puluh sembilan: Permainan Alam Lain (2)






** Cerita ini pun terinspirasi dan aku dedikasikan untukmu, Shania **




Terinspirasi dari lagu "Individual-System" yang dipopulerkan oleh Tetra Fang. 











Walau banyak dihalangi, nyatanya sekali Allah sudah membukakan sesuatu ke seorang anak manusia, tak ada siapapun yang bisa, berhak, dan boleh menutupinya. Itulah yang dialami oleh Sylvie yang malam itu dibawa pergi oleh sosok masa lalu dan masa depan dirinya. Sylvie diperlihatkan suatu masa yang akan terjadi. Bayangan suatu peristiwa. Ujar si sosok tersebut, "Kelak ada keturunanmu yang akan berhubungan dengan orang bernama Ferdinand tersebut. Dan, Sylvie, keluargamu--Van Weiderveld--ada hubungannya dengan organisasi tersebut. Keluargamu sepertinya sangat akrab dengan praktek-praktek yang terjadi; yang tak hanya dialami Ferdinand, nanti kamu masih banyak kamu lihat segala praktek dan ritual ganjil yang dibiarkan ada, karena tak ada satupun berani melawannya. Malah hal-hal seperti itu dianggap kebenaran."

(Baca: Freerth)


Deg! Perasaan mulai tak enak. Sorot kedua petugas keamanan ini sangat aneh. Bikin bergidik saja. Senyuman itu sangat ramah, pun sangat tak biasa. Di luar dari yang sudah-sudah. Biasanya tak begini. Selama ini masuk, aku hanya disensor seperti kebiasaan di kebanyakan gedung. Kali ini aku malah disambut seolah tamu penting saja. Mereka pun berkata, "Anda sudah ditunggu,"  
Mereka lalu membawaku masuk ke dalam lift. Semakin aneh saja. Sebab lantai yang mereka bawa diriku ini sungguh tak lazim. Lantai -66. Hah? Setahuku, belum ada lantai tersebut. Tombolnya baru muncul setelah salah satu petugas memainkan tombol demi tombol. Aku tak begitu tahu. Jemarinya sangat gesit bak sudah terlatih saja.  
Ting! Aku dan dua petugas keamanan tiba di lantai yang dituju. Hawa yang dikeluarkan dari mesin pendingin ini sangat dingin--aku akui itu. Tapi tidak dengan auranya. Aku semakin bergidik. Di depan lift, di hadapan pandangan mata, terlihat sebuah ruangan dengan sebuah pintu kaca. Hanya ruangan itu. Salah satu membukakannya untukku. Lalu aku dibawa menyusuri lorong demi lorong sampai di sebuah ruangan yang kurasa berada di ujung. Paling ujung mungkin.  
Pintu dibukakan. Ruangan yang cukup luas. Ada sebuah meja bundar super raksasa. Sungguh klasik. Lucu juga. Atasnya sangat futuristik. Bawahnya terlihat seperti sebuah benteng di abad pertengahan. Temboknya dibangun dengan menggunakan bahan yang sama untuk membangun sebuah kastil. Baunya pun mirip. Malah ada satu-dua jubah besi yang terpajang di pintu masuknya. Ada karpet merah yang menjulur menuju meja bundar itu. Dan semua yang hadir mengenakan jubah dengan penutup kepala ala seorang rahib. Salah satunya, mungkin pemimpinnya--sebab datang dari ujung meja, mendatangiku.  
Oh satu lagi, jauh di sana, di dekat tempat duduk yang kuduga pemimpinnya, ada sebuah layar monitor yang sangat raksasa. Di dekatnya ada semacam CPU-nya. Aku tergelak bercampur bergidik. Ruangan apa ini? Dan apa pula Freerth itu? Di saat kebingungan itu,  si terduga pemimpin tergelak ringan. Aku tak bisa melihat wajahnya. Suaranya terdengar samar-samar. Walau tak bisa jelas memandanginya, aku tahu dia sedang tersenyum--atau malah nyengir. Intuisi saja. Suaranya dengan bangga berkata, "Selamat datang, Ferdinand Vijaj Kesuma. Kami sudah lama menantikan kehadiran anda. Anda sangat luar biasa. Dan Freerth ingin anda bergabung. Tapi sebelumnya silakan pakai jubah jika anda merasa identitas itu bagaikan sebuah harta karun yang harus dilindungi." 
Tergerak langkah kakiku untuk beringsut arah yang ditunjuknya, sebuah gantungan baju. Organisasi ini sangat luar biasa. Jubah ini luar biasa pas untukku. Aku tak merasa kedodoran atau kesempitan. Hoodie-nya sangat berguna untuk menutupi paras. Tapi tunggu, buat apa harus menutupi wajah? Mereka semua sudah tahu identitasku. Organisasi yang luar biasa aneh, tapi menakjubkan.  
Si terduga pemimpin mulai berceramah sembari kembali duduk dan dirinya mengantarkanku duduk di sebelahnya.  
"Sedikit penjelasan untukmu, Kawan. Freerth ini organisasi yang sudah berdiri sejak perang salib. Untuk cabang di Indonesia saja, Freerth dibawa oleh VOC. Di dalamnya sebetulnya banyak agen kami. Dan anda seharusnya bangga bisa bergabung ke dalamnya. Sebab seleksi Freerth sangat ketat sekali, melebihi ketatnya tes pegawai negeri sipil. Kami benar-benar mempelajari betul-betul latar belakang calon anggota." 
Ia tersenyum. Aku balas tersenyum, namun agak merinding. Sesuatu dari dalam mengatakan bahwa aku harus segera pergi dan menolak ajakan untuk bergabung. Namun sukar. Begitu dia lanjut bertutur, aku seolah terhipnotis, hanya bisa berjengit. 
"Anda itu sangat luar biasa, Ferdinand. Anda menguasai tujuh bahasa, pengamatan yang sangat jeli, pemikiran yang sangat brilian, dan kemampuan anda mempengaruhi orang lewat tulisan-tulisan anda. Freerth sangat membutuhkan orang-orang seperti anda. Saya mohon, bergabunglah. Anda tidak akan menyesal. Segala apa yang anda butuhkan dan maui, akan Freerth penuhi." 
"Freerth ini organisasi yang bergerak di bidang apa, kalau boleh tahu?" 
Jawabnya sambil terkekeh, "Apa saja. Terserah anda mau bergerak di bidang apa." 
"Tapi aku hanya pegawai kantor biasa. Kalau ada biaya masuknya, maaf-maaf saja." 
Ia tergelak. Seluruh yang hadir pun sama. "Anda sangat polos, namun berbakat sekali. Tidak, tidak ada biaya masuk. Justru anda yang difasilitasi sepenuhnya. Lewat Freerth, anda bisa mengendalikan dunia. Anda bisa menjadi seperti kami, jadi raja-raja kecil yang menguasai dunia." 
DRIIIIN!!!  
DRIIIIN!!! 
DRIIIIN!!!  
Bunyi apa itu? Seperti suara  alarm di ponselku. Tapi tunggu, ini sudah jam satu siang. Aku tak pernah memasang alarm di jam satu siang. Semakin aneh saja kejadian yang kualami hingga terik sudah menjelang. Di tengah pembicaraan, aku minta ijin untuk mengintip layar ponsel. Seketika itu juga pemandangan langsung berganti. Berganti menjadi kamarku. Hilang segala orang-orang berjubah. Namun kengeriannya masih terjaga. Kedua kepalan tanganku masih basah. Napas masih terengah-engah. 
Yang tadi itu hanya mimpi? Mengapa semua terasa nyata sekali? Aku merasa Freerth itu seperti sebuah organisasi yang nyata keberadaannya. Segalanya terasa nyata. Surat itu, gedung itu, ruang bawah tanah itu, hall itu, hingga sekumpulan orang yang mengenakan jubah ala seorang rahib. Kalian tahu, ini sebuah mimpi yang menyenangkan, sekaligus mimpi buruk. Segalanya masih terngiang jelas di pikiran. Aku masih ingat kronologis demi kronologisnya.  
Freerth sebuah organisasi rahasia yang tak banyak orang tahu dan bisa masuki. Freerth yang bergerak di segala bidang. Freerth yang bisa membuat kita seorang raja kecil dunia. Freerth yang lokasi pertemuannya tersembunyi. Freerth yang menyenangkan, sekaligus bikin bulu roma berdiri. Freerth. 
Mendadak di pikiran muncul satu ide. Freerth itu mungkin kependekan dari free the earth. Tapi bebaskan dari apa? Dari mana pula muncul pemikiran itu? Apa pemicunya? Aku bahkan seperti mengidap amnesia. Kupegang erat jidat ini. Ah, brengsek! Aku benar-benar lupa soal apa saja yang sudah kualami sebelum mendapatkan mimpi aneh tersebut? Makin anehnya lagi, di dekat bantal kepala, ada sebuah surat. Sama persis dengan surat yang kuterima di mimpi itu. Di amplop tertulis logo Freerth, ada kepanjangannya pula. Begitu membacanya, aku semakin bergidik. Sebab sama persis dengan dugaan awal. Yaitu... 
...free the earth. 
Bangsat! Apa pula Freerth itu? Dari siapa dan dari mana aku mengenal organisasi yang luar biasa aneh nan menyeramkan itu? Sekeras apa aku mengingat, asu, aku tak bisa mengingat. Sungguh tak ada petunjuk. Aku bahkan lupa kejadian apa saja yang sudah kualami sebelum mimpi itu. 
Aku coba menegakkan tubuh. Tarik-embus-tarik-embus. Relaksasikan pikiran. Coba menengadah ke langit-langit. Coba memejamkan selama sekian menit. Semuanya hanya untuk mengingat-ngingat. Siapa tahu saja ada petunjuk. Namun... sekeras apa pun mencoba, hasilnya nihil. Sungguh nihil. Sebetulnya apa Freerth itu? Mengapa aku jadi seperti orang linglung macam ini? Aku laksana orang yang tengah dicuci otaknya.  
Segera aku bangkit, berjalan cepat menuju komputer yang ada di ruang tengah, menyalakan komputer, dan sampai di bagian akan berselancar,... preeeet!!! Kenapa pula harus mati listrik? Aku benar-benar ingin tahu apa itu Freerth? Bisa gila aku! 
Katanya, aku sudah menjadi bagian dari Freerth. Katanya, aku bisa menjadi raja kecil dunia. Katanya, aku bisa mengendalikan dunia seenak udel.  
Ha-ha-ha. Aku tergelak keras, tak peduli ada yang memperhatikan. Sepertinya aku mulai beranjak jadi sinting. 






Terinspirasi dari lagu "Individual-System" yang dipopulerkan oleh Tetra Fang. 


Di tempat lain, seperti senasib dan seperjuangan, seperti pula sudah ditakdirkan untuk hidup bersama, Maruap melihat pula bayangan kejadian yang hampir mirip. Kali ini bukan oleh ibunya, Togar, maupun Binsar yang menunjukannya. Sesosok makhluk bersayap dan berambut keemasan yang membawanya menerobos lintas-lintas waktu. Maruap seperti dipaksa melihat bayangan peristiwa masa lalu dan masa depan. 


Sebab yang ada di pikiran si wanita itu, suaminya pergi melanglang buana demi bisa menyuapi tiga mulut. Sang suami tak bilang akan ke mana dan akan bekerja apa. Si wanita itu hanya dibilang seperti ini: "Aku pergi dulu, Sayang. Katanya, di kota itu, ada sebuah pekerjaan dengan gaji lumayan untuk keluarga kecil kita. Jaga baik-baik anak semata wayang kita." Lalu, selama satu tahun, si wanita dan bayinya rutin mendapatkan uang bulanan dari seorang kurir. Pernah si wanita bertanya pada kurir dari manakah asal uang itu. Si kurir hanya bergeming. Sebab kurir hanya kurir. Mereka hanya mengemban tugas demi sebuah bayaran. Oleh sebab itu kurir itu masa bodoh dengan barang yang diantarkan--seberapa bahayakah barang kiriman tersebut? 

Setahun berlalu. Baru tahulah si wanita itu dari mana uang yang dikirim suaminya. Ternyata sang suami mengabdi pada sebuah organisasi terlarang--yang katanya sang pencerah. Dan, organisasi itu dibenci gereja. Gereja membenci ajaran organisasi itu karena dianggap berbahaya. Kata mereka, "Mengancam eksistensi Tuhan!" 

Yah seharusnya gereja tak boleh mengumbar kebencian. Bukankah Yesus Kristus mengajarkan tiap insan untuk mengasihi musuh? Namun dengan jalan apa menyadarkan organisasi yang tiap pengikutnya itu sudah memiliki jalan pikiran yang luar biasa keliru? Tak ada toleransi. Persekutuan para gereja sepakat untuk me-black list organisasi itu. Mereka berusaha agar umat jangan sampai jatuh ke dalam organisasi terlarang tersebut. 

Organisasi itu terlihat baik. Bagus sekali tampilannya. Mereka mengusung jargon "ilmu pengetahuan itu segalanya". Mereka membuka banyak hal yang sudah selayaknya ditutup. Sehingga keberadaan Tuhan pun mereka tampikkan. Di situlah letak utama kesalahan organisasi tersebut. Lainnya, mereka mulai tak menganggap tabu beberapa perilaku. Ambil contoh, hubungan sesama jenis. Dalih mereka, "Siapa pun berhak mencintai siapa pun tanpa pandang bulu." 
Oh tidak!  
Si wanita semakin membenamkan kepalanya. Ia terus menggeleng-gelengkan kepala. Seperti mengerti saja, bayi itu menatap nanar ibunya. Bayi itu memandang kasihan, sehingga tak ikut menangis, yang mungkin makin membuat runyam suasana. 
"Friedrich," isak si wanita. "kelak saat kamu dewasa, ibu mohon kamu jangan pernah menyelidiki siapa ayah kamu. Ia tak pantas disebut ayah oleh kamu, Nak." 
***** 
Lubang anusnya sakit sekali. Kepalanya terasa berat sekali. Dadanya sangat terasa kebas. Tiga dosa menyelimuti seorang pria berwajah kotak dengan kumis kotak pula. Sembari duduk di pojok saung, si pria menatap langit malam penuh bintang. Suaranya berat sekali. Batuk itu tak kunjung sembuh. Sudah setahun lebih ia terus terbatuk-batuk. Nanah yang muncul mendadak di kaki kanannya pun tak sembuh-sembuh. Mau berapa banyak yang ia baca, pria itu sama sekali tak mengerti penyakit apa yang dideritanya. Beragam obat sudah coba ditenggak, tapi ia tak kunjung sembuh. 
Karena derita menanggung penyakit yang tak tersembuhkan dan tak jelas apa penyakitnya, terketuk hati si pria. Matanya jadi nanar saat berusaha melihat ke belakang. Andai saja ia tak menerima tawaran itu. Dulu, karena hobinya yang mencari tahu dan senang membaca, ia jadi terjerumus ke organisasi itu. Istrinya sama sekali tak tahu. Yang istrinya tahu dirinya bekerja di sebuah tempat yang berani bayar mahal hanya demi melakukan sebuah penelitian akan banyak hal. 1000 pound bayarannya. Gila, bukan? Orang waras mana yang berani menampik tawaran mewah tersebut? 
Namun kini ia menyesal. Ia masih menatap langit malam. Ia tahu Allah pasti tengah memandanginya balik. Pasti Allah tengah menunggu munculnya kata-kata maaf dari mulutnya. Pasti begitu.
Lirih sekali, saking lirihnya--nyaris tak terdengar, ia berucap, "Lord, I'm sorry. Aku menyesal dengan apa yang terjadi pada hidupku. Kebiasaankulah yang sudah menyeretku hingga ke situasi yang kacau ini. Mungkin sekarang gara-gara suaminya ini, istri dan anakku jadi menderita. Aku dengar organisasi ini sangat dibenci para gembala-Mu. Mungkin hidupnya itu bagaikan mati tak mau, hidup pun segan." 
"Lord, aku hanya mohon satu. Engkau boleh tak akan pernah mengampuni aku. Aku siap dengan segala penghukuman Engkau. Tapi mohon jangan hukum istri dan anakku. Biarkan mereka hidup bahagia dan tak perlu memikirkan soal uang.  Semoga juga saja anakku tak mengikuti jejakku." 
Kini si pria berada dalam posisi dilematis. Ia tak bisa keluar begitu dari organisasi itu. Organisasi itu sangat memerlukan talentanya yang sangat luar biasa berharga. Apalagi selama beberapa bulan si pria sangat loyal. Dirinya bekerja dengan gigih dan keras sekali, tak kenal waktu. Kalau dirinya keluar, organisasi itu akan mencarinya untuk dicincang. Sebab organisasi itu takut rahasia kotor mereka terbongkar. Sementara jika berhasil keluar dengan sejahtera, bagaimana dengan masyarakat sana? Yah masyarakat yang belum terkontaminasi oleh organisasi itu. Dijamin ia akan sulit hidup tenang.

"Organisasi apa yang dimaksud?" tanya Maruap tak mengerti, walau sebetulnya sudah paham. "Sepertinya mengerikan sekali organisasi tersebut."

"Kamu sudah tahu, Maruap." jawab sosok bersayap itu. "Kamu sudah tahu jawabannya. Apa yang kamu lihat itu sangat berkaitan dengan apa yang sudah menimpa kamu dan kekasihmu selama hampir enam bulan ini."

"Maksudnya?" Maruap masih bingung. "Ke keluarga Van Weiderveld itu? Apa keluarga itu terkait erat dengan organisasi yang katanya dibenci gereja? Yah, sebetulnya aku tak heran lagi. Aku juga sebelum disiksa seperti ini oleh para bajingan itu, sudah melihat sendiri banyak yang tak beres dan menyeramkan pula."

Sosok bersayap itu tersenyum karena Maruap ternyata cepat paham. Mudah baginya untuk menunjukan peristiwa lainnya dan juga apa misi Allah untuk Maruap. 

"Mari, kutunjukan satu peristiwa lagi," Kali ini sosok itu menunjukan bayangan peristiwa masa depan. Tentang seorang pemuda yang terjebak dalam sebuah perusahaan media yang ternyata sangat berkaitan erat dengan organisasi terlarang nan berbahaya; yang saking tabunya, menyebutkannya saja sudah mengundang banyak musuh yang amat gila, sinting, edan, tak berhati, dan tak berperikemanusiaan. 


(Baca juga: Antara Sylvie dan Zafira). 

Aku berhenti membacanya. Bulu kuduk langsung berdiri. Zafira--mungkin bisa merasakan aura keteganganku--juga merinding. Hanya Pak Iman yang tampak antusias. Rasa-rasanya tak percaya aku yang menuliskannya. 
"Ini benar aku yang nulis?" tanyaku bingung, yang langsung dijawab dengan anggukan Pak Iman. "Yah memang kamu yang menuliskannya. Kata pacarmu ini, sehabis menulis seperti itu, bufet di dalam rumah itu hampir menimpa kalian berdua. Sampai kamu akhirnya tertimpa beberapa balok yang entah sejak kapan ada di sana. Padahal berdasarkan catatan kepolisian, balok-balok itu tidak ada." 
"Padahal aku nggak pernah mengetikan ini. Bahkan waktu itu nggak sampai masuk ke rumah, kok. Cuma di teras. Dan harusnya di artikel ini, ada diceritakan soal cewek bule itu. Tapi kok nggak ada yah?" Berkali-kali aku mencari bagian tentang cewek bule itu, hasilnya nihil. 
"Menarik," Pak Iman tersenyum. "Jujur saja artikel itu yang menuliskannya itu pacar kamu. Kamu itu siuman dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Dan kalau dilihat-lihat, sepertinya kamu memang ada benarnya. Sepertinya memang ada dua versi cerita. Setelah baikan dan keluar nanti, langsung tulis cerita versi kamu yah." 
Aku spontan menggeleng. "Nggak, Pak. Aku nggak mau lagi menyelidiki rumah itu. Bahkan aku berniat resign saja dari RedemIllumination." 
Zafira masih memasang tampang datar. Pak Iman langsung terbahak. lalu beringsut ke arahku. Ia membisikan sesuatu ke telingaku. Warna-warna di sekelilingku langsung berubah gelap. Alunan biola paling mengerikan terdengar. Suara-suara mantra pun sama. Entah siapa pula yang melantunkan mantra-mantra itu. 
"...kayak kamu bisa saja keluar dari RedemIllumination, Akira. Hahaha...." 
Belum sempat aku membantah, Pak Iman langsung melanjutkan sambil merenggut daguku, "Mari kita lihat sampai sejauh mana pahlawan super kita beraksi. Aku ingin lihat sejauh mana naluri detektif kamu itu membongkar kedok kami." 
Pahlawan super? Naluri detektif? Kedok? Apa maksudnya? Dan kenapa dari tadi Zafira diam saja. Kekasihku ini biasanya aktif membantu menjawab kalau aku tak bisa. Oh, kepalaku jadi berdenyut-denyut kencang. Mataku berkunang-kunang. Lidahku terasa pahit. Aku mau ambruk dan sepertinya tak ada yang menolongku. Pak Iman tak berniat memapahku, apalagi memanggil pihak yang berwenang. Zafira mendadak sekujur tubuhnya kaku bagaikan patung. 
"Tuliskan saja hasil penyelidikanmu, Akira. Tetap selidiki soal rumah itu, si Anton, dan keluarga Anton. Jangan lupa pula sama Sylvie yang cantik itu. Awas kalau kamu berani keluar dari RedemIllumination. Keluargamu, pacarmu, dan keluarga pacarmu akan kami apa-apakan. Seperti kataku tadi, aku dan lainnya ingin melihat sampai sejauh mana sosok di dalam diri kamu itu bermain. Hahaha." 
Oh iya, apa maksudnya juga dengan kami? Memangnya Pak Iman dan lainnya berhubungan dengan siapa? Apa jangan-jangan benar yang dikatakan Zafira jika RedemIllumination itu bermasalah, yang sering berhubungan dengan beberapa tokoh bermasalah pula; dan jangan lupakan soal ritual-ritual aneh yang sering mereka lakukan diam-diam? 
Sepertinya tanpa sadar aku tak sengaja masuk ke dalam sebuah permainan detektif-detektifan nan berbahaya. Kenapa berbahaya? Karena sepertinya sosok detektif dalam diriku ingin mengupas habis misteri, terutama membongkar kedok sebuah rahasia besar yang ditutup sedemikian rapat oleh sekelompok orang, yang salah satunya ada di depan mataku: Pak Iman, sang pemimpin redaksi RedemIllumination.   
***** 
Sore ini aku pergi ke rumah itu bersana pacarku, Zafira. Aku mengenakan T-Shirt bertuliskan "I'm proud to be Illuminatist" (Illuminatist itu semacam nama lain untuk tiap awak media RedemIllumination. Awak media-media lain yang memberikan ke majalah kami karena ideologi kami itu) dan celana blu jins butut. Sementara Zafira mengenakan kaus ketat merah jambu yang ditutupi kardigan berwarna biru tua. Sesekali kulirik Zafira, yang gadisku itu langsung serta merta menutupi dadanya. Ia nyalang, aku nyengir. 
"Mas Kira," ucapnya, yang terdengar penuh ketakutan. Sebelum sampai, Zafira memintaku untuk keluar dari RedemIllumination. Alasannya: "Majalah tempat Mas Kira itu udah gak beres. Mas keluar aja." 
Aku jawab sambil terkekeh, "Gak beres kenapa, Zaf?" 
"Iya, gak beres. Aku udah pernah cerita belum, temanku ada yang pernah kerja di sana. Belum ada sebulan, dia udah disuruh ngeliput di tempat-tempat bahaya; dan gak dapet asuransi pula. Seminggu kemudian, sepulang ngeliput, dia langsung masuk ICU. Trombositnya turun mendadak." 
"Ngeliput apa sih? Setahuku, RedemIllumination itu selalu peduli sama keselamatan awak medianya. Mereka selalu menjaga kode etik pers." 
"Itu kan yang Mas Kira tahu. Temanku cerita juga, terserah Mas Kira mau percaya atau gak, tempat Mas kerja itu suka ngadain ritual-ritual khusus di malam-malam tertentu. Konon sih, majalah Mas itu udah jadi corong sejumlah mafia dan cukong buat melawan pemerintah." 
Jujur saja, aku hampir naik pitam, lalu menampar Zafira. Tapi aku urung. Aku kelewat sayang sama Zafira. Kurasa, tak ada perempuan yang secantik, sebaik, dan secerdas Zafira. Makanya aku hanya membalasnya dengan suara kencang, "Zaf, Mas gak suka yah, kamu bicara yang gak-gak soal majalah di mana Mas kerja!!! Jangan sembarangan kalau ngomong. Mana buktinya?" 
"Terserah Mas kalo gak percaya. Aku ngomong gini karena aku sayang sama Mas Kira. Aku gak mau Mas kenapa-napa." 
Begitulah perdebatan sengitku dengan Zafira. Mengingat itu lagi, kutatap wajah manis Zafira yang tampak kalut. Kurangkul dia, kucium pipinya, dan membisikan sesuatu, "Zaf, Mas minta maaf yah, yang tadi. Mas lagi ada tekanan, jadi marah-marah gitu ke kamu." 
"Gak papa, aku ngerti. Tapi apa gak sebaiknya kita pulang? Aura rumah ini bikin aku merinding, Mas." 
"Mas-mu ini juga," 
"Balik aja yuk, Mas. Mas mendingan berhenti aja dari sana. Bahaya, Mas, kalo diterusin. Aku dengar dari Papa aku, pemerintah lagi nyelidikin soal keanehan yang terjadi di sana. Ada desas-desus yang mengatakan majalah Mas itu sering melindungi para pengemplang pajak. Bahkan jadi corong buat para kepala daerah bermasalah." 
"Iya, sih. Sempat Mas pikir-pikir, kamu benar juga, Zaf. Pernah pas lagi ngeliput, Mas dengar hal-hal itu juga. Tapi kalo Mas keluar, cari kerja kan gak gampang. Apalagi buat yang kakinya kayak Mas ini." Mataku menatap pada kedua kaki O-ku ini. Pandangan Zafira pun sama. 
"Gak usah minder gitu. Mas-ku ini kan jurnalis paling cerdas se-Indonesia. Kalo gak ada yang nerima, bikin media sendiri aja, yang gak aneh-aneh. Gak susah, kok. Apalagi Papa punya kenalan yang bisa mengurus perijinannya." 
Aku tersenyum--hampir mau lepas tawaku. Zafira sudah terkekeh. Cukup sudah obrolannya, setelah kudesak beberapa kali, Zafira mau juga masuk untuk menemaniku menyelidiki rumah ini. Sekonyong-konyong pintu depan terbuka. Astaga, yang keluar ternyata Sylvie. Kali ini busananya bukan busana ala abad pertengahan. Ia berpakaian trendi, sama seperti Zafira, namun lebih seksi. Di saat seperti inilah, iman seorang pria diuji; dan kesetiaannya diuji--apakah mereka benar-benar mencintai pasangannya? 
"Mij Liefde, morgen (baca: pagi, cintaku!). How are you? I have waited for you so long time. Miss you so much, Mij Liefde." kata Sylvie dengan suara yang kuyakin pasti pria mana pun akan langsung tergoda. Apalagi diucapkan seraya berpakaian yang begitu menggoda.

Setelah menyaksikan peristiwa tersebut, Maruap teringat akan Sylvie. Kisahnya hampir mirip dengan yang dialami oleh Akira tersebut. 

"Jangan sedih, Maruap," tutur sosok bersayap tersebut. "Pelangi akan segera datang untuk hubungan kamu dan Sylvie cepat atau lambat dan tak akan ada kuasa manapun yang sanggup menghalangi lagi."

"Terimakasih." respon Maruap sembari tersenyum dan mata berkaca-kaca. "Dan, apakah media itu juga tetap berkaitan dengan organisasi dan keluarga Sylvie. Bisa tolong jelaskan padaku, organisasi macam apa itu?"

(Baca: Rafael Kiddo Says: Dark Organization). 

(Baca juga: Rafael Kiddo Says: Templar).


"Ada sebuah organisasi. Organisasi itu lumayan besar, yang bersembunyi dalam kegelapan, yang sudah berusia sudah sangat lama, yang konon muncul sejak jaman renaissance. Mereka biang dari segala kejadian yang ada di dunia ini. Yah salah satunya itu kasus pemboman. Mereka juga turut andil dalam beberapa peristiwa kriminalitas. Cara kerja mereka sangat rapi sekali. Tak terdeteksi sama sekali. Nyaris tak meninggalkan jejak untuk tiap kejahatan mereka. Ada yang bilang orang-orang 'mereka' telah dan sedang menyusup ke mana-mana, salah satunya di bagian keamanan masyarakat. Cara perekrutan anggota itu juga berjalan sangat rahasia. Entah tersembunyi dalam bayang-bayang malam, entah berkedok dalam perkumpulan biasa. Salah satu sebutan lain mereka, brotherhood of snake. Mereka sangat lihai memainkan wajah kedua mereka."

Maruap mengangguk-angguk saja.

"Mereka juga sangat berhubungan dengan ksatria templar yang muncul kali pertama pada jaman Crusades, yaitu sekitar abad 12. Mereka itu ksatria utusan Vatican (awalnya) untuk melindungi para peziarah dari dan ke Yerusalem. Lalu pada abad 14, mereka mulai ditolak oleh gereja. Sebabnya karena mereka telah melakukan bidah. Konon, ada yang bilang para Templar ini aktif melakukan kegiatan sihir dan okultisme. Sejak saat itulah, Templar dan para pengikutnya mulai diburu, dianiaya, dibakar, hingga dibunuh. Puncaknya, Oktober 1307, pada era Medieval (baca: abad pertengahan), pada hari jumat tanggal 13, pembantaian massal pada para Templar terjadi. Pengadilan Inkuisisi Gereja melakukan pembantaian besar-besaran. Padahal hampir selama dua abad, para Templar ini sangat dihormati selayaknya Holy Grail dan Ark of the Covenant. Oh, tak hanya Templar, namun pembantaian juga dilakukan kepada para pelaku bidah dan penyihir. Tak usa heran, jaman itu memang Eropa sangat kental akan yang namanya sihir, okultisme, paganisme, dan segala sesuatu berbau takhayul. Itulah jaman di mana sihir dipraktekan secara blak-blakan di muka bumi ini. Bahkan sihir bisa bersinergi dengan ilmu pengetahuan. Salah satunya, alkimia. Alkimia adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang mencampurkan unsur sihir di dalamnya."

Maruap sangat begitu memperhatikan kata-kata si sosok bersayap tersebut. Sosok ini sangat berkharisma sekali. Tak ada manusia yang bisa menandinginya. Apa ini yang dinamakan malaikat? 

"Kelak, ke depannya, kamu, kekasihmu, rekan-rekan  yang nanti kalian akan temui, juga para keturunan kalian akan mengemban misi mulia dari Allah. Kalian akan dibenci oleh banyak orang. Tapi tak usah takut, orang-orang baik yang berada di pihak kalian itu akan selalu ada. Segalanya demi mempersiapkan kedatangan DIA."





Bersambung.....