Wednesday, September 6, 2017

SERIAL CINTA & MISTERI: Napas Allah







Genre: Misteri, Romance







Bagian pertama: Bloody Rose
Bagian kedua: Makhluk-Makhluk Banua Toru
Bagian ketiga: Tuhan Berencana, Manusia Berencana Pula
Bagian keempat: Bayangan Sosok Masa Depan
Bagian kelima: Serangan & Gangguan
Bagian keenam: Black Star
Bagian ketujuh: Ketika Roh-ku Bermain-main
Bagian kedelapan: Santet & Jampi-Jampi
Bagian kesembilan: 
Hunter
Bagian kesepuluh: Mimpi & Penglihatan
Bagian kesebelas: Porsea
Bagian kedua belas: Rekayasa Dunia, Realita Buatan
Bagian ketiga belas: Fasik (1)
Bagian keempat belas: Fasik (2)
Bagian kelima belas: Pengalihan Isu
Bagian keenam belas: Van Weiderveld (1)
Bagian ketujuh belas: Efek Samping
Bagian kedelapan belas: Van Weiderveld (2)
Bagian kesembilan belas: Manipulasi (1)
Bagian kedua puluh: Manipulasi (2)

Bagian kedua puluh satu: Manipulasi (3)
Bagian kedua puluh dua: Serangan Mimpi Buruk
Bagian kedua puluh tiga: Van Weiderveld (3)
Bagian kedua puluh empat: Van Weiderveld (4)

Bagian kedua puluh lima: Trik Jaman Baheula





** Cerita ini pun terinspirasi dan aku dedikasikan untukmu, Shania **






















Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur. Anak-anaknya yang lelaki biasa mengadakan pesta di rumah mereka masing-masing menurut giliran dan ketiga saudara perempuan mereka diundang untuk makan dan minum bersama-sama mereka. Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati." Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa. 
Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis. Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Dari mana engkau?" Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi." Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan." Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu. Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu." Maka firman TUHAN kepada Iblis: "Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya."  
Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN. Pada suatu hari, ketika anak-anaknya yang lelaki dan yang perempuan makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, datanglah seorang pesuruh kepada Ayub dan berkata: "Sedang lembu sapi membajak dan keledai-keledai betina makan rumput di sebelahnya, datanglah orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan." Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: "Api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaga. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan." Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: "Orang-orang Kasdim membentuk tiga pasukan, lalu menyerbu unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan." Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: "Anak-anak tuan yang lelaki dan yang perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun; rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda itu, sehingga mereka mati. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan."  
Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut. 


Masih dibaca oleh Maruap kisah tersebut. Kisah itu datang dari sebuah kitab bernama Ayub. Jelasnya lagi, Ayub bab 1 ayat 1-22. Ini sebuah kisah yang sangat bagus, pikir Maruap seraya menyimpulkan sebuah senyuman, walau sesekali dahinya berkerut. Sangat bagus kisahnya, tapi benar-benar terjadikah? Itulah penyebabnya. 

"Siapakah yang menulis cerita ini?" desis Maruap yang masih menatap pada lembar-lembar berdebu dari sebuah kitab suci berbahasa Inggris. "Memang adakah orang di dunia ini yang sudah berjumpa dengan Allah langsung? Kalau dengan iblis, aku pun sering. Begu itu salah satu murid iblis kan?"

Di tengah menyeriusi sebuah kisah tersebut, Tulang Hinsa muncul di hadapannya; berdiri tepat di belakangnya sambil tersenyum. Katanya: "Entahlah, Maruap. Tulang juga tidak tahu. Tulang juga baru mengetahui dan mendalami. Kitab itu banyak berisi kisah-kisah menarik. Awalnya Tulang kira kisah-kisah itu sebuah bualan belaka. Namun entah mengapa, batin Tulang seperti berbisik bahwa seratus persen memang terilhami dari kisah nyata. Tokoh-tokohnya benar-benar pernah hidup."

Maruap menengok, kaget sebentar, lalu mengangguk-angguk. 

"Salah satu kenalan Tulang, dia seorang pendeta dari Eropa, pernah bilang pula, tokoh Ayub itu memang pernah hidup. Ada yang bilang, kisah itu pengalaman dari si Ayub sendiri. Sebetulnya tidak heran memang. Kau benar, Maruap. Di kampung kita pun, siapapun bisa melihat murid-murid si iblis itu."

"Tapi ini melihat dan berjumpa dengan Allah langsung, mungkinkah ada yang bisa? Mungkinkah si Ayub ini benar-benar berjumpa dengan Allah? Allah itu Debata dalam suku kita kan, Tulang?"

Tulang Hinsa mengangguk. "Tak usahlah kau pikirkan. Di dunia ini banyak hal seperti itu terjadi. Contohnya, kau bisa bangkit dari kematian itu. Hampir saja kami mau menguburkan kau. Kalau itu terjadi, gemparlah satu huta, Maruap. Heboh beritanya ke mana-mana. Ada mayat yang hidup lagi dan keluar dari tanah kubur." 

Maruap spontan ikut pamannya terbahak-bahak. 

Well, sampai sekarang Maruap masih juga bingung mengapa dirinya masih bisa hidup. Itu sesuatu yang sangat sulit dijelaskan oleh akal sehatnya. Namun, menurut para dukun kampung pamannya, itu mungkin saja jika sari kehidupan Maruap tersebut masih berada dalam raga pemuda berkulit agak legam tersebut. Sari kehidupan itulah inti sari dari nyawa setiap makhluk hidup ciptaan para Debata--atau Allah menurut kepercayaan barunya. Ada yang bilang juga, sari kehidupan itulah napas atau zat Allah tersebut. 

Apapun itu, Maruap tetap harus sangat bersyukur. Manusia normal, jika terus menerus dihajar oleh segala serangan gaib seperti itu, sudah pasti akan tewas dengan sangat tragis. Kalau perlu, butuh upacara penguburan khusus. Sementara Maruap, manusia normalkah dirinya ini? Dirinya ini siapakah? 

*****

Ini kebetulankah? Atau kejadian hari ini sudah ada yang mengatur? Mengapa antara nats Alkitab yang Sylvie baca dengan kabar yang datang padanya ini bisa sangat sejalan? 

Di tengah sedang membaca kitab suci sebagai kegiatan rutin untuk memulai hari, telah sampai ke telinga Sylvie bahwa Maruap dengan ajaibnya bisa bangkit dari kematian setelah sebelumnya tak sadarkan diri selama tiga hari. Bagaikan ada tangan ilahi yang menyelamatkan nyawa kekasihnya tersebut, yang sama seperti Lot dan keluarganya yang telah diselamatkan oleh dua malaikat Allah. 

Beginilah yang dibaca oleh Sylvie.


Kedua malaikat itu tiba di Sodom pada waktu petang. Lot sedang duduk di pintu gerbang Sodom dan ketika melihat mereka, bangunlah ia menyongsong mereka, lalu sujud dengan mukanya sampai ke tanah, serta berkata: "Tuan-tuan, silakanlah singgah ke rumah hambamu ini, bermalamlah di sini dan basuhlah kakimu, maka besok pagi tuan-tuan boleh melanjutkan perjalanannya." Jawab mereka: "Tidak, kami akan bermalam di tanah lapang."

Tetapi karena ia sangat mendesak mereka, singgahlah mereka dan masuk ke dalam rumahnya, kemudian ia menyediakan hidangan bagi mereka, ia membakar roti yang tidak beragi, lalu mereka makan. Tetapi sebelum mereka tidur, orang-orang lelaki dari kota Sodom itu, dari yang muda sampai yang tua, bahkan seluruh kota, tidak ada yang terkecuali, datang mengepung rumah itu. Mereka berseru kepada Lot: "Di manakah orang-orang yang datang kepadamu malam ini? Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami pakai mereka."

Lalu keluarlah Lot menemui mereka, ke depan pintu, tetapi pintu ditutupnya di belakangnya, dan ia berkata: "Saudara-saudaraku, janganlah kiranya berbuat jahat. Kamu tahu, aku mempunyai dua orang anak perempuan yang belum pernah dijamah laki-laki, baiklah mereka kubawa ke luar kepadamu; perbuatlah kepada mereka seperti yang kamu pandang baik; hanya jangan kamu apa-apakan orang-orang ini, sebab mereka memang datang untuk berlindung di dalam rumahku."

Tetapi mereka berkata: "Enyahlah!" Lagi kata mereka: "Orang ini datang ke sini sebagai orang asing dan dia mau menjadi hakim atas kita! Sekarang kami akan menganiaya engkau lebih dari pada kedua orang itu!" Lalu mereka mendesak orang itu, yaitu Lot, dengan keras, dan mereka mendekat untuk mendobrak pintu. Tetapi kedua orang itu mengulurkan tangannya, menarik Lot masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu. Dan mereka membutakan mata orang-orang yang di depan pintu rumah itu, dari yang kecil sampai yang besar, sehingga percumalah orang-orang itu mencari-cari pintu.





Bersambung.....

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^