Sunday, September 17, 2017

SERIAL CINTA & MISTERI: Permainan Alam Lain (1)







Genre: Misteri, Romance







Bagian pertama: Bloody Rose
Bagian kedua: Makhluk-Makhluk Banua Toru
Bagian ketiga: Tuhan Berencana, Manusia Berencana Pula
Bagian keempat: Bayangan Sosok Masa Depan
Bagian kelima: Serangan & Gangguan
Bagian keenam: Black Star
Bagian ketujuh: Ketika Roh-ku Bermain-main
Bagian kedelapan: Santet & Jampi-Jampi
Bagian kesembilan: 
Hunter
Bagian kesepuluh: Mimpi & Penglihatan
Bagian kesebelas: Porsea
Bagian kedua belas: Rekayasa Dunia, Realita Buatan
Bagian ketiga belas: Fasik (1)
Bagian keempat belas: Fasik (2)
Bagian kelima belas: Pengalihan Isu
Bagian keenam belas: Van Weiderveld (1)
Bagian ketujuh belas: Efek Samping
Bagian kedelapan belas: Van Weiderveld (2)
Bagian kesembilan belas: Manipulasi (1)
Bagian kedua puluh: Manipulasi (2)

Bagian kedua puluh satu: Manipulasi (3)
Bagian kedua puluh dua: Serangan Mimpi Buruk
Bagian kedua puluh tiga: Van Weiderveld (3)
Bagian kedua puluh empat: Van Weiderveld (4)

Bagian kedua puluh lima: Trik Jaman Baheula
Bagian kedua puluh enam: Napas Allah
Bagian kedua puluh tujuh: Tuduhan & Penyesatan




** Cerita ini pun terinspirasi dan aku dedikasikan untukmu, Shania **





Sumber: Kamen Rider Kiva.






Wahyu 3:8
"Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku."





Suatu hari, suatu malam, Maruap dibawa oleh Togar ke suatu tempat. Sebetulnya dibilang tempat, sedikit keliru. Sebab Maruap merasa dirinya berada di dunia lain. Seperti tengah berada di alam lain. Atau lebih tepatnya, Maruap dan Togar berada di dimensi lain.

"Inilah yang namanya alam roh, Maruap," kata Togar yang selalu saja nyengir tidak jelas.

Maruap mengangguk-angguk. "Seperti dunia yang aku tinggali saja. Mirip satu sama lain. Hanya saja ada sedikit perbedaan. Kiri dan kanannya berbeda."

"Memang seperti itu, Maruap. Memangnya kau belum pernah ke mari?" tanya Togar yang baru kali ini menunjukan ekspresi keheranan. Togar juga menjelaskan bahwa sebetulnya apa yang berada di alam roh itu sebetulnya tiruan dari alam di mana Maruap sehari-hari tinggali kalau tidak tidur. Walaupun ada beberapa bangunan yang begitu berbeda dari bangunan sebenarnya yang ada di alam fisik. Togar bilang, yang seperti itu, biasanya bangunan itu memiliki suatu kelebihan sehingga bisa berbeda seperti itu di dua alam. Kata Togar pula, di alam roh itu ada beberapa tempat dan bangunan yang sulit ditemukan di alam fisik. "Hanya ada di alam roh," kata Togar. Jika saat bangun nanti, yang seperti itu bisa dilihat dengan menggunakan mata batin yang tiap manusia pasti punya, walau sebetulnya tergantung kepekaan dan kesadaran masing-masing.

Maruap menggeleng. Sesungguhnya Maruap agak tersinggung juga. Seolah tidak ke dimensi ini, dirinya menjadi orang paling berdosa di dunia saja.

Togar tergelak. Sungguh tampang polos Maruap itulah penyebabnya. "Kau ini lucu sekali makin lama, Maruap. Padahal menurut pengalamanku sebagai seseorang yang dimandatkan khusus oleh keluarga kita, tiap orang selalu mampir ke alam roh tiap mereka tidur. Itu tidak bisa tidak. Bagaikan sudah menjadi kehendak Debata saja. Dan, ada yang sadar, ada yang tidak sadar."

"Maksudnya, sadar dan tidak sadar?"

Togar berusaha menahan tawa. "Begini, Maruap. Pengalaman mereka di alam roh--atau alam mimpi biasa disebut--tak semua orang bisa mengingat jelas. Kebanyakan orang sulit mengingatnya. Itulah yang aku bilang, orang itu belum sadar dengan keberadaan alam roh ini. Yang belum sadar sepenuhnya itulah yang sering dimanfaatkan oleh mereka yang sudah sadar sepenuhnya. Itulah kenapa alam roh itu sering disebut berbahaya."

Maruap makin bingung saja. Sembari bingung itu, ia mengamati sekelilingnya. Segalanya tidak memiliki tubuh fisik dan tak menginjak tanah. Yang aneh lagi, tiap roh memiliki spektrum dan kontur warna  yang berbeda-beda.

Togar memperhatikan seraya nyengir. "Yang rohnya agak transparan itu biasanya roh mereka yang masih hidup. Sementara yang sudah meninggal seperti aku dan Mak Tua, rohnya tidak terlalu transparan lagi. Sudah hampir bisa disebut sebagai tubuh fisik kami. Itu karena kami sudah hampir tak memiliki sari kehidupan lagi. Kau masih ingat kan soal sari kehidupan?"

Maruap mengangguk.

"Baguslah kalau kau masih ingat. Karena tidak mempunyai sari kehidupan itulah, juga tak memiliki fisik, roh mereka yang sudah meninggal itu sangat lemah. Banyak di antara mereka--sampai tiba waktunya--yang sering mengerjai yang masih hidup dengan cara mengisap sari-sari kehidupannya. Roh orang yang masih hidup itu biasanya masih memiliki sari kehidupan pertanda mereka masih hidup di alam kau, Maruap."

Maruap kembali mengangguk.

"Selain itu, di alam roh inilah, ajang buat mereka yang suka mengumpulkan ilmu dan kesaktian. Mereka yang senang bersemedi itu biasanya mengirim roh atau sebagian dari rohnya ke alam roh. Di alam roh itulah, mereka melakukan banyak hal semata demi ilmu, aji-aji, dan kesaktian. Biasanya itu didapatkan dengan cara melakukan sesembahan ke makhluk lain selain manusia. Di daerah kita, itu disebut begu. Namun di tanah seberang, ada yang menyebutnya dedemit, jin, pocong, kuntilanak, tuyul, dan beraneka nama lainnya. Ada pula yang menyebutnya bentuk kehidupan lain yang tak terindentifikasi. Dengan bersekutu dan bikin perjanjian dengan para makhluk lainnya itu juga, bukan sekadar karangan lagi, kesaktian dan ilmu mereka bertambah. Indra keenam mereka makin meruncing, yang konon sangat dibutuhkan dalam keseharian mereka. Salah satunya, pikiran mereka jadi semakin luas, pintar, atau bahasa lainnya, jadi banyak akal. Berbohong dan menipu jadi semakin gampang, yang sulit ketahuan kalau kita tidak jeli."

"Tak hanya itu saja, mereka juga sering melakukan sesembahan ke roh-roh binatang dan tumbuhan. Jangan salah kau, Maruap. Di alam roh, binatang dan tumbuhan bisa berbicara layaknya manusia. Malah ada beberapa jenis yang memiliki ilmu di atas rata-rata. Salah satunya, ular kobra. Tikus dan kecoa pun di sini sangat ditakuti daripada seekor anjing hutan. Kepada roh-roh seperti itulah, mereka yang sangat terobsesi akan kekuasaan dan kekuatan--juga yang ingin dianggap--mengabdikan tubuh dan roh mereka. Saat mereka bangun itulah, kalau diterawang dengan mata batin, dalam fisik mereka itu sudah terdapat roh lain selain daripada roh sebenarnya mereka. Dengan keberadaan roh-roh lain itulah, hidup seseorang juga jadi lebih mudah. Ada yang bilang mereka jadi lebih kebal terhadap penyakit dan kematian. Mereka juga jadi banyak akal. Mengontrol cuaca pun bisa. Apalagi melakukan banyak mukjizat. Itulah kenapa juga aku sempat ragu para pendeta Eropa itu melakukan mukjizat karena kuasa Debata. Sering aku terawang, ada roh-roh lain yang melakukannya demi orang-orang itu. Dan, makin banyak roh yang diikat, makin kuat orang tersebut. Ada yang bilang pula, orang itu tengah mengikat perjanjian, yang saat meninggal nanti, rohnya jadi semakin tak karuan saja. Seperti roh-roh itu, Maruap."

Maruap menatap ke arah yang ditunjuk Togar. Benar, roh-roh itu tak jelas bentuknya. Aneh sekali. Manusia bukan, binatang bukan, makhluk dunia lain juga bukan.

"Itu karena semasa hidup, mereka rutin mengikat perjanjian dengan roh-roh lain selain manusia. Saat sakaratul maut, biasanya mereka sulit lepas; yang harus dibantu dengan doa dan ritual dulu, baru bisa lepas. Ada yang bilang, mereka seperti takut nasib mereka ke depannya. Satu lagi untuk kau ketahui, tiap meninggal itu, selalu ada utusan Debata yang menghampiri. Dulu aku pun dihampiri dan didatangi juga. Begitu selesai ditanya-tanyai, utusan itu menghilang begitu saja. Ada yang bilang pula, para utusan itu menyampaikan laporannya ke para Debata di banua ginjang. Tak heran, kudengar utusan itu berkata, 'Tunggu saatnya,'."

Sekali lagi, Maruap mengangguk. Togar balas mengangguk pula. Mereka berdua bersitatap sambil tersenyum penuh arti. Bagaikan saling berbagi pikiran saja.

"Oh, Maruap," Togar agak menengadah ke langit malam di alam roh.  "Di sini, semacam ada sebuah permainan (yang disebut sebagai liar game). Permainan ini sepertinya berbahaya. Jika tidak kuat, nyawa taruhannya. Nama permainan ini banyak sekali sebutannya. Yang intinya, di alam roh ini, tiap orang bebas berbohong dan menipu. Mengerjai orang hingga orang kena akibatnya saat dia bangun, tak dianggap salah. Nah, untuk kau yang berhati murni, jelaslah kau akan mencak-mencak sendiri. Tak ada yang berani melawan juga. Sebab yang berani melawan, akan terus diburu dan dihantui seumur hidup. Tak heran, beberapa orang, saat di alam roh, sebisa mungkin menghindarkan diri dari orang-orang tertentu. Sangat berlaku hukum rimba di alam roh ini. Yang kuat, yang berkuasa. Seringkali juga, kalau kemampuan membedakan kita masih kurang, di alam roh ini juga, tak mudah mengenali mana yang benar-benar baik, mana yang benar-benar jahat. Biasanya itu merembet ke saat mereka bangun. Tiap orang mengenakan topengnya masing-masing, Maruap. Sebisa mungkin, serapi mungkin, menyembunyikan segala yang jelek yang mereka lakukan di alam roh. Jarang sekali ada yang mau mengakui terus terang, apalagi mengakui telah mengikat perjanjian dengan roh-roh lain selain dirinya. Aku tahu itu salah. Yakin pula Debata sangat membenci praktek-praktek seperti itu, tapi aku dan yang lainnya bisa apa?"

Kini Maruap terlihat sangat mencelos hatinya. Ada juga hal-hal seperti itu rupanya, batinnya.

"Kapan-kapan akan kuceritakan banyak hal tentang alam roh lagi. Kuduga, nanti akan berguna sekali untuk kau pribadi."

Begitu Togar berkata seperti itu, sontak Maruap sudah berpindah dimensi. Sekarang dia berada di kamarnya yang ada di rumah Tulang Hinsa. Maruap terbengong-bengong sendiri. Mimpikah itu? Nyatakah hal-hal tersebut? 

Di tengah kebimbangan tersebut, Maruap seperti mendengar suara. Suara asing yang tak ia kenal sebelumnya. Suara itu bersabda, "Ada banyak hal yang harus kau pelajari, Maruap. Tak terlihat oleh matamu, bukan berarti itu tak nyata. Itu nyata juga dan tergantung bagaimana cara kamu menyikapinya. Dunia ini juga memiliki banyak misteri yang tidak akan ada habis-habisnya, Maruap."






Bersambung.....

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^